Who Am I?

Who Am I?
Belajar Memasak


__ADS_3


Belajar memasak



Sesuai janjiku, Ratna mengikuti kami pulang untuk belajar memasak. Ya, aku tidak tau sejak kapan. Tapi kerajaan Siluman tidak memperbolehkan siapapun penduduknya bermain ke dunia luar dengan sengaja. Kecuali ia mendapat izin dan Raja atau Ratu. Jika tidak ada pula, harus memiliki izin Ibu Suri.


Dan Ratna memilikinya. Tapi ia masih terlalu gegabah dan muda untuk pergi sendirian ke dunia manusia. Seperti hari ini, aku yakin jika seandainya aku dan Alya tidak ada, dia sudah berubah bentuk menjadi macan. Saat aku memasuki pintu kamar. Tas ku sedang berguncang keras.


Lalu kepala kuning kecil muncul di antara resletingnya. Kebetulan hari ini Ayah, Ibu, dan Anak-anak, sedang pergi. Hanya ada Hallin, aku, dan Alya di rumah. Jadi itu waktu yang tepat untuk kunjungan Ratna. Aku meminta Alya membawa Ratna untuk menyamar.


Lalu aku pergi untuk meminum air ke dapur. Tak lama pintu depan di ketuk oleh seseorang. Hallin yang membukanya. Aku mengintip di kejauhan, itu Ratna yang telah menyamar. Kali ini ia menyamar sebagai Adik perempuan Alya.


"Mencari siapa ya?" Hallin bertanya.


Ku lihat Ratna memberikan senyuman. "Halo, kamu pasti adiknya Kak Rini. Aku Nia, Adiknya Kak Alya. Aku berkunjung untuk melihat bagaimana kondisinya."


Penyamaran Ratna terlihat sempurna dengan perawakan gadis muda seusia Hallin. "Oh, kalau begitu silahkan masuk, Kak Nia."


Ratna melambai-lambaikan tangannya, lalu dengan senyuman kecil ia berkata. "Hm.. tidak perlu penambahan kata 'Kak', aku rasa kita seusia kok."


Hallin ikut tersenyum dan menutup kembali pintu setelah Ratna Masuk. Alya datang dan berpura-pura terkejut dengan kedatangan Alya. Mereka terlihat cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri) terlebih dulu. "Waah, sudah lama tidak ketemu Nia..."


"Iya Kakak, Nia rindu sekali."


Oke mereka terlalu lebay untuk di katakan kepura-puraan. Untungnya Hallin tidak terlalu memperhatikan. Ia berjalan menuju televisi. Kini giliran aku untuk masuk ke dalam kepura-puraan. "Siapa yang datang?"


"Katanya Adiknya Kak Alya." Ujar Hallin, wajah Hallin saat itu terlihat sangat bosan.

__ADS_1


"Ooh.. ada apa denganmu?" Hallin hanya melirikku sekilas.


"Aku bosan, dan ingin makan sesuatu." Ujarnya sambil merebahkan diri.


"Mengapa tidak memasak saja? Itukan hobimu."


Hallin memberikan sebuah cengiran. "Aku sedang malas memasak sekarang."


"Kalau begitu aku yang akan memasak! Kebetulan aku membawa banyak barang masakan nih!" Ratna berkata dengan nada riang.


Di susul dengan Alya yang datang belakangan. "Nia ingin belajar memasak. Kalian berdua bisa menjadi juri masakannya."


Hallin terlihat menegakkan tubuhnya. Ia menatap Ratna dari atas ke bawah. "Oke kalau begitu."


Aku hanya mengangkat bahu. Lalu mendorong dua siluman berkedok manusia itu menuju dapur. Lalu aku berkata pelan. "Dapur milik kalian untuk saat ini. Dan jangan merusak apapun."


"Oke!" Ratna sangat senang dengan kegiatan ini. Aku menutup pintu dapur.


"Bermain apa?"


"Hm... Bermain ulas tangga? Atau hal lainnya Sembari menunggu makanan selesai di masak." Hallin berkata sambil membawa kotak mainan di kembar.


"Ya, boleh saja. Mari mulai dengan benda pertama yang di keluarkan."


Mengikuti saranku. Hallin mulai mengambil sesuatu tanpa melihat ke dalam. Yang dia keluarkan adalah Ular tangga. Dengan jumlah kotak sebanyak seratus lima puluh. Dan ini adalah ular tangga yang lumayan besar. Aku mengambil pion merah dan Hallin mengambil pion biru.


Yang pertama memulai adalah orang yang memenangkan suit. Dan Hallin menang, ia mulai lebih dulu. Baris angka pertama memiliki tangga pada angka enam. Itu langsung menembus ke angka tiga puluh lima, yang berada pada baris angka ke tiga. Dengan Mata yang menyipit, Hallin mulai mengocok dadu. Aku yakin ia mengincar angka enam itu.


