
Siapa aku Rev
Hari ini Yesie tidak datang ke sekolah. Ketua kelasnya bilang kalau dia sakit. Jadi seharian ini, Alya terus di sampingku. Sekarang kami sedang makan siang, di tempat favorit tentunya. Sebenarnya aku ketagihan setelah makan makanan buatan Alya. Jadi diam-diam aku memintanya memasakkannya lagi untukku.
Juga karena Alya dan aku satu sekolah, maka kami pergi bersekolah bersama. Ibu tak lagi mengantarku. Ayah dan Ibu juga sangat percaya kepada Alya. Terutama Ayah, dia sangat mempercayai Alya, layaknya teman lama.
Alya juga memakan makanan lain yang dibuatnya khusus untuknya sendiri. Melihat dia selesai makan aku juga menyelesaikan makanku. Sebenarnya beberapa hari lalu aku melakukan penyelidikan diam-diam.
Aku membunuh seekor ayam peliharaan Si kembar. Darahnya ku tampung dan mayatnya ku lempar ke hutan. Aku juga diam-diam membuat skema kecil agar Hallin secara tak sengaja melukai tangannya hingga berdarah. Setelah ku hirup aromanya dalam-dalam, dugaanku benar. Karena hidungku berbeda dengan manusia rata-rata, aroma darah taklah seperti aroma karat yang memuakkan bagiku. Bagiku aroma itu menarik dan menggiurkan. Terutama setiap jenis darah segar dari mahluk manapun memiliki aroma berbeda-beda.
Hanya darah milikku saja yang tidak menggiurkan menurutku. Darahku hitam dan tak berbau, suhunya juga dingin. Melihatnya hanya membuatku tidak berselera.
Alya menyeka sudut bibirku dengan tisunya. Lalu ia berkata sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku. "Rein, katakan dengan jujur. Apakah kau menyukai masakanku?"
Aku menoleh ke arahnya lalu mengacungkan jempol kananku. "Lebih dari sekedar suka!"
Matanya yang indah menatapku sesaat. Setelah berkedip dua kali, ia tertawa kecil. "Apanya yang lucu?"
Aku bertanya setelah merapihkan bekal makanku. Ku lihat gadis itu masih saja tertawa. Ku berikan dia botol air minum. Dia meneguknya setelah tenang. Lalu berkata atau mungkin bergumam. "Reindra Reindra... Andai Ratna melihatmu juga..."
Ia tersenyum sambil mengusap wajahku. Ratna yang di sebutkannya membuatku mengingat gadis berambut pirang yang memanggilku Kakak. "Alya"
Alya segera menatapku. Aku sedang serius sekarang, Alya menegakkan tubuhnya siap mendengar kata-kataku. "Kamu memberiku makan Darah, bukan?"
Ku lihat Alya tampak tersentak kaget. Matanya menatapku dengan sorot takut. Aku melihat jelas kegugupan dalam matanya.
"Em..."
Melihat keraguannya, aku merasa ia menyembunyikan sesuatu. Aku sangat yakin kalau ia memiliki tujuan tertentu dari perbuatannya. Aku menghela nafas panjang. Ku sandarkan tubuhku ke pohon di belakangku. "Aku tak tau apa alasanmu, tapi tindakanmu mengingatkanku. Mengingatkanku dengan keraguanku."
Alya menatapku dengan tatapan khawatir. Mulutnya terbuka, namun ia tak mengatakan apapun. Mungkin ia sedang menungguku berbicara. Lalu aku mengatakan.
"Lea, aku pernah meragukan siapa diriku. Apakah aku seorang manusia? Apakah aku benar-benar Rini Ariani? Aku selalu merasa diriku bukanlah aku. Aku selalu merasa kalau aku bukanlah manusia atau aku bukanlah Rini Ariani."
__ADS_1
Alis hitamnya bertaut dengan rasa iba yang memancar. Aku memijat dahiku yang berdenyut. Lalu ku patahkan jari telunjuk kiriku. "Kau lihat darah yang memancar, warnanya yang hitam dan suhunya yang dingin. Ini bukanlah milik mahluk hidup."
