Who Am I?

Who Am I?
Macan tutul misterius


__ADS_3


Macan tutul misterius Rev



Karna hatiku sangat senang, aku pulang dengan sudut bibir yang sedikit naik. Ibu sesekali mengintip ku di spion motor. Ia terlihat tersenyum jahil saat bertanya.


"Apakah Putri Ibu sudah jatuh cinta?" Tanyanya dengan mata menyipit.


"Tidak kok." Aku selalu sensitif saat mendengar 'cinta' dari mulut Ibu.


Jika membicarakan soal hati, aku lebih suka berbicara dengan Ayah. Ayah sepertinya mengerti jalan pikiranku, seolah kami ada di jalan yang sama. Ibu kembali bertanya. "Lalu? Ibu yakin kamu pasti sedang senang, coba ceritakan?"


"Hm... Orang yang paling ingin ku jadikan teman sudah mulai dekat denganku."


"Oh... Itu bagus, biasanya kamu tidak berinisiatif untuk mencari teman, apakah teman ini istimewa?"


"Ya."


Ibu tidak menanyakan apapun lagi, Ibu hanya tersenyum senang sepertinya ia dalam kondisi hati yang baik. "Rin, sebenarnya desa ini adalah tempat kelahiranmu. Ibu tidak tau mengapa Ayahmu tiba-tiba ingin pindah lagi, tapi Ibu senang jika kamu dapat beradaptasi."


Nada bicara Ibu sangat tenang, seolah-olah ia baru saja diliputi perasaan damai. Aku menyandarkan kepalaku ke bahu Ibu. "Kenapa? Kamu sedang sakit?"


"Tidak, aku hanya sedikit lelah. Sekolah Full day itu membuatku sedikit lelah. Tapi biasanya setelah ketemu Virong semuanya hilang kok." Ujarku.


"Hehe, Ibu yakin kalau semua kucing di rumah juga merindukanmu. Mereka sejak jam makan siang terus menunggu di jendela atau pintu. Saat di ambil Hallin pun mereka akan kembali seolah memang menunggumu."


Aku menghela nafas prihatin. Binatang-binatang itu, tidak peduli apakah dia besar atau kecil, selalu menyukai aromaku. Aku yakin tidak ada yang salah dengan aroma tubuhku. Seolah olah aku memiliki pelet khas untuk mereka, mereka akan selalu mendekatiku untuk mencium aromaku.


Ralat, mencium aroma keringatku. Beberapa menyukai aroma keringat yang kadang muncul di leher. Beberapa lebih menyukai aroma ketiak. Hanya Virong yang tampaknya berbeda pendapat. Virong tidak seperti kucing lain yang mengendus aroma leher atau ketiak, Virong lebih suka dengan aroma khas milikku.


Saat aku membuka pintu masuk ke rumah, benar saja, Kucing-kucing datang kepadaku seolah aku telah pergi sangat lama sekali. Lalu aku mendengar suara decakan khas yang di miliki musang. Tapi tidak mungkin ada musang di rumahku. Tapi dugaanku kali ini salah, seekor musang berlari ke arahku dengan tali tuntun yang di ikatkan di tubuhnya.


Musang itu masih kecil, tubuhnya sebesar tubuh Virong. Musang itu melompat ke arahku dan duduk nyaman di atas bahuku. Sesekali ia mengusapkan kepalanya ke kepalaku, bau masamnya yang khas memasuki hidungku.

__ADS_1


"Haduh... Ayah kira dia akan kabur." Ayah datang dengan kepanikan tertulis di wajahnya.


"Punya siapa Yah? Sepertinya dia hewan peliharaan deh." tanyaku.


"Ini titipan teman Ayah, dia meminta tolong agar Ayah menjaga Musangnya."


Aku mengangguk-angguk paham. Setelah menyerahkan Musang kepada Ayah, dan melepaskan diri dari anak-anak kucing, aku melepas sepatuku kemudian pergi ke kamar untuk berganti pakaian.


Kucing hitam di tempat tidurku merenggangkan tubuhnya. Mulut mungilnya terbuka lebar saat ia menguap, memperlihatkan lidah merah mudanya yang imut. Aku mengusap pangkal hidungnya. Virong memejamkan matanya dengan penuh kenyamanan. Aku segera berganti pakaian.


Kemudian merebahkan tubuhku di tempat tidur, kenyamanan menyambutku dalam kelembutan tempat tidur. Dengkuran Virong terus berbunyi seolah menjadi musik pengantar tidur. Saat aku hampir memejamkan mata, pintu kamar terbuka dan Anwar memasuki kamar dengan tongkat pancing di tangannya.


