
Ingin aku tersenyum? Rev
Telah sekian lama, akhirnya seluruh tubuhku bisa bergerak. Itu memakan waktu dua bulan. Dan aku harus mengejar materi, karna setengah bulan dari sekarang kami akan ujian semester genap. Dengan mengejar tugas-tugas dari para guru, rasanya seluruh persendian tubuhku hampir lepas.
"Yang semangat dong... Jangan lemes-lemes banget. Nanti malah lepas beneran tuh tangan sama kakimu."
Aku berbalik. Ternyata itu Yesie. Hatiku menghangat, begitu melihat senyuman manisnya. Di tangannya ada buku yang mirip seperti buku diary. Dia menghampiri ku, lalu duduk di sisiku. Saat ini aku sedang mencari jawaban untuk tugas tambahan. Yesie mendekatiku. Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Diri ini tak bisa tidak berdebar. Aku berusaha untuk tenang sambil mencari jawaban. "Yang itu jawabannya C."
Saat ku cari jawabannya, ternyata benar. Lalu dengan terpaksa ku buat jawabannya C. Baru saja aku membalik halaman untuk mencari jawaban berikutnya. Yesie menyandarkan punggungnya ke punggungku.
"Jawabannya E." ujar Yesie dengan nada santai.
Aku bukan orang yang mudah percaya. Jadi kucari lagi jawabannya. Dan ternyata benar lagi. "Tuh kan benar. Arian sih... nggak percayaan orangnya."
Karna tugas ini telah selesai, aku menutup bukunya. Lalu ku letakkan di sampingku. "Ada apa?"
Yesie menatapku dengan matanya yang gelap. "Apa?" Tanyanya.
"Kamu tiba-tiba bersandar kepadaku. Pasti sedang memikirkan sesuatu kan? Bicaralah, aku akan menjadi pendengarmu."
Ada kehangatan dalam tatapan Yesie. Lalu ia mendekatiku, jarak wajah kami hampir tidak ada. Merasa tersipu, aku menjauhkan wajahku dari wajahnya. Ia menyipitkan matanya lalu mulutnya terbuka hanya untuk mengatakan. "Memangnya tugasnya sudah siap?"
Aku menganggukkan kepalaku. Setiap kali menghadapi Yesie dalam mode sok ngatur, anehnya aku selalu patuh seperti anak baik. Mungkin karna pesona alami Yesie memang bagus. "Su-sudah."
"Nggak banyak sih... Cuma aku lagi ngga mood menulis, padahal hari ini udah deadline untuk Minggu ini."
Yesie menghela nafas panjang. Lalu menyandarkan punggungnya ke punggungku lagi. Ia menatap langit yang terhalang oleh dedaunan pohon. Ku lihat ia mengangkat tangannya untuk menutup cahaya matahari yang menerobos di antara sela dedaunan.
Lagi-lagi ia menghela nafas panjang. Aku yakin dia sedang tertekan sekarang. "Sesekali kita tidak harus selalu menjadi penulis. Sesekali kita harus mencoba bagaimana rasanya menjadi pembaca. Untuk ini, kau tidak bisa hanya membaca buku milikmu. Kau harus mencoba membaca karya orang lain. Bukan dari bagaimana kisah indah itu di ciptakan, tapi baca dari bagaimana kisah indah itu di kisah kan. Kalau aku sendiri, di saat sedang sepertimu. Aku akan membaca puisi atau syair. Rasanya sangat nyaman membaca syair atau puisi. Apa lagi saat kau memahami makna tersembunyi di dalam lariknya."
"Benarkah?" Yesie menatapku dengan tatapan tak yakin.
"Ya. Jika menurutku, baik kamu atau aku, kita sebenarnya tidak merasa bosan. Aku hanya merasa, kalau kita hanya butuh penyemangat dari sekitar. Tidak secara lisan. Semangat yang kita butuhkan adalah dari diri kita sendiri. Bukan dari mulut orang lain. Kalau aku sih bersemangat setiap melihat tatanan bahasa yang indah dan berarti. Sekarang kau hanya perlu menemukan pembangkit semangat milikmu." Ujarku.
__ADS_1
Ku lihat Yesie tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun Alisnya masih berkerut. "Memangnya apa yang membuatmu bosan dan malas saat ini?"
"Tidak ada. Aku juga tidak tau sih."
Yesie melirik buku tebalku. "Kamu ingin membacanya?"
Yesie menunjukkan serangkaian giginya. Ada taring panjang di salah satu posisi taringnya, yang mana itu mempermanis senyumnya. Dengan senyuman itu, aku mengerti maksud perkataannya adalah ya.
Aku memberikannya. Ku lihat dia tampak tertarik. Lalu ku peringatkan ia. "Beberapa bagian ada yang mungkin tidak bisa di lihat semua usia. Hehehe... Seharusnya aku rasa kamu mengerti...."
Aku melihat mata Yesie yang sepertinya menyipit kearahku. Lalu ada seringai yang di sunggingkan di mulutnya. Aku selalu suka serigainya. "Silahkan baca, aku harus mengumpulkan tugas ini."
Yesie tampak fokus terhadap bukuku. Lalu ia hanya melambaikan tangannya seolah mengusirku. "Ya, Arian pergilah..."
Aku melangkahkan kaki menjauh darinya. Dengan membawa tugas tambahan di tanganku, aku melangkahkan kaki menuju kantor Guru. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Guru di kantor, aku kembali ke tempat favorit aku dan Yesie.
