
Kekasih 2 Rev
Syukurlah yang kecelakaan saat itu bukan Yesie. Beberapa Minggu berlalu sejak hari itu, kini aku tak lagi melihat Yesie. Baik di tempat favorit atau di kelasnya, setiap kali aku berpapasan dengannya, dia selalu menghindar atau berpura-pura tidak melihatku. Aku bingung apa yang terjadi, sampai aku merasa seperti sedang di putus hubungan oleh kekasih.
"Iqish, kamu punya nomor telpon Yesie?" Aku yang sedang dalam mood yang buruk, sedang malas untuk berbuat apapun. Jadi aku ingin coba berbicara dengan Yesie.
"Punya kok, tapi aku ngga hapal Kak. Nanti aja ya kalau pulang, ingatkan aja kalau semisal aku lupa." ujarnya.
Aku mengangguk. Hari sekolah yang panjang terasa membosankan tanpa kehadiran Yesie. Yang menemaniku kini hanya kertas dan pena. Mungkin beberapa guratan pensil menjadi perasa. Hingga mentari terus bergerak menuju Barat. Aku mengingatkan Iqish tentang nomor telpon Yesie.
Lalu ia mengajakku menuju kosnya.
Sekolah ini melarang kami untuk membawa telpon ke sekolah. Sehingga aku tidak dapat nomor telpon Yesie sekarang. Jika waktu itu hanya ada aku, Iqish, dan Rinmie, sekarang di kos ku lihat dua gadis lainnya. Dengan wajah identik. Yap, kembar.
Ini pertama kalinya aku melihat kembar identik. Benar-benar memiliki wajah yang sama. Hanya saja yang satunya memiliki wajah yang kurang mulus. Karna merasa canggung baru pertama kali bertemu, aku memutuskan untuk duduk di luar. Sambil menunggu Iqish menulis nomor telpon.
Saat aku duduk santai sambil menunggu Iqish, kulihat Anjing yang lewat waktu itu. Saat berjalan di depanku, ia sempat menghentikan langkahnya. Anjing itu menatapku. Aku merasa ada tantangan dalam tatapannya.
"Apa maumu?!" Aku berkata dengan rasa tak suka.
Anjing itu tersentak, lalu berlari jauh dariku. Heh, perasaan ingin menantang itu masih ada. Rasanya tidak puas jika aku tidak melakukan tantangan. "Kak, ini nomor telpon Kak Yesie."
"Oh, terimakasih. Kalau begitu aku pulang dulu ya." Ujarku.
Ekspresi Iqish sedikit kecewa, jika aku tidak salah melihat. "Apa tidak tinggal sebentar lagi?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Mungkin lain kali saja ya."
Ia hanya mengangguk-angguk sembari melambaikan tangannya. Aku balas melambaikan tangan, lalu berbalik untuk melanjutkan berjalan kembali menuju area gerbang sekolah. Ku lihat di kejauhan Ibuku tengah menunggu dengan bosan.
Aku menghampirinya, Ibu sejak tadi menghadap gerbang. Jadi begitu tangan dinginku menyentuh lengannya, ia sedikit terkejut. "Dari mana sih?"
__ADS_1
"Ada keperluan sebentar." ujarku.
"Ya sudah cepat naik. Ibu memiliki sesuatu yang harus di lakukan." Ibu mulai menyalakan sepeda motor.
Langit kelabu membuat Ibu khawatir. Setelah aku menaiki tempat duduk, ia segera mempercepat kecepatan berkendara. Saat kami hendak mencapai rumah, hujan mulai turun. Namun itu turun tak jauh di belakang kami. Begitu Ibu mempercepat laju sepeda motor, hujan juga mendekati kami seakan mengejar kami.
Karna jalanan cukup sepi Ibu mulai memutar gas lebih dalam. Kenalpot motor seakan meraung di tengah hujan. Ku intip ekspresi Ibu dari spion motor. Ada senyum semangat yang di penuhi gairah masa muda dan kesenangan. Wow, aku tidak tau Ibuku punya sisi ini. Terlihat lebih keren dan bersemangat.
