Who Am I?

Who Am I?
Rajendra?


__ADS_3


Rajendra? Rev



Siang itu, ah tidak, mungkin masih pagi. Sekitar pukul sepuluh. Ibu sedang tidur. Ayah pergi bekerja dan Adik-adik pergi sekolah. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk pergi ke hutan itu.


Aku melangkah perlahan keluar rumah. Kemudian berjalan menuju hutan di belakang rumah. Angin yang berhembus membuat dedaunan bergoyang-goyang. Kegelapan tak berujung di bawah kanopi hutan seakan menjadi ciri khas tersendiri.


Langkahku belum terlalu jauh, dan aku mulai merasakan perasaan hangat di hatiku, saat melihat Padang rumput hijau di tepian hutan. Perasaan seperti ini selalu muncul saat aku melihat hutan. Perasaan ini mirip dengan perasaan rindu.


Aku melangkah lebih dalam. Saat itu kepalaku seperti berputar-putar. Aku berhenti untuk menstabilkan langkahku. Namun tubuhku ambruk ke tanah. Di sana aku bermimpi aneh.


Aku sepertinya melayang terpisah dari tubuhku. Saat aku ingin masuk kembali ke tubuhku, tubuhku seakan menolak dan membuat perisai yang membuatku terpental sedikit jauh dari tubuhku.


"Kakak... Aku rindu Kakak, akhirnya Kakak datang." suara manis seorang gadis terdengar.


Aku berbalik, kupikir itu Hallin, tapi itu bukan Hallin. Usia gadis di depanku tampaknya lebih matang di banding Hallin. Gadis itu memiliki rambut pirang dengan kulit putih yang tampak halus. Sepasang mata gadis itu membuatku tertarik. Matanya memiliki warna kehijauan yang khas.


"Em... Kamu siapa?" Tanyaku.


Suaraku tidak lagi serak seperti sebelumnya. Namun aku dapat mendengarnya dengan jelas, suaraku adalah suara seorang pria dewasa. "Aku tau Kakak tidak akan mengingatku, tapi tetap saja aku masih sedih saat tidak diingat oleh orang yang ku sayangi."


Gadis itu tampak sedih. Aku ingin menghiburnya, tapi aku bahkan tidak mengenalnya. "Tapi, tidak apa-apa, karna Kakak sudah kembali, Kakak akan ku ajak untuk bertemu dengan Ibu dan Kakak ipar, aku yakin sekali mereka pasti akan senang. Terutama Kakak ipar, dia pasti sangat senang sampai sampai ingin memakan Kakak."

__ADS_1


Aku tidak bisa tidak bergidik ngeri saat mendengar perkataan gadis itu. Gadis itu menarik tanganku, ia akan membawaku ke suatu tempat. "Kak, untuk mencongkel kembali ingatan Kakak, aku akan berikan namaku dan nama Kakak ipar. Aku adalah Adikmu, Adiratna Hanania. Kakak dulu lebih suka memanggilku Ratna, padahal aku lebih suka di panggil Nia"


"Lalu kemana kamu akan membawaku?" Tanyaku.


Gadis itu memeluk tangan kiriku. "Kemana lagi? Tentu saja kita akan pulang ke rumah kita Kak."


Aku berbalik untuk melihat rumahku yang terlihat semakin kecil. Namun Ratna tidak membiarkanku melihat lebih lama, dia selalu mengajakku berbicara, agar aku tidak lagi melihat ke belakang. Tak lama kami sampai ke sebuah keraton yang indah. Sejauh mataku memandang, aku masih dapat melihat keraton itu karna keluasannya.


Orang-orang di sekitar tampak hormat kepadaku dan Ratna. Setiap kami melewati mereka mereka akan membungkuk hormat sembari berkata. "Selamat datang kembali Tuanku."


Ukiran-ukiran patung di keraton ini juga lebih banyak ukiran binatang. Terutama Macan. "Rajendra putraku! Akhirnya kamu datang Nak."


Suara keibuan terdengar olehku, pemilik suara itu adalah wanita yang usianya mungkin seumuran dengan ibu. Dia memanggilku? Akan ku coba untuk mengingat dengan baik, nama Adiratna Hanania dan nama Rajendra itu.