Alya terlihat terkejut dengan tindakanku. Aku mengeluarkan isi sakuku untuk menjahit jariku yang lepas. "Biar aku saja"
Alya berkata dengan nada khawatir. "Apa yang kau khawatirkan Lea? Aku tak dapat merasakan rasa sakit. Tubuh ini seolah bukan tubuh yang hidup. Tidakkah kau merasakannya? Suhu tubuh yang dingin. Otot-otot yang kaku. Dan darah yang berwarna hitam. Katakan padaku! Apakah aku Hidup? Katakan padaku Calya!"
Rasa frustasi berat yang pernah hampir ku lupakan, kembali membayang bayangi diriku. Pertanyaan yang tak pernah terjawab itu kembali muncul dalam pikiranku. Luka tersakit yang lebih buruk dari luka fisik, kembali menghantuiku.
"Rein, kau memanggilku Calya?"
Hanya suara itu yang mampu menahan segala deritaku. Hanya pemilik suara itu yang mampu menenangkan diriku. "Apakah aku berkata begitu?"
Aku berbisik. Rasa frustasi itu lenyap begitu aku melihat wajah Alya. Perasaan berat dan berdenyut di kepalaku telah sirna. Ku tangkup wajah gadis depanku. "Apakah kau adalah malaikat?"
Alya hanya mengusap kepalaku perlahan, mulutnya terus bergumam. "Syukurlah berhasil."
Aku tidak tau apa yang di sebutnya berhasil. Tapi usapan tangannya membuatku mengantuk. Bel masuk berbunyi, dan aku tidak bisa tidur sekarang. "Tidak apa-apa... Tidur saja... Semua akan baik-baik saja... Aku bersamamu.... Rajendra..."
Kesadaranku di tarik, aku hanya mendengar separuh dari kalimat yang di katakan Alya. Rasanya ada tangan tak kasat mata yang menarikku jatuh ke dalam kegelapan tak berdasar.
Ku lihat kakiku yang terasa melayang. Kemanapun aku memandang hanya kegelapan yang terlihat. Bahkan kemampuanku untuk melihat dalam gelap juga tak dapat di gunakan. Namun aku masih dapat melihat dengan jelas kedua tanganku dan kakiku.
Suara serak itu sangat ku kenali. Itu adalah suara yang biasanya keluar dari kerongkonganku. Aku berbalik untuk melihat siapa yang berbicara. Tapi tak kulihat dimanapun pemilik suara itu. "konyolnya aku, aku lupa memperlihatkan diriku."
Kemudian cahaya putih menyebar di depanku. Itu membentuk siluet tubuh remaja. Yang ku lihat adalah, sosok yang biasa ku lihat dalam cermin. Sosok diriku.
"Paman, beberapa waktu lagi aku akan sepenuhnya lenyap. Jadi aku ingin melakukan sesuatu." Itu adalah pemilik suara dan wajah yang sama denganku, tapi ia bisa tersenyum normal.
"Siapa kau?" Aku sedikit terkejut saat suara yang keluar dari mulutku adalah suara asing. Itu suara seorang pria dewasa.
"Siapa aku? Tentu aku Rini Ariani" Ujarnya dengan senyuman. Aku tidak tau kalau wajah yang akan robek bila tersenyum memiliki senyuman yang indah. Ada lesung Pipit di pipi kirinya. Sehingga bahkan dengan penampilan itu, rasanya sosok yang mengaku sebagai Rini Ariani itu masih memiliki Aura feminimitas yang hampir hilang.
"Lantas, jika kau adalah Rini Ariani, maka siapa aku?"
Rini hanya menatapku dari atas ke bawah. Ia mengusap-usap dagunya. Alisnya bertaut dengan rasa ingin tau. "Sebenarnya aku juga tidak tau Paman. Memangnya Paman tidak mengingat diri sendiri?"
Aku menggeleng pelan. Yang aku tau hanyalah aku adalah Putri seorang manusia, di lahirkan dengan nama Rini Ariani. Lantas jika Rini Ariani ada di depanku, maka siapakah aku? Rasa frustasi akan selalu membayang kala aku memikirkan kata 'Siapa Aku'
__ADS_1
Jika aku bukanlah Rini Ariani, siapakah diriku?
Lantas mengapa aku bisa mengendalikan tubuh Rini Ariani selama belasan tahun?
Apakah aku memiliki nama?
"Paman, tenangkan dirimu. Aku bahkan dapat mencium aroma ke putusasaaan dari jarak ini." Kulihat Rini telah berada sangat jauh dariku.
