Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Akhir pelarian


__ADS_3

"Cepat kejar mobil itu! Jangan sampai lolos!"teriak komandan kepada seluruh anak buahnya.


Seluruh anak buah komandan segera mengejar mobil Tika dan meminta bantuan anggota polisi yang lain.


"Kami permisi dulu. Selamat malam."ucap komandan dengan tergesa-gesa.


"Baik pak. Selamat malam."ucap Pak Hendro.


Komandan meninggalkan rumah Pak Hendro dan membantu anak buahnya mengejar Tika.


Pak Hendro membantu istrinya bangun dari aspal. Salah satu perawat membantu mendirikan kursi roda yang jatuh ke aspal.


"Ibu tidak apa-apa?"tanya Pak Hendro kepada istrinya.


"Tidak apa-apa pak..."ucap Bu Susan.


"Ayo kita masuk ke dalam."ajak Pak Hendro.


Bu Susan hanya mengangguk dan terdiam. Dia masih menatap pintu gerbang halaman yang sekarang sedang di tutup oleh satpam.


Di jalan raya yang sepi...


"Kita harus pergi jauh nak...mama gak mau kamu lahir di penjara. Lebih baik mama mati bersama mu dibanding harus melihatmu lahir dan tumbuh di dalam penjara."ucap Tika sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.


Tika masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menyetir tidak tau arah dan tujuan kemana dia akan melarikan diri.


Lima menit kemudian...


"Saudari Tika! Kami minta saudari segera menepikan mobil sekarang juga!"teriak Komandan Geri dengan pengeras suara.


Tika mendengar teriakan suara Komandan Geri. Dia melihat dari kaca spion yang ada di sebelah kanan kemudinya. Dia tak menggubris suara komandan. Dia pun tak gentar dengan sepuluh mobil polisi yang mengejarnya. Sekarang yang ada di isi kepala Tika hanyalah kabur dan pergi jauh.


Komandan Geri tak ingin kehilangan jejak Tika. Dia segera meminta beberapa anak buahnya untuk mencegat Tika di gerbang masuk pintu tol. Tak hanya itu, komandan juga meminta bantuan seseorang yang dekat dengan Tika.


Tika masih melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tika terlalu fokus melihat kaca spion dekat kemudinya,sehingga dia tidak melihat sebuah batang pohon yang tumbang terbentang di jalan yang dia lalui. Dia tidak bisa mengerem mobilnya sehingga mobilnya menabrak pohon tumbang itu dan menyebabkan mobil Tika terguling hingga radius 200 meter dari tempat kejadian.


"Aaaggghhh..."teriak Tika.

__ADS_1


Mobil Tika sudah terbalik. Tika hanya bisa meringis kesakitan. Beruntunglah dia memakai seat belt sehingga dia tidak terpental dari kursi kemudi.


"To...to...long..."ucap Tika dengan suara terbatah-batah.


Seseorang segera membantu Tika keluar dari dalam mobil. Orang tersebut melepaskan seat belt yang telah menyelamatkan nyawa Tika. Dia menggendong Tika dan membawanya menjauh dari mobil. Lima menit kemudian mobil yang di kendarai Tika terbakar beruntunglah orang tersebut sudah menyelamatkan Tika.


Tak berapa lama mobil komandan dan anak buahnya datang. Mereka melihat seseorang duduk di aspal dan mendekap Tika di bahunya. Komandan Geri mendekati mereka berdua.


"Terima kasih bantuannya Dokter Rian."ucap Komandan Geri.


Dokter Rian tak berbicara apa-apa,dia hanya mengangguk sambil menatap wajah Tika yang penuh luka.


"Bagaimana keadaan dia,dok?"tanya komandan.


"Dia pingsan komandan. Lebih baik kita segera membawa dia ke rumah sakit. Saya sudah siapkan mobil ambulans untuk membawa dia ke rumah sakit saya."ucap Dokter Rian.


"Saya dan anak buah saya akan ikut di dalam mobil ambulans."


"Anda tidak percaya kepada saya, komandan? Saya tidak akan membawa kabur dia. Saya hanya ingin menyelamatkan nyawa dia dan anak yang ada di dalam kandungannya."jawab Dokter Rian tegas.


"Tidak bukan itu dok...saya hanya ingin memastikan saudari Tika tidak kabur lagi untuk kedua kalinya."jawab komandan.


"Baiklah. Mari kita bawa dia ke dalam ambulans."ajak komandan.


"Ok...tapi biarkan saya yang menggendongnya ke dalam mobil."ucap Dokter Rian sambil menggendong Tika.


Dokter Rian memasukkan Tika ke dalam mobil ambulans. Komandan pun mengikutinya dari belakang. Komandan dapat melihat jelas kalau Dokter Rian memendam rasa kepada Tika, dari tatapan sedih Dokter Rian yang melihat Tika tidak berdaya dan dari cara dia membersihkan darah yang ada di wajah Tika dengan sigap, sampai Dokter Rian sendiri yang mengobati luka-luka di wajah Tika.