Beberapa menit mengejar waktu, Ibu dan aku sampai di rumah dengan keadaan yang cukup unik. Seragam dan tasku basah separuh. Sepeda motor bagian belakang basah, sedangkan Ibu dan sepeda motor bagian depan cukup kering. Tanpa ada riak air di atasnya.
Saat kami turun dari motor aku masih melihat senyum semangat Ibu. Saat melihat hujan yang sampai ke teras rumah kami, wajah ibu tampak pias. "Kain jemuran!"
Lalu ia memasuki rumah dengan kecepatan tinggi. Aku membuka sepatuku lalu memasuki rumah. Ku lihat Ibu menghela nafas lega karna Hallin sudah mengangkat semua pakaiannya. Aku memasuki kamar, begitu pintu kamarku terbuka, para kucing-kucing mengikuti masuk. Tanpa ragu mereka melompat ke tempat tidurku.
Aku tidak tau apa alasan mereka bertingkah begitu. Para kucing itu tidur dengan posisi menyebar di tempat-tempat tertentu di tempat tidurku. Seakan-akan mereka sedang menjaga kehangatan tempat tidur untukku. Setelah mengusap kepala mereka satu persatu, aku Segera mengganti pakaianku.
Mengeluarkan buku-bukuku untuk memastikan apakah mereka kering atau tidak. Lalu mengambil nomor telpon yang di berikan Iqish. Saat ku perhatikan baik-baik nomor telponnya, nomor itu terasa familiar.
Ku periksa satu persatu nomor yang terkumpul di kontakku. Itu adalah nomor telpon milik kekasihku! Bukankah itu artinya Yesie adalah kekasih virtual ku?!
Kebetulan Yesie mengirimiku pesan lewat aplikasi chat. Pesan itu mengatakan. "Darling, aku mau curhat panjang nih."
Lalu ku lihat Yesie mengirim emoji. "🥹"
Lalu aku membalas lagi dengan mengetik.
"Katakanlah, aku mendengarkan. 😘"
Ku lihat pesan menunjukkan ia sedang mengetik. Karna terlalu lama aku pun beralih untuk melihat hal lain. Beberapa menit kemudian notifikasi pesannya berbunyi.
Saat ku ketik muncul sebuah pesan panjang yang ia tuliskan.
"Darling, aku bingung mau berbuat apa, aku punya seorang teman yang sangat baik namanya Arian. Aku menyukainya, sifatnya mirip dengan Darling, jadi aku merasa nyaman saat bersamanya. Aku sudah banyak bercerita padanya tentang keluargaku. Lalu ku ceritakan hal tentang Bapakku. Ia begitu antusias ingin bertemu dengan Bapak, kebetulan beberapa Minggu lalu, Bapaklah yang menjemputku. Lalu ku pertemukan mereka. Aku tidak tau apa yang Bapak lihat dari Arian, Bapak tiba-tiba ketakutan setelah menatap matanya. Bahkan kami meninggalkan Arian tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saat sampai di rumah, Bapak mewanti-wanti agar aku tidak lagi bermain dengannya. Aku merasa tidak enak tiap kali melihat Arian sendirian dengan helaan nafasnya yang panjang. Aku ingin berbicara dengannya Darling. Tapi karna larangan Bapak dan wajah ketakutannya malam itu, aku tidak berani mendekati atau berpapasan dengan Arian. Darling, aku rindu dengannya, aku ingin kembali seperti dulu. Tanpanya hari sekolah yang panjang akan terasa membosankan. Menurutmu bagaimana Darling? Apa yang harus ku lakukan?"
Yesie masih menggunakan panggilan sayangnya seperti biasa. Namun mungkin karna kepanikan, ia melupakan aksen manja, yang biasa ia keluarkan saat mengetik. Sebagai seorang pacar lelaki yang baik, aku harus pengertian padanya. Aku mengetik hal pertama yang di pikirkan orang-orang saat mendengar nama Arian.
