Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Bukti kedua : rekaman pembicaraan


__ADS_3

"Ccciiittt..."bunyi mobil di parkir.


Babe memakirkan mobilnya di depan ruko miliknya. Dia langsung masuk kedalam ruangannya. Seluruh karyawan ruko hanya tertunduk karena takut dengan wajah Babe yang masih terlihat merah padam. Soleha yang melihat kedatangan babe langsung menyiapkan makan siang yang sudah di belinya tadi.


"Tok tok tok..."suara ketukan pintu.


"Masuk!"teriak babe di dalam ruangannya.


"Assalammualaikum be..."Soleha mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam...ada ape?"tanya babe.


"Ini be...aye bawain pesanan babe. Soto betawi hangat, nasi putih, teh tawar hangat dan kerupuk kampung."ucap Soleha sembari memegang nampan besar berisi makanan dan minuman.


"Elu taruh aja di meja itu. Makasih Soleha.."jawab babe.


Soleha meletakkan semua makanan yang dibawanya dengan nampan besar di atas meja tamu seperti perintah babe.


"Babe gak langsung makan aje mumpung semua masih panas."


"Kalau gue makan sekarang yang ada bibir dan mulut gue melepuh! Elu kagak lihat itu uapnya masih ngebul?!"


"I-i-iye be... maafin aye."ucap Soleha dengan wajah tertunduk.


"Ada lagi?"


"Enggak be..."


"Yaudah elu kedepan aje sana, bantu yang lain."


"Iya be...aye permisi dulu." ucap Soleha sambil membuka pintu ruangan babe.


Setelah Soleha keluar dari ruangan babe, babe pun menikmati makanan dan minuman yang dibawa Soleha tadi. Dia makan dengan sangat lahap.


"Alhamdulillah...terima kasih atas nikmat mu Ya Allah..."Babe mengucap syukur.


"Kring kring kring"suara bunyi telepon masuk.


"Siape sih yang berani ganggu ketenangan aye?"gumam babe dalam hati.


Babe mengambil ponsel yang ada di atas meja kerjanya lalu dia melihat nama Zaki di panggilan masuk. Babe melihat ada 10 panggilan telepon yang tak terjawab dari Zaki. Kalau Zaki sudah menelepon berkali-kali pasti ada sesuatu yang gawat yang harus babe ketahui. Babe langsung mengangkat telepon dari Zaki tersebut.


"Halo...halo..."ucap Babe.


"Assalammualaikum be..."


"Waalaikumsalam ki... babe ada dimana? Aye dari tadi telepon babe gak diangkat-angkat."ucap Zaki.


"Maaf ki...babe ketiduran di ruko terus ponsel babe silent jadi gak kedengaran deh suara panggilan telepon."ucap babe yang sedang berbohong kepada Zaki.


"Oohh...babe bisa ke rumah sakit sekarang juga?"


"Emangnya ade ape,ki?"


"Komandan Geri mau bicara serius sama babe."


"Ya nanti babe bicara sama dia."


"Babe gak mau jenguk Zaenab dan emak?"

__ADS_1


"Babe mau istirahat dulu di sini, babe ngantuk,ki..."


"Serius babe gak mau ke rumah sakit?"


"Ehem..."dehem babe.


Tiba-tiba terdengar kegaduhan di seberang telepon.


"Rojali...! Elu kagak sayang sama gue? Gue udah sadar kenape kagak elu jenguk?" teriak emak dari di seberang telepon.


Emak merebut ponsel Zaki karena dia ingin berbicara langsung dengan suaminya abang Rojali.


"Eh...Munaroh...elu sudah sadar? Gue kira elu masih tertidur nyenyak di ranjang rumah sakit."


"Elu kira gue udah mati ape?! Sampe-sampe elu kagak mau jenguk gue! Biar elu bisa kawin lagi sama janda gatel yang namanya Marina?"teriak emak.


Babe yang mendengar teriakan emak langsung menjauhkan telinganya dari ponsel. Kemudian babe mengaktifkan speaker ponselnya.


"Kalau elu udah teriak-teriak begini berarti elu udah sehat walafiat. Alhamdulillah Ya Allah..."ucap babe.


"Udeh...cepetan kesini. Kalau elu dalam 20 menit dari sekarang belum muncul juga di rumah sakit, gue bakalan remukin badan elu!"ucap emak.


Zaki yang mendengar ucapan emak yang mengancam babe hanya menggelengkan kepalanya dan mengelus dadanya. Lalu Zaki menenangkan emaknya dengan memijit-mijit lembut pundak emak.


"Emak yang tenang jangan emosi begitu. Kasihan babe, dia juga cape ngurus ruko selama emak di rumah sakit."ucap Zaki menenangkan emaknya.


"Terus aja elu bela babe elu yang buncit itu!"ucap emak kesal.


Di seberang saluran telepon, babe mendengar pembicaraan Zaki dan emak. Babe hanya bisa menghela nafas panjang.


"Munaroh yang cantik, manis, pintar dan mantan none betawi era 2000-an. Abang ini seneng banget elu udah sadar. Kalau abang gak ada di sana waktu elu sadar bukan berarti abang gak sayang dan cinta sama elu. Abang kan harus menjalankan roda perekonomian keluarga kite. Usaha kite harus tetap berjalan karena bukan hanya kite aje yang butuh makan tapi karyawan kite juga butuh. Elu jangan egois gitu donk...wanita di dunia dan di hati abang itu cuma elu satu-satunya yang abang cinta."ucap babe meyakinkan emak.


