Who Am I?

Who Am I?
Tidak bisa hidup melewati usia dua puluh satu


__ADS_3


Tidak bisa hidup melewati usia dua puluh satu



Warning!!! Bahasa sedikit kotor


Setelah kembali aku terburu-buru untuk mengeluarkan isi perutku. Sehingga dengan gerakan kilat aku kembali mengisi raga mati itu. Dengan gerakan kilat pula, aku berlari menuju toilet. Cakra sepertinya memiliki dendam kecil terhadapku.


Tapi ramuannya benar-benar ampuh. Racun itu keluar dalam bentuk kotoran. Saat aku hendak menyiramnya, uwoo... Coba tebak apa yang aku lihat. Kotoranku berwarna biru. Biru terang pula. Oke ini pembicaraan yang tidak bagus. Aku harus menyiramnya, bahkan jika kotoran itu terang seperti lampu neon.


Setelah aku membersihkan anusku, aku kembali merasakan sakit perut yang hebat. Ahhh.... Sepertinya ini takkan selesai hingga aku mengeluarkan buruanku semalam. Sakit perut ini begitu aneh, karna tubuh Rini yang mati rasa pun dapat merasakan sakit karnanya. Mungkinkah ini adalah kesengajaan si Serigala perak itu?!


'Brut Brot Breeet'


Ah! Suaranya begitu memalukan!


Aku bahkan tak bisa bernafas dengan benar. Apakah itu karna bau, atau karna sakit perut. Aku sangat lelah seolah aku baru saja melakukan marathon keliling kampung. Kakiku bahkan terasa pegal seolah aku baru saja mendaki gunung. Toiletnya bukan toilet duduk. Melainkan sebuah toilet jongkok.


Aku memasuki toilet kira-kira pada pukul 3:54, dan jam tanganku telah menunjukkan pukul 5:55. Kurang lebih aku telah berada selama dua jam di toilet ini. Pintu kamar mandi di ketuk dari luar. "Siapa di dalam?"


Itu adalah suara Ayah. "Ini akuuu..."


Suaraku yang biasanya mampu terdengar hingga keluar rumah malah terdengar seperti orang sekarat. "Kamu baik-baik saja Rin?"


"Rein sepertinya sedang sakit perut Paman." Ku dengar suara Calya yang membantuku berbicara.


"Oh, Rin itu di dalam kotak P3K kayaknya ada obat kunyah buat diare." Ayah menyarankan.


"Iya..."

__ADS_1


Aku berjalan menuju kotak P3K di toilet. Tentunya setelah aku menyiram kotoran biru neon itu. Dan setelah aku membersihkan anusku juga tentunya. Tubuh ku kehilangan tenaga karna sudah kelelahan saat di pakai ngedan (tarik nafas dan mengeluarkan energi buat mendorong kotoran keluar). Itu sebabnya, tanganku gemetaran saat aku membuka kotak itu.


Setelah terlihat obatnya, aku mengambilnya dan membuka bungkusnya. Lalu menelannya setelah mengunyahnya. Belum bisa di bilang sembuh, namun masih lebih baik jika di bandingkan sebelumnya. Aku masih belum merasa sehat. Tidak mampukah energi Alam menyembuhkan aku? Aku hanya mampu memasrahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Tapi sekarang memang sudah lebih baik. Kini yang tersisa hanya perasaan mules, tanpa adanya kapacirit. Apasih bahasanya ya, Kapacirit itu seperti saat kau mencret, kotoranmu akan keluar bersamaan dengan kentutmu. Tak terbayang olehku jika aku kapacirit dengan kotoran biru neon. Akankah celanaku bercahaya dalam gelap? Ah, lupakan saja.


Aku keluar kamar mandi setelah toiletnya bersih. Langkahku lemah seolah aku kehilangan setengah daging di tubuhku. Calya yang telah berubah menjadi Alya, membantu memapah diriku. Hari itu matahari telah muncul untuk melakukan tugasnya. Orang-orang di rumah juga sudah bangun. Ibuku mulai memasak sarapan kilat untukku yang menurutnya sedang tidak sehat.


Aku saat ini sedang terduduk di sisi meja makan dengan tubuh yang tak bertenaga. Ibu yang memerintah aku duduk di tempat ini. Alya sudah pergi untuk mandi. Moodnya terlihat baik saat terakhir kali aku melihatnya. Mungkinkah karna sesuatu yang ia sebut sebagai 'Kencan' ?


Aku yang lemas memikirkan beberapa hal. Seperti bagaimana dengan Janji ini. Usia tubuh Rini sudah memasuki Sembilan belas tahun, lima setengah bulan. Ada enam setengah bulan yang tersisa sebelum aku pergi. Ya, aku mengingat sedikit perihal janji ini saat berburu semalam.


Yang aku ingat aku berhutang Budi kepada Kakek Buyut Rini Ariani. Sebagai tanda terima kasih, aku memberikannya jaminan sebuah janji. Jika dia atau keturunannya, mendatangi hutan desa Lepamala karna terkena sebuah masalah. Maka aku berjanji akan membantunya menyelesaikan masalah itu. Aku masih sangat muda saat itu. Kira-kira setelah seratus lima puluh tahun waktu berlalu setelah aku menjamin janji. Barulah penagih janji itu datang. Itu adalah Ayah dari Rini Ariani.


