
"Halo...halo...Mira. Bagaimana? Apa kamu berhasil melakukan apa yang aku minta?"tanya Tika.
"A-a-a-ku..."jawab Mira terbatah-batah di saluran telepon.
"A...a...a...kamu ini bisa bicara yang jelas tidak? Jawab yang benar!"ucap Tika dengan nada marah.
"Ma-ma-afkan aku,Tika. Aku tidak berhasil melakukan yang kamu minta. Maafkan aku..."
"APA?? Apa kamu mulai berani melawan perintah ku?"
"Tidak Tika...Tidak...Mana mungkin aku berani melawan mu. Anak perempuan itu sudah sadarkan diri sebelum aku memberikan obat racikan buatanku."
"Apa kamu bilang? Zaenab sudah sadar? Dia sudah bisa bangun dari tempat tidur?"
"Bukan hanya itu...Dia sudah bisa berbicara dan kesehatannya kembali normal. Petugas polisi juga sedang mengintrogasi dia di kamarnya sekarang."
"Polisi datang? Kenapa tidak kau cegah polisi tersebut!"
"Aku tidak bisa melakukan itu..."Mira tidak melanjutkan ucapannya.
"Aaakkkhhh...dasar sepupu tidak berguna!"ucap Tika kesal dan dia langsung mematikan ponselnya.
"PRANG!!"
Terdengar suara pecahan kaca yang hancur dari dalam kamar Tika. Tika kesal dengan ucapan sepupunya itu, dia melampiaskan emosinya dengan melemparkan ponsel yang di pegangnya ke arah kaca meja riasnya.
"Ya Tuhan...bagaimana jika aku di penjara? Bagaimana nasib bayi ku? Aku tidak mau bayi ku menderita di balik jeruji besi."ucap Tika dengn nada takut.
"Aaaakkkhhh!!"teriak Tika.
Dia tak bisa terima kenyataan bahwa Zaenab sudah kembali sadar dan normal seperti biasa lagi. Dia terus berpikir dan berpikir untuk menyingkirkan Zaenab.
"Jika Mira tak bisa melenyapkan Zaenab, biar aku saja yang melakukannya dengan tangan ku sendiri. Iya...aku harus melakukannya sendiri. Waaahahaha..."Tika tertawa dengan kencang di dalam kamarnya tanpa dia sadari ayahnya sedang berdiri dan menguping pembicaraannya dengan Mira di balik pintu kamarnya.
"Sungguh tak ku sangka! Aku sudah membesarkan seorang anak monster yang bisa menghancurkan keluarga ku sendiri."ucap Ayah Tika dalam hati.
"Seandainya istriku bisa melahirkan pasti Tika tidak akan pernah ada di rumah ini. Ya Allah...apa yang harus aku lakukan agar aku dan istriku bisa terbebas dari monster ini?"ucap Ayah Tika dalam hati sembari mengusap-usap wajahnya dengan kasar.
Ayah Tika pergi menjauhi pintu kamar Tika. Dia pergi ke taman dengan membawa dua buah novel kesukaan istrinya yang baru saja dia ambil di ruangan kerjanya di lantai dua. Dia meninggalkan istrinya dengan seorang perawat di taman belakang rumahnya.
"Ibu sudah menunggu lama ya?"tanya ayah dengan wajah tersenyum.
__ADS_1
"Iya...ayah kenapa lama sekali? Ibu jadi mengantuk menunggu ayah di sini."
"Maaf ya bu...ayah harus mencari-cari dulu dua buku kesukaan ibu ini."ucap ayah sembari menyodorkan dua novel tersebut.
"Ayah ini...sifat pelupanya pasti muncul kalau mencari sesuatu yang ibu sukai. Terima kasih ya ayah..."
"Sama-sama ibu..."ucap ayah sembari mengusap lembut rambut ibu yang mulai rontok.
"Oh iya ayah...tadi ibu dengar suara kaca pecah, sepertinya dari kamar Tika. Tika gak melakukan hal yang macam-macam kan?"tanya ibu cemas.
"Tidak bu...tadi ayah ke kamarnya, dia baik-baik saja."
"Ayah yakin? Ibu khawatir...karena dia sedang mengandung. Ibu tidak mau terjadi sesuatu dengan kandungannya Tika."
"Ibu tidak perlu khawatir yang berlebihan. Tika baik-baik saja. Kalau pun terjadi sesuatu dengan Tika dan bayinya, kita bisa langsung menghubungi dokter Rian."
"Iya."
"Sudah...jangan cemaskan Tika. Lebih baik ibu fokus dengan terapi ibu, supaya ketika Tika melahirkan, ibu bisa menggendong dan berlarian bersama cucu kita. Ibu mau kan?"
"Iya pak. Itu yang ibu nantikan sejak lama."
"Baik ayah."ucap ibu sembari tersenyum kepada ayah.
Tika sedang mengamati kedua orang tuanya dari balkon kamarnya. Dia merasa iri dengan keharmonisan yang di miliki oleh kedua orang tuanya itu.
