
Pintu kamar rawat Zaenab terbuka, Babe datang dengan wajah datar tanpa ekspresi. Lalu Babe duduk di sofa kamar VVIP sembari membuka ponselnya. Zaki yang melihat ekspresi babe yang tampak dingin dan datar itu tak berani bertanya maupun menyapa babe. Zaki hanya diam, duduk di kursi samping ranjang Zaenab sembari memainkan ponselnya.
Lima belas menit kemudian, Babe mulai berbicara kepada Zaki.
"Ki...babe mau keluar sebentar. Elu disini aja jaga adik dan emak elu. Kalau elu lapar, elu bisa makan di kafetaria rumah sakit. Jangan keluar lama-lama. Babe gak mau terjadi sesuatu sama emak dan adik elu."ucap Babe yang sedang khawatir.
"Babe tenang aje...disini lagi banyak polisi pasti Zaenab dan Emak akan terjamin keamanannya."ucap Zaki menenangkan Babe.
"Jangan elu mengandalkan orang lain yang belum kita kenal selain keluarga kite!"ucap Babe ketus.
"Polisi, dokter dan suster yang ada disini kan memang bertugas menjaga Zaenab dan Emak,be... Mereka..."ucap Zaki.
Belum sempat Zaki meneruskan perkataannya tiba-tiba babe memotong ucapannya.
"Babe kagak percaya sama mereka semua! Babe akan tangani kasus Zaenab dan Emak dengan cara Babe sendiri!!"ucap Babe dengan nada tinggi.
Zaki terkejut mendengar ucapan Babe tersebut. Tak biasanya Babe berbicara dengan nada tinggi seperti itu. Zaki melihat wajah Babe berubah menjadi merah dan bunyi nafas Babe terdengar cepat sampai ke telinganya. Saat itulah Zaki lebih memilih untuk diam dan menuruti ucapan Babe.
"Ba-ba-ik Be..."ucap Zaki ketakutan.
Babe berdiri dan pergi keluar dari rumah sakit dengan membawa emosi yang membara. Dia pergi menuju mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tidak ada yang tau kemana Babe akan pergi.
Sepuluh menit kemudian, Emak mulai membuka matanya dan berusaha untuk bangkit dari tempat tidur. Zaki yang melihat Emak sudah sadarkan diri langsung berdiri di samping ranjang Emak.
"Emak...Emak mau kemana?"tanya Zaki.
"Ki...Emak kok bisa tidur di ranjang rumah sakit? Addduuuhhh..."tanya emak sembari memegang kepalanya.
"Alhamdulillah...Emak udah sadar. Kepala emak sakit?"tanya Zaki khawatir.
"Gak Ki...cuma terasa pusing aje. Adek elu gimane keadaannye?"
"Zaenab masih belum sadarkan diri,mak. Itu dia masih aja terbaring di ranjang."ucap Zaki sembari menunjuk ranjang yang berada di sebelah emak.
Emak pun turun dari ranjangnya dan memeluk tubuh Zaenab.
"Ya allah...kasihan banget anak aye. Berbulan-bulan di kasih cobaan begini? Hiks...hiks...hiks..."ucap emak sambil menangis.
Zaki menenangkan hati emak dengan mengelus-elus punggung emak. Tak lama kemudian, terdengar suara batuk dari mulut Zaenab.
"Uuhhuukk...Uuhhuukk..."
"Alhamdulillah...Zaenab...elu udah bangun."ucap Emak.
"Alhamdulillah..."ucap Zaki.
"Uuhhuukk...Uuhhuukk...Alhamdulillah sudah mak..."jawab Zaenab.
"Syukur alhamdulillah...terima kasih Ya Allah...terima kasih sudah membangunkan anak aye."ucap emak sembari menangis memeluk Zaenab.
"Emak gak apa-apa?"tanya Zaenab.
"Alhamdulillah emak baik-baik aje. Elu sendiri bagaimana?"tanya Emak.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik mak..."jawab Zaenab.
