
Chapter spesial 3
'flash back 2'
Kami berjalan-jalan pelan di sekitar desa manusia. Beberapa manusia yang melewati kami akan menyapa dengan senyuman. Tapi kami masih belum memahami bahasa manusia.
"Lea, mungkin kita harus mempelajari bahasa mereka dulu." Ujarku.
"Itu bagus, aku tadi memergoki beberapa orang yang berbisik sambil melirik kita. Tapi aku tidak bisa memahami apa yang mereka bisikkan." Alya berujar, ekspresinya agak gelisah dan kesal. Aku menepuk bahunya untuk menghiburnya.
"Tidak apa-apa, aku akan pikirkan sebuah cara untuk mempelajari bahasa mereka." Ujarku. Mataku menatap sekeliling. Itu adalah sebuah desa kecil dengan beberapa rumah yang tinggal di dalamnya.
"Hei, itu kucing kan?" Aku bertanya pada Lea sembari menyikut lengannya pelan. Lea melirik ke arah yang aku tunjuk. Ada seorang kakek tua yang mengusap-usap anak kucing. Itupun jika saja aku tak salah membedakan.
"Benar, itu adalah kucing. Tapi dia bukan siluman. Itu hanya kucing biasa." Ujar Lea.
"Kita menyamar menjadi kucing. Benar-benar kucing, bukan bentuk asli kita. Bentuk asli kita adalah binatang buas. Manusia takut dengan binatang buas."
"Tapi bagaimana caranya?" Lea bertanya lagi.
"Ini sama seperti saat kita berubah ke bentuk manusia. Hanya saja kita berubah ke bentuk kucing." Aku menarik tangan Lea ke arah hutan. Aku tidak bisa membuat manusia-manusia ini takut karna melihat kami yang tiba-tiba berubah.
"Nah, bagaimana? Apa Lea bisa berubah?" Aku bertanya saat aku sudah berubah ke bentuk kucing hitam kecil. Lea hanya melihatku dengan mata berbinar tanpa menjawab apapun.
"Lea?" Aku memanggilnya karna ia tampaknya tidak merespon pertanyaanku sebelumnya.
"Raj! Kamu tampak lembut! Bolehkah aku memelukmu?" Ia bertanya saat aku menatapnya.
"Tapi..." Sebelum aku selesai memberikan jawaban, tubuhku sudah di peluk olehnya.
__ADS_1
"Aduh... Lembutnya... Rajendra, kamu terlihat lucu dan lembut dalam bentuk kucing kecil." Lea mengusapkan wajahnya ke punggungku.
"Berhenti melakukan itu! Cepat berubah." Aku segera berujar.
Lea dengan cepat merubah dirinya ke bentuk yang sama denganku. Bedanya jika aku kucing hitam, maka ia kucing putih. Tujuan kami adalah Kakek tua. Ia sepertinya sangat menyayangi kucing-kucing, ku pikir tinggal di sisinya akan membuatku memahami bahasa manusia.
Kakek itu benar-benar sangat menyayangi kucing. Tanpa ku sadari waktu telah berlalu sangat banyak. "Kakek Waluyo, ini pesanan Kakek kemarin ya."
Aku melihat seorang pemuda yang membawa beberapa ikan. Pemuda itu selalu datang setiap dua hari sekali. Akan selalu ada ikan di tangannya. Kakek itu juga akan menerima ikan. Setelahnya ia akan memberikan sesuatu yang lain sebagai balasan. Aku masih belum mengerti apa itu.
Kakek tua juga berkerja di tempat yang ia sebut sebagai kebun. Ia akan mengolah tanaman yang tertanam di tempat itu, dan membawanya ke sebuah tempat yang katanya bernama pasar kecil. Seharusnya dunia manusia ini tak jauh berbeda dengan dunia siluman. Mungkin hanya berbeda mahluknya saja.
"Hitam..." Itu adalah nama yang Kakek Waluyo gunakan untuk memanggilku.
"Meong."
Kakek itu percaya kepadaku. Aku juga selalu memenuhi harapannya. Jika ia menyuruhku ikut berburu, maka aku ikut. Jika ia memintaku menemaninya ke pasar kecil, maka aku ikut. Itu membuatnya sangat mempercayai diriku.
Tak lama setelah ikan bakar selesai di masak. Kakek Waluyo datang dengan banyak ikan bakar. Satu yang terbesar untuk dia makan. Yang lainnya untuk kami, para kucing peliharaannya. "Sampai kapan kita akan menetap di dunia manusia?"
Lea bertanya kepadaku. Tentu saja yang orang-orang dengar dari mulutnya hanya suara mengeong khas milik kucing. "Tunggu beberapa saat lagi. Mungkin hingga kita melihat pasar besar yang di sebutkan Kakek Waluyo."