"Seandainya saja Mas Supari tidak menyukai muridnya si Zaenab itu, pasti aku sudah menikah dan hidup bahagia dengannya. Dan kamu nak...kamu pasti merindukan ayah mu kan? Ibu juga nak... "ucap Tika sembari mengelus perutnya yang sudah membesar.
"Kamu tenang ya di perut ibu... Ibu akan usahakan mengeluarkan ayah mu itu. Walaupun harus mempertaruhkan nyawa orang lain..."ucap Tika dengan sorot mata tajam dan dipenuhi ide-ide licik.
Tika meraih ponselnya dan menelepon salah satu ajudannya.
"Siapkan tim mu, kita laksanakan rencana kedua tengah malam."ucap Tika kepada ajudannya di saluran telepon.
Lalu Tika mematikan ponselnya sembari tersenyum penuh kelicikan.
Di rumah sakit, Keadaan Zaenab semakin membaik. Apalagi dia selalu di jenguk oleh keluarga, saudara dan teman terdekatnya. Tadi siang Zaenab di interogasi oleh Komandan Geri mengenai kronologis kejadian yang menimpanya.. Zaenab menceritakan semuanya dengan lengkap dan jelas.
"Terima kasih adik Zaenab. Terima kasih atas waktunya. Saya akan mengerahkan semua anak buah saya untuk mencari dan mengejar para tersangka. Saya juga akan mengetatkan pengamanan di lorong rumah sakit ini. Saya akan menempatkan empat orang polisi untuk berjaga-jaga di sini. Jadi bapak, ibu dan adik Zaenab tidak perlu khawatir."ucap Komandan Geri.
"Terima kasih komandan."ucap Zaenab.
__ADS_1
"Iye...aye sebagai orang tua Zaenab mengucapkan terima kasih banyak komandan atas bantuannya."ucap babe.
"Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami sebagai pelindung masyarakat."
"Jika ada apa-apa adik Zaenab bisa menelepon saya, tidak perlu sungkan. Ini kartu nama saya."ucap Komandan Geri sembari menyodorkan kartu namanya ke Zaenab.
"Baik komandan. Terima kasih."ucap Zaenab.
"Baik. Kalau begitu saya permisi dahulu bapak, ibu dan Zaenab. Selamat Sore."
"Selamat sore komandan."ucap babe.
Komandan Geri meninggalkan kamar rawat Zaenab bersama ajudannya. Lalu di menginstruksikan kepada empat anak buahnya untuk berjaga di depan kamar Zaenab dan di depan gedung rumah sakit.
"Sekarang Zaenab istirahat aja dulu ye...Zaenab kan pasti cape habis di interogasi sama komandan."ucap emak membujuk Zaenab.
"Enggak kok mak... Zaenab bosan kalau harus tidur terus. Zaenab boleh ya duduk di sofa itu?"tanya Zaenab.
"Boleh...sini emak bantu."jawab emak.
"Biar babe aje yang gendong, emak tolong pegangin selang infusan Zaenab aje."ucap babe yang langsung berjalan ke ranjang Zaenab.
"Enggak usah di gendong be...Aye kan berat nanti pinggang babe encok."ucap Zaenab.
"Tenang aje...babe kan punya tukang pijat pribadi yang cantik dan juga handal..."ucap babe sembari melirik ke arah emak.
"Aaahhh...si babe bikin emak terbang aje nih..."ucap emak tersipu malu.
Malam ini Zaenab di temani emak di rumah sakit. Jam dinding rumah sakit menunjukkan jam 1 malam. Emak tertidur pulas di sofa sedangkan Zaenab tidur di ranjangnya.
Tiba-tiba pintu kamar rawat Zaenab terbuka perlahan. Dua orang penyusup masuk ke kamar tersebut dan salah satu mendekati emak dan membekap mulutnya sehingga membuat emak pingsan. Zaenab mendengar kegaduhan yang ada di kamarnya, langsung terbangun dari tidurnya. Salah seorang penyusup berusaha menyuntikkan sesuatu ke Zaenab tapi Zaenab berusaha melawan dan mencakar pipi dari penyusup tersebut sehingga menyebabkan wajah penyusup itu terlihat jelas.
"KAMU?"ucap Zaenab dengan nada tinggi.
Zaenab berusaha melawan dengan memukul kedua penyusup itu menggunakan tiang infus yang ada di tangannya. Tapi dua orang penyusup itu terus mencoba melawan dengan segenap tenaga.
Zaenab tidak kehilangan akal. Dia melemparkan tiang infus ke arah kaca jendela kamarnya sehingga membuat alarm rumah sakit berbunyi. Mendengar alarm berbunyi, salah satu penyusup memukul kepala Zaenab dengan tangan kosong sehingga Zaenab jatuh pingsan di lantai.
"Urusan kita belum selesai Zaenab!"ucap salah satu penyusup.
Kedua penyusup itu keluar dari kamar Zaenab melalui kaca jendela yang tadi di pecahkan Zaenab. Mereka berlari kencang menuju halaman belakang rumah sakit yang tak pernah terjamah oleh orang-orang.
__ADS_1