Who Am I?

Who Am I?
Kunjungan Ratna


__ADS_3


Kunjungan Ratna



Menurut pengakuan Calya, ia telah menggantikan aku selama kurang lebih dua sampai tiga bulan. Ia menggunakan jurus membelah diri untuk mengambil dua peran sekaligus. "Kau pasti sangat lelah..."


"Tidak juga, itu lumayan menyenangkan karna bisa mencoba merasuki tubuh mati." Calya berkata sembari memberikan piring makanan.


"Lalu kapan aku bisa kembali?" Aku bertanya lagi.


"Hm... Sampai kau bisa mengendalikan tubuhmu sepenuhnya. Saat itulah di perbolehkan meneruskan janjimu." Ujar Calya.


"Kira-kira berapa lama?"


"Melihat perkembangan dirimu, sepertinya besok lusa." Calya mulai menyuap makanan ke mulutnya.


Setelah ia menelan makanan yang ia kunyah, Calya menepuk bahuku pelan. "Pokoknya tunggu saja, nanti aku sendiri yang akan menjemputmu."


Aku menganggukkan kepalaku pelan, lalu melanjutkan makanku. Masakan buatan Calya tak pernah mengecewakan. Tapi sejak awal aku menelan masakannya, Calya tak henti-hentinya memandangiku. Apakah ada sesuatu di wajahku?


Untuk memudahkan makan, aku makan dengan bentuk manusia. Sebelum-sebelum ini, Ibu atau Ratna yang menyuapiku. Aku memang suka melihat Calya yang berambut Abu-abu. Mata hijau almond miliknya juga menarik dan mempesona. Rasanya tatapannya bisa memikat siapa saja untuk jatuh ke dalam pesonanya.


Begitu aku selesai makan, aku tanyai dia. "Kenapa kau terus memandangiku? Apa ada sesuatu di wajahku?"


"Bukan... Aku hanya... Merindukan wajah ini. Sudah sangat lama, aku tak pernah melihat wajah ini. " Calya berkata sambil memegangi pipiku.


"Aku ingin menginap malam ini! Aku tak ingin pulang!" Calya berkata sambil melompat ke pelukanku.


"Bagaimana dengan Rini Ariani?" Mendengar pertanyaanku, Calya terlihat berpikir sebentar.


"Ada belahan diriku di sana. Semuanya akan baik-baik saja!" Ia berseru senang.


.....


Angin semilir yang khas dari tempat ini adalah hal yang membuatku rindu. Tiga bulan terasa seperti tiga tahun ku lewati. Saat ini aku sedang melukiskan tempat ini di buku tebalku. Menurut yang Calya katakan, menggambar itu adalah Hobi diriku, bukan Hobi Rini Ariani. Jadi aku memutuskan setelah janjiku nanti selesai, aku akan bawa buku ini bersamaku. Anggap saja sebagai kenangan kecilku di dunia manusia.


"Apa yang membuatmu bersemangat?" Itu adalah suara Yesie.


Ia baru saja datang dengan minuman berwarna di tangannya. Ia duduk di sisiku setelah mengamatiku dari atas sampai bawah. Aku menggeleng, aku tidak bersemangat, mungkin hanya sedikit senang.

__ADS_1


"Dimana Alya?"


Yesie menoleh dan membuka mulutnya untuk berkata. "Katanya dia ingin ke toilet, jadi aku duluan. "


Aku mengangguk pelan. Lalu melanjutkan kegiatanku. Tempat ini takkan ku lupakan begitu saja. Lalu Yesie tiba-tiba bertanya. "Oh iya, aku ingin mengatakan sesuatu."


Aku menoleh ke arah Yesie yang menyeruput minumannya. "ya katakanlah."


"Beberapa bulan terakhir kau terasa asing. Seperti bukan Arian yang aku kenal. Dan lagi, firasatku mengatakan kalau kita takkan pernah bertemu lagi. Untuk selamanya." Ia berkata dengan wajah yang memucat.


Aku menenangkannya dengan mengipasi dirinya. "Hei.. jangan berlebihan. Itukan hanya firasat. Bisa saja kita bertemu lagi di lain tempat. Hahaha... Jika itu terjadi akankah kau mampu mengenali aku?"


Kemisteriusan yang ku bawa ke dalam kalimatku, membuat Yesie terdiam sambil menatapku. Mata gelapnya seolah menyembunyikan sesuatu. Lalu ia menunduk dan berhenti menatapku. Setelah menyeruput minumannya beberapa kali, ia menatap langit kelabu.


"Aku selalu mampu mengenali siapapun. Saat kau menjadi hantu nanti, aku pasti bisa menatapmu dan berbicara denganmu. Sebelum engkau benar-benar menghilang. Bahkan jika kau pergi sangat jauh, aku masih bisa menelponmu, aku harap kita selalu bisa berhubungan satu sama lain." Ia berkata dengan nada serius.


Aku tak mengatakan apapun. Diam mungkin pilihan terbaik saat ini. Tak lama Alya datang dengan membawa minuman berwarna, yang warnanya berbeda dengan milik Yesie. Ia duduk di sisi lain diriku. Ia mendekat dan membisikkan kata. "Ratna datang kemari loh"


"Yang benar?!" Karna terkejut tanpa sadar volume suaraku naik.


Alya menganggukkan kepalanya. "Iya! Aku berani bersumpah!"


