
Selesai makan siang bersama, teman-teman Zaenab pulang ke rumahnya masing-masing, sedangkan dua sahabat Zaki masih bertahan di rumahnya. Melihat Bambang dan Ucok yang sedang bernyanyi sembari bermain gitar di teras, akhirnya babe menegur mereka.
"Eh elu berdua dari kemarin di rumah gue melulu, kenapa gak pulang?"tanya babe.
"Aku betah disini,Be... Kalau bisa aku mau ngekos disini be...hehehe"jawab Ucok.
"Biar elu bisa makan gratis terus tiap hari?"
"Gak gitu juga be... nanti aku bayar sewa kos dan makannya tiap awal bulan tapi pas akhir bulan, aku minta makan gratis ya be... maklum anak rantau...hehehe"
"Banyak bener akal bulus lu!"ucap Babe sewot.
Bambang yang mendengar ucapan Babe tertawa terbahak-bahak. Babe dan Ucok yang tidak suka dengan cara tertawanya Bambang langsung menatap sinis. Akhirnya Bambang menghentikan tawanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Zaki yang baru muncul selesai solat zuhur pun bingung melihat Babe dan Ucok melotot ke arah Bambang.
"Kenape sama Bambang,be?"tanya Zaki
"Ini temen elu, belum pernah babe patahin kaki nya sampai remuk kali ye...!"ucap Babe sewot.
"Babe lebih baik istirahat di kamar."
"Iye deh"jawab Babe.
"Elu berdua jangan nyanyi sama main gitar lagi! Gue mau tidur dengan tenang."
"Rest in Peace donk be..."celetuk Ucok.
"Eh sialan elu! Elu kira gue udah mati pake elu bilang begitu!"
"Lah...si babe ngerti arti 'Rest in Peace'?"tanya Ucok
"Eh Cok! Elu kira gue gak pernah datang ke pemakaman non muslim ape? Ini anak perlu gue ceburin ke empang belakang rumah kayaknya!"Babe tambah emosi. Zaki mengelus-elus lengan babe untuk menenangkan hatinya.
"Sorry sorry sorry be..."
"Sorry sorry! Elu makan tempe aja belagu ngomong bahasa Inggris segala!"
"Iya iya...maaf babe yang ganteng. Maafkan Ucok si anak bos batu bara ini yang tak bisa mengerem mulutnya yang seksi..."Ucok memohon maaf sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya.
"Elu ini...uuuggghhh!"Babe menahan emosi.
"Sudah babe istirahat aja di dalam. Jangan bawa ke hati ucapan Ucok!"Zaki menasihati Babe.
"Babe masuk dulu ki...jadi pusing nih kepala!"Babe bergegas masuk ke kamar.
"Kalian ini demen banget isengin babe gue!"ucap Zaki
"Itu si Ucok dari tadi ledekin babe terus!"ucap Bambang.
__ADS_1
"Udah-udah gak usah di bahas lagi!"ucap Zaki.
"Bang...nanti malam aku menginap di rumah mu ya...aku butuh refreshing nih...!"ucap Zaki.
"Kalau butuh refreshing bagaimana kalau kita jalan-jalan aja keluar kota."ucap Bambang.
"Bener juga idenya si Bambang. Kita kan belum merayakan kelulusan kita menjadi sarjana."ucap Ucok.
"Boleh juga ide mu, Bang. Lebih enak lagi kita mendaki gunung terus berkemah disana..."ucap Zaki.
"Gue setuju!"jawab Ucok.
"Gue juga setuju!"jawab Bambang.
"Gunung mana yang enak di daki ya?"tanya Bambang sembari berpikir.
"Kalau aku sih lebih suka dua gunung yang dimiliki model b**** Jepang kesukaan ku...hehehe"ucap Ucok sembari membayangkan model tersebut. Zaki dan Bambang yang mendengar ucapan Ucok hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Dasar mesum lu, Cok!"ucap Zaki sembari melemparkan taplak meja yang ada di depannya ke muka Ucok.
"Aku kasih air biar otak dan hati sampeyan bersih! Gak melamun yang jorok-jorok! Byuuurrr...."ucap Bambang sambil menyiramkan sebotol air mineral ke atas kepala Ucok.
"Aaahhh sialan kau, Bang! Basah kan baju dan celana ku! Aku ini sudah mandi pagi!"sahut Ucok kesal.
"Elu mandi lagi aje,Cok! Kamar mandi kosong tuh...!"ucap Zaki.
"Eh bawa-bawa suku kau ya! Dasar Batak mesum!"Bambang juga emosi.
"Hei kalian! Kalau mau ribut di halaman depan sana jangan disini!"ucap Zaki.
