
Semester genap di kelas XI
Tahun telah berputar dan kini aku berada di semester genap dengan nilai yang tidak terlalu baik atau buruk. Alya? Dengan otaknya yang selalu di pakai dalam kegiatan apapun, naik kelas adalah hal mudah untuknya. Tak terasa kini sudah memasuki awal tahun 2024.
Berita buruknya, kesehatan tubuhku mulai menurun. Tanda-tanda tubuh Mayat sudah mulai terlihat. Inilah salah satu sebab aku rajin berlatih belakangan ini. Tapi kali ini, sebanyak apapun aku berlatih, aku hanya mampu mempertahankan kesadaranku selama dua belas jam. Sisa waktu lainnya ku gunakan untuk mereparasi tubuh yang nyaris kembali ke rupa aslinya. Ini benar-benar pekerjaan ekstra.
Sehingga fokusku belakangan ini menurun. Karna khawatir, Alya sering membawaku pergi ke tempat yang energi alamnya masih murni. Ratna atau Cakra juga sering datang membawa batu berisi energi alam. Aku merasa beruntung memiliki mereka di sisiku.
Di saat yang bersamaan aku juga merasa sedih karna peranku sebagai Rini Ariani akan selesai dalam beberapa bulan. "Pagi Kakak-kakak! Kalian selalu jadi yang pertama datang ya, aku tidak kaget lagi sekarang."
Yang menyapa adalah Iqish tentunya. Aku dan Iqish duduk bersebelahan, aku sedikit menepi untuk memberinya jalan. Tangannya tak sengaja menyentuh bahuku. Ku lihat ia sedikit mengernyitkan dahi saat itu.
"Kak, rasanya suhu tubuhmu menjadi jauh lebih dingin di banding terakhir kali ku rasakan." Ia berkata dengan sedikit khawatir.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja." Balasku sekenanya. Tubuhku jadi lebih mirip zombie sekarang. Ku pikir aku harus berhati-hati agar tak merusak tubuh yang semakin rapuh ini.
__ADS_1
Kelas pagi berlangsung cukup santai tanpa ada masalah. Aku pun senang karnanya. Itu adalah istirahat pertama ketika aku merasa hidungku sedikit gatal. Sambil berjalan ke meja Alya, aku bersin. Sialnya, sebelah mataku terlepas karnanya. Bola mata yang bergelantungan dengan darah hitam di pipi. Aku segera berjongkok agar yang lain tak melihatku. Sayangnya beberapa dari teman sekelas melihatnya. Mereka menunjukku dengan tangan gemetar. Lalu saat teman di sebelahnya bertanya kenapa, dia malah berkata. "Ma-mata Kak Rin..."
Lalu ia jatuh pingsan. Untungnya aku sudah memperbaiki mataku yang terlepas. Darah hitamnya juga sudah aku seka dengan tisu. Alya membawaku ke tempat favorit. Sembari berjalan aku memegangi mataku yang sebelumnya melompat keluar. Kelopak mataku sudah longgar, aku takut guncangan kecil akan membuatku mengeluarkan kedua mataku bersamaan.
Saat tiba di tempat favorit, hal pertama yang ku lihat adalah Yesie yang membersihkan tempat itu. Ada banyak gulma yang tumbuh selama kami berlibur. Aku berniat membantunya, namun Alya menghalangiku. "Rein, matamu terlepas hanya karna bersin. Jika kau memaksakan diri mengangkat beban, kupikir tulangmu akan lepas dari persendiannya."
Aku hanya bisa mengangguk saja. Ada benarnya juga kalimatnya. Tubuhku saat ini dua kali lipat lebih rapuh di banding sebelumnya. Jadilah Alya yang membantu Yesie. Yesie sempat melirikku sesaat. Sambil membuang gulma di tangannya ia bertanya kepadaku. "Kamu terlihat lebih buruk, wajahmu tampak lebih pucat, dan kamu tampaknya melemah. Seolah guncangan kecil mampu memotong tubuhmu."
Aku hanya melambaikan tanganku. "Tidak apa-apa. Sejak awal kondisiku sendiri memang sudah tidak sesehat manusia lainnya. Umurku mungkin sudah tak lama lagi."
Saat aku mengatakan ini, aku merasa menjadi kakek-kakek yang akan mati, lalu berhadapan dengan cucu yang menanti warisan. "Jangan bicara sembarangan!"
