Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Barang bukti


__ADS_3

Setelah alarm rumah sakit berbunyi, semua suster dan dokter berdatangan ke ruangan Zaenab. Disana mereka menemukan Zaenab sudah pingsan di lantai rumah sakit sedangkan emak pingsan di atas sofa. Beberapa suster mengangkat Zaenab kembali ke ranjangnya dan seorang dokter yang menangani Zaenab menyuntikan sebuah obat melalui selang infus. Dokter yang menangani Zaenab segera meminta suster untuk menghubungi keluarga Zaenab, agar babe segera datang ke rumah sakit.


Setelah menerima telepon dari pihak rumah sakit, Zaki dan Babe bergegas menuju rumah sakit. Babe dan Zaki langsung lari menuju ruang resepsionis. Salah satu suster jaga mengantarkan mereka berdua ke sebuah kamar VVIP. Di kamar itu terdapat dua ranjang yang sedang ditiduri oleh Zaenab dan emak. Di dalam kamar itu juga babe melihat dua orang suster yang sedang memeriksa keadaan emak dan satu orang dokter yang sedang memeriksa keadaan Zaenab.


Babe segera menghampiri ranjang yang di tiduri oleh emak. Babe melihat istrinya masih tak sadarkan diri, begitu juga dengan anaknya.


"Ya allah...kenape jadi begini sih?"keluh babe.


"Sabar be...emak dan Zaenab hanya pingsan. Yang penting mereka baik-baik saja."ucap Zaki menenangkan.


"Babe kecewa! Sangat kecewa! Bagaimana bisa rumah sakit di susupi orang jahat yang membuat pasien celaka! Apa gunanya ada satpam, polisi dan suster jaga kalau mereka tidak bisa menjamin keselamatan nyawa orang lain? Babe bener-bener kecewa!"ucap Babe dengan nada tinggi.


Dokter dan kedua suster yang mendengar keluhan babe pun langsung terdiam.


"Istigfar be...istigfar..."ucap Zaki sembari mengelus pundak belakang Babe.


Saat mereka berdua berbicara, dokter yang memeriksa Zaenab mendekati mereka.


"Selamat malam pak. Maaf mengganggu jam istirahat bapak."ucap dokter tersebut.


"Sangat mengganggu,dok!"ucap Babe ketus.


"Perkenalkan saya Dokter Rian. Saya menangani Zaenab selama di rumah sakit. Saya tau bapak dan keluarga kecewa dengan pelayanan keamanan rumah sakit kami. Saya mewakili pihak rumah sakit memohon maaf sedalam-dalamnya atas kelalaian yang kami lakukan."ucap Dokter Rian.


"Mengucapkan kata maaf itu gampang,dok...!"jawab Babe sewot.


"Istigfar be...istigfar..."ucap Zaki menasihati Babe.


"Biarin aje! Babe kesel!"jawab Babe.


"Ya pak...kami paham dan mengerti apa yang bapak rasakan. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan bahwa pihak rumah sakit akan menanggung semua biaya perawatan dan pengobatan istri dan anak bapak termasuk juga biaya rawat jalan jika nanti istri dan anak bapak dibolehkan pulang ke rumah."ucap Dokter Rian.


"Eh Pak Dokter! Mungkin penampilan aye aja yang udik alias kampungan tapi bukan berarti aye orang miskin yang gak mampu bayar biaya perawatan dan pengobatan istri dan anak aye! Kontrakan, deposito dan tanah aye masih banyak. Gak bakalan habis harta aye buat bayar biaya rumah sakit! Jangan dokter remehin aye ye...!"ucap Babe emosi.


"Maksud pak dokter bukan begitu be...biar pak dokter lanjutin ucapannya. Babe dengerin dulu baik-baik."ucap Zaki.


"Elu Ki! Masih aje bela pak dokter! Yaudeh...lanjutin aje ape yang pak dokter mau sampaikan!"


"Jadi intinya, pihak rumah sakit mengakui kesalahan yang dilakukan dan berniat untuk memberikan kompensasi kepada pihak keluarga pasien dengan menggratiskan semua biaya dan menempatkan istri dan anak bapak di ruang VVIP. Selain itu kami juga akan menambah pengamanan di sekitar ruangan ini. Jadi...saya mewakili pihak rumah sakit, memohon maaf atas kelalaian yang kami lakukan."


"Oke. Aye maafin!"jawab Babe sembari memasang wajah tak bersahabat kepada Dokter Rian.

__ADS_1


"Terima kasih atas kebaikan bapak."ucap Dokter Rian.


"Terima kasih,dok. Atas kompensasi yang rumah sakit berikan untuk ibu dan adik saya. Saya berharap kejadian ini tidak terulang kembali."ucap Zaki


"Sama-sama. Kami akan berusaha sebaik-baiknya."jawab Dokter Rian.


"Lalu...bagaimana keadaan ibu dan adik saya,dok?"tanya Zaki.


"Ibu...hanya pingsan. Kalau analisa saya, ibu telah menghirup cairan yang berisi obat tidur. Karena kejadian terjadi sekitar jam 1 malam, kemungkinan satu jam lagi ibu sudah sadar."ucap Dokter Rian.


