Who Am I?

Who Am I?
Vampir atau Zombie?


__ADS_3


Vampir atau Zombie?



Kalian ingat teman sekelas yang pingsan saat itu? Nah, ketiganya sama-sama sakit selama seminggu penuh di hari berikutnya. Saat mereka membaik dan dapat ke sekolah, salah satu dari mereka meminta kepada guru untuk pindah ke kelas sebelah.


Sementara sisanya mereka tampaknya diam-diam menolak interaksi denganku. Aku juga tidak peduli sih. Mereka hanya tambahan dalam hidupku. Yang aku pedulikan hanya teman dekatku saja. Bagaimana pendapat mereka, sangat penting untukku. Ngomong-ngomong, belakangan ini aku merasa teman sekelas mendiskusikan sesuatu tentangku di belakangku. Karna pendengaran ku tajam, aku menangkap kata 'Zombie atau Vampire'


Dan guru yang berkata akan mengawasiku itu, yah sepertinya dia serius ingin mengawasiku. Bahkan Yesie dan Alya di tanyai secara pribadi tentangku. Alya curiga kalau dia adalah salah satu dari banyaknya 'orang pintar' yang berhubungan dengan hal gaib. Jadi aku di paksa untuk bertingkah lebih normal oleh Alya.


Saat ini adalah waktu makan siang. Karna kesepakatan, seperti biasa aku dan yang lainnya makan di tempat favorit kami. Aku selalu merasa ada yang memperhatikan gerak-gerik kami belakangan ini. Tapi aku tak terlalu peduli.


Makanan yang di masak Ibu adalah makanan yang benar-benar mengandung apa yang di sebut 'empat sehat lima sempurna'. Sedangkan belakangan ini perutku sudah tak lagi mampu mencerna makanan manusia. Beberapa organ dalam tubuhku sudah berhenti berfungsi. Aku tak bisa lagi menelan makanan seperti biasanya.


Maka dari itu, Alya membuatkan makanan istimewa yang terbuat dari beberapa campuran darah dan daging binatang. Di buat menjadi sup kental atau bubur. Sehingga aku tak perlu lagi mengunyah untuk menghancurkan makanan.


Makanan yang di buatkan Ibu akan aku berikan kepada Alya. Sementara aku mengunyah makanan yang Alya buatkan. Untuk di rumah, kami meminta bantuan Ayah, karna Ayah tau kebenaran di balik Putrinya. Ayah berkerja sama denganku agar Ibu tak memaksakan makanan manusianya kepadaku.


"Sebenarnya aku ingin tanya sejak lama. Tapi aku takut menyinggung kalian." Yesie berucap saat ia selesai menelan seteguk air.


"Tanya apa?"


Tatapan Yesie saat itu tampaknya mengarah ke tempat makananku, yang di dominasi oleh warna merah kental yang menjijikan. Tangan mungilnya menunjuk tempat makananku dari jauh lalu berkata. "Itu sebenarnya apa sih? Warnanya aneh dan baunya terasa tidak sedap."


"Obat." Aku menjawab singkat.

__ADS_1


Yesie tampak mengernyitkan dahinya lalu kembali ke makanannya. Tampaknya ia ingin bertanya tapi di urungkan. Menurut apa yang di katakan Alya, aroma makanan yang di buatnya ini memang tidak sedap di hidung manusia. Jadi, karna takut mengacaukan selera makan Yesie, aku menelan makanan secepat yang aku bisa. Tentunya tidak terlalu terburu-buru juga. Nanti tersedak, jika tersedak tidak ada yang tau apa yang akan terjadi kepadaku bukan?


Menurut perkiraan, mungkin saja tulang leherku akan patah atau semacamnya. Saat aku kembali ke kelas untuk menaruh tempat makan, sayup-sayup aku mendengar seseorang menyebutkan namaku. Aku memutuskan untuk berdiri di depan pintu untuk mendengarkan apa yang mereka katakan. Aku ingin tau apa sebenarnya yang mereka bicarakan di belakangku.


"Jadi Kak Rin itu sepertinya Zombie!"


"Dia vampir! Lihat saja wajahnya yang pucat dan dingin!"


"Zombie dong! Aku bahkan melihat matanya terlepas saat itu."


"Eh, jadi beneran ya yang di bilang Bu Jessica waktu itu?"


"Apa menurutmu aku bercanda? Aku serius!"


"Tapi Kak Rin lebih keren kalau jadi Vampir."


"Tapi kenapa yah pas kita menjenguknya di kelas sepuluh, Ibunya kayak biasa aja gitu. Ngga mirip sama Vampir atau Zombie."


