
Tania di larikan ke rumah sakit terdekat dengan kondisi luka di kepala yang sangat parah. Sayup sayup Tania yang sedang berbaring di ranjang dapat melihat seorang laki-laki yang memakai jas putih dan berkacamata sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang berbadan tegap. Tania mengenali suara laki-laki tersebut saat dia ingin memanggil nama laki-laki tersebut dua orang suster sudah mendorong ranjangnya ke kamar operasi. Tania hanya dapat melihat tatapan mata sedih dari wajah laki-laki tegap tersebut.
Dua jam operasi berhasil di lakukan dan alhamdulillah nyawa Tania dapat di selamatkan. Satu jam kemudian Tania sudah sadarkan diri.
"Aaakkkhhh...dimana aku?"tanya Tania sambil meringis kesakitan.
"Apa yang terjadi dengan kepala ku? Kenapa sakit sekali...aaakkhhh"ucap Tania sambil memegang kepalanya.
Tiba-tiba seseorang masuk ke kamar rawat Tania.
"Semalam kamu mengalami tabrak lari. Bersyukurlah pada Tuhan nyawamu masih tertolong!"ucap Siska menghampiri Tania yang masih berbaring di kasur.
"Siska? Kau yang telah menolongku? Terima kasih...iihhkkss...iihhkkss..."ucap Tania sambil menangis di hadapan Siska.
"Bukan aku tapi pacar mu yang menolong mu semalam. Aku hanya di telepon olehnya untuk menemani mu hari ini."ucap Siska sambil menyodorkan apel yang tadi dia beli di toko buah.
"Tidak. Terima kasih."ucap Tania
"Zaki yang mengantarkan ku kesini semalam? Dari mana dia tau aku ada disana?"gumam Tania dalam hatinya.
"Dimana Zaki? Aku ingin bertemu dengannya,Sis."sambung Tania
__ADS_1
"Hari ini dia sidang skripsi di kampus, mungkin sore dia akan kesini. Kamu mau makan sarapanmu? Biar aku yang suapin."ucap Siska sambil tersenyum.
"Siska...maafkan atas sikap ku yang dulu kepada mu. Iihhkkss...tak seharusnya aku membencimu dan mengusir mu dari rumah ku. Maafkan aku Siska...iihhkksss...iihhkkss..."Tania menangis tersedu-sedu mengingat perilaku buruk yang telah dia lakukan kepada sepupunya itu.
"Sudahlah...kau ini sepupu ku. Hanya kau dan paman keluarga yang aku punya di Jakarta. Aku sudah memaafkanmu. Ayo makan dulu biar kau cepat sembuh."Siska menyemangati Tania yang dari tadi menangis.
"Baiklah. Terima kasih Siska."Tania tersenyum melihat perlakuan Siska kepada dirinya.
Suasana di kampus sudah ramai dengan mahasiswa yang akan melakukan sidang skripsi. Tiga orang pemuda yang memakai kemeja tangan panjang putih, celana bahan hitam, dasi hitam dan almamater kampus. Mereka duduk di kursi panjang menunggu panggilan untuk masuk ke ruang sidang.
"Kamu gak gugup,Ki?"tanya Bambang
"Insya allah gak,Bang."ucap Zaki
"Kita harus optimis kalau kita bisa lulus sidang dengan nilai memuaskan."ucap Zaki menyemangati teman-temannya.
"Aku ragu pada diriku,Ki!"ucap Bambang memasang wajah melas.
"Dasar ayam sayur lu!"ucap Ucok
"Coba kamu telepon ibu mu, minta ridho dan restunya."Zaki memberikan saran.
__ADS_1
"Emang ngaruh sama hasil sidang kita nanti?"tanya ketus Ucok
"Insya allah,Cok! Semua agama mengajarkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Apalagi doa ibu kita pasti selalu di kabulkan oleh Allah swt. Aku tak pernah meragukan doa-doa yang di panjatkan babe dan emak untuk aku dan Zaenab."
Tiba-tiba seorang petugas pengawas sidang keluar dari ruangan sidang untuk memanggil peserta sidang berikutnya.
"Muhammad Zaki"
"Saya pak!"teriak Zaki
"Silahkan masuk!"
"Baik pak!"Zaki pergi meninggalkan kedua temannya menuju ruang sidang.
"Bro...aku duluan ya!"ucap Zaki kepada Bambang dan Ucok.
"Sukses ya,Ki!"teriak Bambang menyemangati Zaki yang sudah masuk ruang sidang.
"Eh elu mau kemana,Bang?"tanya Ucok yang melihat Bambang berdiri memegang hp dan meninggalkan dirinya sendiri.
"Aku mau telepon ibu ku. Mau minta ridho dan restunya biar sidang ku lancar hari ini. Kau juga telepon lah mamak kau,Cok! Gak usah gengsi!"Bambang pergi menuju taman kecil dekat ruang sidang dan menelepon ibunya.
__ADS_1
Jangan lupa minta ridho dan restu kedua orang tua kita ya guys... tanpa mereka kita tidak akan bisa menikmati indahnya dunia ini dan tanpa doa-doa baik mereka kita tak akan bisa menggapai cita-cita kita.
We have to remember "Ridho orang tua itu Ridho nya Sang Pencipta, Murka orang tua itu Murka nya Sang Pencipta."