Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
"Tolong jaga anakku"


__ADS_3

Suasana di rumah sakit sunyi dan sepi. Hanya ada beberapa perawat dan keluarga pasien yang hilir mudik di lorong ruangan. Masih ada beberapa polisi yang berjaga di ruang rawat inap dimana Tika di rawat. Dokter Rian dan seorang suster datang ke ruangan itu dengan membawa tempat tidur kecil kedalam ruangan itu. Sebelum memasuki ruangan itu, mereka harus lapor dulu dengan Komandan Geri.


Setelah mereka berdua diizinkan untuk masuk kedalam ruangan dengan syarat harus didampingi salah satu petugas polisi. Dokter Rian segera mendekati Tika yang sedang berbaring lemas setelah melakukan operasi cesar. Dia pun mengecek alat pernafasan dan detak jantung yang terpasang di tubuh Tika.


Saat sedang berdiskusi dengan suster, tiba-tiba tangan Tika menyentuh jari jemari Dokter Rian. Dokter Rian pun terkejut dan dia segera mendekati wajah Tika.


"Tika...Tika...ini aku Rian. Kamu dengar aku kan?"ucap Dokter Rian.


Tika mencoba membuka kedua matanya, setelah itu dia melirik ke arah Rian. Tika mencoba berbicara kepada Rian tapi suaranya tidak terdengar dengan jelas disebabkan alat oksigen yang terpasang di hidungnya. Melihat Tika kesulitan berbicara, Rian melepaskan alat tersebut.


"Apa yang ingin kamu katakan Tika?"tanya Dokter Rian sambil mengusap-usap wajah Tika.


"Ri..Ri..an..di..maa..naa..bayi ku?" Tika berusaha berbicara dengan terbatah-batah.


"Bayi mu ada...aku bersyukur anak mu sehat dan tak kekurangan satu apapun. Kamu ingin melihatnya?"tanya Rian.


Tika tidak menjawab pertanyaan Rian, dia hanya mengangguk.


Dokter Rian meminta suster untuk membawa bayi Tika mendekat. Suster itu pun menggendong bayi tersebut dan mendekatkan bayi itu ke wajah Tika. Tika pun melihat bayinya dengan wajah penuh bahagia. Dia berusaha mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh bayi tersebut tapi apa daya, tenaganya belum terisi semua.


"Jangan di paksakan, Tika. Simpanlah tenagamu, nanti kamu akan sangat memerlukan tenaga yang banyak untuk mengurus anakmu yang cantik itu."ucap Dojter Rian.


Mendengar ucapan Dokter Rian, Tika baru tahu kalau anaknya perempuan. Dia memang jarang memeriksakan kandungannya selama ini karena dia sibuk memikirkan ayah dari bayinya tersebut.


"A..anakku..perempuan, Rian?"tanya Tika.


"Iya Tika. Anakmu cantik, putih dan dia punya bibir merah merona seperti dirimu."jawab Dokter Rian.


Mendengar jawaban Rian, Tika tersenyum malu.


"Aku hanya mau lihat wajahnya saja Rian. Boleh kan?"


"Tentu saja boleh. Kamu ingin duduk tegak?"


"Iya."


"Baik. Aku akan mengatur posisi ranjangmu dulu. Tunggu sebentar ya..."


Dokter Rian mengatur ranjang yang di tiduri Tika, sehingga dia bisa duduk tegak.

__ADS_1


"Terima kasih."


"Sama-sama."


"Tolong berikan bayi itu kepada ibunya,sus."Pinta Dokter Rian kepada suster.


"Baik dok."Suster itu pun meletakkan bayi itu kepangkuan Tika.


Saat menatap dan memegang jari jemari bayi mungil itu, tak terasa Tika mengeluarkan air mata. Dia tak bisa membendung rasa sedih dan bahagia yang sedang berkecambuk di dalam hatinya.


"Cantik...terima kasih telah berjuang bersama mama. Maafkan mama ya...belum bisa memberikan yang terbaik buat kamu. Hiks...hiks...hiks..."Tika sambil menangis di hadapan bayi mungilnya.


"Maafkan mama juga...belum bisa membebaskan papamu dari jeruji besi. Mama sudah berjuang nak...apa daya mama gagal. Hiks...hiks...hiks..."


"Maafkan papamu...dia belum bisa mengadzankanmu."


