Who Am I?

Who Am I?
Alya Perwita


__ADS_3


Alya perwita Rev



Minggu berikutnya tiba. Masih tanpa ada tanda-tanda kehadiran Yesie. Ku pikir dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Karena setiap kali kami berpapasan, wajahnya seolah ingin mengatakan sesuatu padaku. Namun selalu terputus oleh panggilan Guru atau suara bel masuk. Saat bel pulang dia sudah menghilang dari kelasnya. Aku tak menemukannya di manapun.


Minggu ujian sudah tiba, dan waktu kami semakin di perpendek. Jangankan berpapasan, aku bahkan tak dapat mampir ke ruang ujian Yesie. Jarak ruangan ujian kami terpisah oleh jarak yang sangat jauh. Di tambah waktu sekolah yang lebih singkat di banding biasanya, membuat kami saling tak dapat bertemu.


Ibu mengerti kalau aku ingin berbicara dengan Yesie, tapi Ayah Yesie tidak membiarkan itu terjadi. Begitu jam pulang tiba, Yesie segera pulang ke rumahnya. Juga karena identitas rangkapku, aku tak dapat menghubunginya.


Bahkan setelah memasuki Minggu Class meeting yang di adakah setelah ujian, aku masih tak dapat bertemu. Begitu aku bertanya ke anak kelasnya, mereka akan mengatakan kalau Yesie tidak hadir. Baiklah, mungkin inilah akhir kisah aku dan Yesie.


"Rin! Kemari!"


Mendengar namaku di sebutkan, aku segera datang. Di ruang tamu, Ibu berbicara dengan seseorang. Aku mendekat karena di panggil. Ibu tersenyum kepadaku sambil berkata. "Rin, ini Alya Perwita yang Ibu katakan tempo hari. Usianya sama denganmu. Ayo berkenalan."


Gadis yang di tunjuk Ibu tersenyum manis ke arahku. Aku hanya menganggukkan kepala saja. Lalu ku ulurkan tangan kananku. "Rini Ariani, panggil aku sesukamu saja."


Gadis itu menyambut tanganku lalu berkata dengan suara lembut. "Alya Perwita, sebenarnya aku lebih suka di panggil Lea." Ia mengedipkan mata kirinya kepadaku. Meski tidak dapat di katakan sangat cantik, tapi dia menarik.


Aku merasa ada yang salah dengan gadis ini. juga, Aromanya sepertinya akrab. Sepertinya aku belum pernah bertemu dengannya. Ibu melihat jam yang tergantung di dinding. "Rin, ini sudah mendekati waktu makan malam, Ibu mau memasak. Kau bantu Alya berkemas, dia akan tinggal di kamarmu."

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku. Tanpa basa-basi aku menggiring manusia di depanku untuk memasuki kamarku. "Baiklah Nona, aku tidak peduli apa yang ingin kau lakukan dengan kamarku. Tapi aku tidak suka barang-barangku di sentuh."


Gadis bermata indah itu menganggukkan kepalanya seperti ayam mematuk nasi. Ada pancaran mata takut saat aku berbicara dengan nada tegas. Ku rasa gadis ini seharusnya tipe penakut. Untuk lemari pakaian, Ibu sudah membelikan satu untuk Alya. Tapi karena tempat tidurku bukanlah tempat tidur tunggal, maka Alya akan tidur denganku.


Perilaku Alya sangat baik sebenarnya. Tingkahnya dapat di tebak dan dia bukan tipe gadis yang macam-macam. Ku rasa barang-barang ilegalku seharusnya tidak apa-apa bukan? Seharusnya begitu atau aku akan membuatnya menangis.


Saat aku ingin keluar kamar, tanpa sengaja aku melihat seringai licik di mulut Alya. Saat aku mendekatinya untuk melihat lagi, aku tak menemukan ekspresi lain selain raut wajah kebingungan. Begitu ku tangkup wajahnya dengan tanganku, memutarnya ke kanan dan kiri, tidak ku temukan sama sekali bekas senyum licik itu. Seolah bukan dia yang tadi tersenyum.


"Ada apa?" Ia bertanya dengan sepasang mata yang terlihat kebingungan.


"Bukan apa-apa, aku keluar kamar dulu." Aku meninggalkan Alya dengan pakaian ganti di tanganku. Matahari yang mulai tenggelam menandakan waktu mandi soreku telah tiba.


Sejak kedatangan Alya, aku merasa ada yang salah. Apakah itu aku atau dirinya. Rasanya jika aku meninggalkannya, aku akan merindukannya barang sebentar saja. Begitu dekat dengannya, hati kecilku akan terasa senang dan hangat. Kondisi ini berbeda dengan saat aku sedang bersama Yesie atau teman-temanku yang lainnya.


