Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Amplop cokelat


__ADS_3

Andi dan Komandan Geri duduk di sebuah kafetaria rumah sakit. Mereka duduk saling berhadapan. Komandan Geri menatap Andi secara intens sedangkan yang di tatap hanya menundukkan kepala.


"Baik. Ceritakan secara lengkap apa yang kamu ketahui mengenai kasus yang menimpa Zaenab kali ini."ucap Komandan Geri.


"Boleh kah aku minta teh manis hangat, komandan? Setelah itu aku akan menceritakan semua yang aku ketahui."ucap Andi yang masih menundukkan kepala.


"Tentu saja boleh. Anak buah ku akan membelikannya untuk mu."ucap Komandan Geri sembari memanggil anak buahnya dan memberikan selembar uang seratus ribu kepada anak buahnya itu.


"Tunggu lah sebentar. Lebih baik kamu tenangkan diri dulu."sambung komandan.


"Baik komandan."


Lima menit kemudian, anak buah komandan datang dengan membawa satu keresek berisi tiga kotak nasi dan tiga gelas minuman hangat. Anak buah Komandan Geri meletakkan dua buah nasi kotak, segelas teh manis hangat dan segelas kopi pahit hangat di meja yang di tempati Komandan dan Andi. Sisanya untuk anak buah komandan yang duduknya tidak berjauhan.


"Kamu makan saja dulu setelah perut mu terisi baru kamu boleh cerita."


"Aku tidak butuh makanan komandan. Yang ku butuhkan hanyalah teh manis hangat ini."ucap Andi sembari mengangkat segelas teh manis hangat pemberian komandan.


"Makan saja dulu. Aku tau kamu belum makan dari pagi, terlihat jelas wajah mu pucat dan tangan mu gemetar. Bukan karena kamu takut bertemu dengan ku tapi kamu kelaparan. Makan dulu lah...kami akan ikut makan juga bersama mu."ucap Komandan Geri sembari melirik ke arah anak buahnya.


Andi menyadari apa yang di ucapkan oleh Komandan Geri ada benarnya. Dia memang belum sarapan dari pagi karena dia berharap bisa sarapan bersama dengan Zaenab setelah berolahraga tapi apa yang dia harapkan tak sesuai rencana.


Andi menikmati nasi kotak yang tadi dibelikan anak buah komandan. Dia makan dengan lahap. Karena tenaganya sudah terkuras habis saat mencari Zaenab di taman tadi. Setelah menghabiskan makanan dan minumannya. Andi beristirahat sejenak di kursinya lalu dia teringat dengan amplop cokelat yang berada di genggaman tangan Zaenab saat dia menemukan Zaenab pingsan di gorong-gorong taman. Saat Andi ingin diinterogasi oleh Komandan Geri, Pak Budi duduk di belakang Andi sembari memperhatikan apa yang di bicarakan antara Andi dan Komandan Geri.


"Ini komandan..."Andi menyodorkan amplop cokelat ke hadapan Komandan Geri.


"Apa ini?"


"Komandan buka saja."

__ADS_1


Komandan Geri membuka amplop cokelat tersebut dan alangkah terkejutnya dia melihat isi amplop tersebut.


"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini? Apa kamu mencuri uang orangtua mu?"tanya Komandan.


"Itu bukan uang ku. Itu uang yang kudapatkan dari genggaman tangan Zaenab saat aku menemukan dia pingsan di gorong-gorong taman."


"Darimana Zaenab mendapatkan uang tersebut?"


"Dari seorang pria paruh baya. Pria tersebut ada di tempat kejadian. Aku melihat pria paruh baya itu yang melepaskan ikatan di tangan dan kaki Zaenab serta melepaskan kain yang menyumpal mulut Zaenab."


"Siapa pria itu?"


"Aku juga tidak tau, karena aku terlalu sibuk meminta bantuan jadi tidak memperhatikan komandan."


"Tolong kamu ceritakan kronologisnya, saya akan merekamnya dengan alat ini!"ucap komandan sembari meletakkan alat perekam suara yang di berikan anak buahnya.


"Baik komandan."


"Kenapa kamu seyakin itu kalau Zaenab tidak tersesat?"tanya komandan


"Karena setiap bulan berolahraga di taman hutan merupakan salah satu program kegiatan sekolah, jadi semua siswa wajib menghadiri kegiatan ini."


"Oohh...ok. Lanjutkan!"