Ia mengulurkan tangannya ke arahku. Dengan demikian jarang antara aku dan Rini terpotong. "Meski aku tak bisa memberitahu siapa Paman, aku bisa mengatakan semua yang aku tau kepada Paman."
"Kalau begitu katakanlah padaku."
"Wah... Wah... Serius sekali. Jadi... aku sudah tiada sejak lama. Jauh belasan tahun lalu, mungkin saat aku masih bayi kecil. Dalam perjalananku menuju alamku. Ada orang di belakangku yang menyebut-nyebut namaku. Kalau dari suaranya, itu adalah suara Paman."
Rini berhenti sejenak. Ia memutari tubuhku. "Setelah itu rohku serasa di tarik mundur. Dan aku kembali ke tubuhku. Meski aku tidak tau siapa Paman, tapi Paman dan Ayah sedang berbicara bersama di sebuah pondok kayu di tengah kegelapan hutan. Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Intinya sejak saat itu aku hidup kembali, tapi aku tak lagi dapat menangis atau tertawa. Mulai usiaku memasuki enam atau tujuh, tubuhku semakin sulit di kendalikan. Sesuatu yang menahanku juga mulai mengendur."
Rini memejamkan matanya. Lalu ia melanjutkan. "Malam itu Ayah pergi meninggalkan kami saat hari telah larut. Aku tidak tau apa yang di perbuat olehnya, tapi malam itu adalah malam yang paling tidak terlupakan untukku. Paman muncul di tempat ini."
Aku menatap kegelapan yang seakan menelanku. "Dimana ini?"
"Alam bawah sadarku, atau kita? Hehehe... Akupun tidak tau...."
Setelah jeda sejenak Rini melanjutkan. "Dengan kehadiran Paman di tempat ini, sesuatu yang menahan rohku agar tak pergi terus bertahan. Dan semakin menguat juga. Aku mulai dapat kembali mengendalikan tubuhku dengan leluasa."
"Bagaimana denganku?"
"Paman tertidur sejak memasuki tempat ini. Begitu usiaku mulai beranjak dewasa, aku mulai merasa lelah mengendalikan tubuh mati ini. Aku pun tertidur. Sejak itu Pamanlah yang mengendalikan tubuh ini. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi sampai aku terbangun saat Paman mengamuk. Saat itu paman seperti binatang buas. Amukan Paman membuat tubuh ini memanas, memanas seakan akan meledak. Sesuatu yang menahanku juga mengikatku, aku dapat merasakan kehancuran mengunyahku perlahan. Untunglah saat itu seorang wanita tua misterius membantu menenangkan Paman. Aku yakin dia keluargamu, Paman."
Aku ingat bagian itu, seharusnya itu adalah bagian yang ku lupakan begitu saja. "Sejak saat itu, aku tak lagi bisa tertidur. Aku memperhatikan Paman dari jauh. Kadang kala aku menampakkan diri di cermin. Dan aku tidak tau itu membuat Paman takut, hehehe.... Dari sana aku merasakan bagaimana Paman mengajakku bertemu teman baik. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat senang. Semakin kemari, aku juga merasakan bahwa sesuatu yang menahanku mulai memudar. Sudah waktunya untukku pergi. Maka Paman, sebelum aku lenyap, biarkan aku menghabiskan waktu dengan keluargaku."
Meski aku tidak tau apa-apa. Batinku menyetujui keinginan Rini. Akupun menganggukkan kepalaku. "Lakukanlah sesukamu, itu adalah hakmu bukan?"
Aku tidak tau mengapa aku mengatakan itu, kalimat itu muncul begitu saja dari mulutku. Namun tidak ada penyesalan bagiku. "Hehe... Terima kasih Paman..."
Rini mendekat untuk memelukku. Tubuhnya sangat mungil, begitu mungil sampai ia tenggelam dalam pelukanku. Terakhir, ia tersenyum saat akan menghilang. Aku membalas senyumnya. "Kita akan berkomunikasi melalui cermin ya... "
Lalu ia menghilang.
__ADS_1
Meski masih belum mengingat siapa diriku dengan baik, aku merasa tenang. Tak ada lagi rasa frustasi yang sebelumnya menghantuiku. Seolah sebentar lagi semua ini akan berakhir. Benar-benar akan berakhir.