
Bambang mengantar Zaki ke rumahnya dengan motor Zaki. Saat di bonceng, Zaki terlihat lemas sehingga Bambang mengikat badan Zaki dengan badannya menggunakan tali tambang agar Zaki tidak jatuh saat di perjalanan.
Sampai di rumah Zaki, Bambang menuntun Zaku untuk duduk di kursi teras rumahnya. Karena kondisi rumah sedang kosong dan Zaki tidak membawa kunci rumah.
Zaki masih duduk mematung dan tak berbicara sedikit pun. Bambang masih bingung dan tak tau harus berkata apa dengan sikap Zaki yang menjadi pemurung setelah bertemu dengan Bu Silvi. Dia ingin bertanya tapi dia tak tega melihat tampang Zaki yang masih terpuruk.
"Apa yang bu dosen katakan, sampai si Zaki seperti orang stress begini?"gumamnya dalam hati.
"Ki...sampeyan iki kesambet opo toh? Dari tadi boncengan di motor diem aj. Aku serasa boncengan sama patung. Mending aku boncengan sama boneka beruang yang besar bisa memberikan kehangatan saat di peluk dari belakang dari pada membonceng kamu!"ucap Bambang.
Zaki yang di ajak bicara tidak menghiraukan. Tatapan matanya masih kosong dan diam seribu bahasa.
"Oalah...sampeyan lagi puasa ngomong toh? Yoweis...aku diam juga aja!"ledek Bambang.
Beberapa menit kemudian muncullah mobil sedan orang tua Zaki dan di dalamnya ada adiknya yang cantik,Zaenab.
"Assalammualaikum."ucap Babe dan emak.
"Waalaikumsalam."ucap Bambang.
"Eh...Bambang udah lama gak kemari?"tanya emak ramah.
"Iye mak... maaf gak punya motor jadi jarang main kesini."ucap Bambang sambil tersenyum kecil.
"Eh si Zaki kenape,Bang? Lu apain anak babe sampe begini!"ucap babe dengan emosi.
"Eeehhh...gak be..bukan saya kok, suer, bukan saya yang bikin Zaki begini!"jawab Bambang ketakutan, dia ingin mengambil langkah seribu tapi di tahan oleh tangan babe.
"Terus kenape diye jadi begini? Jadi kayak orang stres?"tanya babe yang masih emosi.
"Eeennggg anu...anu.."
"Anu anu siape? Jawab yang bener kalau gak gue pites kepala lu!"ucap babe sambil menarik kerah baju Bambang.
"Anu be...anu...habis ketemu ibu dosen pembimbing Zaki jadi begini..."
__ADS_1
"Beneran lu?!"
"Bener be...sueerrr! Saya gak bohong be..Kalau saya bohong di kawinin sama Zaenab saya mau be..."ucap Bambang
"Ape lu bilang?! Berani-berani ngomong gitu lagi langsung gue kubur hidup-hidup lu!"ucap babe penuh amarah.
"Babe udah aahh"ucap Zaenab melerai Babe dan Bambang.
"Bang Zaki...abang kenape?"Zaenab mengelus lembut punggung Zaki.
Zaki tak merespon pertanyaan Zaenab. Pandangan matanya masih kosong,entah apa yang di pikirkannya.
"Be...jangan-jangan anak kite di guna-guna sama dosennya!"ucap emak.
"Eh Roh...dosennya si Zaki itu orang pinter dan belajar aje sampe ke negaranya si Trump, mana mungkin dia belajar ilmu ke dukun!"ucap babe sembari menggelengkan kepalanya.
"Kita bawa masuk dulu bang Zaki be...ayo Mas Bambang masuk dulu."ajak Zaenab
Zaenab dan babe membopong Zaki di pundak mereka masing-masing menuju kamarnya sedangkan Bambang dan emak mengikuti dari belakang.
Zaenab dan babe membaringkan Zaki di ranjangnya. Terlihat Zaki sangat lemas dan sudah memejamkan matanya.