Anwar adalah adik kembar yang bungsu. Dia adalah maniak ikan. Memancing seakan menjadi jalan hidupnya. Ia bahkan bercita cita untuk membangun tempat pemancingannya sendiri ketika dia dewasa. Namun kakak kembarnya tidak menyukai hal seperti memancing, jadi hanya aku dan Ayah lah yang menemani si bungsu memancing ikan.


"Kak bangunlah! Aku dan Ayah akan pergi memancing ke hutan belakang rumah. Mau ikut ngga?" Tanyanya dengan penuh semangat.


Aku tidak terlalu suka memancing, tapi hutan adalah tempat favoritku tentunya. Keheningan dan kedamaian yang ada di sana seakan membuai aku menuju ketenangan. Aku segera bangun dari tempat tidurku. "Tentu aku ikut! Ayo bersiap!"


Dengan begitu aku, Adik bungsuku, dan Ayah, berjalan kaki menuju hutan di belakang rumahku. Hutannya tidak terlalu gelap ataupun rimbun, tapi cukup tenang dan nyaman. Angin sore menembus helaian rambutku, wajahku seolah olah di usap oleh angin.


Aku selalu merasa bahwa itu adalah ingatanku sebelum aku menjadi aku. Maksudnya sebelum aku menjadi Rini Ariani, seolah-olah aku bukanlah Rini Ariani. Melainkan seorang asing yang memasuki tubuhnya.


"Rin, jangan melamun! Hutan bukanlah tempat baik untuk melamun. Berjalan dengan pandangan kosong di tempat seperti ini bukanlah hal baik."


"Benar itu Kak, aku dan Ayah menemukan tempat yang cukup nyaman dan indah! Ku rasa Kakak akan suka. Siapa tau kita akan mendapat ikan Channa Limbata yang indah itu" Adikku tersenyum senang.


Ikan channa limbata adalah salah satu ikan yang ada dalam daftar impiannya. Dia ingin mengoleksinya di akuarium yang ada di kamarnya. Aku mengangguk-angguk saja. "Semoga impian mu 'kan tercapai Anak muda" ujarku sembari menepuk bahunya.


Adikku mendengus kesal. Tak lama kemudian kami sampai di sebuah sungai kecil tepat di bawah rumpun bambu. Angin sesekali menembus batang-batang bambu, menciptakan melodi indah yang selaras dengan alam.


Aku mendudukkan diri di batu yang ada di tepian sungai, kemudian melempar umpan. Sungainya tidak terlalu dalam, airnya yang jernih membuatku dapat melihat kedalaman airnya. Aku mencelupkan sepasang kakiku ke air sungai. Airnya yang hangat dan nyaman membuat kakiku seolah sedang dipijat. Saat ku lirik, ada ikan-ikan kecil menggigit-gigit kakiku. Aku menggoyangkan kakiku dan ikan itu kabur.


Aku menutup mataku untuk menikmati suasana yang sangat kusukai ini. Aku menghela nafas lega, suasana dan keindahan ini seakan membuat hidupku terasa lebih nyaman. Saat itulah ketenangan ku tiba-tiba terganggu.


Joran pancing ku menegang seakan-akan ada yang menariknya. Karena airnya jernih, aku dapat melihat ikan sungai bersisik perak, yang ukurannya terbilang besar sedang bergelut dengan senar pancingku. Aku segera menarik dan menariknya, siapa yang tau ternyata ikan itu memiliki tenaga yang cukup besar.

__ADS_1


Aku hampir terjatuh ke dalam sungai jika Ayahku tidak membantuku dari belakang. Adikku tidak ikut membantu, ia hanya berteriak berkata padaku. "Semangat Kak! Semangat! Aku yakin Kakak pasti bisa!"


Teriakannya hanya membuatku semakin tidak fokus. Saat itu tarikan ikan begitu kuat sampai lengan kiriku terlepas. Ayahku panik dan menceburkan dirinya untuk mencari sebelah tanganku yang lepas ke sungai. Namun arus membawanya, aku berkata pada Ayah. "Ayah tetaplah disini, jaga saja Anwar, biar aku yang mengejar tanganku, aku akan segera kembali! Aku janji!" Ujarku.


Ayah tampaknya khawatir, namun saat melihat putra bungsunya, Ayah segera mengangguk dan berkata. "Baiklah, cepat kembali!"