"Aku dan dua orang teman sekelas ku mencari Zaenab di pinggir-pinggir taman. Saat aku dan kedua teman ku berjalan, kami menemukan obat luka dan plester yang aku beli di stasiun untuk mengobati luka Zaenab."


"Dari mana kamu tau kalau itu obat luka dan plester yang kamu beli?"


"Karena masih ada struk harga yang menempel di obat luka dan plester tersebut. Ini obat luka dan plesternya serta struk pembelian di minimarket."ucap Andi sembari menyodorkan barang bukti.

__ADS_1


"Hmm...ini cocok sekali. Saya ambil untuk barang bukti ya..."ucap komandan. Andi pun mengangguk tanda bahwa dia menyetujui permintaan komandan.


"Entah kenapa aku merasa harus mencari Zaenab di sekitar semak-semak dan gorong-gorong (saluran air) yang jarang di datangi oleh pengunjung. Lalu aku mendengar seorang perempuan berteriak. Aku dekati sumber suara tersebut dan aku terkejut melihat Zaenab berlutut di depan perempuan muda yang sedang hamil tersebut dengan kondisi tangan dan kaki terikat tali serta mulutnya di sumpal dengan sebuah kain. Aku sempat mengambil foto perempuan itu untuk berjaga-jaga. Sebentar komandan..."Andi mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan membuka galeri foto lalu menunjukkan kepada komandan.


"Ok. Ajudan tolong kamu kirimkan foto ini ke email ku dan kantor."perintah komandan ke anak buahnya.


"Siap komandan!"jawab anak buah komandan.


"Kamu melihat siapa lagi selain perempuan yang sedang hamil itu di tempat kejadian? Bagaimana uang yang di amplop cokelat ini bisa ada di tangan Zaenab?"


"Di tempat kejadian itu...aku melihat perempuan hamil itu di dampingi oleh seorang pria berbadan kekar seperti seorang pengawal (bodyguard). Perempuan itu menganiaya Zaenab dengan cara menampar wajah Zaenab berkali-kali. Kalau aku tidak salah dengar, perempuan itu menyalahkan Zaenab atas apa yang terjadi dengan calon suami atau calon bapak dari bayi yang dia kandung."


"Apa maksud mu?"


"Perempuan hamil itu bilang kalau gara-gara Zaenab calon suaminya di penjara. Dia juga menyebut nama calon suaminya itu, namanya Ari. Iya...Ari...itu yang aku dengar."


"Ari?? Apa ini ada kaitannya dengan pak guru kalian? Pak Supari?"tanya komandan.


"Entahlah komandan. Aku lanjutkan ceritanya... Tak berapa lama kemudian datang seorang pria paruh baya menghampiri perempuan tersebut. Sepertinya pria tersebut ayah dari perempuan hamil itu."


"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?"


"Karena pria paruh baya itu meminta agar perempuan hamil itu pulang ke kampung halamannya karena ibunya sedang sakit. Pria tersebut juga meminta agar perempuan hamil itu berhenti menyiksa Zaenab. Lalu perempuan hamil itu pergi bersama dengan pengawal yang berbadan kekar. Sedangkan pria paruh baya itu melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Zaenab serta melepaskan kain yang menyumpal mulutnya. Ku lihat keadaan Zaenab sangat lemah, lalu pria paruh baya itu menyenderkan Zaenab di tembok gorong-gorong. Pria tersebut meletakkan amplop cokelat itu di kedua telapak tangan Zaenab. Pria itu bilang gunakan uang ini untuk mengobati luka-luka Zaenab dan meminta Zaenab untuk tidak melaporkan kejadian ini ke polisi. Setelah itu pria paruh baya itu pergi meninggalkan Zaenab yang lemas dan tak sadarkan diri."


"Baik. Berarti ada tiga tersangka yang harus kami tangkap segera! Kami sudah mendapatkan wajah perempuan yang menganiaya Zaenab tinggal dua pelaku lagi yang tidak diketahui wajahnya."


"Aku bisa mendeskripsikan wajah kedua pria tersebut,komandan."


"Ok. Saya akan menghubungi petugas yang akan mengsketsa wajah kedua tersangka. Tolong kamu ingat-ingat wajah kedua tersangka itu."

__ADS_1


"Baik komandan!"


Komandan dan anak buahnya pergi meninggalkan Andi yang masih duduk di kafetaria rumah sakit. Dia masih menunggu Bang Zaki dan kedua orangtua Zaenab datang. Pak Budi yang dari tadi duduk di belakang Andi hanya menyimak cerita yang Andi ceritakan kepada Komandan Geri.


__ADS_2