
Festival makanan 2
Masih di acara festival makanan. Aku kini duduk di meja makan tempat penjual sate Madura. Mungkin karna bawaannya Alya yang merupakan siluman kucing hutan. Dia sangat menyukai olahan daging. Sejak tadi kami hanya berputar-putar di area yang berhubungan dengan daging. Apakah itu daging bakar, daging tunis, atau makanan sejenis soto atau bakso yang berbahan dasar daging.
Aku takjub dengan Alya yang makan makanan sebanyak lebih dari tiga puluh porsi dengan perut yang masih rata. Tampaknya ia bahkan berniat untuk memakan sebanyak yang ia bisa. Kalau menurut perkiraan ku sih, hampir semua makanan akan di beli dan di cobanya.
Lalu di sela makan, aku mendengar dering telponku berbunyi. Seingatku, aku tidak membawa telpon.
"Rein... Inwi, ada panggwilan dari... Temwanmwu.." Alya berbicara sambil mengunyah.
Alya yang masih sibuk mengunyah makanan, memberikan telpon kepadaku. Rupanya dia yang membawa telponku. Saat ku lihat, nama Yuda yang tertera di sana. "Halo Boss, apa kabar?"
Dahiku berkerut. Yuda biasanya memanggilku Ketua. Kata 'Boss' keluar dari mulutnya hanya pada saat-saat tertentu. Ada apakah gerangan?
"Kenapa? Kena masalah ya?"
Aku mendengar kegugupan dalam nada bicara Yuda. "Ehehehe ... Boss, tadi kan aku berniat mentraktir cewe. Eh pas makan ngga taunya dompetku hilang... Kata si Radit Boss ada di sini. Jadi..."
"Minjam duit?" Tanyaku.
"Ehehehe, si Boss tau aja." Ujarnya.
"Ehehehe-ehehehe... Sayangnya Bossmu ini juga ngga bawa duit. Aku di sini cuma jadi teman kencan palsu si Alya nih. Dia yang bawa duit." Ujarku lagi.
"Boooosss! Tolonglah diriku yang hina ini. Engkaulah satu-satunya cahaya harapan diriku Boss!!" Terdengar suaranya memelas.
Aku menjauhkan telpon karna suaranya sedikit mengganggu gendang telingaku. Aku mengunyah sate yang tersaji di depanku. "Nyam... Kenapa?"
Mendengar pertanyaan Alya. Aku menatapnya, lalu berkata. "Biasa, temanku si Yuda. Dia menggoda gadis tanpa melihat dompetnya. Berkoar-koar akan mentraktir, namun ternyata dompetnya kecolongan."
"Jadi?" Alya meneguk minumannya.
__ADS_1
"Dia ingin aku meminjaminya uang. Sementara aku sendiri, di seret oleh seorang gadis, atau haruskah ku sebut di culik seorang gadis? Sehingga aku tidak membawa dompet." Ujarku sambil mengangkat bahu.
"Um... Kalau begitu ayo kita ke sana. Dia teman dekatmu bukan? Kasihan jika dia terlibat masalah begitu." Alya berujar sembari mulai menelan seluruh sate di piringnya.
"Keputusan ada di tanganmu Ratuku. Aku milikmu." Ujarku sambil meneguk air minum.
"Okey! Ayo kita ke tempatnya Yuda."
Setelah membayar, kami pun pergi menuju tempat Yuda. Lalu aku ingat kalau telponku belum ku matikan. Itu masih tersambung ke telponnya Yuda. "Yuda! Dimana? Alya mau bantu katanya nih."
"Terimakasih Bossku! Makin sayang deh. Di tempat Mi Aceh!"
"Menjijikan." Setelah mengatakan kalimat itu, aku menarik tangan Alya ke tempat yang di sebutkan Yuda.
Tak lama kami melihat si Yuda yang berkeringat dingin, diam-diam mengalihkan pembicaraan dengan si pelayan kedai. Sementara para cewe yang ku hitung ada tiga, tampaknya telah berwajah masam. Dua mengelilingi si pemalu Radit, satu diam di tempat duduk yang aku kira adalah tempat duduk Yuda.
"Itu si Yuda. Bisa urus dia?" Kini giliranku yang memelas untuk meminta bantuan Alya. Bagaimanapun juga aku juga datang tanpa dompet! Aku hanya mengikuti si pemilik dompet. Apapun yang ia inginkan maka itu pula yang ku lakukan.
Alya mengangguk lalu berjalan ke sisi Yuda. Sementara aku duduk di sisi wanita tadi. Aku sih niatnya untuk menyapa Radit. "Radit, kamu di culik Yuda? Si Ardian mana?"
Apakah penyamaranku tidak terlalu mirip dengan Rini? "Tentu ini Aku, kenapa?"
Radit menggelengkan kepalanya, lalu membuka mulutnya untuk mengatakan. "Ardian sama Lesti. Kita berdua di tinggal."
"Yah begitulah nasib kita para Jomblo ini." Aku berkata seraya mengangkat bahu.
Radit tampak mengerucutkan bibirnya. "Tapi Bosskan sama Alya."