"Si Jawa ini kurang ajar sekali dia! Main nyiram-nyiram kepala ku!"
"Apa lu Batak? Ayo kalau berani tak lawan sampeyan!"
"Sudah sudah! Kalian kayak anak bocah aja! Ayo berdamai!"ucap Zaki.
"Kita ini tinggal di negara yang bermacam-macam suku,agama dan adat istiadat. Kita harusnya menghargai dan menghormati perbedaan donk...bukan malah saling menjelekkan suku! Ayo kalian saling minta maaf dan berdamai!"sambung Zaki.
Bambang dan Ucok masih saja saling memasang wajah marah.
"Kalau kalian tidak mau saling memaafkan dan berdamai, segera angkat kaki dari rumah gue! Gue males berteman sama orang-orang seperti kalian!"ancam Zaki.
Ucok dan Bambang akhirnya berhenti bertengkar, mereka pun kembali berdamai dengan saling bersalaman.
"Nah gitu donk...Kita jadi mau kemah kemana?"ucap Zaki.
"Bagaimana kalau ke Gunung Pangrango aja,Ki?"tanya Bambang.
__ADS_1
"Boleh juga. Menurut elu bagaimana,Cok?"tanya Zaki.
"Aku setuju-setuju saja yang penting refreshing sama kalian."jawab Ucok dengan santai.
"Ok...kita kesana naik motor lalu kita titipkan motor di warung-warung seperti biasa kalau kita kemah."ucap Zaki
"Kau atur saja,Ki. Aku manut wae!"ucap Bambang.
"Idem Bang!"
"Ok...kalau begitu aku siap-siap dulu. Kamu lebih baik mandi Cok, nanti aku pinjamkan baju dan celana ku."
"Ok. Aku mandi dulu...gara si k*****t ini!"Ucok menoyor kepala Bambang dengan tangannya.
"Kuurraapp!"teriak Bambang yang kesal dengan sikap Ucok.
Ucok langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di belakang rumah. Zaki yang melihat tingkah kedua temannya hanya bisa mengelengkan kepala.
Jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore. Zaki mengetuk pintu kamar orang tuanya, meminta izin pergi bersama kedua sahabatnya untuk mendaki gunung. Karena babe sedang tertidur lelap, jadi hanya emak yang memberikan izin. Tak lupa emak membawakan perbekalan makanan yang banyak untuk Zaki dan teman-temannya.
Bambang dan Ucok pun tak lupa mengucapkan terima kasih kepada emak yang mau direpotkan oleh mereka berdua. Mereka bertiga pamit dengan mencium tangan kanan emak. Mereka bertiga mengendarai motor masing-masing. Bambang yang tidak punya motor tapi punya SIM akhirnya meminjam motor Zaenab.
Mereka pertama kali transit di kos-an Ucok lalu transit lagi di rumah Bambang. Saat di rumah Bambang, Ibunya Bambang memarahi anaknya.
"Piye toh le...koe itu masih punya si mbok. Kabari si mbok kalau kamu menginap di rumah teman. Jangan gak kabari. Si mbok was was toh le mikirin sampeyan..."ucap ibunya Bambang sambil menjewer telinga anaknya.
"Ampun mbok...ampun...aku lali kabari si mbok. Maaf mbok..."ucap Bambang sambil meringis kesakitan.
"Awas kalau sampeyan pergi ndak izin si mbok lagi, tak coret nama mu dari pewaris warteg keluarga!"ancam Ibunya Bambang.
"Ampun mbok...iya aku janji akan bilang si mbok"ucap Bambang.
"Mbok...aku sama teman-teman mau mendaki Gunung Pangrango. Diizinkan ya mbok..."ucap Bambang sembari memohon kepada ibunya.
"Korona lagi dimana-mana...bahaya tole.."ucap ibu Bambang.
"Mbok...ndak perlu khawatir. Aku perginya bertiga sama Zaki dan Ucok. Mohon izin ya mbok..."
"Si mbok izinkan. Ambil lauk secukupnya untuk koe dan teman-teman. Buat bekal di perjalanan."
"Siap si mbok ku yang manis."ucap Bambang sambil mencium pipi ibunya.
Selesai dari rumah Bambang, mereka melajukan motornya ke arah Gunung Pangrango. Mereka hanya tiga kali berhenti di pom bensin untuk isoma (istirahat sholat dan makan). Jam 2 pagi, mereka sampai di sebuah warung yang biasa dijadikan tempat menginap oleh para pendaki.
"Kita istirahat di warung ini saja, besok habis solat subuh kita berangkat mendaki."ucap Zaki.
"Ok"jawab Bambang dan Ucok serempak.
__ADS_1