Who Am I?

Who Am I?
Chapter spesial 3.3


__ADS_3

Chapter spesial 3


'flash back 3'


Seingatku jelas Lepamala di katakan sebagai sebuah desa yang ramai. Tapi aku tak menyangka kalau desa itu di Pagari oleh dinding batu. Bahkan ada penjaga di depan pintu masuk. Merekalah yang memastikan apakah seseorang pantas memasuki desa itu atau tidak.


Aku dan Lea hanya seperti manusia biasanya. Tanpa kuda atau kereta. Namun kami memiliki pedang di pinggang, pakaian yang kami kenakan masih pakaian kami dari dunia siluman. Saat penjaga melihat kami, ia berujar dengan senyuman lebar. "Ah, Tuan dan Nona pendekar, silahkan masuk."


"Tapi ingat Tuan pendekar, sekali Anda terlihat membuat masalah besar Kepala desa bisa mengeluarkan Anda nanti." Salah satu penjaga gerbang berbaik hati untuk mengingatkan kami.


Aku dan Lea mengangguk bersama setelah mengucap terimakasih. "Aku sangat senang sekali. Perjalanan singkat kita kali ini cukup menyenangkan Rein."


Lea berujar sembari memeluk lengan kiriku. "Kalau kamu senang, aku juga senang."


Mendengar kalimatku, Lea hanya memberikan senyuman. "Kau tau? Kadang aku menyukai sisi perhatian darimu."


Aaahhhh! Hatiku! Lea bilang suka aku! Ibunda! Aku akan bawakan dirimu menantu!


Oke, meski hatiku berteriak tak jelas karna sedang senang, aku masih harus mempertahankan ekspresi tenang dan wibawa seorang pangeran. "Bagaimana kalau kita pergi ke Pasa besar yang di sebutkan orang-orang?"


Lea segera menanggapi dengan mengangguk. "Segera!"


Jika pasar kecil yang pernah kami datangi hanya berisi makanan, maka pasar besar ini berisi banyak sekali barang yang bisa di beli. Pakaian, Perhiasan, buah dan sayur, beberapa daging, dan masih banyak lagi yang baru aku lihat.


Mata Lea di penuhi binar keingintahuan. Dia adalah tipe yang sangat menyukai hal baru. Tapi juga tak mudah bosan atau meninggalkan hal yang lama. Pertama-tama kami berjalan-jalan melihat-lihat pakaian. Atas usul Lea tentunya. Ia melihat-lihat pakaian manusia. Aku juga takjub sebenarnya. Berbeda dengan pakaian siluman yang bisa di ubah gaya sesuai ciri khas kita, pakaian manusia monoton dengan satu gaya dan warna. Tak pula dapat di ubah kecuali kamu membeli yang baru.


Yah, Lea sepertinya hanya tertarik karna potongan pakaian itu berbeda dengan gaya umum ras siluman. "Rein, manusia sangat unik ya!"


Ia berujar dengan semangat. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Kesenangannya adalah kebahagiaan untukku. Aku sudah mengejarnya sejak kami remaja, jika perjalanan ini membuat kami semakin dekat maka usaha kerasku akan tercapai. Sebentar lagi aku akan menggantikan Ayahanda untuk menjadi Raja. Saat itu terjadi, aku ingin Lea yang menjadi Ratunya.


Jika itu benar-benar terjadi, aku hanya akan memiliki Lea. Tak akan mengambil selir. Hanya ada Lea, hanya ada Calya Bawita. Hingga aku tiada. "Rein, kamu melamunkan apa? Ayo kita pergi makan."


Mendengar panggilannya aku segera mengangguk. Saat itu aku tidak tau, kalau langkahku ke warung makan akan merubah kehidupanku di masa depan.


"Mau pesan apa Mas, Mba?"


"Aku mau yang di pesan orang-orang, sepertinya itu enak!" Lea berujar dengan nada bersemangat.


"Baiklah, sepertinya Mas dan Mba ini orang yang baru datang ya? Ada keperluan apa? Sepertinya Mas dan Mba bukan pendekar biasa." Ujar si pelayan.


"Kami ingin-" saat mood Lea naik, ia akan berujar dengan jujur tanpa di saring. Maka aku segera menutup mulutnya dengan tanganku.


"Kami ingin mengunjungi seorang teman." Ujarku.


Pelayan itu mengangguk-angguk dan pergi meninggalkan kami. "Hitam! Aku juga mau!" Dua kucing yang duduk nyaman di bahuku segera berujar.


Aku mengusap kepala mereka. "Iya aku pasti akan memberikan kalian juga."


