Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Kacang lupa akan kulitnya


__ADS_3

Babe dan Dani pergi dengan mobil menuju alamat rumah Dokter Mira. Lokasi rumah ibu Mira sangatlah jauh, mereka harus melewati hutan belantara, tebing yang tinggi, jurang yang terjal dan hamparan sawah yang luas.


Setelah menghabiskan waktu dua jam menyetir mobil, akhirnya Dani mematikan mesin mobil. Dia menghela nafas panjang sembari mengecek kebenaran lokasi rumah Mira yang di berikan teman kuliahnya tersebut. Dani memfoto rumah dimana dia memarkirkan mobilnya dan mengirimkannya kepada teman kuliahnya. Setelah teman kuliahnya membalasnya, dia pun membangunkan Babe Rojali yang sedang tertidur pulas di kursi sebelahnya.


"Cang...cang...cang...bangun cang..."ucap Dani sambil menggoyang-goyangkan badan Babe Rojali.


"Eh...ada ape elu bangunin gue?"tanya babe.


"Kita udah nyampe,cang."ucap Dani.


"Serius elu? Cepet banget ye...padahal gue baru lima menit rebahan."ucap babe .


"Lima menit dari Hongkong! Tidur pulas dan ngorok begitu dibilang rebahan!"gumam Dani dalam hati.


"Elu kenape diem sambil menatap gue begitu? Elu pasti ngomongin gue dalam hati, bener kan?"tanya babe menduga-duga.


"Eh...kagak Cang. Encang su'uzon aje sama aye!"jawab Dani kesal.


"Tampang elu mencurigakan! Ayo deh kita keluar sekarang!"ucap babe sembari keluar dari mobil.


"Sialan! Gue di curigain melulu. Emangnya gue copet ape?!"gumam Dani dalam hati.


"Dannniii....cepetan!"teriak babe.


"Iiiyeee cang..."jawab Dani sambil keluar dari mobilnya.


Babe masih menatap rumah mungil nan sederhana. Rumah itu di tutupi genteng yang sebagian sudah mulai retak. Rumah itu pun hanya memiliki dua kaca jendela nako yang salah satu bagian kaca nako tersebut entah hilang atau pecah dan di ganti dengan sebuah teriplek. Rumah itu pun tak secerah dan seindah rumah yang ada di sekitarnya. Tembok rumah hanya di lapisi oleh batako yang tak di semen ataupun di cat. Di depan teras terdapat sebuah kursi kayu yang lapuk di makan rayap. Babe menatap Dani sekilas, dari tatapannya dapat dilihat bahwa Babe sangat terkejut dengan kondisi rumah orang tua Mira. Dia tidak percaya, bagaimana bisa orang tua Dokter Mira menyekolahkan anaknya di fakultas kedokteran,jika keadaan rumahnya seperti ini. Semua orang juga tau bahwa menyekolahkan anaknya di sekolah kedokteran memerlukan uang yang tak sedikit.


"Ayo cang...kita masuk. Keburu gosong kalau kita berdiri disini terus."ucap Dani.


"Oke."jawab babe singkat.


Dani dan babe pun berdiri di depan pintu masuk rumah orang tua Dokter Mira. Dani mengetuk dan mengucap salam di depan pintu rumah tersebut.


"Tuk Tuk Tuk"bunyi ketukan pintu.


"Assalammualaikum"ucap Dani.


Dani menunggu sangat lama jawaban dari dalam rumah. Lalu dia mencoba mengetuk kembali pintu rumah itu dan mengucapkan salam.

__ADS_1


"Assalammualaikum"


"Waalaikumsalam"suara jawaban seseorang dari dalam rumah tersebut. Orang tersebut membuka pintu lebar dan menatap sosok dua orang laki-laki berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kalian siapa? Mau mencari siapa?"tanya wanita paruh baya yang terlihat rapuh.


"Maaf mengganggu bu... Saya Dani, teman kuliahnya Mira dan ini paman saya."jawab Dani.


"Oohh...temannya Mira. Jarang sekali teman sekolah Mira main kesini. Mari silahkan masuk..."ajak Ibu Mira.


Babe dan Dani masuk kedalam rumah itu. Tak ada furnitur yang bagus dan mewah di dalam rumah itu. Hanya ada sebuah televisi tabung, sebuah kipas angin kecil dan tikar yang sudah robek di mana-mana. Ibu Mira mempersilahkan Babe dan Dani duduk di tikar tersebut. Saat duduk di tikar, babe melihat sekeliling ruangan dalam rumah itu.


Lantai rumah itu beralaskan semen, atapnya pun tak di tutupi sehingga terlihat jelas genteng atap rumah tersebut. Di rumah tersebut terdapat dua kamar yang hanya di tutupi hordeng bolong sehingga babe dapat melihat sedikit keadaan dalam kamar tersebut dari celah yang bolong itu.


Babe menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian Ibu Mira muncul dengan langkah tertatih membawa sebuah nampan yang berisi dua gelas air teh hangat. Dia meletakkan nampan tersebut di hadapan babe dan Dani.


"Silahkan di minum pak...mas...maaf hanya teh tawar hangat. Saya belum sempat beli gula di warung."ucap Ibu Mira mempersilahkan babe dan Dani.


"Terima kasih bu. Tidak usah repot-repot."jawab babe.