"Be...tolong bujuk Zaki keluar kamar. Emak khawatir...takut dia bunuh diri di dalam kamar.."ucap emak cemas
"Huusshh! Jaga ucapann elu! Biarin aja dia tenangin diri, babe yakin dia gak bakalan lakuin hal-hal yang buruk."ucap Babe
Saat mereka bertiga sedang menikmati sarapan di meja makan terdengar bunyi pintu kamar Zaki. Benar saja...Zaki keluar dari kamar dengan berpakaian kaos berkerah tangan pendek, celana jeans, tas laptop di belakang punggungnya, pakai sepatu dan rambutnya di sisir rapih. Zaki menuju meja makan dan menyapa kedua orang tuanya.
"Asaalammualaikum, selamat pagi be, mak,de..."ucap Zaki sambil tersenyum.
Ketiga orang yang sedang menyantap nasi goreng terkejut melihat Zaki yang sudah rapih seperti akan pergi ke kampus. Melihat kedua orang tuanya diam tanpa merespon salam Zaki, akhirny Zaenab berinisiatif menjawab salam tersebut.
"Waalaikumsalam, selamat pagi bang... abang mau kemana pagi-pagi sudah ganteng?"tanya Zaenab sembari tersenyum manis
"Aye mau ke kampus dulu be, mak. Kamu mau bareng sama abang gak?"tanya Zaki sambil menatap adiknya.
__ADS_1
Zaenab sangat antusias ketika Bang Zaki mengajaknya naik motor bersama ke sekolah. Dia pun langsung merespon tawaran abangnya itu.
"Mau mau bang! Tunggu ade ambil tas dulu ya..."Zaenab segera menghabiskan sarapannya dan menuju kamar mengambil tas nya lalu kembali ke meja makan untuk menghabiskan susu. Babe dan emak masih diam dan saling tatap melihat Zaki yang sudah normal dan tidak terpuruk seperti kemarin. Zaki dan Zaenab pamit dan bersalaman kepada kedua orang tuanya.
Zaenab ingin memulai percakapan tapi dia takut bertanya kepada abangnya, akhirnya dia memilih diam selama perjalanan ke sekolah. Saat sampai di depan gerbang sekolah, Zaki tiba-tiba mengeluarkan suaranya.
"Apa dia melakukan sesuatu yang tidak baik pada mu?"tanya Zaki sambil menunjuk Andi yang sedang ngobrol dengan teman-temannya.
"Alhamdulillah tidak bang."jawab Zaenab
"Baguslah! Abang berangkat dulu,kamu belajar yang pintar jangan pacaran dulu!"ucap Zaki menasihati adiknya.
"Abang kok pagi-pagi bahas pacaran sih?"
"Hanya menasihati saja...karena kalau abang lihat gelagat cowok itu suka sama kamu."
"Iiihhh...abang apa-apan sih! Pagi-pagi gak bermutu omongannya!"
"Kamu ini kalau di nasihati sama yang lebih tua di dengarkan!"
"Iya boz!"ucap Zaenab kesal tapi ada senyum tipis di bibirnya.
"Abang juga jangan pacaran terus nanti patah hati baru tau rasa!"ucap Zaenab menasihati balik.
Mendengar ucapan Zaenab, Zaki terhenyak. Dia bingung kenapa adiknya bisa berbicara seperti itu. Apakah adiknya tau apa yang di alaminya kemarin?
"Abang tidak punya pacar jadi tidak akan patah hati."balas Zaki menghibur dirinya.
"Yakin ,bang?"
"Yakin! Sendiri lebih menyenangkan dibandingkan berdua. Karena abang bisa terbang, lepas dan bebas seperti burung."
"Maka nya kamu jangan pacaran dulu, selesaikan sekolah mu lalu kuliah dan kejar cita-cita mu. Abang pun juga akan melakukan itu."
"Sudah ya...abang mau jalan ke kampus dulu. Jangan nakal ya adik ku yang cantik..."puji Zaki.
__ADS_1
"Iya. Hati-hati bang..."Zaenab melambaikan tangannya ke arah Bang Zaki yang sudah pergi dengan motornya.
Zaenab terus mengingat apa yang tadi di ucapkan abangnya. Dia pun bertanya dalam hati, "Apa gara-gara Kak Tania, Bang Zaki sangat terpuruk kemarin? Hmm...tapi kok pagi ini dia senang dan ceria sekali ya... berubah 180 derajat!"