
Bambang dan Siska pergi ke minimarket meninggalkan Zaki berdua dengan Tania di teras depan. Zaki semakin bingung entah apa yang harus dia katakan kepada Tania. Dia hanya menundukkan pandangannya, sesekali melihat ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa kamu sekarang jadi pendiam?"tanya Tania yang membuka percakapan terlebih dahulu.
"Tidak apa-apa. Bagaimana keadaan mu? Lukanya sudah sembuh?"tanya Zaki.
"Puji Tuhan aku sudah sehat taaappiii..."Tania ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi kenapa?"tanya Zaki penasaran.
"Tapi hatiku sakit karena kamu tidak pernah menjenguk ku selama aku di rumah sakit."Tania menundukkan kepalanya, seketika matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf...aku sangat sibuk dengan sidang ku dan sibuk mengurus masalah Zaenab, adik ku."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kemarin aku sempat telepon Bambang dan dia menceritakan apa yang menimpa Zaenab, adik mu. Aku turut prihatin ya, Ki..."ucap Tania.
"Terima kasih perhatiannya."jawab Zaki.
"By the way, terima kasih kamu sudah menolongku saat aku tertabrak mobil waktu itu dan kamu juga yang sudah membawaku ke rumah sakit. Tuhan sangat baik sekali kepada ku, mengirim malaikat setampan dan sebaik dirimu. Aku beruntung memilikimu."ucap Tania sambil menggenggam tangan Zaki.
"Tuhan sangat baik, hanya kita saja yang kurang bersyukur kepadanya sehingga kita menjadi manusia yang tak tau terima kasih."ucap Zaki sembari melepaskan genggaman tangan Tania.
"Ya...kamu benar sekali. Aku adalah contoh manusia yang tak tau terima kasih..."Tania menundukkan wajahnya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"tanya Zaki heran.
"Akhir-akhir ini aku marah dengan apa yang Tuhan ku lakukan pada ku. Dia memberikan aku cobaan yang tiada hentinya, Ki... Kamu sudah dengar kalau aku dan Sherly di D.O.(Droup Out) oleh pihak kampus?"
"Iya...aku dengar dari Siska, sepupu mu. Aku turut perihatin, Tan.."
"Terima kasih."
__ADS_1
"Karena aku di D.O orang tua ku mengusir ku dari rumah, karena bagi mereka aku ini anak yang membawa aib memalukan di keluarga...hiks hiks hiks..."Tania menangis dihadapan Zaki.
"Aku tak tau harus memulai darimana untuk berbicara jujur padamu,Ki...hiks hiks hiks..."
"Sebenarnya kamu mau bicara jujur apa sama aku?"
"Aku...aku...aku ingin mengakui dosa yang sudah lama aku tutupi darimu. Setelah aku berbicara jujur, aku berharap kamu mau memaafkan ku."
"Aku ini bukanlah pendeta atau pastur yang biasa mendengarkan pengakuan dosa yang biasa agama mu lakukan. Aku bukan manusia suci seperti mereka. Tapi baiklah...aku akan mendengarkanmu. Apa yang ingin kamu katakan?"
"Zaki...aku...aku ini bukanlah perempuan baik-baik. Aku ini... penggoda suami orang. Jika orang-orang beranggapan aku adalah seorang p*****r tapi aku tidak melakukannya demi uang. Aku bisa mendapatkan uang yang banyak dari papa ku. Hanya saja aku melakukan ini demi..."Tania tak mampu untuk melanjutkan ucapannya. Zaki hanya diam dan menunggu kelanjutan kata-kata yang akan diucapkan Tania.
"Demi... nilai di transkrip kuliah dan...aku haus kasih sayang dan perhatian dari orang tua ku...hiks hiks hiks.."Tania kembali menangis. Zaki yang melihatnya hanya diam dan menarik nafas dalam-dalam.
"Aku menggoda dosen di kampus agar nilai ku di transkrip A, kenapa aku lakukan ini? Agar aku bisa menyeimbangkan diri ku dengan mu yang pintar, cerdas, dan idola di kampus. Apalagi kamu lulus dengan nilai sangat memuaskan alias cum laude...hiks hiks hiks..."Tania menangis lalu dia mengahapus air mata di pipinya sambil menatap wajah Zaki.
"Kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak kaget atau marah sama aku, Ki? Atau...atau kamu sudah tau semua tentang diriku yang sebenarnya?"Tania memberondong pertanyaan kepada Zaki.
"Jangan kamu diam saja! Marahi aku! Tampar aku kalau perlu! Aku perempuan hina, kotor dan murahan!"Tania kembali menangis sambil menarik-narik baju Zaki. Tania terduduk di lantai dekat kursi yang Zaki duduki.