Meski mereka berbicara kepadaku, mereka akan tetap terdengar seperti kucing di telinga orang biasa. Dua kucing itu mengusapkan kepala mereka ke kepalaku, mungkin itu sebagai ucapan terimakasih atau semacamnya. Tak lama yang di pesan datang. Selagi kami makan, pelayan segera pergi menemui pembeli lainnya. Kedai makan ini sangat ramai dengan banyaknya pembeli.


Aku mengaduk bola daging aneh berwarna kelabu. Selain itu ada terlalu banyak sayuran hijau di dalam kuah makanan itu. "Sesekali menjadi omnivora tidak apa-apa."


Aku mendengar Lea berbicara. Ia tengah menelan lembaran dedaunan hijau yang ada dalam kuah makanannya. Aku mengikuti sarannya. Tak ada salahnya menjadi omnivora meski aku ini adalah Karnivora. Kucing-kucing di bahuku juga ikut makan. Mereka makan dengan lahap. Setelah kenyang aku dan Lea pergi dari kedai makan. Kami berjalan untuk melihat hal lainnya.

__ADS_1


Saat itu Lea sedang melihat-lihat kalung perhiasan. Lalu aku dan kucing-kucing duduk untuk menunggunya. Setelah puas melihat-lihat kalung, Lea mengajakku pergi untuk melihat kedai lainnya.


"Itu dia! Pendekar yang tidak membayar makanan kita Boss!"


"Tangkap mereka!"


"Dia yang memakai pakaian saya tanpa membeli!"


"Ayo semuanya tangkap kedua pendekar itu!"


"Rein, apa yang manusia itu maksud adalah kita?" Lea bertanya bingung.


Aku segera menarik tangannya. "Kita lari saja dulu. Aku tak tau apa yang membuat manusia-manusia ini marah."


"Cepat kejar mereka!"


"Jangan biarkan mereka kabur sebelum membayar!"


"Teriaki dia sebagai pencopet!"


"Tolong-tolong kami!"


"Tangkap kedua pendekar itu! Mereka adalah pencopet!"


Dengan teriakan itu, aku melihat ada semakin banyak yang mengejar kami. Saat Lea muak dan ingin menebas orang, aku menahannya. "Ibunda Ratu berkata kita tidak boleh membunuh mereka."


Lea mengurungkan niatnya. Tapi ia sepertinya kesal kepadaku. Pipinya menggembung, matanya mengerling, dan ia menolak untuk menatapku. Lea melompat tinggi dan menghilang.


Aarrrggghh! Lagi pula ini memang salahku. Aku kurang teliti saat mempelajari perilaku manusia. Sekarang aku mengerti apa yang mereka maksud sebagai membayar. Tapi mau bagaimana sekarang? Aku tidak memiliki uang manusia. Bahkan jika aku memberikannya dengan tipu daya siluman, itu akan segera berubah ke bentuk daun atau batu setelah aku meninggalkan pedagang itu terlalu lama.


"Hentikan ini." Ia berujar kepada orang di belakangku.


Sejujurnya aku punya tebakan kalau pria ini mengetahui identitasku sebagai siluman. "Tuan Arya!"


"Ya, katakan ada apa?" Si Arya itu berujar dengan tenang. Aku ada di belakangnya. Awalnya aku berniat untuk pergi, tapi si Arya itu berbisik segera. "Jika Tuan Siluman pergi begitu saja, Nona siluman yang di sana mungkin akan membenci Anda."


Oke, bisikannya membuat niatku lari jadi terhenti.


"Dia memesan dua mangkuk makanan di kedai saya, tapi tidak membayarnya Tuan Arya." Si pemilik warung makan tadi segera berujar.


"Istrinya mencoba pakaian yang saya jual tapi tidak berniat membeli sama sekali. Selain itu ada begitu banyak bulu kelabu dalam pakaian yang sudah di pakainya." Si Ibu dari toko pakaian segera berujar.


Lea di anggapnya istriku! Ah, andai jika dia memang istriku.


"Kalung yang di sentuh Pendekar wanita itu memiliki bekas cakaran dan rata-rata retak."


Si Arya itu menghela nafas. Matanya sesekali melirikku. Seolah telah mengambil keputusan, Si Arya segera berujar sembari menunjukku. "Jadi apa yang kalian ingin dia lakukan?"


"Ganti Rugi!" Mereka berujar berbarengan.


"Hei, maksudnya Ganti rugi itu apa?" Aku mengikuti Si Arya sembari berbisik.


"Perhatikan aku." Si Arya berbisik.

__ADS_1


"Ah, maafkan aku semuanya. Dua pendekar itu adalah Adik seperguruanku. Biar aku yang mengganti kerugian kalian." Ujar si Arya.


