Who Am I?

Who Am I?
Chapter spesial 1.3


__ADS_3

Chapter spesial 1


'Keinginan sang Ratu 3'


Hari menjelang senja dan hujan tampaknya semakin menderas. Lea menatap tak suka kepada kucing-kucing yang masih sibuk memelukku. Tatapannya semakin lama semakin horor. "Anak-anak, turunlah. Atau seseorang akan memakan kalian nanti."


Aku berbisik. Pada saat itu mereka melirik Lea. Lalu mulai takut dengan bulu mengembang, kemudian mereka mulai turun dari pangkuanku. Tapi kucing-kucing tak berniat untuk pergi. Mereka masih duduk di lantai di sekitar kakiku.


Lalu Ibu Rini datang dengan teh hangat dan kopi hitam di nampannya. Wah tau saja dia, aku suka Kopi hitam. Padahal aku yang sekarang kan bukan Rini. "Rein.. mau Acar mangga." Lea mulai bertingkah lagi.


Saat Ibu Rini menyuguhkan minuman, Ibu Rini sepertinya mendengar kalimat Lea.


"Tunggu ya? Kita masih di rumah orang. Lagi pula di luar hujan. Tidak baik bagi kesehatan janinmu jika kamu menerobos hujan untuk masuk ke Mobil." Aku berbisik untuk menenangkannya.


"Nak Alya kenapa?" Ibu Rini berujar dengan suara lembut.


"Istriku Hamil Bibi, ia ingin acar mangga. Tapi sekarang masih hujan." Aku berujar pelan. Sambil meringis menahan perih di kulit kepala karna Lea mulai menjambak rambutku lagi.


"Wah, kebetulan Bibi punya mangga di belakang, Nak Alya mau?" Ibu Rini berkata dengan nada senang. Ia sepertinya tidak membenci Lea lagi. Mungkin karna Rini sudah tiada, dan Lea adalah teman paling dekat yang di sayangi Rini. Ah, mengingat ini aku hanya bisa senyum-senyum sendiri.


"Aku Mau! Mari buat Acar mangga bersama! Sudah lama kita tidak melakukannya Bibi!" Lea segera berkata bersemangat. Dalam hati aku berterima kasih kepada Ibu Rini yang menolongku dari remasan rambut yang terus di lakukan Lea. Untung saja rambutku tidak rontok, jika tidak aku akan menjadi macan botak. Ah, memalukan bila itu terjadi.


Setelah dua wanita berbeda usia itu melangkah ke area dapur. Aku merasa lebih santai, aku melirik posisi potret keluarga dan lukisan yang pernah aku buat sebagai Rini dahulu. Tidak ada yang berubah sejak kepergian kami. Tata letak semua barang masih sama. Kerinduan dan rasa hangat meluap dalam dada. Ada nostalgia yang berputar di kepalaku begitu aku melihatnya. Sebagian hatiku merasa lega karna sedikit rasa rindu kecil telah terbayarkan.


"Aku pulang! Ib... " Teriakan gadis itu terhenti ketika matanya berpapasan dengan pandanganku. Aku yang saat ini sedang duduk menyeruput kopi hitam dan di kelilingi para kucing manja. Kucing-kucing ini berani menaiki pangkuanku atau duduk di sisiku saat Lea telah pergi ke dapur.


"Se-selamat datang kembali." Aku berujar untung menghilangkan canggung karna Hallin terus saja menatapku.


"Abang ini siapa?" Dia bertanya dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


"Saya Rein. Lengkapnya Reindra Ambarawa, suami Lea. Um... Maksud saya Alya Perwita." Aku berujar dengan sedikit gugup. Tatapan Hallin sepertinya tak berniat untuk pindah.


Aku masih mempertahankan kharisma ku sebagai Pria yang tenang. Aku mencoba mengabaikan tatapannya. Dan fokus untuk menyeruput kopi. Salah satu kucing mengeong. Ia memberi tauku kalau Hallin mendekatiku.


Snif... Snif... Snif...