"Tidak pak...saya sama sekali tidak di repotkan. Saya sangat senang ada tamu yang datang ke gubuk saya yang kumuh ini."ucap Ibu Mira.


"Maaf...bapak dan mas nya ini ada keperluan apa datang kesini? Anak saya Mira buat masalah lagi ya di kota? Duuhh...itu anak gak pernah berubah dari dulu, selalu buat masalah."ucap Ibu Mira.


"Eh tidak bu... kami datang kesini hanya untuk silaturahmi."jawab Dani.


"Tidak apa-apa mas. Jujur saja...saya sudah terbiasa di datangi orang asing yang marah-marah karena anak saya buat masalah di kota atau di datangi rentenir karena Mira pinjam uang puluhan juta tapi tidak di bayar bertahun-tahun. Sehingga saya harus merelakan rumah warisan orang tua saya dan harta saya untuk membayar hutang Mira. Tak ada sepeser pun yang saya miliki sekarang. Tanah dan bangunan rumah ini pemberian dari warga sini. Untuk makan saja saya harus menjual gorengan dulu pak, modalnya pun pinjam dari tetangga."ucap Ibu Mira.


"Maaf bu...kalau boleh tau, bagaimana anak ibu bisa kuliah kedokteran?"tanya babe.


"Oohh... alhamdulillah karena Mira pintar dan sering mendapat peringkat kelas, dia mendapatkan beasiswa masuk ke kampus negeri tapi...."Ibu Mira berhenti berbicara sejenak.


"Pihak kampus hanya menggratiskan biaya kuliah untuk satu semester saja, sisanya kakak saya yang membiayai kebutuhan Mira dari bayar kos, uang makan, uang transport dan uang kuliahnya tiap semester. Alhamdulillah...kakak saya ekonominya lebih baik dibandingkan saya."lanjut Ibu Mira.


"Jadi Mira tinggal dengan kakak ibu di kota?"tanya babe.


"Oh tidak pak...sekarang dia nge-kos di dekat tempat magangnya. Dulu pernah dia tinggal sama kakak saya tapi hanya satu tahun karena dia tidak cocok dengan sepupunya, Tika."jawab Ibu Mira.


"Kenapa Mira tidak cocok dengan Tika, sepupunya sendiri, bu? tanya Dani.

__ADS_1


"Dulu Mira pernah cerita kalau Tika itu selalu memerintah dia dan menganggap Mira pembantunya. Lalu saya menasihati Mira untuk sabar menghadapi Tika. Karena Tika itu anak satu-satunya dan selalu di manja oleh kedua orangtuanya, jadi semua orang harus patuh pada perintah dia. Apalagi Mira di biayai hidupnya oleh Ayahmt Tika, mau tak mau dia harus menuruti apa yang di ucapkan Tika."jawab Ibu Mira.


"Lalu apa Mira sering pulang kesini,bu?"tanya Dani.


Ibu Mira diam sejenak...dia menunduk lama dan terlihat air mata jatuh di pipinya.


"Hiks...hiks...hiks...tidak sama sekali, mas. Jangankan datang menjenguk saya, menelepon atau mengirimkan surat kepada saya pun tidak...hiks...hiks...hiks..."ucap Ibu Mira sambil menangis.


Babe dan Dani menatap iba Ibu Mira. Dia tak menyangka Mira bisa setega itu kepada ibu kandungnya sendiri.


"Sabar bu...sabar..."ucap Dani sembari memberikan sapu tangannya untuk Ibu Mira.


"Terima kasih mas..."ucap Ibu Mira mengambil sapu tangan dan mengelap air mata yang jatuh di pipinya.


"Kalau boleh saya mau minta alamat rumah om dan tantenya Mira di kota bu. Mungkin saya bisa membujuk Mira untuk pulang menemui ibu."ucap Dani.


"Saya punya mas...sebentar saya ambilkan alamatnya ya..."Ibu Mira berdiri meninggalkan babe dan Dani menuju kamarnya.


Tak lama kemudian, Ibu Mira datang membawa sebuah amplop kuning keemasan yang terlihat sangat mewah.


"Alhamdulillah...saya masih simpan amplop pemberian kakak saya. Biasanya kalau mau puasa dan lebaran, kakak saya mengirimkan uang untuk saya. Saya selalu menyimpan amplopnya untuk berjaga-jaga, sewaktu-waktu saya ada uang lebih bisa ke kota menjenguk kakak dan anak saya. Ini pak...mas..."ucap Ibu Mira sambil menyodorkan amplop tersebut.


"Boleh saya simpan, bu?"tanya Dani.


"Silahkan mas...saya masih ada."ucap Ibu Mira ramah.


"Baiklah... kami permisi dulu ya bu...hari sudah sore. Kami mau kembali ke kota."ucap babe.


"Terima kasih sudah berkunjung ke gubuk saya yang kumuh ini. Maaf saya tidak punya makanan yang layak untuk disajikan kepada bapak dan mas."


"Tidak apa-apa bu... kami tidak mau merepotkan ibu."jawab Dani.


"Oh ya mas... titip salam kalau ketemu Mira, bilang saya kangen sekali sama dia."


Dani terhenyak mendengar ucapan ibu Mira.


"Baik bu. Nanti akan saya sampaikan. Kami permisi dulu ya bu..."ucap Dani.


"Terima kasih. Hati-hati di jalan ya mas...pak..."ucap Ibu Mira sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2