"Alhamdulillah...Emak dan Zaenab sudah sadar kembali. Aye mau telepon Babe dulu biar dia segera kesini."
"Emang Babe elu kemane, Ki? Jaga toko?"tanya Emak.
"Babe tadi disini lama,Mak... tiba-tiba dapet telepon harus ketemu klien yang mau beli tanah warisan engkong jadi babe pergi keluar deh..."ucap Zaki berbohong kepada Emak.
"Oohh...tanah engkong yang di daerah Sawah Besar ye?"
"I-Iyee,Mak..."
"Elu gak usah telepon Babe. Biarin aja dia selesaikan urusannya. Kita bikin kejutan buat Babe. Pasti dia senang banget!"ucap Emak.
"Eh...betul juga yang emak bilang. Aye setuju mak...!"ucap Zaki.
"Mungkin dengan memberikan kejutan bahagia Emak dan Zaenab yang sudah sadar akan melunturkan amarah yang ada di hati dan pikiran Babe."gumam Zaki dalam hati.
"Menurut elu gimane,Nab?"tanya Emak.
"Aye ikut aje,Mak..."jawab Zaenab sembari tersenyum manis kepada Emak.
"Sebelum kita berikan kejutan sama Babe. Aye mau panggil Dokter Rian buat periksa keadaan Emak dan Zaenab."ucap Zaki.
"Yaudah...elu pergi aja cari itu dokter. Emak mau bersihin muka emak yang kucel gak karuan begini!"ucap Emak sembari turun dari ranjang menuju toilet.
"Aye jaga Zaenab sambil tunggu Emak keluar dari toilet."
"Gak usah bang... Aye kunci aje pintu kamar dari dalam. Abang pergi aja cari Dokter Rian."ucap Zaenab yang langsung turun dari ranjangnya.
"Tenang bang... Zaenab akan hati-hati kok...abang tenang aje ye..."Zaenab mendorong tiang infusnya menuju pintu kamar.
"Tuh kan...gak apa-apa. Sudah abang cari aja itu dokter. Aye udah bosen pake ginian melulu!"ucap Zaenab sembari menunjuk jarum infus yang ada di lengan tangan kanannya.
"Ok. Abang bakalan cari sampe ketemu itu dokter! Zaenab sama Emak hati-hati ya di kamar."
"Iye... sudah jalan sana!"perintah emak.
"Siap Mak!"ucap Zaki yang langsung beranjak keluar kamar rawat VVIP.
Selama 25 menit Zaki mencari Dokter Rian baik itu di ruangan prakteknya maupun di sekitar rumah sakit tapi dokter tersebut tak memunculkan batang hidungnya. Akhirnya Zaki kehausan dan kelaparan, dia mampir ke kafetaria yang ada di dekat kamar rawat Zaenab yang lama. Setelah kenyang, Zaki mampir ke toilet khusus pengunjung rumah sakit. Saat hendak masuk ke pintu toilet pengunjung, Zaki melihat wajah Dokter Rian yang sedang berbicara serius dengan seorang wanita di belakang pintu masuk tangga darurat. Zaki berusaha mendekati Dokter Rian karena dia ingin agar dokter tersebut memeriksa Emak dan adiknya. Zaki pun tak sengaja mendengar percakapan dua orang itu.
"Mira! Katakan padaku, rencana apa yang kamu dan Tika siapkan untuk salah satu pasien ku? Jawab!"tanya Dokter Rian.
"A-a-apa maksud mu?"tanya Mira terbatah-batah.
"Jangan bohong! Kamu mengerti kan maksud ku! Kalian berdua kan yang menyebabkan kekacauan kemarin malam?JAWAB!"bentak Dokter Rian.
"Apa maksudmu? Kemarin malam aku tidak bertugas, aku tertidur pulas di kos-kosan ku!"jawab Mira.
"Kamu itu bodoh atau bagaimana? Kos-kosan mu itu merupakan kos-kosan milik orang tua ku dan disana ada cctv-nya. Aku sudah cek kalau kamu itu baru pulang ke kos-an jam 2 malam. Benarkan?!"ucap Dokter Rian tegas.