Aku tidak mengatakan apapun. Aku segera berlari di tepian sungai untuk mengejar lengan kiri ku yang terbawa arus. Tanpa sadar aku berlari semakin jauh ke dalam hutan. Untungnya semakin ke dalam hutan, bebatuan di sungai semakin banyak dan aliran airnya semakin dangkal.


Aku menceburkan diriku ke sungai, untuk mengambil lenganku yang tersangkut di antara batu besar yang ada di dalam sungai. Ah iya! Aku juga baru ingat peralatan menjahit ku tidak ku bawa kali ini. Itu masih tersimpan dengan baik di seragam sekolahku yang tergeletak di lantai kamarku.


Aku membawa lengan kiriku di genggaman tangan kananku, aku berjalan perlahan menuju tempat Ayah dan Anwar berada. Namun gemerisik semak belukar di sekitarku mengganggu pemikiranku. Ku pikir seharusnya ada binatang buas di belakangnya.


Benar saja dugaanku, aku tidak bersuara. Aku takut binatang buas itu akan menerkam ku. Kalian tahu binatang buas apa itu? Tubuhnya memiliki totol-totol hitam yang khas, dengan bulu dasar berwarna kuning. Ya! Dia adalah macan tutul kuning, ia menatapku seakan-akan sedang berbicara.


Aku mencoba yang terbaik untuk tidak bergerak, namun macan tutul itu terus mendekatiku. Kupikir ia akan memakanku, tapi seperti seekor kucing jinak, macan tutul itu mendekati ku. Kemudian mengusapkan kepalanya ke perutku. Hatiku berdebar-debar dipenuhi rasa takut dan waspada,


kalau-kalau seandainya macan tutul ini menelanku.


Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan, macan tutul itu mengerang, erangannya seolah-olah sedang mengatakan sesuatu. Aku tidak ingin bergerak, anehnya tatapan macan tutul itu sepertinya dipenuhi kerinduan. Seakan-akan aku adalah bagian dari keluarganya.


Aku tidak mengerti apa yang diinginkannya. Tapi macan tutul itu berdiri dengan kedua kaki belakangnya, kemudian menangkap tubuhku. Aku terjatuh ke tanah, untungnya macan tutul itu sepertinya tidak berniat untuk menerkamku.


Macan tutul itu benar-benar hanya mengusapkan kepalanya ke leher ku, atau menjilat wajahku. Seakan-akan sedang membujukku untuk mengusapnya. Aku memberanikan diri untuk mengusap kepalanya. Macan tutul itu menjilati rahangku. Ia sepertinya menyukaiku.


Aku merasa macan tutul ini bukanlah macan tutul biasa. Aku mengusap kepalanya seperti aku mengusap kepala Virong. Seperti Virong ia menguap lebar, hingga taring-taringnya terlihat di depan mataku. Dan yang membuatku ingin muntah adalah aroma mulutnya yang busuk, seperti aroma mulut kucing. Ku pikir dia akan memakanku, tapi dia buru-buru memelukku lagi.


"Sudah-sudah, aku tidak yakin apakah aku pernah mengenalmu, tapi sepertinya aku merasa kau dan aku itu saling kenal. Tapi itu tidak mungkin"


Seolah sedang berbicara denganku, macan tutul itu mengerang lagi. Aku mengusap punggungnya. Kemudian berkata. "Baiklah, sudah bermainnya. Aku tidak tahu mengapa kamu malah bertingkah seperti kucing jinak, tapi bisakah kamu lepaskan aku? Aku harus kembali kepada Ayah dan Adikku, mereka pasti menungguku."


Macan tutul itu menurut, sebuah fakta yang tidak terduga ini terasa tidak nyata bagiku. Tapi tatapan mata macan tutul itu menyiratkan kesedihan yang dalam, seakan-akan memelukku tidaklah cukup untuk melepaskan rindunya. Aku mengusap kepalanya penuh kasih.


"Baiklah, aku janji aku akan datang lain kali, mungkin aku dapat menemanimu. Tentunya dengan syarat kau berperilaku baik, dan tidak memakanku." Yang membuatku ingin tertawa adalah macan tutul itu mengangguk-angguk seakan ia mengerti apa yang aku katakan.


Kemudian untuk terakhir kalinya dia mengusapkan kepalanya ke lenganku, lalu berlari ke semak belukar. Aku mengambil kembali lengan kiriku yang ku jatuhkan ke tanah. Kemudian kembali ke tempat Adikku. Kupikir aku akan menceritakan ini pada Ayah. Jika Adikku, mungkin dia tidak akan percaya, tapi jika itu Ayah, aku percaya Ayah akan mendengarkanku dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2