
Festival makanan
Sudah cukup lama setelah empat anak durhaka kembali ke habitatnya. Dengar-dengar dari Yuda, si Bayu sama si Rangga menang dan dapat mempertahankan kembali piala sekolah. Aku sendiri ikut senang sebagai 'senior' mereka.
Tapi tubuhku semakin memburuk, seperti sekarang. Meski aku masih mampu mempertahankan kesadaran selama dua belas jam, sesuatu yang di sebut 'kekakuan mayat' mulai terjadi. Hari ini tangan kiriku yang berubah kaku. Ini tidaklah terlalu mengganggu mobilitas ku. Untungnya hanya bagian jari ke siku. Jadi dengan sedikit bantuan dari Alya, semuanya akan terasa lebih mudah.
Itu adalah sore hari di hari sabtu ketika aku sedang membalik halaman untuk ulangan di hari Senin. Dengan secangkir kopi dan para kucing yang menemani belajarku. Tiba-tiba Alya datang dengan ponselku di tangannya. "Rein! Aku mau kesini!"
Ia menunjuk gambar yang di kirim Radit melalui sebuah pesan. Ada tambahan kalimat ia tuliskan untuk ku. Pesan itu berbunyi. 'Festival makanan telah di buka! Ayo mampir Bosku!'
Yah... Di masa lalu Festival makanan adalah event favorit kami. Aku, Radit, Yuda dan Ardian. Itu adalah hari dimana kami berempat bersama menghabiskan waktu dengan makan-makan. Dengan uang ratusan di saku hasil menabung beberapa hari, kami hampir mencoba setiap stan makanan. Itu adalah salah satu kenangan yang cukup hangat.
Tapi aku masih ingat kalau aku tidak bisa mempertahankan kesadaran selama lebih dari dua belas jam. Festival makanan yang di perlihatkan Radit di adakan di malam hari. Sementara aku akan mulai tak sadarkan diri pada pukul tujuh. "Kamu juga tau kan kalau aku tak bisa mempertahankan kesadaran selama itu."
"Tapi..." Ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Aku tidak bisa. Bahkan jika Festival itu di adakan di siang hari, kita harus mendapat izin dari Ayah dan Ibu." Aku memberinya tolakan mentah. Sepertinya Alya cukup kesal. Ia membawa telponku pergi dengan wajah yang menggembung kesal.
Ada sedikit rasa bersalah, tapi aku juga tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondisiku saat ini. Haih... Bayi kucing yang merupakan anak si janda kucing kini telah besar, mereka tampaknya sedang menghiburku. Kucing-kucing kecil itu memanjat ke kakiku lalu mengusapkan kepala mereka ke tubuhku.
Ku lihat jam di tangan. Waktu menunjukkan pukul 17:27. Sebelum aku jatuh ke keadaan tak sadarkan diri, ku pikir aku harus mandi. Dengan bantuan dari Hallin, aku membawa buku-buku ku menuju kamar.
__ADS_1
Itu menjelang malam saat aku makan malam lebih dulu. Tak ku lihat Alya di manapun. Aku hanya melihat ponselku yang tergeletak di nakas. Saat aku membuka pesan yang di kirim oleh Radit, ada balasan yang bertuliskan. 'Oke! Aku pasti datang!'
Aku tidak pernah menuliskan itu, jadi yang menuliskan jawaban pasti Alya. Karna batas waktu dua belas jam juga sudah hampir berakhir. Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur.
Bahkan jika mataku tertutup dan aku seperti orang yang tertidur. Aku masih dapat mendengar apa yang terjadi di sekitar. Aku menggunakan jiwaku di alam bawah sadarku, untuk mereparasi tubuh yang rusak dengan energi alam yang aku kumpulkan hari ini.
Aku mendengar suara ketukan sandal wanita. Jika mengikuti Indra pendengaran ku, itu seharusnya berasal dari bagian dinding kamarku. Aku tak bisa membuka mataku bahkan jika aku mau. Karna aku sangat sibuk mempertahankan kondisi tubuhku agar tak membusuk layaknya mayat sungguhan.
Aku merasa tubuhku di angkut oleh orang banyak. Lebih tepatnya seperti di gotong. Perasaan itu tak berlangsung lama sampai aku merasa di letakkan di dalam benda super dingin. Seolah aku berada di Antartika dengan es abadi yang mengelilingi diriku. Selain itu, ada juga energi asing yang membantuku mempertahankan kondisi tubuhku.