"Adik saya, dok?"


"Adik anda juga tidak mengalami luka yang serius. Dia hanya memar biru di tengkuk belakang lehernya dan luka lecet di kepala. Sebentar lagi dia akan sadar, saya sudah memberikan sebuah obat penghilang nyeri di infusnya."


"Alhamdulillah..."ucap Babe dan Bang Zaki bersamaan.


"Ada lagi yang ingin di tanyakan?"tanya Dokter Rian.


"Bagaimana dengan kasus yang terjadi malam ini,dok?"tanya Zaki balik.


"Sedang di selidiki oleh pihak kepolisian. Komandan Geri dan anak buahnya sudah berada di TKP. Kita berdoa saja pak...mas...semoga segera ada titik terang mengenai pelaku yang melakukan hal tersebut kepada ibu dan adik Zaenab."


"Aamiin dok..."jawab Bang Zaki.


"Tidak perlu dok...biar kami berdua saja yang menjaga mereka."ucap Babe.


"Baik, kalau itu keputusan bapak. Kami permisi dulu."


"Terima kasih, dokter dan suster."ucap Zaki.


"Ki...elu disini dulu. Babe mau ketemu sama Komandan Geri. Babe mau minta pertanggung jawabannya dia!"ucap Babe sembari menggulung baju kokonya.


"Waduh...si babe sudah mulai gulung lengan baju nih...berarti bakalan ada perang nih..."ucap Zaki dalam hati.


"Hmm...aye ikut ya be...biar emak dan Zaenab di jaga suster aje seperti kata Dokter Rian tadi."ucap Zaki.


"Gak perlu! Elu disini aja! Babe gak percaya sama suster dan dokter disini!"


"Tapi be..."


"Babe tau..Elu takut babe ngamuk kan terus menyerang Komandan Geri. Tenang aje...babe masih bisa mengendalikan amarah babe. Elu disini aje, babe cuma sebentar!"ucap Babe sambil berjalan keluar kamar Zaenab.

__ADS_1


"I-iya be..."jawab Zaki menuruti perintah Babe.


Babe keluar kamar VVIP dan menuju kamar rawat Zaenab yang lama. Disana dia melihat kamar itu sudah di sterilkan dengan garis polisi berwana kuning di depan pintu masuknya. Babe mencoba untuk masuk kamar itu tapi tidak di izinkan oleh petugas polisi yang berjaga karena sedang dilakukan olah TKP.


Akhirnya babe duduk di kafetaria yang tak jauh dari kamar rawat Zaenab yang lama. Sambil menunggu Komandan Geri keluar dari TKP, babe memesan secangkir kopi hangat untuk menghangatkan hati dan pikirannya yang sedang gundah gulana.


Ketika akan mencicipi kopi hangatnya, babe tak sengaja mendengar percakapan telepon seorang wanita berseragam dokter yang duduk di belakangnya.


"Halo Tika...kamu dimana?"


"Aku ada di gudang. Bagaimana perkembangan disana?"tanya Tika.


"Ramai dengan polisi. Sekarang polisi sedang olah TKP di kamar dia."


"Lalu bagaimana dengan si Zaenab? Masih hidup kah dia?"


"Zaenab masih dalam kondisi belum sadarkan diri. Ibunya pun juga begitu. Sekarang mereka di pindahkan ke ruang VVIP."


Babe sejenak mendengar wanita itu menyebut nama Zaenab dan ruang VVIP.


"Zaenab yang ada di ruang VVIP itu cuma Zaenab anak gue. Gak mungkin ada Zaenab yang lain!"gumam Babe dalam hati.


"APA? Siapa yang menyuruh memindahkan mereka kesana?"tanya Tika


"Dokter Rian yang memerintahkan."jawab Mira


"Aakkhhh...dokter sialan itu lagi!


"Iya. Sepupumu."


"Yasudah. Aku mau istirahat dulu. Kabari aku bagaimana perkembangan disana. Jangan samapai ada barang bukti yang menyudutkan aku atas kasus semalam."


"Beres! Serahkan padaku. Aku akan melenyapkan barang bukti segera."


"Ok. Bye."


"Bye."


"Apa? Barang bukti? Siapa yang di telepon dokter ini? Jangan-jangan..."ucap Babe dalam hati.


Mira langsung mematikan ponselnya dan bergegas pergi ke pintu belakang rumah sakit. Babe yang dari tadi penasaran mengikuti Mira dari belakang. Mira berdiri di depan container sampah dan dia mengeluarkan sebuah kresek yang dari tadi dia sembunyikan di mantel dokternya. Satu-persatu Mira keluarkan isi kresek tersebut yaitu jaket, celana dan masker hitam yang bernoda darah. Dia membakar semua barang-barang itu .

__ADS_1


"Sorry Zaenab, Aku harus menjalankan perintah Tika jika tidak...nyawa ibu ku melayang."ucap Mira sembari memperhatikan barang-barang yang dia bakar.


Tanpa Mira ketahui, Babe dapat mendengar apa yang Mira ucapkan. Babe meremas tangannya dengan kencang dan sorot mata kemarahan terlihat di kedua mata babe.


__ADS_2