Aku tak terlalu mengingat bagaimana prosesnya. Yang pasti adalah, aku berjanji kepadanya bahwa aku akan membantunya mempertahankan tubuh anak pertamanya yang telah meninggal dunia, hingga usianya mencapai dua puluh tahun. Kekuatanku terlalu besar dan kuat, hingga tubuh mati Rini Ariani bisa Hancur jika aku merasukinya. Maka dari itu aku menyegel ingatanku, ingatan yang di segel hampir sama dengan kehilangan jati diri. Setelah ingatan di segel separuh dari kekuatanku akan menghilang, itu ikut tersegel bersama dengan ingatanku. Ingatan itu akan kembali secara keseluruhan kepadaku saat janji ini berakhir.


"Rin jangan melamun lagi. Ayo makan, dan isi kembali perutmu." Ibu mengatakan setelah menyerahkan sepiring makanan hijau yang sehat.


Ibu memelototi diriku dengan tatapan peringatannya. Aku masih terlalu malas. Ayah baru saja keluar kamar mandi, ia membawa koran di tangannya. Aku yakin ia baru saja buang air besar sembari membaca koran. Ayah menatapku sesaat. "Ren, makanlah sedikit. Atau Ayah perlu memanggilkan Alya?"


Ayah bertanya seperti seseorang yang menawarkan bantuan. Ibu tidak terlalu menyukai Alya, sejak aku mulai menunjukkan rasa sukaku kepada makanan buatannya. Jadi saat Ayah mengatakan itu Ibu sedikit marah, ia berkata dengan nada kesal. "Kalau Rin tidak mau makan nanti Ibu suapi!"


Aku tidak terlalu suka di suapi oleh Ibu. Menurutku aku sudah dewasa, tak perlu untuk di suapi seperti anak kecil. "Tidak, biar aku makan sendiri saja."


Aku mulai memakan makananku, di temani oleh Ibu yang mulai memasak sarapan untuk yang lainnya. Saat di pikir-pikir lagi, aku mungkin tak mampu mempertahankan kesadaran tubuh ini hingga enam bulan setengah tahun penuh. Jiwa Rini yang awalnya harus bertahan hingga usia dua puluh pun telah pergi di usia delapan belas. Jadi menurut perkiraan ku, tubuh ini hanya mampu mempertahankan kesadaran terakhirnya selama tiga bulan setengah paling banyak.


"Ayo, melamun apa nih? Putus cinta ya?" Hallin muncul dari pintu dengan sapu yang patah di tangannya.


"Memangnya Kakakmu ini memiliki cinta?" Ujarku.


"Hahaha dasar Kakak Jomblo senior, ntar jadi perawan tua loh." Ejeknya.

__ADS_1


"Kamu berbicara seolah kamu bukan jomblo saja." Sindirku.


Ia tersenyum misterius. Lalu melirik Ibu yang sedang memasak. Kemudian mendekatiku. "Aku sedang dekat dengan seseorang."


Ia berbisik kepadaku. Karna Ayah dan Ibu memang melarang Hallin untuk berpacaran. Paling tidak tunggu dia kelas dua SMA. Jadi Hallin hanya mampu bersembunyi dari kedua orang tuanya. "Lalu? Itu bukan berarti kalian akan menjalin asmara bukan?"


Aku juga berbisik kepadanya. "Hehe, meski begitu kami sudah berteman dekat. Di tambah lagi dia sepertinya menyukaiku."


Bisikannya membuat telingaku terasa geli. "Kepercayaan dirimu besar sekali gadis muda."


Wajahnya tampak memerah saat aku mengatakan itu. Aku menatap Hallin cukup lama. "Hallin, jika Kakak tak bisa hidup hingga usia dua puluh satu, bagaimana menurutmu?"


Aku membawa keseriusan dalam kalimatku. Itu membuat Hallin menatapku khawatir. Aku bahkan dapat melihat matanya yang berair seperti akan menangis. "Kakak, jangan bilang begitu... Aku bisa sedih..."


Sekarang gadis malang itu menangis. "Hentikanlah tangismu, atau Ibu akan menoleh." Bisikku.


Tapi kalimatku membuatnya menangis lebih kencang. "Huuuaaaaaa! Ibuuuu!"


Sepertinya Gadis ini menyayangi Kakaknya. Atau bisa di katakan ia bergantung kepadaku untuk beberapa hal. Kepergian sosok Rini Ariani akan memberikan pukulan besar untuknya. Aku hanya mampu menghela nafas.


"Nak, mengapa tiba-tiba menangis?" Ibu bertanya bingung.


"Ibuuu! Hiks.. Kakak bilang... dia... Hiks.. tidak akan... hidup hingga usia... dua puluh satu.... Huaaa..."


"Riin, jangan bilang begitu..." Sepasang mata ibu ikut berair dan meneteskan air mata. Ia meninggalkan wajan dan mendekati aku untuk memelukku, seolah takut kehilangan aku.


"Ibu..."


"Sst... Jangan mengatakan hal seperti itu lagi." Ujarnya dengan nada sedih.


"Ibu wajannya terlihat berasap." Itu yang ingin aku katakan.

__ADS_1


"Ya ampun!" Ibu tampak kaget, tapi bekas air mata mengalir itu masih ada.


__ADS_2