"Rein! Buka matamu! Aku tau dengan bantuan kecil ini kau seharusnya sudah bisa sadar!"
Aku mendengar suara Alya. Ya, tekadnya untuk pergi ke festival makanan sangat besar. Ku pikir dia akan melakukan segala cara untuk pergi denganku. Inikan mirip dengan kencan para manusia. Aku pernah membaca di sesuatu yang dia sebut buku harian, di sana ia sangat ingin merasakan kencan ala manusia.
"Jangan banyak berpikir, ayo keluar. Biarkan orang-orang ini membantu mempertahankan tubuh Rini." Alya berujar sambil menunjuk beberapa siluman yang berdiri di sekitar kotak.
Yah, dengan bantuan es dan energi alam, ku pikir tubuhku harusnya bisa bertahan hingga esok. Tidak ada salahnya untuk pergi. Aku menutup mataku lalu keluar dari tubuh Rini Ariani.
Saat aku menginjakkan kakiku ke lantai. Aku segera berbalik. Peti mati hanyalah angan-angan yang terlalu mewah. Siapa yang mengira kalau jasad Rini di letakkan di sebuah Freezer besar. "Ayo kita pergi."
Alya menarik tanganku. "Tunggu, kita benar-benar akan menemui Radit?"
"Ya!"
"Dengan penampilanku? Kau harusnya tau kan Rini saja memanggilku Paman. Seharusnya penampilanku bukan lagi remaja SMA." Ujarku.
__ADS_1
"Oh benar, menyamar saja. Ikuti caraku."
Alya mengajariku cara menyamar. Seperti bagaimana ia merubah diri dari Calya menjadi Alya atau Alya menjadi Calya. Aku mencoba merubah diriku ke wajah yang mirip dengan Rini Ariani. "Sangat pintar! Sekarang kamu sudah mirip dengan Rini. Yang berbeda mungkin hanya suhu tubuh dan ekspresi saja. Kita bisa mengatur itu, ayo pergi!"
Lalu Alya menarikku pergi dari ruangan asing yang terasa mewah. Ngomong-ngomong aku bahkan tidak tau di mana aku berada sekarang. "Ayo! Aku sudah menyiapkan taksi!"
Alya tampak sangat senang. Kami memasuki Taksi yang sudah di pesan Alya. Seharusnya aku berada di kota tempatku tinggal sebelumnya. Tapi... Saat aku berbalik menatap rumah tempat kami keluar. Itu adalah sebuah rumah besar seperti rumah pengusaha kaya di film-film. "Itu rumah siapa?" Bisikku saat memasuki mobil.
"Itu rumah kita!" Alya berujar senang.
"Rumah.. kita?" Aku benar-benar bingung.
"Kamu kan tidak mengingat apa-apa untuk saat ini. Begitu janjimu selesai, kau akan mengingatnya. Sudah ayo pikirkan tentang Festival makanan! Ceritakan kepadaku lebih banyak!" Alya berujar dengan mata berbinar.
Dalam perjalanan kami, ku habiskan waktu dengan bercerita tentang festival makanan. Tentu saja yang aku ingat. Saat mobil berhenti di depan acara Festival, Alya membayar uang sebanyak yang di minta oleh supir.
Saat mobil menjauh aku bertanya. "Uangnya tidak akan berubah menjadi daun seperti yang di film-film bukan?"
"Kau ini. Itukan hanya film. Ini yang ku gunakan adalah uang sungguhan. Selain merajai dunia siluman, kita juga merajai bisnis dunia manusia tau. Lupakan saja, kau tidak akan mengingatnya! Ayo pergi!" Alya menarikku pergi.
"Jadi tidak bertemu dengan Radit? Dia pasti sedang bersama Yuda sekarang." Kalimatku berhasil menghentikan langkah Alya.
Ia menoleh ke arahku, lalu melihatku cukup lama. Lalu terbit sebuah senyum hangat. "Tidak! Kita kencan saja yuk!"
Aku menghela nafas pasrah. Membiarkan diriku di tarik ke kanan dan kiri. Tapi asik juga sih, bisa makan-makan sambil di traktir istri. Hehehe...
__ADS_1