
Chapter spesial 1
'Keinginan sang Ratu 4'
Anak kucing bermanja-manja kepadaku selagi Lea berada di dapur. Hallin sudah setuju untuk membantuku, sekarang hanya menunggu Lea selesai dengan urusan perutnya. Tak perlu menunggu lama hingga suaranya terdengar.
"Bibi, aku sangat berterimakasih! Acar mangganya enak sekali..." Lea berujar dengan senyuman. Andai ia selalu memasang wajah seperti itu setiap tahun hingga anak kami lahir.
"Hahaha... Ya, makanlah jika kamu suka..." Ibu Rini berujar dengan nada senang.
"Ibu selalu berharap aku menikah segera dan melahirkan cucu untuknya. Tapi Akukan masih ingin belajar. Setidaknya tunggu hingga tahun-tahun kuliahku selesai." Ujar Hallin asal.
"Ah! Hallin! Kamu sudah kembali! Aaaa, Kakak sangat merindukanmu!" Dua wanita itu berpelukan. Lea memberikan mangkuk berisi acar mangganya kepadaku selama dia berbincang riang dengan Hallin.
'Lea, dia mengenaliku. Selain itu dia setuju untuk menunjukkan informasi yang kau inginkan.' Aku bertelepati segera.
"Kami akan berbincang-bincang Rein, habiskan acar mangganya untukku ya!" Ujar Lea.
"Eh? Kamu serius? Ini... Memangnya Lea sudah mencobanya?" Aku segera bertanya.
"Ya, aku sudah makan beberapa sendok. Percakapan kami akan sangat panjang. Selagi menunggu, habiskan itu untukku ya." Lea berujar sembari mengecup pipiku, lalu pergi bersama Hallin ke kamar Hallin.
Kini yang tersisa hanya kucing, aku, dan Ibu Rini. Ini agak canggung karna aku bukan lagi Putrinya. "Malam sudah hampir tiba Nak, hujan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Kamu bisa mengajak Alya untuk menginap di rumah ini."
Ibu Rini berujar dengan senyum teduh. "Akan kutanyakan pada Lea nanti. Sejak ia hamil emosinya agak sulit di pahami. Aku tidak yakin apakah dia ingin tidur di sini atau tidak."
Ibu Rini hanya tertawa kecil. "Itu hal wajar... Dia kan sedang hamil."
Ku pikir kami akan berakhir dengan suasana canggung. Siapa yang mengira kalau kami berbincang cukup lama. Sesekali bahkan tertawa bersama. Meski aku adalah orang asing baginya, tak ada kecanggungan sama sekali dari bicaranya. Yah, aku cukup rindu percakapan hati ke hati seperti ini. Saat menjadi Rini dulu, kami sering melakukannya.
"Ah, tidak di sangka, sudah jam segini. Nak Rein, Bibi akan memasak makan malam. Bujuklah istrimu untuk tinggal." Ibu Rini berujar dengan senyuman.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilnya." Ujarku.
__ADS_1
"Ya, kamar Hallin yang memakai pintu berwarna merah tua." Ujar Ibu Rini.
Aku mengangguk, lalu melangkah ke ruangan berikutnya. Tanpa ia beritahu aku juga masih ingat kamarku. Aku mengetuk daun pintu sebagai tanda kesopanan.
"Masuk saja. Tidak di kunci kok." Suara Hallin terdengar menyahut dari dalam ruangan.
Saat aku memasuki ruangan, pemandangan di dalamnya agak membuatku terkejut. Lea dalam bentuk kucing hutan sedang di usap-usap perutnya. Aku segera mengunci pintu. "Apa yang kalian lakukan? Jika bukan aku yang masuk, bagaimana reaksi orang rumah jika melihat Kucing hutan?!"
"Kau terlalu cerewet. Aku sedang ingin di usap..." Lea segera berujar demikian.
"Ayo Bang berubah bentuk juga! Aku mau foto sama kalian!" Hallin berujar dengan mata berbinar.
"Aku ini Macan kumbang hitam. Terlebih lagi karna aku siluman, tinggiku saat dalam bentuk binatang bisa mencapai dua meter. Apakah kamu yakin tidak keberatan?"
Hallin menggelengkan kepala. Oke, dia yang minta. Dalam kedipan berikutnya, aku berubah ke bentuk macan besar. Yah, dengan sepasang mata berbinar seperti itu, ku pikir ia memang tak keberatan sama sekali. "Wah! Sangat keren!"
Tangannya bergerak mengusap bulu punggungku. "Seagung gunung dan segelap malam, dialah macan hitam dari kerajaan siluman! Ah! Itu adalah kalimat yang keren!"
Gadis itu bergumam sendirian. Melihat tingkahnya sejak bertemu pada pandangan pertama, aku curiga kalau dia sebenarnya menjadi seorang penulis novel fantasi. "Untuk apa kalimat itu?"
"Sudah-sudah..." Aku mengubah bentukku ke bentuk Manusia, lalu mendekati istriku yang juga telah berubah bentuk.
"Lea, Bibi bertanya, kamu ingin menginap atau kita pulang?"
