
Zaenab langsung berlari menuju kelasnya sambil menengok ke arah belakang tanpa disadari dia menabrak seseorang di depan.
"Aduh!"ucap Zaenab sambil memegang dahinya yang terkena dada seseorang.
"Kamu gak apa-apa,Nab?"tanya Pak Supari khawatir.
"Eh...gak apa-apa pak. Maaf kan saya pak tidak hati-hati."ucap Zaenab sambil menundukkan pandangannya.
"Saya gak apa-apa. Kamu jangan menunduk seperti itu donk...coba tatap wajah saya kalau sedang berbicara."Pak Supari mengangkat dagu Zaenab dengan telapak tangannya.'
Zaenab menangkis tangan Pak Supari yang memegang dagunya.
"Maaf pak...saya bukan muhrim bapak!"ucap Zaenab tegas.
"Kalau saya datang ke orang tua mu dan meminta mu menjadi muhrim saya bagaimana?"
"Apa maksudnya ya pak?"
"Masa kamu tidak paham? Setelah kamu lulus sekolah saya akan meminang kamu. Kamu mau kan?"
Mendengar ucapan Pak Supari tersebut Zaenab tersentak dan terdiam sejenak.
"Maaf pak...saya masih ingin kuliah dulu mengejar cita-cita saya."
"Saya tidak akan melarang kamu kuliah atau pun mengejar cita-cita kamu. Saya hanya ingin ada ikatan resmi antara kamu dengan saya."
__ADS_1
"Maaf pak... usia saya masih 17 tahun sedangkan bapak sudah 37 tahun. Saya rasa perbedaan usia kita sangat terlampau jauh. Saya masih mau menikmati masa remaja saya jadi lebih baik bapak mencari yang seusia bapak bukan anak kecil seperti saya."ucap Zaenab yang masih menundukkan pandangannya.
"Saya tidak peduli dengan perbedaan usia kita lagipula tidak masalah kan toh usia kamu sudah di bolehkan secara hukum untuk menikah."
"Maaf pak...saya tetap menolak permintaan bapak. Saya permisi dulu!" Saat Zaenab hendak pergi pak Supari segera menarik mencengkram pergelangan tangan Zaenab.
"Kamu harus ingat! Saya tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu! Saya selalu dapatkan apa yang saya inginkan. Camkan itu!"Pak Supari menatap tajam wajah Zaenab sambil mencengkram kencang pergelangan tangan Zaenab.
"Lepas pak...lepas! Saaaakkkiiitt...hiks hiks hiks"Zaenab menangis karena tangannya terasa sakit saat di cengkram kencang oleh Pak Supari.
"Lepaskan dia pak!"teriak Andi dari arah pintu perpustakaan. Andi berlari ke arah Zaenab dan Pak Supari.
"Lepaskan dia pak! Atau saya akan laporkan bapak ke kepsek atas kekerasan yang bapak lakukan terhadap murid di sekolah!"Andi mengancam Pak Supari sambil mencoba melepaskan cengkaraman tangan Pak Supari dari tangan Zaenab.
"Aaakkkhhh..."Zaenab mengerang kesakitan.
"Sekali lagi saya melihat bapak melukai Zaenab saya gak segan-segan melaporkan bapak ke polisi!"Andi sekali lagi mengancam Pak Supari dengan tegas.
"Saya tidak mungkin melukai Zaenab! Saya menyukainya!"ucap Pak Supari dengan nada tinggi.
"Lalu ini apa??"tanya Andi sambil menunjukkan lengan tangan Zaenab yang merah dan terlihat ada luka goresan dikulit tangannya tersebut.
Melihat lengan tangan Zaenab yang terluka, Pak Supari diam membisu. Dia tak bisa mengelak lagi dengan bukti yang jelas terlihat di lengan tangan Zaenab.
"Ma..aaff..kan saya Zaenab. Saya tidak bermaksud menyakiti mu. Maafkan saya..."Pak Supari ingin meraih tangan Zaenab yang terluka tapi Zaenab langsung berdiri di belakang Andi.
__ADS_1
"Andi...tolong antarkan aku ke kelas."ucap Zaenab dengan nada suara pelan.
"Ayo kita pergi dari sini!"Andi segera mendampingi Zaenab ke kelas nya dan pergi meninggalkan Pak Supari.
Saat berjalan menuju kelas Zaenab, mereka bertemu dengan Miss Yanti.
"Andi...Zaenab kenapa? Kok terlihat lemas?"tanya Miss Yanti
"Eh ini miss...Zaenab kecapean."Andi berbohong menutupi yang terjadi pada Zaenab.
"Tapi kok lengan mu merah dan bengkak begini?"tanya Miss Yanti lagi.
"Ini...ini..."Zaenab sedang berpikir mencari alasan yang tepat.
"Oh ini tadi dia kegigit lebah miss."Andi berbohong lagi.
"Kita langsung ke UKS saja, biar Zaenab istirahat di UKS. Nanti miss yang bilang ke wali kelas nya."
"Baik Miss."ucap Andi
"Makasih ya miss."ucap Zaenab
"Sama-sama."
Andi dan Miss Yanti mengantarkan Zaenab ke UKS. Miss Yanti menjaga Zaenab di ruangan UKS dan meminta Andi untuk memberitahukan Bu Mulyati,wali kelas Zaenab tentang keadaan Zaenab.
__ADS_1