"Udeh...elu hapus air mata elu. Kalau toko udah tutup, abang langsung ke rumah sakit. Elu istirahat aja biar tambah sehat."Babe menasihati emak.


"Iye bang...abang udah makan?"tanya emak.


"Udeh...elu tenang aje. Sekarang elu pikirin kesehatan elu sama Zaenab."


"Iye bang..."


"Gue mau lihat karyawan kerja dulu. Assalammualaikum..."ucap babe.


"Waalaikumsalam..."jawab emak sambil mematikan ponsel dan mengembalikan ponsel tersebut ke Zaki.


Setelah menerima telepon masuk dari emak, terdengar lagi bunyi telepon masuk. Tidak ada nama si penelepon hanya nomor telepon yang terlihat di layar ponsel.


"Nomor siape ini?"tanya babe bingung.


"Angkat jangan...angkat jangan...hmm...gue angkat aje deh siapa tau aje penting!"ucap babe.


Akhirnya babe mengangkat telepon masuk dari nomor yang tak di kenal itu.


"Haalloo..."


"Halo...abang Rojali? Ini saya Toki, anak buah bang Jaja. Tolong di save nomor saya bang."ucap Toki.


"Baik bang Toki."jawab babe.


"Saya sedang di rumah sakit, sedang memata-matai dokter magang yang bernama Mira. Saya lihat sekarang, dokter tersebut sedang berbicara serius dengan seorang wanita hamil di taman belakang rumah sakit. Wanita hamil tersebut di kawal oleh dua orang bodyguard."ucap Toki.

__ADS_1


"Bang Toki bisa kagak berdiri di dekat mereka? Tapi jangan sampe ketahuan, diam-diam aje. Aye pengen tau apa yang mereka bicarakan."pinta babe.


"Baik bang! Saya akan usahakan untuk berpindah posisi lebih dekat dengan mereka. Abang nanti saya kabari kalau sudah ada hasilnya."


"Baik. Terima kasih bang Toki."


"Oke."


Toki mematikan ponselnya dan berusaha mencari posisi terbaik untuk mendengar pembicaraan kedua wanita tersebut.


Toki melihat ada tanaman rimbun dan semak-semak belukar di belakang dua wanita tersebut. Dia berusaha jalan jongkok sambil mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh kedua wanita itu dan bodyguardnya.


Toki pun tak lupa mensilent ponsel dan mengaktifkan aplikasi rekam suara. Toki mulai merekam pembicaraan dua wanita tersebut.


"Tika...kenapa kamu datang? Ada apa?"tanya Mira.


"Gue hanya ingin menjenguk sepupu gue dan musuh gue yang masih terbaring di ranjang rumah sakit."jawab Tika.


"Aku baik-baik saja dan si Zaenab masih tak sadarkan diri."jawab Mira.


"Elu yakin? Elu tau darimana? Elu kan sudah dipindah tugaskan ke bagian laboratorium."tanya Tika yang tak yakin dengan jawaban Mira.


"Aku yakin...aku lihat sendiri tadi dokter Rian di datangi oleh kakaknya Zaenab. Sepertinya Zaenab dalam kondiai gawat. Dokter Rian sendiri yang bilang ke aku bahwa Zaenab masih dalam kondisi tak sadarkan diri."jawab Mira.


"Oke. Gue percaya! Awas saja kalau informasi yang tadi elu bilang itu bohong. Elu tau kan akibatnya berbohong sama Tika?"


"I-iya...gue tau,Tik. Tolong jangan ganggu ibu gue."Mira memohon kepada Tika sembari menyatukan kedua telapak tangannya ke hadapan Tika.


"Selama elu menuruti seluruh perintah gue. Ibu dan masa depan elu aman."ucap Tika.


"Sebelum gue pulang, ada satu permintaan gue yang harus elu lakukan."sambung Tika


"Apa itu?"tanya Mira.


"Elu sekarang di bagian laboratorium kan? bisa donk meracik formula untuk melelehkan besi dengan cepat?"


"Hah?? Melelehkan besi? Untuk apa?"


"Elu bisa gak?"


"Bi...Bi-sa sih... tapi buat apa?"


"Gak usah banyak tanya! Elu bikin aja formula atau cairan yang bisa melelehkan besi. Besok sore pengawal gue yang akan ambil itu formula."


"O-oke!"


"Ujang...kesini!"perintah Tika kepada pengawalnya.


"Iya Bos!"ujang datang sambil berlari-lari kecil.


"Besok jam 4 sore, kamu ketemu dia (sembari menunjuk wajah Mira) di tempat ini dan kamu ambil cairan atau formula dari dia. Mengerti?"tanya Tika kepada Ujang.


"Siap bos!"jawab Ujang.


"Oke Mira...gue pulang dulu. Tetap awasi Zaenab jangan sampai kecolongan!"ancam Tika.


Mira tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya dua kali lalu menunduk. Tika berdiri dari kursinya dan berjalan menuju mobil sedannya dengan di iringi oleh dua pengawalnya. Setelah Tika masuk kedalam mobil, mobil tersebut melaju kencang meninggalkan halaman belakang rumah sakit. Mira pun pergi kedalam rumah sakit dan menuju laboratorium.


Toki yang melihat situasi dan kondisi di sekitarnya sudah aman, dia pun keluar dari semak-semak.

__ADS_1


"Gak sia-sia gue ngumpet di semak-semak. Akhirnya gue dapat juga bukti keterkaitan dokter itu dan wanita hamil itu dalam kasus Zaenab. Gue harus lapor bos Jaja dulu!"gumam Toki sambil memegang ponselnya yang untuk merekam pembicaraan tadi.


__ADS_2