"Katanya Alya belum menyiram toilet, jadi dia memintaku untuk menemaninya kembali ke toilet itu." Aku berkata sembarangan agar Yesie tak bertanya lagi.


"Rein!" Alya menatapku dengan wajah kesal.


"Ooh..." Yesie kembali fokus ke bukunya. untungnya Yesie tak terlalu peduli soal itu.


Lalu aku menarik tangan Alya, aku bertanya saat kami di perjalanan. "Untuk apa dia kemari?"


Alya hanya mengangkat bahu. "Awalnya ia hanya datang untuk menyampaikan beberapa informasi kepadaku. Saat melihat kantin, ia menolak untuk pulang. Lalu ia menyamar menjadi siswa dan berjalan ke kantin. Aku yakin gadis jahil itu hanya akan membuat kekacauan."


Aku mengangguk, Ratna memang anak nakal. Aku juga sangat yakin pelayan wanita yang tiba-tiba Estrus beberapa hari lalu juga ulahnya. Saat kami hendak mencapai kantin, gosipan panas para siswi perempuan mulai memasuki telingaku.


"Murid tadi tampan ya."


"Iya, aku baru pertama kali melihatnya"


"Dia terlihat menarik dan tampan. Keren dan penuh karismatik!"


Aku dan Alya saling berpandangan saat mendengarnya. "Itu pasti Ratna!"

__ADS_1


Kami berbicara secara bersamaan. Beberapa orang yang berlalu di sekitar kami, menatap kami dengan tatapan aneh. Aku mengabaikannya karna Alya segera menarikku ke kantin. Ia berbisik dengan nada khawatir.


"Rein kita harus cepat. Ratna masih siluman muda yang belum terlalu pandai menjaga penyamarannya. Jika ia terlalu senang ia bisa saja berubah ke bentuk Silumannya. Akan buruk jika para manusia itu melihatnya."


Aku menganggukkan kepalaku. Ratna adalah Siluman Macan tutul betina. Rupa Silumannya telah berevolusi menjadi hampir menyerupai manusia. Sayangnya ia menyamar menjadi laki-laki. Jika penyamarannya gagal, rambut pirang dan mata kehijauannya itu akan terlihat mencolok diantara kerumunan. Lalu gosip aneh akan datang membanjiri lingkungan manusia ini. Dan Kami para siluman paling tidak harus menunggu beberapa tahun untuk menunggu gosip itu mereda.


Itu masih tidak seberapa. Yang paling di takutkan adalah datangnya orang pintar di kalangan manusia. Nasib para siluman akan berada dalam genggamannya. Entah di jadikan budak, atau di lenyapkan keduanya sama buruknya. Itu aku temukan di beberapa buku tebal yang ku baca beberapa hari lalu.


Saat kami sampai, gadis nakal itu sedang menyamar menjadi siswa laki-laki. Ia asyik mengunyah banyak makanan. Alya berbisik pelan. "Dia sepertimu, suka dengan hal baru. Menurutnya hal baru adalah tantangan. Tapi yang paling ia sukai adalah makanan. Sama sepertimu juga."


Aku hanya diam. "Memangnya aku serakus Ratna?" Aku bertanya.


"Kalian Kakak Adikkan sama saja. Sudah, ayo kita bergegas sebelum ia terlalu senang hingga tanpa sengaja merubah bentuknya." Alya segera memasuki kantin bersamaku.


Karna jam masuk hampir tiba, kantin tak seramai sebelumnya. Dengan santai kami duduk di sisi kanan dan kiri Ratna yang masih asyik mengunyah gorengan.


"Ekhem..." Aku berdehem pelan.


"Nona muda ingin mengenalku? Kalian berdua mendekatiku secara tiba-tiba dan mengurungku di dua sisi. Apakah kalian menyukaiku?" Ratna yang menyamar menjadi anak laki-laki merangkul bahuku.


Karna aku belum berbalik ia masih saja terlihat santai. Saat tangannya tak sengaja menyentuh tanganku yang dingin, ia tersentak kaget. Aku menoleh ke arahnya. "Kakak! "


"Sudah selesai menggodanya?" Aku mencibir.


Ratna menggaruk kepalanya dengan raut wajah canggung. "Ahahaha.... Bagaimana ya..." ujarnya.


"Ikut kami" Alya menatap Ratna dengan mata mengintimidasi.


Ratna hanya menghela nafas pasrah. Ia menurut setelah membungkus beberapa gorengan lagi. Lalu mengikuti Aku dan Alya. Kami melangkahkan kaki ke tempat yang cukup jarang di lalui orang lain. Di sana Ratna berubah bentuk ke bentuk Silumannya. Yakni gadis berambut pirang dengan mata kehijauan.


"Menurutlah dan pulang." Alya berujar dengan sedikit nada tidak suka.


"Tapi Kakak Ipar, aku masih ingin belajar cara membuat makanan di sini. Dengan begitu aku bisa membuatnya sendiri kapanpun yang aku mau." Ratna berkata dengan mata memohon.


"Tidak..."


Saat Alya akan berbicara, aku menyela. "Boleh, tapi berubahlah ke bentuk macan, lalu kecilkan tubuhmu hingga seukuran anak kucing kecil. Nanti ikut pulang dengan kami, di rumah nanti biar Lea yang mengajarimu."


"Benarkah!?" Ratna bertanya dengan tatapan berharap.


Aku memberikan anggukan. "Terima kasih Kakak!"

__ADS_1


__ADS_2