Sepasang mata Lea kembali berbinar dengan semangat yang baru. "Pasar besar!? Baiklah, kita pergi ke tempat itu segera."
"Sabarlah sebentar, kita juga harus makan sekarang." Aku berujar sembari mengunyah daging ikan bakar.
Karna aku dan Lea sudah mengerti bahasa manusia, kami siap untuk memasuki pasar besar yang sangat ingin di datangi Lea. Yah, mungkin tunggu aku mengetahui arahnya.
Siang itu kami mencari alamat pasar besar yang ramai di bicarakan orang-orang. Masih dengan bentuk kucing pastinya. Aku dan Lea mencari secara terpisah. Aku mencari dengan menguping pembicaraan diantara para bapak-bapak di kedai makan. Selain itu, aku juga menguping pembicaraan Ibu-ibu yang berbelanja di pasar kecil.
__ADS_1
Dari itulah aku menemukan apa yang aku cari. Dari kabar yang ku dengar, pasar besar berada di sebuah desa bernama Lepamala. Desa itu cukup ramai karna desa itu terletak di jalur menuju Kota besar. Letak desa itu tidak jauh dari desa kecil ini. Namun tak sembarang orang yang bisa memasuki tempat itu. Penduduk desa biasa atau pedagang kecil tak bisa memasukinya tanpa izin. Hanya pengembara, pedagang besar, atau beberapa bangsawan yang boleh memasuki desa itu.
"Rein!" Aku merasa namaku terpanggil. Ah, benar, nama manusiaku adalah Reindra Ambarawa.
Saat aku berbalik, kucing putih mendatangiku. Ya, itu Lea. "Ayo! Kita harus cepat! Rumah Kakek Waluyo sedang terbakar!"
Mendengar itu dari Lea, membuatku dan Lea berlari bersama menuju rumah Kakek baik hati itu. Ada asap yang membumbung tinggi di kejauhan, asapnya yang hitam membuatku takut Kakek Waluyo terluka. Saat kami tiba di sana, Kakek itu sedang di tolong oleh tabib desa.
"Hitaam..." Suaranya lirih saat ia memanggilku.
Aku mendekatinya. Ia mengusap kepalaku. Aku agak sedih saat merasakan nafasnya yang mulai menipis. "Kamu jaga kucing-kucing Kakek ya? Kamu kan anak baik."
Kakek itu berujar sembari menahan batuk. Aku membalas kalimatnya dengan beberapa ngeongan. Ia hanya tersenyum kepadaku. Lalu mengusap kepalaku lagi sebelum lengannya berhenti bergerak. Kakek Waluyo adalah Kakek yang cukup terkenal akan kebaikannya di desa itu. Kematiannya membuat semuanya berkabung untuk mengenangnya.
"Rein..." Lea sepertinya juga sedih dengan kematian Kakek Waluyo.
"Tidak apa-apa, usia manusia itu lebih singkat dari kita. Kita harus merelakan kematiannya agar ia tenang." Aku berujar sembari menjilati bulu di dahi kucing putih.
Kebakaran itu menyebabkan dua dari tiga kucing peliharaannya juga ikut terbakar. Di antara dua ekor kucing yang terbakar, satunya tiada dan satunya masih selamat. Aku dan Lea ikut berkabung dua hari. Lalu membawa dua kucing yang selamat ke hutan. Kami sengaja ke hutan tempat gerbang siluman muncul. Malam ini adalah purnama, dan aku masih tak berniat untuk pulang.
Jadi aku datang ke gerbang untuk menyatakan keputusanku. Aku dan Lea akan menetap di dunia manusia hingga purnama berikutnya. Karna saat ini hanya aku dan Lea yang sedang ke luar ke dunia manusia, maka gerbang menuju alam siluman segera di tutup.
Kami menghabiskan waktu seminggu untuk mengobati kucing peliharaan Kakek Waluyo. Setelah ia sehat dan aktif kembali, kami membawa kedua kucing yang selamat menuju desa Lepamala. Bagaimanapun juga keinginan kami untuk mengunjungi pasar besar masih ada.
Dengan bentuk manusia kami mendatangi desa Lepamala. Di bahuku dua kucing bertengger. Meski dahulu mereka adalah kucing biasa, kini mereka adalah kucing luar biasa. Mereka bisa bertahan bahkan jika lawannya adalah manusia sekalipun. Mereka berlatih di bawah ajaran aku dan Lea.
"Desa ini terlalu dekat dengan gerbang siluman." Ujar Lea saat kami sudah hampir tiba.
"Tak apa, dunia siluman tak bisa di masuki sembarangan. Hanya siluman atau sejenisnya yang mampu melewati tekanan gerbang siluman. Manusia biasa takkan mampu melewatinya." Jawabku.
__ADS_1