
Jengukan Rev
Aku yang tidur-tiduran terkejut saat pintu kamarku tiba-tiba di buka. Ternyata Ibu, wajah Ibu terlihat panik. "Kenapa Bu?"
"Teman-temanmu!" Nafas Ibu masih tidak lancar saat ia berbicara. Ibu segera merapikan tempat tidurku.
"Apa yang membuat Ibu panik begitu? Katakan padaku."
"Teman sekelasmu akan datang menjengukmu! Dan mereka sedang dalam perjalanan! Wali kelasku baru saja mengabari Ibu!"
Wah Gawat ini!
"Bu, bisa panggil Hallin?" Ujarku.
"Kamu bicara apa sih nak, Adikmu kan masih sekolah kalau jam segini."
Gawat! Gimana dong ini!? Tidak mungkin aku meminta tolong kepada Ibu. Koleksi Manga hentai milikku masih dibawah kasur! Jika teman-temanku menjengukku, nanti mereka akan melihatnya.
Ibu membaca kepanikanku. "Kenapa? Biar Ibu yang bantu."
Jika Ibu lihat bagaimana ini?! Tidak mungkin aku meminta bantuan Ibu. Yang ada aku hanya di marahi! Lalu ujung-ujungnya akan di ceramahi lagi tentang salahnya pergaulanku!
Arrggghhh!! Ini gara-gara si Yuda nih. Hadiah ulang tahunku yang dari dia ya ini, sekotak manga Hentai. Mana belum sempat ku bereskan setelah pindah kemari. Belum lagi beberapa DVD anime hentai yang ku sembunyikan di novel-novel di rak buku. Kalau di buka-buka kan nanti keliatan.
"Bu, bisakah aku di pindahkan ke ruang tengah saja?" Tanyaku.
Tanpa curiga, Ibu berkata. "Bisa, kenapa?" Ibu bertanya saat kamarku sudah rapi di matanya.
"Aku hanya tidak suka kalau ada orang asing yang menyentuh barang-barangku. Lagi pula nanti mereka bisa langsung melihatku, jika aku di pindahkan ke ruang tengah." Ujarku.
Ibu menghormati jawabanku. "Kalau begitu ayo, biar Ibu membantumu turun."
__ADS_1
Dengan beberapa kali bolak balik, Ibu berhasil membawaku keluar kamar beserta selimutku. Aku di dudukkan di ruang tengah. Wah, akhirnya... Setelah sekian hari aku tidak melihat televisi. "Bu, aku boleh menyalakan televisinya?"
"Boleh, ini remotenya." Aku mengambil remote televisi.
Dengan menekan beberapa angka terpampang lah sebuah film kartun anak-anak. Aku suka menonton ini, karna kupikir kartun tidak berfaedah dapat meringankan beban fikiran. Seperti serial kartun di depanku yang identik dengan laut dan rumah nanas. Yap, Spongebob Squarepants.
Aku mencoba merilekskan otot-otot tubuhku. Lalu ku coba untuk menggerakkan kakiku. Hasilnya nihil, seolah tak punya kaki, aku tak dapat merasakannya apalagi menggerakkannya. Ku lihat jam dinding yang masih berdetak, waktu menunjukkan pukul sembilan pagi.
Wah... Jika aku sekolah, sekarang aku pasti sedang berbicara dengan Yesie. Aku jadi sedikit rindu kepadanya. Rasanya baru kemarin ia tersenyum ke arahku. Haih... Rindu adalah penyakit hati yang terberat.
"Meong..." Aku kenal pemilik suara itu.
Itu suara halus khas milik Virong! Ku lihat kucing kecil itu baru saja berjalan, sepertinya ia hendak ke pintu depan. Namun melihatku yang duduk, langkahnya terhenti. Seolah memanggil kucing lainnya, Virong mengeong keras beberapa kali. "Meong Meong! Meong!"
Kucing lainnya datang. Melihatku yang duduk di atas karpet duduk, Para Anak-anak kucing berlari ke arahku. Aku juga merindukan mereka. Mereka melompat kearahku. Ku lingkarkan tanganku ke mereka semua. "Anak-anak... Aku rindu kalian."
Setelah sesi pelukan selesai, kucing-kucing dengan patuh duduk di sekitarku. Kecuali Virong, mereka semua mengelilingiku. Virong berdiri di atas kakiku, lalu duduk di pangkuanku. Ku usap satu persatu kepala mereka. Dengkuran halus mereka mengiringi film kartun yang kulihat bagai musik orkestra.
Tanpa sadar aku ketiduran. Aku bangun lagi saat mendengar suara percakapan banyak orang. "Wah... Kak Ren sudah bangun ya?"