Karna sudah mengurusi pembayaran, Alya datang ke sisiku. Ia memeluk tangan kiriku lalu menatap sinis ke cewe di sampingku. Cewe itu tampaknya salah tingkah. "Boss? Ini Boss kita kan? Radit ini Ketua Kan?"
Yuda tampak tak percaya kalau aku adalah Rini. Ku pikir wajar bagi mereka jika aku tidak terlalu mirip dengan Rini. Aku menggunakan tubuh asliku, yang artinya saat ini aku laki-laki tulen. Dan lagi aku tidak sepucat atau sedingin Rini. "Kenapa?"
Mendengar suaraku, Yuda seolah tersadar lalu menarik tangan Radit. "Gadis-gadis, kami pergi dulu ya. Boss ikut yuk, ada yang mau di bicarakan."
Aku melirik Alya, Alya menganggukkan kepalanya. Oke deh, karna Ratuku sudah mengizinkan aku ikut saja. Ku pikir Yuda membawa kami ke salah satu Stan makanan. Tapi Yuda malah membawa kami ke tempat yang lumayan sepi. Di sana, ia menatapku dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Pertama-tama ia memegang telapak tanganku. Lalu melirik tubuhku dari atas ke bawah. "Apa? Naksir Lo? Malam ini saya sudah di miliki oleh Nona Alya." Ujarku.
Yuda melempar tatapan jijik. "Boss, ada yang aneh. Kayaknya.. Boss jadi lebih mirip cowok deh. Jadi bingung, ya ngga Dit?" Yuda berkata sambil menyikut tangan Radit.
"I-iya, Boss jadi kelihatan lebih jantan." Ujar Radit dengan sedikit tersipu, hah? Tersipu? Ya, wajahnya memerah sih, tersipukan itu namanya?
"Terus kenapa?! Rein milikku malam ini!" Alya memeluk lengan kananku posesif.
"Tapi..."
"Sudah! Hari mulai larut, aku tidak ingin menghabiskan waktu kencanku dengan hal sia-sia seperti kalian." Alya menarik tanganku menjauh dari dua lelaki itu.
Yuda yang kehilangan dompetnya, dan Radit yang dompetnya menipis, menatapku dengan sepasang mata kasihan. Aku pun tak bisa membiarkan karibku itu pulang dengan perut yang cuma terisi sedikit. Lalu aku mencolek bahu Alya. "Lea, sepertinya kita butuh pemandu."
"Memangnya kenapa? Akukan punya Rein." Ujar Alya.
"Ingatanku tidak baik, aku hanya ingat separuh-separuh tentang Festival makanan ini. Kamu bisa membawa dua remaja itu. Mereka cukup ahli. Kamu hanya cukup membiarkan dia ikut makan saja." Aku mencoba membujuk Nyonya berdompet tebal.
Alya melirik Yuda tajam. Lalu mengangguk. "Oke deh.. Humph!"
Aku berbalik ke arah mereka berdua lalu memberikan jempol. Karna wajah mereka tampak bingung. Aku mengetik pesan di telponku agar dua remaja malang itu datang.
Dengan senyum sumringah Yuda datang dengan Radit di sisinya. "Mari Nyonya, saya akan memandu Anda."
Ujarnya sembari membungkuk ala-ala butler gitu. Alya hanya mendengus kesal melihatnya. Matanya melirik tajam ke arah Radit yang terus melirikku. "Aku setuju-setuju aja untuk mentraktir kalian, tapi jangan ganggu aku dan Rein! Awas kalian kalau ganggu."
Mereka berdua sama-sama mengangguk cepat. Apapun itu, yang gratisan selalu enak. Tak peduli apakah kamu punya uang atau tidak. Dengan demikian kami berempat pergi makan bersama.
Alya dan Aku berencana untuk mencicipi setiap Stan makanan. Lagi pula perut kami begitu besar. Masih muat jika harus memakan tiga porsi dari setiap stan makanan. Namun dua remaja yang menyertai kami jelas tidak. Radit mulai di telpon Mamanya. Yuda adalah orang di tugaskan untuk menjaga Radit oleh Mamanya. Tentu saja dia juga sering di ganggu dengan telpon dari Mamanya Radit.
"Mari antar mereka pulang, setelah itu terserah kamu ingin membawa aku kemana." Bisikku ke Alya. Alya mendengus kesal. Tapi ia mengambil telponku untuk menelpon seseorang. Lalu ia kemudian berkata.
"Pergilah ke depan, ada orangku yang sudah menunggu kalian. Kalian akan di antar pulang oleh mereka." Ujarnya ketus.
Yuda tentu saja senang tak perlu membayar, tapi kan ia tidak terlalu mengenal Alya. Sehingga ia menatapku untuk menanyakan keputusanku. "Pergilah. Kamu harus mengantar Radit dengan selamat, atau Tante Rika akan mengamuk, kemungkinan ia akan mengebirimu jika Radit kembali dalam keadaan luka."
__ADS_1
Tentu saja mendengar kalimatku mereka segera pergi. Hari mulai larut dan mereka tak bisa pergi lebih lama lagi. Kalau aku? Aku bebas, sampai Fajar menyingsing aku bebas berlarian atau makan.