
Dua minggu sudah dina menjalani perawatan di rumah sakit, namun dina tidak sendirian nadien selalu membantu dan menolongnya seperti adik sendiri tak lupa sesekali dy menghiburku jikalau dina sedang depresi untuk mulai mengingat-ingat tentang siapa dirinya namun tak berujung mengingat malah sakit di kepalanya yang dirasakanya.
"Akhirnya sampai rumah juga" ucap nadien kepada dina sambil duduk di kursi.
dy membawa dina untuk tinggal bersamanya tepatnya di sebuah apartemen yang cukup mewah dan terlihat rapih.
"ka ini kita bakal tinggal di sini?" tanya dina penasaran.
"iya sayang, ini rumah kaka, nanti kaka kenalin abang kaka yang tinggal di sebelah kita" jawab nadien senyum kea rah dina.
"oke ka" sahut dina sambil ikut melemparkan tubuhnya di kursi
"kamu duduk dulu ya, aku mau rapihin baju kamu dulu" ucap nadien sambil membawa masuk tas ke arah kamar.
"biar aku bantu ka" jawab dina ikut membututinya
setelah semua beres, mereka pergi untuk makan keluar sambil berbelanja beberapa pakaian untuk dina.
"coba kamu pakai yang ini dan yang ini, dan ini semua" pinta nadien sambil menyodorkan beberapa pakaian
"oke ka" jawab dina sambil mangambil pakaian yang di berikan ka nadien dan menobanya
pakaian 1
baju dres warna putih dengan lengan pendek sepundak dan panjang seatas lutut
"bagus, berikutnya" pinta nadien
pakaian 2
baju atasan kemeja pnjang berwarna peach dengan pola polkadot hitam dan ada pita di bagian tengah kerah dan rok yang juga senada dengan atasan di atas lutut
pakain 3
kemeja putih lengan pendek dan rok biru di atas lutut.
serta beberapa pakaian yang dipilihkan kan nadien untuk dina gunakan.
__ADS_1
"ambil semua mba" ucap nadien ke pada pelayan tokok tersebut
"hah ka serius semuanya? gg kenyakan?" sahut dina dengan spontan
"gg kok, kan kamu gg punya pakian, udah tenang sajah" jawab nadien meyakinkan dina
setelah membayar mereka pergi mencari makanan.
"akhirnya kenyang juga" ucap dina sambil memegang perutnya yang kekenyangan
"hahah dasar kamu" sahut nadien sambil mengusap-usap rambutnya.
"kita pulang yuk ka" pinta dina ke nadien
"sebentar kita ke salon dulu ya, merubah penampilanmu" sahut nadien sambil berdiri dan menarik tangan dina untuk mengikutinya.
sesampainya di salon rambut dina di rapihkan dan di bikin berponi .
"hmm sekarang sudah cantik" ucap nadien sambil tersenyum ke arah dina
"makasih ya ka, kaka sudah baik banget sama aku, walaupun aku lupa ingatan, tapi kaka selalu baik sama aku, aku sampai bingung balesnya gimana ka" jawab dina dengan malu
"gg apa-apa, kaka iklhas lakuin ini semua, kamu sudah kaka anggap sebagai adik kaka, jadi kamu juga harus menganggap aku kaka kamu yaa, tidak perlu sungkan, dengan kamu bersikay begitu sajah sudah cukup" sahut nadien sambil memeluk dina dengan nyaman
"makasih banget ya ka" jawab dina sembari membalas pelukan tersebut.
"kanya kaka kenalin ke abang kaka ya?" tanya nadien
"hmm emang gg apa-apa ka?" jawab dina
"gg apa-apa kok, malah dy penasaran banget sama kamu" sahut nadien meyakinkan
"yaudah deh ka mau" jawab dina pasrah.
sesampainya di lantai 8 mereka ke arah kamar di sebelah kamar yang mereka tempati dan mulai memencet bell.
*tin tong
"ah kamu de ayo masuk" terdengar suara pria yang sambil membuka pintu
,mereka mulai masuk ke dalam kamar tersebut.
"ka kenalin ini kanya yang aku ceritain waktu itu" ucap nadien sambil mengenalkan dina ke abangnya
terlihat seorang pria yang cukup tinggi dengan kulit putih dan tampan serta hidung yang mancung menurutku.
__ADS_1
sambil malu-malu dina mengulurkan tangannya untuk berkenalan, dan dy membalas dengan bersalaman.
"nama gue aldi lo panggil gue ajah abang aldi gw abangnya nadien umurnya gg beda jauh kok" ucap pria tersebut sambil tersenyum
"ah iya ka, eh abang aldi maksudku, aku kanya, salam kenal" jawab dina tersenyum
"udah jangan lama-lama pegangannya bang udah kaya mau nyebrang ajah" celetuk nadien meledek ke arah pria tersebut
"eh iya kelupaan lepasin tangan, heheh, ayo silahkan duduk anggap rumah sendiri" jawab pria tersebut sambil menyuruh mereka duduk
"mau minum apa ade manis?" tanya pria tersebut ke arah dina dan nadien
"sok manis banget lo bang, biasanya manggil gue babu" balas nadien dengan cemberut
dina hanya tersenyum sambil terkiki kecil
"yee emang gw nanya lo apa, lo mah ambil sendiri sanah dah" jawab pria tersebut kesal
"huhhh ganjen" sahut nadien sambil mendorong abangnya yang berdiri di depan dina.
"ihh nyantai dong, bentar ya ade manis abang bikinin minum dulu" ucap pria tersebut dan pergi ke arah dapur
"jangan heran ya kanya, dy emng begitu orangnya rada-rada pea, hehhehe" ucap nadien.
"hehhe iya ka nggak apa-apa lucu kok" jawab dina sambil tertawa
"lucu dari mana kanya? itu mah nyebelin" sahut nadien kesal
"lucu ka ada hiburan gituh" jawab dina tersenyum
"hahha dasar"
setelah mereka bertamu cukup lama di tempat aldi, tak terasa waktu menunjukan pukul 10 malam, nadien dan aldi yang sedang asik berbicara membicarakan pekerjaan sementara dina hanya duduk diam memperhatikan mereka. tanpa sadar dina merasa ngantuk dan memejamkan matanya.
"de, kanya udah ke pulau kapuk tuh kayanya" ucap aldi menunjuk ke arah dina yang sudah menyender di bangku dan memejamkan matanya.
"lah iya ya, kita kelamaan bahas pekerjaan sampai lupa kanya di anggurin" jawab nadien melihat ke arah dina.
"yaudah biar dy tidur di sinih ajah" sahut aldi
"huhh enak ajh, nanti lo apa-apain lagi" jawab nadien sambil menoyor kepala abangnya
"ehh songong banget yaa, ya kagaklah, tidurnya sama lo di sini juga pea" jawab aldi kesal.
"ohh kirain, yaudah lo gendong bawa ke kasur gih, gue mau ke kamar mandi dulu" suruh nadien ke abangnya.
tak lama kemudian aldi beranjak ke tempatk dina tidur dan mulai membopong tubuh dina untuk di gendongnya ke arah kasur,
"hm manis juga ternyata" batin pria tersebut sambil tersenyum saat membaringkan tubuh dina ke kasur. di lihatnya wajah dina dengan cukup dalam.
"udah liatinnya jangan lama-lama" ucap nadien sambil melempar handuk ke arah pria tersebut
"sttt bawel" balas pria tersebut kesal
__ADS_1
"udah gue mau tidur lo tidur di apartemen gue ajh bye" ucap nadien sambil menyuruh pria tersebut pergi.