"Ya begitulah..."
"Kak, Kakak sakit apa sih. Kenapa lama sekali tidak sekolah?" Tanya Iqish.
"Hm... Aku sendiri tidak tau. Yang pasti sekarang aku tidak bisa merasakan kakiku. Saat itu aku bahkan tidak bisa merasakan tubuhku." Ujarku.
Rinmie meringis. "Wuis... Kok bisa begitu? Kakak tidak terkena Stroke kan?"
"Jangan ngawur... Memangnya Stroke kakunya setengah badan?"
"Iya juga sih..." Gumam Rinmie.
"Um... Bagaimana kabar Yesie?" Tanyaku.
"Yah... Dia sedikit buruk, Wajahnya yang dingin semakin dingin. Padahal kalian berdua begitu cocok, sama-sama datar wajahnya." Jawab Iqish.
__ADS_1
Sebenarnya selain di pertemuan pertama, aku tak lagi melihat wajah datar Yesie. Di saat-saat berikutnya, yang ku lihat di wajahnya hanya senyuman tulus. "Itu... Apakah dia masih di kucilkan di kelasnya?" Tanyaku khawatir.
"Tidak juga, beberapa anak laki-laki mulai menganggap hal yang terjadi hanya angin lalu. Hanya beberapa anak populer di kelasnya yang menolak untuk bertatapan muka dengannya."
Aku jadi bingung... Jika dia di kucilkan begitu apa tidak masuk kantor BK? "Sebenarnya belakangan ini Kak Yesie sedang di sidang dengan teman kelasnya yang lain, oleh guru BK."
Rinmie mendekatiku lalu membisikkan kata. "Ada kabar angin yang bilang kalau dia akan di pindahkan dari kelas itu."
"Wah... Bagus dong... " Gumamku.
Rinmie menghela nafas panjang. "Tapi Kakak jangan berharap terlalu besar. Kuota untuk kelas kita kan sudah penuh. Paling-paling Kak Yesie di masukkan ke kelas IPA 2 atau IPS."
Iqish yang mengusap-usap kepala kucingku ikut berbicara. "Benar, lagi pula pindah kelas itu pasti sulit. Daftar pelajarannya akan berganti. Belum lagi sebentar lagi ujian. Apa bisa dia beradaptasi dengan cepat di kelas barunya?"
"Benar juga... Haiss... Memusingkan." Memikirkan perihal pindah kelas membuatku garuk-garuk kepala.
Tak lama Ibu wali kelasku duduk di sisiku. Aku hanya pernah bertemu sekali dua kali dengan Ibu ini. Mungkin karna beliau adalah pribadi yang cukup sibuk, beliau terkadang hanya memberikan kami tugas hapalan saja.
"Nak... Ibu baca data kesehatanmu yang buruk dari sekolah lama kamu... Masalah pelajaran jangan terlalu di pikirkan ya... Kamu tenang saja... Fokuskan saja dirimu ke kesembuhanmu. Meski kamu tidak dapat merasakan sakit, kamu tetap tidak boleh memaksakan diri. Ibu juga tau kalau ingatanmu buruk, jangan di paksakan ya..."
Wajah teduh Bu Fitri membuatku tenang. Aku hanya mengangguk-angguk di buatnya. Usapan tangannya terasa hangat. Perasaan dan kesan yang di berikan Bu Fitri sangat nyaman. Seperti bertemu seorang tetua yang sudah hidup sangat lama. Seperti bertemu orang bijak yang berpikir jernih.
"Baiklah, melihat waktu yang sudah mulai siang, kami semua izin pamit ya Bu... Rin... Semoga cepat sembuh ya Nak." ujar Bu Fitriana Sely.
Ia mulai berdiri dari duduknya. Lalu teman-teman yang lain mulai berdiri. Satu persatu anak perempuan di kelasku menyalami tanganku. Mereka berkata perkataan yang sama. "Semoga cepat sembuh ya Kak."
Tak lupa teman-teman sekelas juga menyalami tangan Ibu. Mereka juga berkata perkataan yang sama. "Kami pamit ya Bu..."
Melihat teman-teman sekelasku yang berbaris keluar bersamaan, terpikir olehku barisan anak ayam. Dengan Bu Fitri sebagai induknya. Aduh jahatnya pikiranku. Sudahlah... Jengukan itu bukan masalah hanya saja penyakit hatiku semakin berat. Aku jadi rindu dengan Yesie.
Aku sangat berharap dia menjengukku. Meski itu mustahil, aku benar-benar ingin melihat wajahnya. Melihat senyumnya, lalu mendengarnya bercerita.
Aaaaaa....
Aku bisa gila !
__ADS_1
Karna kesepian (〒﹏〒)