Lalu tiga pemilik toko berjejer di depan Si Arya dan si Arya memberikan sesuatu untuk mengganti kerugian tiga pemilik toko. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, orang-orang segera bubar.


"Apa yang kamu berikan kepada mereka?" Aku bertanya karna penasaran.


Si Arya menunjukkan kepingan benda pipih kepadaku. "Apa itu?"


"Ini Koin, Koin adalah uang yang di gunakan para Manusia untuk sebuah transaksi."


Aku mengambil benda yang dia sebut koin. "Bolehkah aku mempelajari tentang kalian lebih banyak?" Aku bertanya lagi kepada si Arya.


"Boleh saja. Ayo kita ke rumahku." Aku pun mengikutinya ke sebuah rumah. Lea mengikutiku, dalam bentuk Siluman. Mungkin ia masih kesal karna aku, sehingga ia berubah ke bentuk kucing hutan kecil dan melompat ke atas kepalaku. Ia juga menolak untuk turun.


Kami menginap di rumah si Arya yang ternyata bernama Arya Jaya Wisesa. Kami berbincang tentang banyak hal. Aku juga mempelajari dunia manusia lebih dalam darinya. Hingga tibalah malam purnama. Kami harus segera kembali ke alam siluman. Jika menunda lebih lama lagi, aku takut Ibunda Ratu akan menghukum ku.


"Aku sangat berterima kasih atas banyak hal. Aku ingin memberikan mereka kepadamu, aku yakin kamu mampu menjaga mereka. Mereka mungkin bukan siluman, tapi mereka lebih kuat dan lebih bisa di andalkan dari pada kucing biasa." Aku membiarkan dua kucing Kakek Waluyo tinggal bersama Arya.


"Aku akan menjaga mereka hingga anak keturunanku nanti." Ujar Arya.


"Yang Mulia Pangeran, kita harus kembali." Jika Lea memanggilku dengan sebutan itu, berarti ia masih kesal kepadaku. Padahal sudah banyak hari kami lalui.


"Satu hal lagi. Sebagai balas budi atas segala yang kamu lakukan untuk membantuku, panggil namaku tujuh kali jika kamu membutuhkan bantuanku. Dengan segenap jiwa dan ragaku, aku Siluman macan hitam Rajendra Lakeswara akan membantumu. Itu berlaku untuk keturunanmu bila kamu tidak membutuhkannya." Aku berujar dengan nada serius. Ada keheningan sesaat. Arya hanya mengangguk pelan lalu berujar dengan senyuman.


"Baiklah."


Lalu aku dan Lea berteleportasi ke gerbang siluman. Saat akan memasuki alam siluman, Lea memukul kepalaku dengan cakar depannya. "Apa maksudnya itu!?"


"Ada apa?" Tanyaku pelan.


"Mengapa kamu mengumbar sumpah bodoh itu?! Bagaimana jika manusia itu menggunakanmu untuk hal jahat?!"


"Jangan marah, aku yakin Arya tak sejahat itu." Aku berujar sembari mengusap kepalaku yang di pukulnya. Lalu kami memasuki dunia siluman dengan Lea yang mendengus marah.


"Ayahanda! Mengapa engkau melamun?" Macan kecil berwarna hitam menjilat wajahku. Itu adalah Putraku, Virendra Lakeswara namanya.


"Ayahanda hanya mengingat masa lalu." Aku berujar dengan senyuman.


"Apa itu?! Ayo! Ayah harus cerita! Ayo cerita!" Seekor kucing hutan kecil melompat di atas perutku. Itu adalah Janitra Lakeswara, Putriku. Aku punya anak kembar.


"Ara, jangan melompat di tubuh Ayahandamu. Dia adalah macan tua, nanti tulangnya lepas." Lea berujar sembari tertawa. Ia memeluk Ara Putri kami.


"Ayah! Aku juga mau di peluk seperti Ara! Ayah harus berubah ke bentuk asli seperti Ibunda!" Virendra adalah anak pertama yang suka menuntut.


"Baiklah, Vi harus mendekat kepada Ayah." Aku berujar setelah berubah ke bentuk asliku. Malam itu berlalu damai setelah aku mengenang masa lalu.


~|selesai|~


Kata penutup :


Terimakasih untuk kalian yang setia sampai bab ini. Saya sebagai Author sangat senang secara pribadi. Membaca komentar kalian adalah yang terbaik, bisa menjadi Mood Buster bagi saya. Kedepannya, saya akan berusaha untuk menyajikan cerita yang tak kalah seru. Semoga kalian juga tertarik untuk membacanya.


Dimulai Pada: 29 Januari 2023

__ADS_1


Berakhir Pada: 10 Agustus 2023


__ADS_2