Ah... Anak-anak ini terlalu banyak menonton film. Memang sih kondisi tubuhku sendiri tidak normal. Wajar saja jika mereka berspekulasi demikian. Aku mendorong pintu agar terbuka. Orang-orang di dalam menghentikan obrolan mereka, dan semua mata itu tertuju kepadaku.


Tampang mereka seolah berkata 'apa dia mendengarnya?'


Ada kegugupan dan sedikit kepanikan saat mereka melihatku. Terutama yang pingsan saat itu. Mereka menunduk saat aku lewat, tampak ketakutan. Mereka juga sepertinya merasa 'trauma' kepadaku. Seperti Adik kembarku di rumah.


Pelajaran berikutnya adalah pelajaran Sejarah. Guru sejarah ini terkenal suka memberi tugas kelompok. Atau tugas rumah yang banyak. Itu sebabnya begitu dia memasuki kelas, para murid tampak sedikit kecewa dan malas.


Aku juga malas bila harus berkerja kelompok. Biasanya sih jika itu adalah tugas kerja kelompok di sekolah aku akan biasa-biasa saja. Yang merepotkan adalah tugas kelompok yang di kerjakan di rumah. Karna aku tidak terlalu suka keluar rumah, aku hanya bisa mengganti tugasku dengan uang. Apa lagi sekarang, aku hanya mampu mempertahankan kesadaran tubuh ini selama dua belas jam. Jika sekolah di hari Senin sampai Kamis, aku harus sekolah sepuluh jam. Itu artinya aku hanya punya waktu dua jam untuk bebas.

__ADS_1


Sedangkan hari ini adalah hari Selasa, menurut kebiasaan Ibu mapel Sejarah, tugas kelompok harus di kumpulkan sebelum hari Jumat. "Oke, anak-anak... hari ini seperti biasa, Ibu akan memberikan tugas kelompok ya. Ini tugas diskusi, buka halaman 23."


Murid-murid tampak menghela nafas pasrah. Kebetulan saat itu Ibu guru memperhatikan. Alisnya berkerut tanda tidak suka. "Kenapa? Kalian ngga suka di kasih tugas sama saya?"


Nada bicara Bu Guru terdengar ketus. Sepertinya Ibu itu sedang datang bulan. Ketua kelas duduk di depan meja Bu Guru itu. Ia segera menjelaskan. "Bukan Bu, bukan ngga suka."


"Terus, kenapa kalian menghela nafas?!" Ia berujar dengan mata yang mendelik tajam.


"Kami cuma... Bosan aja Bu-"


Sebelum ketua kelas menyelesaikan kalimatnya, Ibu guru itu berkata lagi. "Bosan?! Kalian bosan sama cara saya mengajar?!"


"Bu tenang dulu. Mungkin maksudnya bosan dengan tugas Bu. Ibukan kalau memberi tugas selalu tugas diskusi. Sesekali biarkanlah kami mengerjakan tugas individu di sekolah Bu." Yang berbicara adalah teman yang duduk di samping ketua kelas. Mendengar penjelasannya Ibu itu menghela nafas lega. Ada perasaan bahagia di sela kemasaman wajahnya.


Ia kemudian membuka bukunya sekaligus berpikir sesekali bagian mana yang akan di jadikan tugas. "Oke kalau begitu tugas ini. Yang mencari situs bersejarah yang ada di Indonesia. Terserah kalian mau cari di mana. Yang penting tidak mengganggu kelas yang lain dan di kumpulkan sore ini juga. Ibu mau pergi sebentar."


Para murid menghela nafas lega saat Ibu itu berkata demikian. Tentu saja para murid akan bergerombol untuk memutuskan bagaimana mereka mengerjakan. Ada yang diam-diam membawa telpon. Ada pula yang memutuskan tidur. Ada yang berlari ke toilet. Bilangnya sih begitu, tapi saat ku lihat melalui jendela, mereka malah pergi ke kantin.


Kalau aku? Aku di tarik ke perpustakaan oleh Iqish dan Alya. Meski lebih lama dari pada menyalin punya teman yang melihat telpon, tapi ini lebih baik dari pada menyalin, begitu kata Iqish. Aku mengangguk-angguk saja, toh nanti aku juga menyalin punya Alya.


"Ngomong-ngomong Kak, kalau menurut Kakak secara pribadi, karakteristik Kakak itu mirip Zombie atau Vampir?" Iqish bertanya dengan suara pelan yang penuh keraguan.


"Mayat hidup." Ujarku.


"Mengapa begitu? Tidak bisakah lebih spesifik?" Iqish bertanya lagi.


"Ya, apakah itu Vampir atau Zombi, mereka berdua adalah mayat hidup bukan?" Ujarku.

__ADS_1


Iqish tampak berpikir sejenak. Lalu mengangguk. "Iya juga sih." Ujarnya.


__ADS_2