"Aadduuhh Miraaaa... G****k banget sih jadi manusia!"gumam Mira dalam hati.
__ADS_1
"A-A-Aku baru pulang party sama Tika semalam."ucap Mira ngeles.
"Party dimana kalian?"tanya Dokter Rian.
"A-A-Anu...I-I-Itu party bridal showernya teman SMA aku dan Tika. Kamu pasti gak kenal deh..."jawab Mira.
"Alah banyak alasan kamu!"ucap Dokter Rian.
"Ingat ya Mira! Jangan pernah kamu mengganggu pasien ku yang bernama Zaenab beserta ibunya. Kalau kamu dan Tika berani mengganggu mereka berdua. Aku akan bilang Om Rudy untuk menstop beasiswa dan uang saku mu selamanya! Mengerti kamu?!"Ancam Dokter Rian.
"Aaakkkhhh...kamu dan Tika sama saja! Selalu mengancam aku yang miskin ini!"jawab Mira.
"Aku terpaksa melakukan ini karena aku tak ingin nama baik rumah sakit yang di bangun puluhan tahun oleh kedua orang tua ku hancur hanya karena dua orang sepupu ku yang licik!"ucap Dokter Rian tegas.
"Tega sekali kamu bilang aku licik!"Mira memukul dada bidang Rian.
"Kamu tau tidak Rian, aku terpaksa melakukan ini karena Tika selalu mengancam ku jika aku tak menuruti perintahnya, nyawa ibu ku jadi taruhannya!"ucap Mira kesal.
"Benar dugaan Om Rudy! Jadi ternyata kalian berdua otak dibalik kejadian semalam!"
"Hah?! Om Rudy tau, Rian?"tanya Mira kaget.
"Iya, dia sudah tau. Oleh karena itu, dia memintaku untuk mengawasi mu. Dia juga titip salam. Jika kamu dan Tika menteror Zaenab lagi, maka dia sendiri yang akan menjebloskan kalian berdua ke jeruji besi! Itu pesan Om Rudy tadi!"ucap Rian.
"Jadi segeralah mengakui kesalahan mu sebelum polisi menyeret mu keluar dari rumah sakit secara paksa."ucap Rian.
"Paham?"sambung Rian.
"Aku...aku...aku paham Rian."ucap Mira dengan wajah takut.
"Ok. Aku mau mengecek pasien ku. Aku melarang mu masuk ke kamar rawat VVIP Zaenab. Karena aku sudah memilih dokter jaga yang lain untuk menggantikanmu. Sekarang kamu bertugas di gudang dan di dapur?"tanya Rian.
"Aku bertugas di dapur saja,Rian!"
"Baik. Kalau itu keputusan mu!"ucap Rian sembari meninggalkan Mira.
Saat keluar dari pintu tangga darurat, Rian berpapasan dengan Zaki.
"Eh dokter saya cari-cariin dari tadi!"jawab Rian.
"Ada apa ya mas?"tanya Dokter Rian.
"Lebih baik dokter ikut saya, ini sangat penting!"ucap Zaki meyakinkan Rian.
"Baik...baik...saya akan ikut anda. Izinkan saya ke toilet dulu ya...sudah tidak tahan ini..."ucap Dokter Rian.
"Baik dok...saya akan menunggu dokter disini."jawab Zaki.
Saat Zaki menunggu Dokter Rian di depan pintu masuk toilet, dia melihat sekilas wajah Mira yang tertunduk lesu. Zaki mendengar semua pembicaraan antara Dokter Rian dengan Dokter jaga Mira.
"Sepertinya aku harus memata-matai dokter jaga itu!"gumam Zaki dalam hati.
Mira melihat Zaki sedang memandang dirinya. Mira pun segera turun ke lantai bawah dengan menggunakan tangga darurat.
__ADS_1
"Ayo mas kita ke kamar rawat adik mas..."ajak Dokter Rian.
Zaki dan Dokter Rian bergegas menuju kamar rawat VVIP untuk memeriksa keadaan Emak dan Zaenab.