Wanita tua yang di panggil Ibu itu tampak seperti akan menangis. Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Ada suara wanita dewasa yang terdengar merdu di telingaku. "Raj! Raj! Rajendra!"


Apakah dia memanggilku? Haruskah aku berbalik?


"Itu Kakak ipar, namanya Calya Bawita." Ujar Ratna.


Beberapa saat kemudian aku merasakan sesuatu mengetuk kepalaku begitu keras, sehingga aku terjatuh. Ternyata sesuatu itu adalah sebuah sandal wanita yang tebalnya hampir lima belas centimeter.


Aduh, apakah kepalaku tidak berdarah?


Saat aku mencoba untuk duduk, aku merasakan ada yang menetes di dahiku. Darah! Itu pasti darah! Bagaimana tidak berdarah?! Kepalaku di lempar sandal dari belakang, kemudian terjatuh membentur lantai.

__ADS_1


Saat aku berbalik, wanita yang melemparku itu melompat ke arahku! Beruntungnya, tubuh wanita itu tidak terlalu besar, malah terbilang mungil. Wanita itu memelukku dengan sangat erat, hingga aku merasakan benda lembut di dadanya, kalian pasti tau apa itu.


"Rajendra! Rajendra! Aku merindukanmu! Aku merindukanmu!"


Wanita itu mengusapkan kepalanya ke leherku. Wanita itu sepertinya menangis. Aku menepuk bahu wanita itu. "Aku tidak tau mengapa kalian semua memanggilku Rajendra, tapi itu bukan namaku."


Mendengar perkataan ku, tangisan wanita itu semakin besar. Ratna menepuk bahu wanita itu. "Kakakku tidak bisa mengingat kita. Kakak ipar harus bisa menahan diri setidaknya satu tahun lagi."


Aku mencoba untuk bangun dari mimpi aneh ini. Aku merasa ada yang memanggilku, namun suaranya terasa sangat jauh. Dan suaranya mirip dengan suara Ayah. Suara itu juga semakin dekat. Suara Ayah seakan menjadi sinyal, pertanda mimpi ini akan berakhir.


Aku mencoba untuk berdiri. Wanita yang memelukku ikut berdiri. Ia enggan melepaskan aku. Suara Ayah semakin keras, lama kelamaan menggema di kepalaku. "Raj, sebelum kamu pergi...."


Wanita di pelukanku menarik wajahku untuk mendekati wajahnya. Ia mengirim ciuman kilat di bibirku. Suara Ayah semakin keras. Dan aku tersadar. Aku masih di Hutan itu, tepatnya di tempat aku terjatuh. Ada Ayah yang tampaknya khawatir dan Ibu yang menangis di sisiku.


Ayah membantuku duduk, Aku menatap hutan di belakangku. Meski Ayah dan Ibu tidak dapat melihatnya, aku dapat melihatnya dengan jelas. Sepasang mata berwarna hijau almond menatapku di dalam semak belukar. Ada suara yang terdengar seperti suara Calya Bawita di kepalaku.


*Calya Bawita adalah wanita yang melempar sandal, juga wanita yang menangis tersedu di pelukanku.


Suaranya berbisik, namun terus menggema. "Raj, kamu tidak boleh melupakan aku."


Dengan gema suaranya, aku menjadi sangat yakin bahwa seharusnya aku tidak bermimpi. Aku pasti di bawa sesaat ke alam mereka. Mereka yang di sebut-sebut sebagai mahluk halus. "Rin, Kamu sudah berjanji kepada Ayah. Lihat Ibumu, ingat, ini demi Ibumu, kamu harus berjanji kepada Ayah."


Ayah berbisik saat kami dalam perjalanan kembali ke rumah. Aku menganggukkan kepalaku. Meski aku tidak mendapatkan apa-apa dalam langkah nekatku kali ini, aku akan berjanji dengan serius kepada Ayah untuk tidak mendatangi hutan itu lagi. Aku yakin suatu saat semuanya akan ku ketahui.


Terutama saat usia dua puluh tahun. Yang di sebutkan Ratna dan yang di tanyakan Ayah. Aku benar-benar ingin segera berumur dua puluh tahun. Apa yang sebenarnya terjadi diantara orang-orang yang memanggilku dengan sebutan Rajendra, dan orang di keluargaku. Semua itu membuatku gatal ingin mengorek kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2