
Chapter spesial 1
'Keinginan sang Ratu 2'
Karna Istri cantikku sudah tidur, aku pun ikut tidur. Lelah mental bro! Ngurusin istri hamil bertahun-tahun!
"Raj! Raj! Bangun! Rajendraaaa!"
Aku yang sedang tidur nyenyak bangun setelah Lea membangunkan aku. Biasanya di saat-saat begini dia bakalan minta sesuatu.
"Kenapa?"
"Aku mau mendoan warna pelangi!" Ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Mana ada yang begitu.." Aku yang sudah duduk di tempat tidur, kembali berbaring malas mendengar permintaan anehnya.
"Kan bisa di bikin! Rajendra bangun! Aku mau Mendoan pelangi!" Lea menarik-narik ujung rambutku, membuat aku kesal tapi tidak bisa marah.
"Iya-iya, tunggu di sini, biar aku pergi meminta pihak dapur membuatkannya." Aku melangkah hendak pergi, namun tanganku di cekal lagi.
"Tapi aku mau buatanmu..." Dia berbisik dengan mata memohon.
"O-oke aku yang bikin. Lea tunggu di sini dan jangan turun. Kalau mau turun panggil pelayan biar dia yang membantumu turun tangga." Ujarku. Saat ini aku terpikir drama Indosiar dimana cewe hamil jatuh di tangga terus keguguran.
Lea mengangguk-angguk dengan senyuman senang. Ah, dia senang aku pun senang! Tapi...
"Em... Kalau mau keluar pakai baju dulu ya." Karna sekarang tubuh Lea hanya di bungkus oleh jubahku.
Aku berkata dengan nada selembut yang aku bisa, agar tak memecahkan hati rapuh Ibu hamil. "Oke!"
Setelah mendengar persetujuannya, aku segera meninggalkan kamar. Aku yang dulu memang tidak bisa mengurus hal-hal berbau dapur. Tapi setelah Lea memasuki siklus hamil, ia menjadi lebih sering ngidam makanan dan makanan itu haruslah buatanku. Sedangkan aku adalah pria berusia ratusan tahun yang tau makan saja. Masakan pertamaku di coba oleh Lea. Dan ia menolak untuk melihatku selama seminggu karna makanan buatanku yang rasanya lebih buruk dari makanan anjing. Bahkan tak bisa di sebut makanan.
__ADS_1
Dengan tekad yang sudah sekuat baja, aku belajar memasak dari koki kerajaan yang masakannya terkenal di dunia siluman. Aku juga sempat pergi ke dunia manusia dan mempelajari masakan dan dapur dari berbagai negara, tentunya masakan lokal juga tidak lupa.
Dengan begitu, aku mampu mengalahkan kemampuan koki kerajaanku. Wahaha! Tekad baja seorang suami setia itu memang beda!
Sekarang dapur adalah dunia ketiga untukku, setelah tahta dan Medan perang tentunya. "Yang Mulia, apa perlu saya bantu?"
Salah satu pelayan yang bertugas di bagian dapur berkata, saat aku mulai membuka lemari untuk mengumpulkan bahan mentah untuk mendoan pelangi. "Tidak perlu. Jika Lea melihat aku membuatnya dengan bantuan orang lain ia akan merajuk nanti."
Pelayan itu mengangguk patuh, tapi masih berdiri di sana dan tidak berniat pindah. Sebenarnya di rumah ini semua pelayan dan pegawai yang berkerja di sini adalah siluman. Jadi mereka memanggilku sebagai 'Yang Mulia' karna aku seorang Raja.
Tak lama dari pembicaraan singkat kami aku merasakan keberadaan Lea. Saat aku melirik, ia ada di depan pintu dapur dengan kursi sebagai tempat duduknya. Ia sudah memakai dress panjang yang tidak terlalu ketat. Ia melambaikan tangannya dengan senyum cerah di wajahnya.
Sepertinya aku tau satu fakta unik lagi tentang hubungan suami istri. Senyuman dan kebahagiaan istri adalah mood booster bagi suami. Apa lagi bagi calon Ayah sepertiku. Ntar yang lahir apa ya? Macan apa kucing hutan. Aku sih pengennya kembar.
Aku tak membuat banyak mendoan. Hanya empat belas saja. Masing-masing memiliki satu warna. Karna Lea bilang ingin mendoan pelangi, maka aku membuat masing masing tujuh adonan tepung berwarna beda. Tentunya aku menggunakan warna pelangi. Dengan demikian Ratuku baru akan puas.
Saat aku membawa nampan berisi gorengan bernama mendoan itu, matanya menyala dengan senyum lebar. "Nih. Mendoan pelangi yang kamu mau." Ujarku pelan.
"Waaah! Cantik banget! Persis seperti yang ku lihat di mimpi tadi!"
Mungkin itu sudah pukul satu siang saat aku yang sedang ngopi di remas lagi rambutnya.
"Sayang, ada apa?"
Aku bertanya sambil meringis menahan perih di akar rambutku. Biasanya setiap kali Lea meremas rambutku, ia akan mengatakan keinginan mustahilnya lagi. "Katanya kamu mau mengantarku! Ayo kita pergi! Aku ingin bertemu dengan temanmu!"