"Bangunlah...jangan duduk seperti itu."Zaki membangunkan Tania yang duduk di lantai dan mendudukkannya di kursi.
"Ayo minum dulu..."Zaki memberikan sebotol air mineral kepada Tania.
"Tarik nafas yang dalam lalu buang perlahan...huuufftt..."Zaki memberikan contoh kepada Tania agar dia bisa menenangkan dirinya. Tania pun mengikuti saran Zaki berulang-ulang sampai hati dan pikirannya tenang.
"Kamu sudah tenang? Sudah lebih baikan?"
"Iya"jawab Tania singkat.
"Tania...sejujurnya aku sudah tau perilaku mu di luar sana seperti apa. Aku punya bukti akurat apa saja yang kamu lakukan setiap hari. Masalah kamu bermain api dengan dosen di kampus, aku pun tahu dari Bu Silvi, pembimbing ku. Saat aku bimbingan dengan beliau, dia menceritakan semua tentang hubungan kamu dengan suaminya. Waktu dia bercerita tentang perselingkuhan suaminya dengan mu, dia sangat terpukul dan menangis di hadapan ku. Kamu tau apa yang ku rasakan pada waktu itu? Hati ku hancur...sangat hancur! Perempuan yang aku cinta dan sayang, ternyata melakukan hal yang diluar nalar ku."
__ADS_1
Mendengar ucapan Zaki, Tania terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kamu ini wanita sama seperti Bu Silvi. Seharusnya sesama wanita, kamu harus saling menghargai dan menghormati bukan menghancurkan kehidupan wanita lain. Aku benar-benar kecewa kepada mu! Begitu teganya kamu merusak kehidupan rumah tangga wanita lain padahal kamu ini seorang wanita. Bagaimana jika hal yang di alami oleh Bu Silvi, suatu hari nanti akan terjadi padamu? Aku tak habis pikir, kamu bermain api dengan dosen kamu sendiri yang jelas-jelas dia lebih pantas menjadi ayah mu bukan pacar mu."ucap Zaki sambil beranjak dari kursinya dan berdiri mengahadap jalanan.
"Kalau memang alasannya hanya nilai dan kamu ingin menyeimbangkan dengan ku, kamu salah besar! Aku menyukai mu karena aku melihat sikap dan sifat mu di depan ku sangat baik. Siapa yang tak kenal 'Tania' wanita sexy, cantik, modis dan kaya. Semua orang di kampus tau kamu ini 'gadis kampus' dan tadinya ku pikir, aku salah satu orang yang beruntung mendapatkan mu. Ternyata aku memilih wanita yang salah!"ucap Zaki dengan nada tinggi.
"Zaki...maafkan aku...maafkan aku. Aku berjanji, aku tidak akan melakukan hal tersebut lagi. Aku janji pada mu tapi tolong maafkan aku...hiks hiks hiks"Tania memohon kepada Zaki.
"Tuhan saja Maha Pemaaf, aku sebagai umatnya pasti akan memaafkan mu."
"Terima kasih Zaki...aku benar-benar tidak salah pilih calon suami seperti kamu."Tania menghapus air matanya dan tersenyum dihadapan Zaki.
"Aku memaafkan mu tapi bukan berarti hubungan kita berjalan seperti kemarin. "
"Apa maksud mu, Ki? Kita putus? Dari kapan?"
"Dari sejak aku mengantar mu ke rumah sakit malam itu. Dari situlah aku memutuskan untuk mengakhiri kisah kasih kita, Tan..."
"Apa? Kenapa? Aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Aku bersumpah! Aku siap bersumpah diatas Alkitab. Siska...Siska..."Tania berteriak memanggil Siska yang sedang berjalan menuju rumah Zaki bersama Bambang dan Ucok. Siska pun berlari tergesa-gesa menghampiri Tania yang memanggilnya.
"Huft...Huft... Huft...Ada apa,Tan?"tanya Siska yang sedang kelelahan berlari.
"Apa kamu membawa Alkitab?"
"Aku selalu bawa. Ada apa ya?"wajah Siska bingung dengan pertanyaan Tania.
"Aku pinjam dulu! Cepat keluarkan!"perintah Tania dengan nada tinggi.
"Ini Tan..."Siska menyodorkan Alkitab kecil yang selalu dibawa Siska setiap hari di tasnya.
"Lihat Zaki! Aku berani bersumpah di atas Alkitab bahwa aku tidak akan melakukan hal itu lagi asalkan kamu mau kembali kepada ku,Ki... aku mohon..."Tania mencoba menggenggam tangan Zaki tapi di tangkisnya.
__ADS_1
"Sudah terlambat!"jawab Zaki singkat.