Selain itu, ada perasaan familiar yang timbul dari kemunculannya. Rasanya aku pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengannya. Aromanya, wajahnya, senyumnya, semua hal dari Alya membuatku merasa familiar.


Ayah menyadarkan aku saat aku Sedang makan malam. Alya yang juga makan duduk di sampingku. Setiap kali aku menatap wajahnya ia akan tersenyum kepadaku. Dia begitu ke semua orang. Sehingga bahkan Adik kembarku juga menyukainya. Aku sedikit iri. Sejak aku sakit, Adik kembarku tak pernah mau bertemu atau berdekatan denganku. Jika ada situasi yang mengharuskan kami satu ruangan, mereka akan mengabaikan aku seolah aku adalah angin. Jika aku menegur mereka, mereka akan memasang wajah ketakutan seperti orang yang memiliki traumatis.


Karena takut membebani pikiran mereka, aku juga mulai berhenti menegur mereka dan menganggap mereka tidak ada. Aku tau aku akan terkesan jahat, tapi merekalah yang memulainya. Lagi pula, baik Ayah atau Ibu, mereka tidak mempermasalahkan aku atau Adik kembarku yang bersikap buruk satu sama lain.


Malam adalah waktu tersingkat dari semua waktu. Makan malam sudah selesai beberapa menit lalu. Sekarang aku hanya ingin berbaring dan tidur. Tapi... Ini pertama kalinya dalam delapan belas tahun masa hidupku, ada orang lain di tempat tidurku. Aku bingung dan merasa canggung. Apalagi aku dan Alya belum cukup dekat.


Alya terlihat masih membenahi barang barangnya. Aku duduk di tempat tidur. Karena tidak ada yang mau berbicara diantara kami, lembah kecanggunganpun semakin lebar.

__ADS_1


Aku mengambil buku tebalku untuk membuat kesibukan. Dengan membalik beberapa halaman, aku mulai melupakan hal-hal di sekitar dan hanya fokus ke lembaran buku. Dengan begitu perlahan rasa canggungku akan sirna.


Saat membuka halaman berikutnya, aku melihat sebuah gambar yang pernah ku buat tentang Calya Bawita, dan aku yang waktu itu di culik ke alam lain. Saat ku perhatikan fitur wajah Calya dan Alya begitu mirip. Tapi sifatnya yang berbeda membuatku ragu. Mana mungkin Alya adalah Calya. Lagi pula aku sangat yakin kalau Calya bukanlah manusia.


Tapi aku masih sedikit penasaran, apakah wajah mereka benar-benar mirip atau tidak. Maka ku buat ulang sketsa wajah Calya dan Alya berdampingan untuk melihatnya. Namun karena aku mencoba untuk membuatnya sedetail mungkin, maka itu memerlukan banyak waktu. Gambar baru saja selesai separuh saat lampu tiba-tiba saja padam.


"Uh... Rein... Aku takut gelap..." Suara khas wanita muda yang gemetar terdengar olehku.


Tentu aku tau siapa pemilik suara itu. Aku menyibakkan selimut di tempat tidur untuk menemukan telepon. Namun sesuatu malah meraba-raba kakiku. Tangan mungilnya menyentuh tanganku. Aku membantu Alya berdiri. Lalu membiarkannya duduk di atas tempat tidur.


Tapi gadis itu tak melepaskan ku. Ia terus saja memeluk lengan kiriku. Tubuhnya yang lebih mungil dariku membuatku merasa aku memiliki Adik baru. Dan sepertinya Adik baru ini merasa takut. Aku dapat merasakannya dari tangannya yang gemetaran. Jangan-jangan ia punya phobia pada gelap?


"Tidak apa-apa, aku akan mencari senter." Ujarku pelan.


Sebenarnya aku tidak memerlukan bantuan apapun untuk melihat dalam gelap. Seperti halnya saat cahaya remang, aku dapat membedakan dengan jelas setiap objek saat gelap. Tapi untuk meredakan rasa takut Alya, di butuhkan lebih dari sekedar kehadiranku. Dia membutuhkan cahaya agar takutnya mereda.


Pelukan Alya ke tanganku semakin menguat kala aku tak kunjung menemukan telpon.


"Kalau begitu mari keluar kamar, kita bisa meminta lilin kepada Ibu." Aku mencoba untuk tidak mengagetkannya dengan suaraku.


Ku lihat kepalanya menggeleng-geleng. "Ti-tidak! Di luar lebih gelap. A-aku takut..."


Aku menghela nafas pasrah. Tak tau mau bicara apa. Bahkan Adik terkecilku tidak setakut ini saat gelap. "Lalu Lea ingin bagaimana?"

__ADS_1


Aku mencoba sebisa mungkin menghaluskan nada bicaraku. Lalu Alya berbicara lagi dengan suara gemetar. "Ki-kita tidur saja yuk. A-aku takut...."


"Terserah kau saja." Ujarku.


__ADS_2