Alya dan Yesie berteriak bersamaan. Yesie aku bisa mengerti, tapi mengapa Alya ikut berteriak?
Mungkin aku masih bisa melihatnya saat dalam bentuk Siluman. Tapi, ia takkan mengenalku sebagai Rini temannya. Ia mungkin akan menganggapku musuh karna aku bukanlah manusia. Aih... Aku merasa serba salah.
"Sudah, aku tak ingin mendengar omong kosong berbau duka. Ayo duduk, aku ingin mendengar pengalaman selama kalian liburan." Yesie berujar sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Aku duduk di sisinya untuk mulai berkisah. Sesekali Alya akan menyambung kalimatku. Aku sungguh berharap waktu terhenti sekarang juga. Sebagai Rini Ariani, aku senang ada di sini.
Sayang sekali aku bukan dia. Aku hanya menggantikan perannya. Dan beberapa saat lagi peranku akan selesai. Sudah waktunya untukku memenuhi janjiku yang lain.
__ADS_1
Saat memasuki kelas di jam pelajaran berikutnya, ku lihat teman yang tadinya pingsan saat melihat mataku yang lepas tidak ada di kelas. Mungkin mereka masih terbaring di UKS dengan perasaan tak karuan. Mereka melihat hal yang tak bisa di jelaskan dengan logika, aku yakin mentalnya sedikit terganggu. Dan kesan mereka terhadapku akan berubah.
Guru yang masuk kebetulan guru yang biasa berjaga di UKS. Ia melihatku saat mengambil absen kelas. "Ibu dengar tadi dari tiga teman sekelas kalian yang di UKS. Katanya mereka melihat Rini dengan mata yang keluar dari tempatnya."
Orang yang mendengarnya hanya tertawa. Kelas ramai oleh tawa. Siapapun yang berpikir pasti akan berpendapat sama. Alasan mereka untuk bolos terlalu buruk dan tidak dapat di percaya.
"Alasan mereka terlalu bodoh Bu. Lagi pula mana mungkin matanya Kak Rin bisa melompat keluar." Ujar salah satu murid yang duduk di barisan belakang.
"Benar itu, menjadikan Kak Rin sebagai alasan untuk bolos. Kasihan Kak Rin yang di tuduh tidak-tidak." Itu adalah Iqish.
"Aku tau sih Bu, Kak Rin itu memang pucat dan terlihat seperti Hantu. Tapi setelah sekelas dengannya selama hampir setahun ini, aku tau kalau Kak Rin masih manusia normal." Seseorang berkata lagi.
"Ya, mereka hanya beralasan agar tidak masuk kelas hahaha..." Seseorang yang lainnya berkata lagi di sertai tawa mengejek di akhir kalimat.
Namun wajah serius guru itu membuat suasana kelas menjadi sedikit tegang dan ada hawa takut. Bahkan Iqish sedikit menjauhkan kursinya dariku. "Ibu awalnya seperti kalian, mengira kalau itu hanyalah bualan mereka. Namun ekspresi mereka dan kondisi mereka hampir menyamai seseorang yang baru saja melihat hal yang tidak mungkin."
Pandangan mata Ibu itu menatap lurus ke arahku. "Kalau bisa Ibu minta penjelasannya Rin."
Semua anggota teman sekelas ikut menatapku dengan rasa ingin tau. Ada ketegangan dan keringat dingin di dahi mereka. Aku hanya mengangkat bahu. "Memangnya apa yang bisa aku jelaskan? Menjelaskan kalau aku bukan manusia, begitu? Atau menjelaskan kalau aku adalah hantu yang menyamar, begitu? Kalian akan percaya dengan omong kosong itu? Ada Alya di sini, selama setengah tahun dia tidur di tempat tidur yang sama denganku. Dia mungkin bisa menjelaskan apa yang ingin kalian ketahui."
__ADS_1
Semua orang beralih tatapan ke Alya. Tapi Ibu Guru tampaknya tak mengharapkan jawabanku sebelumnya. Ia hanya memijat dahinya dengan perasaan lelah. Lalu berkata sambil mengetuk meja. "Kita akhiri pembicaraan ini di sini. Ibu tidak ingin mendengar hal yang sama dua kali. Rini, Ibu akan selalu mengawasimu mulai sekarang."
Aku hanya mengangkat bahu saat itu. Memang aku bukan manusia, tapi tubuh yang ku rasuki adalah manusia. Keluargaku juga dapat bersaksi akan hal itu.