Saat aku berjalan ke tempat itu. Ku lihat punggungnya gemetaran. Begitu aku mendekat, ku dengar Isak tangis darinya. Aku menyentuh bahunya. Ia tersentak sebentar lalu membiarkanku duduk.
"Kasihan sekali! Mengapa protagonis pria melupakan protagonis wanita?" Yesie meremas pakaianku dengan tangan putihnya.
"Coba ku lihat." Aku mengambil bukunya dan melihat bagian yang di bacanya.
Meski ia tak mengingat siapa dirinya, orang-orang sangat mengenalnya. Dia adalah Raja Siluman. Ratunya adalah Protagonis wanita. Protagonis wanita pergi untuk beberapa waktu, namun saat kembali protagonis pria sudah tidak mengingatnya.
"Karna dia di kutuk, tidakkah kau melihatnya? "
"Tapi kasihan sekali! Mengapa setiap kali ia terus melupakan Istrinya?! Lalu mengapa ia lebih mempercayai wanita asing itu? Aaarghhh aku jadi ingin menggigit pria itu!!"
Aku tidak tau harus berkata apa. Jika aku mengatakan akulah pria itu akankah Yesie menggigit ku? Memikirkan taringnya menembus kulitku tanpa sadar membuatku bergidik. "Itu hanya sebuah cerita, Tidak ada yang perlu di tangisi...."
Aku memberikan tisu kepada Yesie. Yesie mengambil tisu di tanganku. "Tapi itu seperti kisah nyata, kalimat yang Arian gunakan untuk menggambarkannya, membuatku seakan melihat kenangan orang lain, bukan sekedar kisah biasa.''
"Karna aku benar-benar mengalaminya..." Gumamku.
"Benarkah? Arian sebagai siapa? Dan kapan itu terjadi?" Aku tak berharap Yesie mendengar gumaman ku.
"Itu hanya sebuah mimpi, apa yang kau harapkan? " Ujarku sambil memikirkan cara untuk mengubah topik.
"Arian..." Aku menoleh, hanya untuk melihat mata berkaca-kaca Yesie.
__ADS_1
"Ya aku katakan! Aku katakan! Jangan menangis." Rasanya sayang jika harus melihat air mata itu menetes lagi.
Namun aku tertipu oleh gadis nakal ini. Wajahnya yang sekarang tampak sangat menantikan ku berbicara, tanpa ada bekas wajah yang ingin menangis. Sungguh! Ekspresinya bisa berubah lebih cepat dari orang yang membalikkan buku.
"E... Aku..." Akankah ia menggigitku?
"Ya! Ya! Katakan kepadaku!" Yesie tampak bersemangat.
"Aku adalah Pria itu... "Ujarku pelan.
Namun Yesie mungkin tak mendengarnya, karna tertimpa bel pulang yang berbunyi. "Ya... Bel pulang sudah berbunyi, mari kembali ke kelas. Aku juga harus melaksanakan piket kelas...." Aku berlari kecil mendahului Yesie.
Saat aku sampai di depan kelas, ternyata teman sekelas yang piket bersamaku sudah menyelesaikan tugasnya. "Aku sudah ya Kak! Aku pergi dulu...."
Aku melihat rekan piket ku melambaikan tangannya sambil meninggalkanku. Perlahan kelas yang ramai pun sunyi. Aku meletakkan bukuku ke dalam tasku. Lalu mulai menyapu lantai. Namun sapu yang ada di kelas begitu buruk, ku pikir dengan sapu yang tersisa separuh bulunya itu, mungkin akan membuatku menghabiskan waktu lama.
Ku langkahkan kakiku ke luar kelas. Ku lihat anak kelas XI yang sedang menyapu. "Bolehkah aku meminjam sapu kelasmu?"
Yang menyapu adalah siswa laki-laki. Ia menatapku sejenak seolah sedang menyelidiki aku. "Oo boleh-boleh, ambil saja di dalam kelas."
Aku mengambil sapu yang ia katakan. Lalu segera menuntaskan tugas bersih-bersih ini.
Dalam beberapa menit tugasku akhirnya selesai. Ku sandang tas sekolahku, Ibu pasti telah menungguku di depan sekolah.
Ku pikir bocah laki-laki itu telah pergi. Namun begitu aku kembali ke kelasnya, ternyata ia sedang menunggu sapunya. "Terima kasih..." Ujarku.
"Dingin banget sih Dek, coba tersenyum, dong."
Aku tidak suka kata 'dek' yang ia muntahkan. Aku bahkan sangat yakin usia anak ini sekitar 17 tahun. "Kamu ingin aku tersenyum?"
Aku berkata dengan nada misterius. Seolah tertarik ia mengangguk setelah menyimpan kembali sapu itu. Aku menghela nafas terlebih dulu. Lalu mulai menampakkan senyumanku. Mengangkat sudut bibirku dengan mata yang terpejam.
Aku dapat merasakan serat daging pipiku yang koyak secara perlahan. Diiringi oleh darah yang mengalir di sela robekannya. Membasahi gigi-gigiku. Ku buka mataku perlahan. Untuk melihat wajahnya.
Ku lihat tubuhnya yang gemetaran. Wajahnya juga sudah pias. Nafasnya hampir tersenggal-senggal. Ia menunjukku dengan jari yang gemetaran. "Se-se-setaaaaaan!!!"
Ia berlari meninggalkan aku.
Aku mengelap darah yang hampir jatuh ke seragamku. Lalu dengan iseng mengejar pemuda itu. "Aaaaa mamaaaaaa!! Ada Setan mengejar Iyan!! Aaaaaa...."
__ADS_1
Wahahaha... Anak mama rupanya.