"Aku sudah mengadzankan anakmu ketika dia baru lahir."sahut Dokter Rian.


"Kamu yang mengadzankan bayi ku?"tanya Tika heran.


"I..iya. Tidak boleh ya?"


"Boleh. Aku senang jika kamu yang melakukannya. Terima kasih, Rian."


"Sama-sama."


"Tidak apa-apa,Tika. Santai saja."


Ketika Tika dan Rian sedang berbicara, Komandan Geri datang bersama Babe Zaenab.


"Tangkap aje itu perempuan, Komandan! Ane empet lihat muke dia!"ucap Babe kesal sambil menunjuk ke arah Tika.


"Sabar pak...sabar...Saya mohon agar bapak sabar dan tenang. Ini rumah sakit pak...biarkan kami melakukan pekerjaan kami."ucap Komandan Geri.


"Oke. Tapi izinin aye berada disini komandan. Aye janji bakalan diam aje."ucap babe.


"Baik. Terima kasih kerjasamanya pak."


Babe Zaenab berdiri di belakang Komandan sembari menatap tajam Tika dan Dokter Rian.

__ADS_1


"Selamat pagi Ibu Tika dan Dokter Rian. Saya Komandan Geri, maaf mengganggu waktu istirahat ibu."ucap Komandan Geri.


"Pagi komandan. Bukankah ini waktu yang kurang tepat untuk berkunjung?"tanya Dokter Rian.


"Maafkan saya dok...Saya tidak ingin kecolongan untuk ketiga kalinya. Jadi saya mohon waktunya ibu Tika."


"Komandan...Tika ini baru juga sadar dan dia butuh istirahat untuk memulihkan tenaga dan badannya pasca operasi sesar. Jadi saya mohon tolong biarkan Tika istirahat dua atau tiga jam saja komandan."


Mendengar Dokter Rian membela Tika, Babe Zaenab kesal.


"Ente itu gak profesional dok! Mentang-mentang dokter cinta sama itu perempuan, ente bela! Ente kan tau dia sudah melakukan tindak kriminal sama anak ane, masih aje dibela!"celetuk Babe Zaena emosi.


Tika langsung menatap wajah Rian setelah mendengar ucapan Babe Zaenab. Tika baru sadar, selama ini Rian selalu melakukan apa pun untuk Tika, hal itu dilakukan karena Rian menaruh hati kepadanya. Rian yang di tatap oleh Tika langsung menggenggam tangan Tika seakan ingin mengatakan bahwa 'semuanya akan baik-baik saja'.


"Pak Rojali...saya mohon bapak tunggu di luar saja. Saya jamin Bu Tika tidak akan kemana-mana."ucap Komandan Geri.


"Baik. Aye percaya sama komandan."sahut Babe Zaenab.


"Memang lebih baik aye di luar, daripada di dalam ruangan ini. Ane sudah emosi pengen langsung cekik itu perempuan!"sambung Babe Zaenab yang langsung keluar ruangan.


"Rian...tolong bawa kembali bayiku. Biarkan aku bicara empat mata dengan Komandan Geri."ucap Tika.


"Tapi Tika...kondisi mu masih lemah. Kamu perlu istirahat yang cukup."ucap Rian.


"Aku akan baik-baik saja karena aku berada di tangan dokter yang handal. Lagipula aku hanya ingin bicara dengan komandan, dia pun tidak akan menyakitiku."Tika menenangkan Rian yang sedang memasang wajah khawatir.


"Tapi Tika..."


Tika memberikan tanda isyarat agar mendekatkan wajahnya ke arah Tika.


"Rian...aku mohon...tolong jaga anak ku ya..."bisik Tika.


"I..iya.."ucap Rian ragu-ragu.


"Terima kasih."Tika menggenggam tangan Rian denga penuh lembut dan kehangatan.


"Komandan...saya sudah siap."sahut Tika.


"Baiklah. Saya minta dokter dan suster segera keluar dari ruangan ini."perintah Komandan Geri.

__ADS_1


Dokter Rian menggendong bayi mungil Tika keluar ruangan bersama suster yang tadi menemaninya. Saat suster menutul pintu ruangan itu, Rian masih dapat melihat wajah Tika tersenyum kepadanya.


"Ya Tuhan...apa yang akan kamu lakukan sekarang Tika..."ucap Dokter Rian dalam hati.


__ADS_2