"Nona muda, tak sopan rasanya jika kamu bertingkah demikian kepada Pria tak di kenal." Aku memperingatkan, karna Hallin kini malah mengendus aroma di sekitarku! Ntah apa yang ia pikirkan.


"Kakak?"


Aku sempat tersedak sesaat. "Nona, siapa yang kau panggil? Apakah kau memanggilku?"


"Jangan berpura-pura! Suara Abang mirip banget sama suara Telepati yang di sampaikan Kakak sesaat sebelum dia meninggal! Terus, tingkah kebiasaan dan kesan yang timbul juga serupa dengan Kakak!" Hallin berteriak dengan mata berkaca-kaca. Untungnya suara teriakannya teredam suara hujan di luar.


"Nona, saya dengar dari Alya kalau Kakak perempuanmu sudah tiada. Jangan anggap saya sebagai dia, karna saya bukan dia." Aku tak percaya insting manusia bisa sekuat itu sampai mengenali aku. Tapi itu bisa menjadi sebuah kemungkinan. Karna Hallin adalah keturunan Arya Jaya Wisesa, yang merupakan seorang pendekar dengan ilmu Kanuragan yang cukup mumpuni di tahun itu.


"Kakak! Jangan bohong... Aku tau ada sesuatu tentang hutan bambu dan Ayah. Aku merasakan sesuatu darimu, kamu pasti Kakak. Mungkin omonganku terdengar seperti omong kosong, tapi aku bukan orang yang bisa di bodohi dengan mudah! Meski aku tidak tau bagaimana kamu mengendalikan tubuh aneh Kakak, aku tau kamu adalah Kakak! Kamu adalah orang yang mengendalikan tubuh aneh Kakak! Meski kamu Kakak yang mesum dan berpikiran jorok, kamu tetap saja Kakakku yang terbaik! Dan aku merindukanmu!" Ia berbicara panjang lebar. Air matanya mulai membuncah dan tangannya terentang seolah ingin memelukku.


Tapi ia masih duduk di sana. Tatapan matanya bersikeras ingin aku mengatakan kebenaran. "Kalau Abang tidak mengaku, aku buka pakaianku di sini sekarang juga! Lalu berteriak kalau Abang melecehkan ku!"


"Eh, jangan! Aduh... Apa kata Lea kalau dia melihat keadaanmu nanti. Oke aku mengaku, itu memang aku, lalu kenapa?!" Aku berkata dengan nada kesal.


Ada senyuman senang di wajahnya. Tapi tatapannya lebih penasaran dari pada kucing kepo. Ia menyiapkan sebuah buku kecil. "Ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana Abang bisa merasuki tubuh Kakak. Dan mahluk apa Abang ini sebenarnya. Mengapa Abang tampak senantiasa muda? Jangan membohongiku karna aku pernah melihat lukisan Abang di ruang keramat Kakek."


Aku menggigit kuku jempol ku kesal. "Gadis bebal! Apa yang akan kau lakukan memangnya dengan semua informasi itu? Toh zaman sekarang manusia-manusia itu tak akan percaya dengan itu."


"Aku hanya sekedar ingin tau. Ayo-ayo Abang harus cerita yang sebenarnya. Tidak perlu semua, aku hanya ingin Abang menjawab pertanyaanku sebelumnya." Ia berujar sambil menggerak-gerakkan pena di tangannya.


Aku menghela nafas panjang. "Saya akan membantumu, tapi kamu juga harus membantuku."

__ADS_1


Mendengar perkataanku, Hallin mengangguk. "Aku akan bantu selama itu nggak jadi simpanan Abang." Ujarnya dengan tawa main-main di akhir kalimatnya.


"Tolong jangan berkata begitu. Saya hanya minta kamu agar membantuku dengan informasi yang di inginkan Alya. Nanti saat dia kemari saya akan mengatakan padanya. Kalian silahkan bicara." Aku berujar sambil meletakkan gelas kopi pahit ku yang sudah tersisa ampasnya.


