Who Am I?

Who Am I?
Cakra


__ADS_3


Cakra



Aku memegangi kepalaku yang terasa berat. Tubuhku terasa lemah, dan kakiku rasanya kehilangan kemampuannya untuk berdiri. Tidak ada Calya di sini. Tanpanya aku merasa kondisiku semakin buruk. Setelah berbincang ringan dengan Virya dan Cila, Calya dan aku di ajak untuk berjalan-jalan. Katanya ingin mengenalkan kembali desa yang sudah banyak berubah sejak kunjungan terakhir kami.


Dan di sanalah aku tersesat. Entah bagaimana aku terpisah dari Calya. Parahnya lagi, aku kurang mampu membedakan arah atau sesuatu yang ku lihat. Tapi dengan tubuh ini aku mampu mengendus aroma Calya. Berita buruknya adalah aku sekarang ada di jalanan yang isinya Barbeque dan banyak makanan dengan bau kuat lainnya. Itu menutupi bau Calya yang hampir memudar.


Dan kondisi tubuhku sedang tak baik. Detik berikutnya aku bisa saja tak sadarkan diri. Saat itu benar-benar terjadi, seseorang membantu memapahku. Saat ku pikir itu adalah Calyaku, ternyata itu seseorang yang tak dapat ku kenali siapa dia.


"Kau menghirup terlalu banyak Aroma, aku yakin kondisimu sedang tidak baik saat ini. Ayo, istirahatlah di tempatku untuk sementara." Itu adalah seorang pria dengan rambut perak dan mata hijau terang. Ada taring panjang yang terlihat saat ia tersenyum. Dia merupakan sosok yang terasa akrab.


"Ter... Se.. rah..." Aku tak lagi ingat apa yang terjadi setelah kata itu terucap.


Saat aku mendapat kembali kesadaranku, kondisiku masih sama buruknya. Hanya sedikit lebih baik. Aku memijat dahiku perlahan, lalu menghela nafas sesaat. Aku memperhatikan aku berada di ruangan asing yang terasa akrab. Aku merasa aku pernah kemari, tapi itu hanya perasaan samar yang tidak jelas.


"Apa kau sudah membaik?" Itu adalah pria berambut perak sebelumnya.


Aku masih memegangi dahiku yang berkedut. "Terima kasih atas bantuannya. Kondisiku masih tak dapat di katakan baik. Apa yang terjadi sebenarnya?"


Pria berambut perak itu terlihat sedikit terkejut dengan alis yang turun. "Hei, Rajendra. Bicaramu seolah aku adalah orang asing saja."


"Tapi aku memang tidak mengenalmu." Aku berkata yang sejujurnya kepada orang ini.

__ADS_1


"Ya ampuuun... Ternyata informasi yang di berikan Calya sebelumnya benar. Macan bodoh ini telah menjadi idiot karna dirinya sendiri." Ia bergumam halus, namun aku masih dapat mendengarnya.


Pria itu menegakkan kembali tubuhnya dan berkata sambil memberikan aku air minum. "Aku Cakra, Karibmu saat di masa muda. Ya ampuuuun... Kau cepat sekali tua hingga melupakan aku."


"Cakra... Biarkan aku mengingatnya.... Aku tidak terlalu mengingatmu, hanya saja ada kesan yang menyebutkan kalau kita memang dekat di masa lalu." Aku berkata lagi setelah terpikir hal akrab tentang nama itu.


Saat itu Cakra kembali berkata. "Kau menghirup terlalu banyak Aroma. Dan salah satunya, aku menduga adalah racun kelinci. Itu adalah racun yang diciptakan Siluman Kelinci sebagai pertahanan diri dari Siluman Karnivora besar seperti kita. Kau pasti baru saja bertemu dengan salah satunya. "


"Ya... Aku baru saja bertemu satu. Itu adalah Cila, temannya Calya." Ujarku pelan.


"Waduhh... Kau bertemu si Ratu Racun. Pantas saja kondisimu terlihat buruk. Dengarkan ini, Desa ini tak sedamai wilayahmu. Di tempat ini, kehidupan dan kematian bukanlah sesuatu yang akan di adili oleh Raja. Ini membuat para Siluman Herbivora atau Siluman lemah lainnya harus memutar otak untuk bertahan hidup. Kau taukan desas-desus mengatakan kalau kita memakan daging Siluman, energi miliknya akan berubah menjadi milik kita."


Aku mengangguk-angguk. "Namun itu dapat memberikan kutukan. Sebaiknya jangan kau lakukan." Ujarku.


Aku mengangguk pelan. Kepalaku terlalu berat dan aku ingin tidur lagi. "Kalau begitu istirahat saja hingga kau membaik. Aku akan membantumu mencari Istrimu."