Tapi bahkan jika ia berhasil, keberuntungan takkan berpihak kepadanya. Karna tak jauh dari angka tiga puluh lima, ada tiga kepala ular. Artinya kau harus ekstra hati-hati dan mendapat angka yang benar-benar bisa menyelamatkan dirimu.

__ADS_1


Saat dadu di lemparkan, Hallin mendapatkan angka lima. Raut wajahnya agak kecewa saat itu. Setelah Hallin menggerakkan pionnya, giliranku untuk mengocok dadu tiba. Sialnya aku mendapatkan angka enam. Di awal, angka enam membawaku ke puncak tangga, namun begitu berada di puncak, tiga kepala ular akan membuka mulutnya untuk menelanmu.


Tiga kepala ular itu ada yang mengarah ke angka satu, angka lima belas, dan angka dua puluh empat. Ular yang mengarah ke angka dua puluh empat ada di belakang angka tiga puluh lima. Jadi ular yang itu tak perlu di pedulikan. Yang paling harus di waspadai hanyalah kepala ular yang ada di angka tiga puluh enam. Itu akan membuatku meluncur ke angka satu. Yang artinya aku harus memulai semuanya dari langkah pertama.


Kini giliran Hallin untuk memulai. Ia mendapat angka tiga. Lalu giliranku tiba. Dan aku mendapat angka satu. Sepertinya hari ini aku sedang sial. Dengan mengikuti liuk tubuh ular, pionku memulai kembali di angka pertama. Hallin kembali memutar dadunya. Ia mendapatkan tiga angka. Itu artinya ia kini terhenti di angka sebelas. Di angka sebelas ada sebuah tangga menuju angka empat puluh tujuh.


Aku menghela nafas dan mulai mengocok dadu. Taukah kamu berapa angka yang kudapat? Itu angka lima. Dengan melompat lima langkah, aku kembali menaiki tangga di angka enam. Dan kembali bertemu dengan kepala ular. Kini akulah yang mulai bosan.


Saat melihat Hallin mengocok dadu. Aroma kelezatan makanan memasuki rongga hidungku. "Makanannya sudah matang, mari bersiap untuk makan."


Hallin terlihat tidak senang, tapi saat mencium aroma makanan dari dapur. Ia segera merapihkan ular tangga dan bersiap untuk ngemil. Yang di buat Ratna dan Alya adalah beberapa makanan ringan sederhana. Seperti bakwan, mendoan, pangsit, dan tahu isi. Hallin melihat gorengan. "Aku akan buatkan saus istimewaku!"


Ia mengacungkan jempol dengan mata berbinar. Kali ini ia terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya. "Hei Kak, aku buatkan yang ini untukmu."


Ratna berkata dengan senyum jahil, tangannya menunjuk ke tahu isi. Senyum itu selalu mencurigakan bagiku. Setiap kali aku melihat senyum jahilnya, kewaspadaan ku akan meningkat beberapa tingkatan. Aku menatapnya dengan mata menyipit. Tapi tetap mengambil satu tahu isi.


Dari sensasi gigitan pertama aku sudah tau apa isinya. Jika saja aku berada di tubuh asliku, aku mungkin sudah melompat-lompat untuk mencari air minum. Namun karna ini adalah tubuh Rini Ariani yang telah mati, rasa pedas tak terlalu berasa di lidah. Sehingga aku bereaksi seolah-olah tidak ada yang terjadi.


"Kenapa Kakak tidak bereaksi normal? Kakakkan tidak suka pedas? "


Aku menelan makananku, lalu mendekat kepadanya untuk membisikkan kata. "Ini bukan tubuh Kakakmu, tentu saja itu tidak berguna."


Ratna hanya mendengus kesal. Aku kembali ke dudukku dan mengambil satu tahu isi lagi. "ngomong-ngomong, masakanmu enak."


Ratna terlihat senang dengan pujianku. Ia berkata. "Benarkah?!"


Aku menganggukkan kepala. Sepertinya moodnya membaik, ia bahkan bersenandung saat mengambil satu tahu isi yang di buatnya. Alya melirik Ratna. "Tahu isi ini di buat oleh Ratna. Di sini ada dua puluh Tahu isi, Rein telah makan dua dan Ratna mengambil satu. Tersisa tujuh belas. Tiga diantaranya di isi lima cabai rawit. Satu di antaranya di isi sepuluh cabai. Sisanya di isi oleh potongan sayur."


Saat ku lihat Ratna yang mengunyah makanannya, wajahnya seperti orang terkejut. Lalu perlahan wajahnya memerah. "Huaaaahhhh!!! Pedaaassss!!"

__ADS_1


Lalu gadis itu melesat ke arah dapur. Berbarengan dengan Hallin yang kembali setelah membuat saus andalannya. Untungnya, Ratna tidak menabrak Hallin. Hallin yang kebingungan meletakkan sausnya lalu bertanya. "Ada apa dengannya?"


"Heh... Itu di sebut senjata makan tuan." Ujarku.


__ADS_2