
"Ok Andi. Kalau aku boleh tau apa hubungan mu dengan korban? Eh siapa nama korbannya?"tanya Andri.
"Namanya Zaenab, dia teman satu sekolah saya,kak."
"Dia hanya sekedar teman mu atau teman tapi mesra?hehehe..."ucap Andri sembari meledek Andi.
"Apa maksud kakak?"tanya Andi bingung.
"Ehm...maksud ku dia hanya teman mu bukan pacar mu?"
"Dia teman ku. Beberapa bulan lalu kami mengikuti lomba debat dan dia partner satu tim ku. Apakah kakak sudah jelas?"ucap Andi menegaskan.
"Kalau dia hanya teman mu, mengapa kamu sangat peduli sekali dengan dia? Setahu aku di masa usia seperti kamu ini, kalau kamu peduli dan perhatian kepada lawan jenis berarti dia pacar mu."
"Apakah aku harus menjawab pertanyaan mu,kak? Kakak bilang bukan polisi hanya mahasiswa AKPOL yang bertugas untuk mengsketsa wajah,kenapa seperti petugas penyidik kepolisian?"tanya Andi sinis.
"Memangnya aku tidak boleh bertanya seperti itu?"tanya balik Andri.
Lalu tiba-tiba seorang polisi yang duduk di belakang pintu masuk mengeluarkan suara tegasnya.
"Apa yang di katakan adik tersebut benar. Mas Andri itu kan bukan petugas penyidik kenapa bertanya terus dan tidak melaksanakan tugas yang seharusnya mas kerjakan?"ucap petugas polisi tersebut.
"Lebih baik Mas Andri segera melaksanakan tugas yang di perintahkan Komandan Geri. Jangan sampai komandan datang kesini tapi Mas Andri belum menyelesaikan tugas!"ucap petugas polisi yang kedua.
Mendengar gertakan petugas polisi tersebut dengan menyebut nama Komandan Geri, Andri pun ketakutan.
"Baik baik...Maafkan saya bapak-bapak dan Andi. Saya akan mulai melaksanakan tugas sekarang. Tolong jangan di laporkan ke komandan. Saya tak mau kalau harus mengulang mata kuliah Komandan Geri semester depan."ucap Andri.
"Nah...Begitu lebih baik! Cepat selesaikan!"ucap petugas polisi yang kedua.
Mendengar perintah yang diucapkan petugas polisi tersebut, wajah Andri berubah merengut. Andi yang melihat perubahan wajah Andri tertawa kecil di dalam hati.
"Hahaha...rasakan di ancam sama senior!"gumam Andi dalam hati.
"Kenapa kamu tersenyum begitu? Ada yang lucu kah? Atau kamu sedang mengumpat ku?"ucap Andri ketus setelah melihat Andi tersenyum kecil.
"Tidak kak...tidak! Kakak ini baperan sekali seperti cewek-cewek teman sekolah ku!"jawab Andi.
"Dia sedang datang bulan,dek Andi. Maka dari itu dia sensitif sekali hari ini!hahahaha..."celetuk petugas polisi yang pertama. Kedua petugas polisi tersebut tertawa terbahak-bahak.
"Sialan kalian berdua! Untung senior, kalau bukan udah gue hajar!"gumam Andri dalam hati.
"Ayo Andri! Segera di mulai tugas mu!"perintah salah satu petugas polisi.
"Siap pak!"jawab Andri.
"Ok Andi. Kamu sudah siap? Aku akan mulai sekarang!"ucap Andri.
__ADS_1
"Aku sudah siap dari tadi cuma Kak Andri dari bertanya yang tidak sesuai porsinya!"jawab Andi.
"Huft...sorry!"jawab Andri menahan emosi.
"Aku akan memulai bertanya ada berapa tersangka yang harus ku sketsa wajahnya?"
"Sebenarnya ada tiga tersangka tapi tersangka utama sudah aku foto wajahnya dan kuberikan foto tersebut ke komandan. Tersangka kedua, itu seorang pria badannya kekar dan berotot sepertinya dia sering berolahraga angkat beban."
"Bagaimana wajah dari pria kekar tersebut?"
"Bentuk wajahnya bulat, kepalanya plontos alias gundul, matanya sipit, alis matanya agak tebal, hidungnya biasa saja alias tidak mancung dan tidak pesek, bibirnya tebal dan aku melihat sebuah tato kecil di leher sebelah kanan ada gambar tengkorak yang di silang seperti lambang bajak laut di film perompak."
"Bagaimana dengan warna kulit pria tersebut?"
"Kulit pria tersebut sawo matang dan kedua pipinya sangat berisi."
"Ada lagi?"
"Aku rasa hanya segitu yang aku ingat,kak."
"Apakah kamu melihat ada ciri-ciri khusus yang di miliki orang tersebut dan tidak di miliki orang lain?"
"Ciri-ciri khusus seperti apa,kak?"
"Ya...seperti cara berjalannya yang agak sedikit pincang karena bekas kecelakaan. Atau mungkin ada luka bakar yang di alami orang tersebut."