__ADS_1
"Arian ini seorang laki-laki?🙂" Aku masih harus memainkan peranku bukan?
"Ih... Darling malah fokus kesitu. Tapi dia perempuan kok." Balas Yesie.
Lalu aku kembali mengetik pesan.
"Itu bagus☺️. Menurutku, Sayangku harus bertanya kepada Bapak, tanyakan mengapa Bapakmu takut kepada temanmu. Lagi pula kasihan juga temanmu kan, kamu meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan selama berminggu-minggu. Kamu meninggalkan teman yang menurutmu sangat baik. Tidakkah tingkahmu seperti Sarah saat itu?"
Yesie segera menuliskan pesan balasan. "Benar juga 😥. Aku akan bertanya kepada Bapak. See you Darling 🥰. Malam nanti kita berbicara lagi ya☺️?"
"Ya😘" balasku.
Dari percakapan kami, Aku memahami akar masalahnya. Yesie tampaknya tidak marah atau semacamnya. Yesie menghindariku hanya karna larangan Bapaknya.
Aku menunggu malam tiba. Sebelum itu tentu aku harus melakukan kegiatan lain. Setelah kulihat langit telah berubah warna dan bulan telah naik, ku periksa lagi pesan Yesie. Saat ini pukul sembilan malam. Pada jam ini, biasanya kami akan berada di masa santai.
"Darling, kau di sana?" Tulis Yesie.
Aku membalasnya lagi. "I'm here my Lady! 😘🥰"
"Jadi, aku udah tanya sama Bapak. Tapi apa yang Bapak katakan sangat aneh."
Kata aneh ini memberiku semacam firasat buruk. Aku bertanya. "Aneh bagaimana?😅"
"Bapak berbicara dengan mata ketakutan yang sama, lalu mengatakan. 'Temanmu itu bukan Manusia! Dia jin! Dia Mahluk halus! Tubuh temanmu itu adalah tubuh mayat yang sudah lama mati! Jangan dekati dia lagi! Dia Rajanya Siluman hutan desa Lepamala*! Dia Raja Lakeswara!! Jangan dekati dia lagi... Jangan dekati dia demi kebaikanmu Nak.' begitu yang Bapak katakan. Aku masih bingung harus berbuat apa."
*Lepamala nama Desa ini. Yesie juga tinggal di desa ini, hanya saja dia tinggal jauh di daerah hampir perbatasan desa.
Aku membaca pesan Yesie berulang-ulang. Rasanya pesan itu membangkitkan sesuatu yang terasa berbeda di hatiku. Yang tak dapat ku jelaskan. Mataku terfokus ke kata Jin, mahluk halus, dan Raja Lakeswara. Ada sesuatu yang membuatku seakan mengingat sesuatu saat membaca kata-kata itu. Tapi dengan segera sesuatu itu hilang seperti di ambil seseorang.
"Darling?"
"Ah iya, maaf sayang aku melamun tadi. Kalau menurutku itu keputusanmu Sayang, apakah kau mau kembali menjahit kain yang robek atau malah merobeknya semakin besar. Kamu sendiri sering menyebutkan temanmu itu kepadaku. Aku tau sebanyak apa kamu menyukainya. Tarik nafas dalam-dalam lalu putuskan bagaimana kamu harus menghadapinya. Lagi pula, kamu sendiri kan yang tau baik dan buruknya temanmu itu?"
Setelah beberapa saat Yesie membalaskan pesanku. "Aku tau sekarang😊. Terima kasih Darling☺️, love you 💕"
__ADS_1
"Love you too My lady 😘🥰"
Pesan malam itu berakhir dengan kalimat manis. Meski aku tidak tau apa yang akan di pilih Yesie, aku hanya dapat berharap dia akan kembali menemaniku.