"Oke! Kalau begitu giliran Abang menjawab pertanyaanku!" Hallin berkata dengan girang.


"Hm.. pertama jangan terlalu dekat. Alya saat hamil sangat posesif. Jika ia melihat kamu terlalu dekat begini, sayalah yang akan terkena getahnya." Ujarku sedikit kesal.


"Iya-iya. Eh, Kak Alya Hamil? Hamil anak Abang?"


"Tentu saja, dia kan Istri saya." Ujarku sedikit ketus.


Hallin mulai duduk di jarak yang tak terlalu jauh atau dekat. "Oke, mulai! Jawab pertanyaan sebelumnya!"


Setelah aku kembali ke tubuh asliku, ingatanku berubah menjadi lebih baik beberapa kali lipat di banding sebelumnya. Meski waktu berlalu dengan banyak bacotan, aku masih ingat apa pertanyaan yang ia ajukan.


"Saya adalah mahluk yang kalian kenal sebagai Siluman. Saya memiliki hutang Budi dengan Kakek Buyut Ayahmu. Maka dari itu, dengan segenap jiwa dan raga saya, saya akan bantu saat Kakek Buyut Ayahmu, jika Kakek Buyut Ayahmu terlibat dalam masalah besar hingga perlu bantuanku. Jika ia tak terlibat masalah atau tidak meminta bantuanku, maka itu akan berlaku untuk keturunannya. Beberapa ratus tahun berlalu, saya pikir Kakek Buyut Ayahmu akan selalu aman sentosa karna tak pernah kalian memanggil saya. Siapa yang tau kalau sekitar 25 atau 26 tahun yang lalu, Ayahmu memanggil namaku tujuh kali. Begitu aku bertemu dengannya. Ia membawa mayat Kakakmu yang saat itu masih bayi."


Ku lihat Hallin mengangguk-angguk dengan tangan yang bergerak untuk menulis cepat. Lalu aku melanjutkan. "Di sanalah Ayahmu. Ia mengatakan kepadaku kalau Ibumu sudah kehilangan akal, karna Kakakmu yang merupakan anak pertama tiada di usia yang bahkan belum sampai setahun. Ia memohon dan menangis berkata kepadaku kalau aku harus membantunya. Karna bayi yang di bawa Ayahmu saat itu sudah hampir membusuk. Saat ku pikir-pikir lagi. Aku bisa membantunya. Begitulah mengapa aku membantu Tubuh Rini untuk tumbuh. Aku menahan jiwa Rini di tubuhnya. Aku juga mengedarkan kekuatanku untuk mempertahankan tubuh Mayat Rini agar ia tetap hidup dan beroperasi dengan baik. Meski ia sendiri sudah aneh seperti mayat."


"Ooh.. jadi itu alasan mengapa Kakak kadang berubah-ubah. Lalu mengapa berhenti di usia dua puluh?" Hallin bertanya lagi.


"Tubuh itu sudah mencapai batasnya. Bahkan jika aku sangat kuat sekalipun, aku tak lagi dapat mempertahankan kondisi tubuh mayat itu. Ia akan membusuk dan benar-benar kembali ke kondisi aslinya. Mayat Bayi."


Hallin mengangguk-angguk. "Lalu Abang sempat mengatakan kalau ratusan tahun telah berlalu. Berapakah usia Abang?"


"Lima ratus tujuh puluh tahun." Aku berujar santai. Karna di dunia siluman usia itu masihlah usia yang belum termasuk tua.


"Uhuk! Tua sekali! Lalu jika Abang Siluman, apakah Kak Alya juga?"

__ADS_1


"Tentu saja. Dia hadir dalam kehidupan kalian sebagai teman Rini hanya karna ia merindukan ketampananku! Meski aku merasuk ke tubuh wanita..." Aku berkata dengan bangga, tampan alami adalah kebanggaan para Pria hahaha!


Hallin tampak kesal saat aku mengatakan itu. Lalu kepalanya mengangguk kecil saat ia menulis lagi.


__ADS_2