Aku mengangguk pelan dan tidur. Wajar dia memperingatkan aku. Aku adalah Macan besar, macan Hitam pula. Di wilayah Nokturnal aku salah satu predator buas yang di takuti. Baiklah, semoga dengan beristirahat sejenak, rasa berat di kepalaku dapat hilang.


....


Begitu aku terbangun, kepalaku mulai terasa ringan. Tak ada perasaan berat sebelumnya. Aku bahkan dapat berjalan normal untuk saat ini. Namun tubuhku masih terasa lemah. Aku pikir dengan menyedot energi alam sedikit perasaaan lemah ini akan membaik. Siapa yang menduga, energi di desa ini sangat tipis. Tipis hingga habis ku sedot dalam beberapa detik.


Jadi.. tubuhku masihlah terasa lemah. Aku juga ingat. Aku meninggalkan tubuh Rini dengan energi. Sebelum pagi aku harus kembali. Jika tidak, tubuhnya akan membusuk dan janjiku akan berubah menjadi bencana. Usia tubuh itu baru sembilan belas setengah tahun. Aku berjanji dua puluh tahun. Maka janji itu harus aku pegang dan tepati.


Aku melangkah keluar ruangan. Bahkan jika tidak bertemu dengan Calya aku harus pergi. Aku harus kembali sebelum tubuh itu membusuk. Ugh... Pandanganku memburuk. Tubuh yang lemah membuat jalanku tidak lagi tegap. Saat aku membuka pintu, aku bersandar pada bingkainya untuk mengumpulkan tenaga sesaat.

__ADS_1


Saat aku hendak berjalan lagi, kakiku menginjak sesuatu dan aku akan terjatuh. Lagi-lagi seseorang menahanku agar tak terjatuh. Tubuhnya lebih mungil dariku namun ia mampu menahan tubuhku agar tak terjatuh. Ia membantuku duduk.


"Kau ingin kemana Rajendra?" Dari suaranya itu adalah Calya.


"Kita harus kembali, tubuh itu akan membusuk jika kita terlambat kembali. Jika aku ingat Energi yang aku letakkan hanya mampu bertahan hingga jam empat pagi. Sebentar lagi jam empat pagi. Bahkan jika kau tidak ingin kembali, paling tidak kita harus menambah energi ke tubuh itu." Aku berbicara kepada Calya yang berada di sampingku.


Istirahat sejenak membuat pandanganku kembali membaik. Aku melihat Cakra yang kebingungan. Ia terlihat sangat ingin bertanya. Tapi takut untuk bertanya. "Baiklah, ini memang hampir pukul empat pagi. Tapi kau duduk saja di sini. Biarkan aku membentuk portal untuk ke rumah sebentar. Aku akan membuat portal permanen, jadi kita bisa kembali ke tempat ini kapan saja dari rumah."


Aku hanya mampu mengangguk untuk saat ini. Calya pergi bersama Cakra ke sebuah dinding kosong yang berada di salah satu pojokan ruang tamu. Mereka tampak berbicara sesaat. Lalu Cakra melangkah menuju ruangan lain yang aku duga sebagai dapur.


Aku mencoba untuk mengatur nafasku. Namun kepanikanku terus saja ada. Dan akan terus ada hingga aku bisa pulang dan kembali ke tubuh Rini Ariani. "Minumlah sebentar saja, seharusnya dengan meminum ini efek dari racun kelinci itu akan hilang."


Cakra menyerahkan segelas air herbal yang di seduh di cangkir bambu. Baunya membuat aku ingin bersin. Tepat saat aku hendak bersin, Cakra memencet hidungku. "Tutup hidungmu saat meminumnya. Salah satu daun herba di dalamnya merupakan salah satu tumbuhan yang di benci Macan."


Aku memencet hidungku lalu meneguk seluruh ramuan herbal itu dalam satu tegukan besar. Saat aku memberikan cangkir bambu kepada Cakra, aku merasa baikan. Perasaan lemah itu seolah tak pernah ada. Namun ada yang tidak beres. Perutku terasa seperti di aduk. Benar-benar mules.


"Raj, portalnya sudah siap. Ayo kita kembali."


Namun perasaan mules itu semakin melilit ususku. "Arrggh! Cakra sialan! Awas saja kau!"


Aku berlari ke arah Calya. Karna mules, sesekali gas akan keluar dari anusku alias kentut. Aku menggendong Calya ala bridal style lalu melompat ke portal yang telah menyala. Saat itu aku hanya mendengar suara tawa Cakra yang begitu keras.


"Buahahahaha! Raja siluman Rajendra Lakeswara sedang terkentut-kentut di depanku! Wahahaha!"


Oke fiks Bocah laknat ini sepertinya memang karibku.

__ADS_1


__ADS_2