Sesampainya di rumah sakit, Dokter Rian segera memasukkan Tika ke ruang IGD dan dia meminta beberapa suster untuk menyiapkan ruang operasi untuk Tika. Komandan yang mendengar pembicaraan Dokter Rian tentang ruang operasi terkejut. Dia langsung menghampiri dan menanyakan perihal tersebut kepada Dokter Rian.


"Maaf dokter...untuk apa menyiapkan ruang operasi?"tanya komandan.


"Saya harus melakukan operasi sesar segera komandan. Karena air ketuban dalam perut Tika hampir habis. Kalau tidak segera mengambil tindakan operasi, nyawa dalam bayi Tika tidak akan selamat."jawab Dokter Rian.


Komandan Geri tak tega mendengar keadaan bayi yang di dalam kandungan Tika. Akhirnya dia mengizinkan Dokter Rian untuk segera bertindak.


"Baiklah. Lakukan yang seharusnya dokter lakukan, tapi izinkan saya masuk ke ruang operasi."ucap komandan.

__ADS_1


"Saya setuju."ucap Dokter Rian.


Dokter Rian dan Komandan Geri langsung membawa Tika ke ruang operasi. Dokter Rian dan lima orang suster bersiap-siap dengan memakai baju operasi dan memasuki sebuah ruangan sterilisasi sebelum melakukan operasi. Komandan Geri pun di wajibkan memakai baju operasi meskipun dia hanya memantau dari jarak jauh. Komandan berdiri di sudut ruangan dan memantau operasi sesar.


Seperti biasa, sebelum melakukan tindakan operasi, Dokter Rian dan para suster berdoa terlebih dahulu agar operasi yang akan mereka lakukan berjalan lancar dan bayi serta ibu bisa selamat. Setelah selesai berdoa mereka bersiap-siap di posisinya masing-masing.


Dokter Rian menatap wajah Tika yang sudah tidak sadarkan diri.


"Tika...tolong bantu aku. Kamu harus kuat...kamu harus tetap hidup demi anak mu. Bismillah..."ucap Dokter Rian.


Dokter Rian dengan cekatan melakukan tindakan operasi. Sepuluh menit kemudian, terdengarlah tangisan suara bayi yang menggelegarkan ruang operasi tersebut. Bayi itu berjenis kelamin perempuan, kulitnya putih, rambutnya hitam lebat. Dokter Rian menggendong bayi perempuan tersebut dan menunjukkan ke wajah Tika yang masih tak sadarkan diri.


"Alhamdulillah...Tika...ayo bangun! Anakmu sudah lahir. Dia cantik seperti dirimu. Tapi sayang... aku bukan ayah kandungnya..."ucap Dokter Rian dengan wajah sedih.


Seluruh orang yang ada di ruangan itu terkejut dengan ucapan Dokter Rian. Melihat semua mata tertuju pada dirinya. Dokter Rian segera memberikan bayi cantik itu kepada salah seorang suster untuk di bersihkan dan di hangatkan di inkubator. Karena ukuran bayi tersebut sangat kecil.


Dokter Rian menuntaskan pekerjaannya di ruang operasi. Dia meminta dua orang suster segera membawa Tika ke ruang perawatan VVIP yang terbaik di rumah sakit itu.


Dokter Rian menghampiri komandan yang sedang berjalan keluar ruang operasi.


"Komandan, bolehkah saya menghubungi kedua orang tua Tika?"tanya Dokter Rian.


"Pak dokter tidak perlu, saya sudah menghubungi mereka. Sebentar lagi mereka akan datang."jawab komandan.


"Oh iya satu lagi...maaf sebelumnya dokter. Saya sudah mengutus 4 petugas polisi untuk mengawasi Tika di selama dia di rawat di rumah sakit ini. Dua orang petugas laki-laki bertugas mengawasi di luar ruangan dan dua orang petugas perempuan mengawasi di dalam ruangan."jelas komandan.


"Haruskah ada petugas di dalam ruang perawatan,komandan?"tanya Dokter Rian.


"Harus! Karena saya tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya. Saya harap dokter dan seluruh petugas rumah sakit bisa bekerja sama dengan kami. Demi kelancaran investigasi kami yang sudah berbulan-bulan menggantung."


"Baik. Saya akan menugaskan beberapa suster yang bisa di percaya untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian."


"Terima kasih."


"Saya permisi dulu,komandan. Ingin istirahat sejenak."


"Silahkan dokter."

__ADS_1


Dokter Rian meninggalkan komandan dan menuju ruangan kerjanya. Dia membuka sebuah laci yang ada di bawah meja kerjanya dan mengambil sebuah foto lusuh.


"Tika...aku masih mencintaimu. Aku harap engkau tau itu..."ucap Dokter Rian sambil memeluk foto tersebut dalam dekapannya.


__ADS_2