"Sebelum itu kita ke tempat Hallin dulu ya? Enam tahun itu bukan waktu yang singkat untuk manusia, alamat mereka pasti sudah berbeda. Hallin adalah Adik dari Rini, ia pasti mengetahui sedikit tentang Yesie dan yang lainnya." Aku membujuk kucing manja ini.
"Kalau begitu Ayo kita pergi!" Lea dengan cepat berubah bentuk ke bentuk Alya.
"Tapi tuakan sedikit. Jika mereka bertemu Alya yang masih remaja, sementara mereka telah dewasa, mereka takkan mempercayai kita." Ujar ku pelan saat melihat penampilan Alya di usia SMA.
__ADS_1
"Umur berapa?" Lea bertanya.
"Dua puluh lima atau enam." Ujarku singkat.
Mendengar penuturanku, Lea segera membuat wajah remajanya berubah dewasa. Lalu aku juga merubah bentuk ke bentuk Reindra. Lalu kami bersama menuju garasi. Langkah pertama adalah menemui Hallin.
Jika di ingat-ingat. Hallin di lima tahun lalu adalah Hallin di kelas dua SMP. Sekarang mungkin ia sudah masuk jenjang universitas. Kalau di pikir-pikir lagi, kayaknya mereka pindah deh. Mereka ke desa kan cuma buat kesembuhan Rini. Yah. Tidak ada salahnya mencoba.
"Kita kemana? Kok kayaknya ngga ke desa?" Lea bertanya saat mobil memasuki area gedung yang lebih ke tengah kota.
"Rumah lama Rini." Ujarku.
Rumah lama Rini ada di area perumahan yang lumayan berkualitas. Tidak sembarang orang bisa memasuki area itu. Tapi untukku, aku bisa masuk dengan modal hipnotis. Wahahaha... Menjadi siluman di dunia manusia adalah sebuah cheat besar.
Dengan memasuki area perumahan. Aku ingat rumahku dulu adalah rumah dengan nomor 45. Untungnya jalanan tak terlalu sempit untukku lalui. Rumah nomor 45 berada di ujung. Adalah hal mudah untuk menemukannya. Saat aku menghentikan mobil di depan rumah lama Rini, aku melihat dua anak SMP sedang bermain badminton. Aku yakin mereka adalah Anwar dan Arvid. Si kembar yang trauma kepadaku saat menjadi Rini.
Melihat mobil kami menepi di depan rumahnya, kegiatan mereka terhenti. Mereka adalah remaja muda yang beranjak dewasa. Menyapa tamu asing tak lagi membuat mereka kabur seperti di masa lalu. Lea segera turun dari mobil. "Halo! Kalian pasti Anwar dan Arvid ya?"
Mereka menatap Lea waspada. Aku tak bisa membiarkan si bocah tengil itu menyakiti Istri ku. Maka aku ikut turun. "Aku Alya Perwita! Teman Almarhum Rini! Kalian tidak ingat aku?"
Dahi berkerut mereka kembali normal. Lalu Anwar berkata. "Ah, Kak Alya, kenapa Kak?"
"Istriku ingin bertemu Hallin. Apakah Hallin di rumah?" Aku yang berbicara, membuat perhatian mereka mengarah kepadaku.
Si kembar menatapku dengan tatapan aneh. Seolah memikirkan sesuatu. Tapi mereka tak bertanya apa-apa. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan Anak-anak kucing yang lumayan banyak berlarian keluar. Si kembar kelimpungan menahan anak kucing agar tak berlari keluar rumah. Ku lihat ada Ibunya Rini yang menatapku dengan dahi berkerut.
Anak-anak kucing berlarian ke arahku. Meski mereka tau kalau Rini telah tiada. Yang mereka ingat adalah auraku, bukan kehadiranku. Aku melihat kucing kesayangan Hallin kini telah menjadi kucing tua yang gemuk. Kucing-kucing yang jumlahnya lebih dari selusin ini menaiki kakiku. Saat aku berjongkok ke tanah, mereka semua memanjat ke celana dan pakaianku. Aku telah di gulung oleh banyak kucing gembul.
Mereka mengeong seolah berucap kalimat rindu. Bulu mereka pasti menempel di pakaianku. "Kalian merindukan aku ya?" Aku berbisik pelan.
Semua kucing itu mengeong keras bersamaan, seolah sedang menjawab ku. Saat itu, hujan gerimis tiba-tiba muncul. "Kak Alya, Bang, masuk dulu yuk. Itu kucing kami kayaknya ngga mau lepas."
__ADS_1
Kali ini Arvid yang berbicara. Ia menekankan kata 'kami' dalam kalimatnya. Ibu Rini tampaknya tersadar segera. "Iya nak cepat masuk!"
Kami masuk segera ke dalam rumah. Tentunya kucing-kucing itu bahkan tidak ingin melepaskan diri dariku. Seperti saat aku menjadi Rini. Sayangnya kali ini mereka bersikeras ingin bersama denganku.