"Ayo menginap! Aku sudah bercerita banyak dengan Hallin! Aku ingin menghabiskan sepanjang malam dengannya!" Ujar Lea, ia tak kalah semangat dari Hallin.
"Baiklah kalau begitu. Kamu ingin makan malam apa? Aku takut makanan buatan Bibi tidak sesuai dengan lidahmu." Aku bertanya lagi dengan sabar.
"Aku tidak pilih-pilih! Aku akan makan selama itu buatanmu. Ingat, aku mengenali makanan buatanmu dalam sekali pandang." Di awali dengan nada manis di akhiri dengan ancaman pedas.
Aku mengangguk pelan lalu melangkah keluar kamar. Niatku adalah untuk membantu Ibu Rini masak. Dengan langkah pelan, aku berjalan menuju dapur. Di tanganku ada mangkuk acar serta beberapa gelas yang di gunakan olehku untuk minum.
Ku lihat punggung tua Ibu Rini yang sedang memasak. Ada keringat di wajah tuanya. Lima tahun berlalu dan ia sudah tampak sepuluh tahun lebih tua. Mungkin ia menyadari tatapanku. Ia berbalik dan tersenyum. "Nak Rein. Aduh, merepotkanmu saja. Kamukan tamu di sini Nak."
__ADS_1
Matanya jatuh ke arah benda di tanganku saat ia berujar demikian. Aku memberikan senyum. "Tak apa-apa Bibi. Mari, aku akan membantumu memasak."
Ibu Rini tertawa kecil. Ia menolakku dengan ucapan halus. "Tidak apa-apa, Nak Rein adalah tamu, Bibi tidak ingin menyusahkan."
Aku mengambil pisau di tangan Ibu Rini. Lalu mulai mengiris bawang besar ke potongan kecil dan tipis. "Bibi boleh berkata demikian pada tamu laki-laki lain. Tapi jangan ragukan kemampuanku. Begini-begini aku jago memasak loh Bibi."
Ia agak terkejut dengan kecepatan dan ketepatan ku dalam mengiris bawang. Hehehe, aku hebat bukan? Ayo puji aku...
"Wah, sepertinya Bibi meragukan orang yang salah. Kalau begitu mari kita masak makan malam bersama!" Dia sepertinya bersemangat sekali sekarang.
Mencuci sayuran, mengupasi bumbu masakan, menggoreng, dan menumis. Kami melakukannya bersama-sama. Dengan demikian makan malam selesai lebih cepat. Saat aku menyajikan menu makan malam ke meja makan, Ibu Rini berujar pelan dengan senyum bahagia.
"Haaah... Andai saja kamu masih lajang, benar-benar menantu idaman." Ibu Rini berujar dengan nada seolah menyayangkan sesuatu yang baik.
Aku hanya mampu tertawa canggung. "Itu tidak mungkin Bibi, aku sudah beristri. Lagi pula aku terlalu tua untuk menjadi menantu Bibi."
Itu adalah kebenaran. Aku bahkan lebih tua lima abad dari Ibu Rini. Kalau saja usiaku tetap sama, namun aku merupakan manusia, ku pikir aku akan menjadi mayat kering seukuran tangan bayi. Apa sebutannya? Aku lupa.
"Eh, Kamu ini..." Aku mendengar suara terkejut. Saat aku menoleh, aku hanya memberikan senyum seramah mungkin kepada pemilik suara itu.
"Ah, Ayah sudah datang. Ini Reindra suaminya Nak Alya. Nak Alya berkunjung untuk menemui Hallin." Ibu Rini berujar sembari membantu Ayah Rini menyimpan tasnya.
"Halo Paman..."
Hehehe... Aku dapat melihat keringat dingin di wajahnya. Hahaha... Mungkin anak itu berpikir kalau aku takkan pernah lagi hadir dalam kehidupannya. "Mungkin kami akan menginap, karna Istriku bilang dia sangat merindukan Hallin dan ingin menghabiskan waktu sepanjang malam dengannya."
Aku lihat Ayah Rini hanya menghela nafas ringan. Lalu ia tersenyum balik ke arahku, ah tidak, itu adalah senyum terpaksa. "Hubungan kami dengan Alya cukup dekat, kalian bisa menginap bersama. Kemarilah Nak, apakah kamu sudah mandi? Biar aku meminjamkan pakaian untuk kamu gunakan."
Ayah Rini merangkul bahuku, lalu membawaku keluar dari dapur. Ia mengantarku ke kamar tamu. "Maafkan saya yang kurang pengertian Tuan Rein, Hanya kamar ini yang saya punya untuk menyambut tamu."
"Tak perlu terlalu kaku Kris, aku benar-benar kemari hanya semalam. Lea ingin aku mengantarnya menemui Hallin. Aku tak bisa menolak keinginan Ibu hamil bukan?"
"Begitukah? Bulan ke berapa?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku. "Bagi Siluman, itu tahun bukan bulan. Ini adalah tahun ke tiga dari tujuh tahun masa kehamilan."
Kami berbincang sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi. Setelahnya, makan malam adalah prioritas utama.