"Kalau cara jalan pria kekar tersebut normal saja. Kalau luka bakar aku tidak tau karena pria tersebut memakai baju, jas dan celana hitam layaknya seorang pengawal pribadi. Eh tunggu...! Aku ingat! Pria tersebut memiliki luka goresan di bawah dagu nya."
"Seperti luka goresan terkena senjata tajam."
"Ooh...Baiklah. Ada lagi yang baru kamu ingat?"
"Aku rasa itu saja."
"Ok. Aku tinggal finishing sketsanya. Tunggu sebentar ya..."ucap Andri sembari menyelesaikan sketsa wajah tersangka kedua. Andi masih duduk menunggu hasil dari sketsa wajah tersebut.
"Apakah wajah pria kekar itu seperti ini?"Andri memperlihatkan hasil sketsa wajah tersangka kedua kepada Andi.
Andi terkejut sekali ketika melihat hasil sketsa wajah tersangka kedua tersebut. Sketsanya seperti wajah aslinya.
"Iya kak! Mirip sekali sketsa dan wajah asli tersangka kedua."ucap Andi takjub melihat hasil sketsa wajah Andri.
"Hehehe...hebatkan aku!"Andri memuji dirinya sendiri.
"Andri! Segera sketsa wajah tersangka ketiga! Jangan kebanyakan becanda!"teriak petugas polisi yang masih duduk mengawasi mereka berdua.
"Iya pak!"jawab Andri menahan emosi.
__ADS_1
"Masa aku gak boleh seneng sedikit hasil karyaku di puji orang lain. Dasar polisi pengganggu!"gumam Andri dalam hati.
"Jangan sinis gitu,kak! Kak Andri juga nanti jadi petugas polisi sama seperti mereka. Anggap saja ini uji coba menjadi calon polisi terbaik."ucap Andi menyemangati.
"Hahaha...kau ini seperti membaca pikiranku saja! Terima kasih semangatnya!"
"Bisa kita lanjut lagi? Karena hari sudah mulai sore, orangtua ku sebentar lagi akan menjemputku."
"Ok. Aku siapkan kertas gambar yang kedua dulu."
"Ok."
"Bagaimana wajah tersangka ketiga?"
"Tersangka ketiga ini pria paruh baya."
"Pria paruh baya? Maksudmu sudah tua begitu?"
"Iya. Tapi aku rasa dia bukan tersangka karena dia yang membantu melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Zaenab serta melepaskan kain penyumpal di mulut Zaenab."
"Oh...kalau itu masih terduga. Baiklah. Ceritakan ciri-ciri terduga tersebut!"
"Pria paruh baya ini memiliki potongan rambut pendek dan rapih. Rambutnya lebih dominan putih dibandingkan hitam. Wajah pria ini oriental, bermata sipit, alis tipis, hidung mancung, bibir tipis, pipinya sedikit berisi, kumis di bawah hidungnya dan ada belahan di dagunya. Tubuh pria ini kurus dan tinggi. Pria tersebut berbicara dengan logat jawa yang sangat kental dan halus. Dia memakai baju batik tulis yang sangat mahal dan terlihat berwibawa seperti bangsawan atau pejabat."
"Bagaimana kamu tau baju batik tulisnya mahal? Bagaimana kamu tau pria tersebut berbicara dengan logat jawa yang kental dan halus?"
"Waktu aku tinggal di Semarang, mama ku berjualan baju batik dan dia sering menjelaskan kepada ku jenis-jenis batik dan harganya. Mama ku itu keturunan keraton Surakarta, jadi aku tau bahasa jawa yang halus dan kasar."
"Oohh...masuk akal!"
"Ada ciri-ciri khusus di wajah pria paruh baya itu?"
"Hmm... dia hanya punya tai lalat di bawah dagu kirinya. Sepertinya hanya itu,kak."
"Baiklah. Aku finishing touch dulu." Andri menyelesaikan sketsa wajah terduga tersebut.
"Seperti inikah wajahnya?"
"Iya kak! Mirip sekali wajahnya."
"Siapa dulu...Andri gitu loh...!"
"Sudah selesai kan? Sini sketsanya, biar kami laporkan ke komandan!"pinta petugas polisi tersebut.
"Tidak. Biar aku saja yang memberikan ke komandan. Ada yang ingin aku sampaikan kepada beliau."ucap Andri sembari mendekap kedua sketsa wajah hasil tangannya.
"Sudahlah...biarkan saja dia memberikan langsung kepada komandan. Paling dia minta tambahan nilai semester ini karena sudah membantu komandan. Kamu ini kayak gak pernah gitu aja waktu di akademi."ucap salah satu petugas yang melerai perdebatan antara Andri dan petugas polisi yang lain.
__ADS_1
"Baik. Kalau sudah selesai, segera habiskan minuman kalian. Lalu kita keluar dari ruangan ini!"perintah salah satu petugas polisi.
"Iya pak!"jawab Andi.