Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Adik ku sayang, Adik ku malang


__ADS_3

"Zaenab...Zaenab...Zaenab...! Bangun Nab...bangun!"teriak Andi.


"Lama banget sih bantuan datang!"ucap Andi cemas.


Tak berapa lama kemudian, Pak Budi dan semua tim pencari sudah muncul dia gorong-gorong tempat Zaenab di temukan. Pak Budi segera turun ke dalam gorong-gorong. Pak Budi dan Andi mengangkat tubuh Zaenab ke luar dari gorong-gorong. Surya memegang tubuh Zaenab dan segera Rini memeluk tubuh Zaenab. Rini memberikan minyak kayu putih di leher, hidung dan dahi Zaenab agar Zaenab segera sadarkan diri. Sahabat baik Zaenab mengerubuti dan memanggil-manggil nama Zaenab berulang kali tapi Zaenab tak bangun sama sekali.


"Pak Budi...Zaenab...Zaenab gak apa-apa kan pak? Kenapa dia gak bangun-bangun padahal kita semua berteriak menyebut namanya! Huuuwwaaa..."ucap Ratna.


"Kalian semua tenang...jangan khawatir. Saya sedang menunggu ambulans, saya dan Andi akan membawa Zaenab ke rumah sakit. Lebih baik kalian pulang saja ke rumah."ucap Pak Budi.


"Kami tidak mau!"jawab keempat sahabat Zaenab.


"Kami akan ikut ke rumah sakit. Kami akan menjaga Zaenab!"ucap Yuni.


"Virus korona masih ada dimana-mana, apalagi di rumah sakit. Kalau kalian semua masuk ke mobil ambulans yang ada penuh dan sesak bisa-bisa kita semua terpapar virus. Jadi saya minta hanya dua orang saja yang menemani Zaenab, sisanya kabari orang tua Zaenab di rumah."Pak Budi memberikan saran.


"Guys...bener juga apa yang di bilang Pak Budi. Biar gue saja yang temani Zaenab di rumah sakit. Kalian bertiga ke rumah Zaenab kabari babe dan emaknya. Nanti kalau Zaenab sudah sadar, baru gue kabarin via chat ya..."ucap Rini.


"Ok, Rin. Gue, Eka dan Ratna langsung pergi sekarang ke rumah Zaenab. Elu hati-hati di jalan. Kabari kita-kita tentang keadaan Zaenab."ucap Yuni yang bergegas pergi ke stasiun kereta.


"Siap Yun!"jawab Rini.


Ambulans yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Petugas medis meletakkan Zaenab di ranjang lipat dan memasukkannya ke dalam ambulans. Pak Budi menaiki mobil ambulans tersebut.


"Andi! Ayo naik!"teriak Pak Budi.


"Tunggu sebentar,pak!"ucap Andi.


"Sur...ini kunci motor gue. Elu pake motor gue aja sama Rini. Kita ketemu di rumah sakit aja."ucap Andi sembari melemparkan kunci motor ke Surya. Surya pun menangkap kunci motor tersebut dengan sigap.


"Ok bro!"jawab Surya.


Andi pun menaiki mobil ambulans bersama Pak Budi. Selama di perjalanan, Andi terus menatap Zaenab tanpa henti. Andi memegang tangan mungil Zaenab yang terlihat pucat. Dia tak bisa menahan air matanya sambil berkata dalam hati...


"Maafkan aku...maafkan aku yang tak becus menjaga mu. Maafkan aku Nab...hiks hiks hiks"gumam Andi dalam hati.

__ADS_1


"Andi...sudah jangan bersedih begitu. Kamu harus tetap kuat dan tegar di hadapan Zaenab. Kalau kamu lemah seperti ini, bagaimana kamu bisa menguatkan Zaenab di saat terpuruk seperti ini? Ayo...hapus air mata mu! Kamu bukan laki-laki lemah!"ucap Pak Budi.


Andi pun menghapus air matanya dengan kaos yang menempel di badannya. Dia tetap memegang tangan Zaenab sembari membacakan doa-doa dan surat Al-fatihah.


10 menit perjalanan menuju rumah sakit, petugas medis segera membawa Zaenab ke IGD. Pak Budi dan Andi mengikuti petugas medis tersebut. Saat Zaenab dimasukkan kedalam IGD, suster melarang Pak Budi dan Andi masuk. Suster meminta Pak Budi sebagai wali guru dari Zaenab segera mengurus administrasi Zaenab. Pak Budi pun pergi ke meja resepsionis, meninggalkan Andi yang duduk termenung di depan pintu IGD. Andi mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Bang Zaki, abangnya Zaenab.


"Bagaimana pun bang Zaki harus tau apa yang menimpa adik kesayangannya. Walaupun dia akan marah kepadaku karena tidak becus menjaga orang yang aku sayangi."gumam Andi.


'Tuutt Tuutt Tuutt...Halo... Assalammualaikum, apa kabar,Di?"tanya Bang Zaki di saluran telepon.


"Wa-waalaikumsalam...alhamdulillah saya baik bang. Abang masih di Pangrango?"tanya Andi.


"Masih. Tapi ini sedang bersiap-siap untuk turun bersama teman-teman pendaki yang lain. Oh iya... aku telepon adik ku,Zaenab, berkali kali tapi tidak di angkat sama sekali. Dia ada di dekat mu tidak? Abang mau bicara sebentar..."


"Za-Zaenab...ada bang ta- ta-pi..."ucap Andi terbatah-batah.


"Tapi apa, Di? Kalau dia sedang ngegosip dengan teman-temannya kamu dekati saja dulu, abang kangen pengen denger suara dia."


"Dia...dia sedang ada di IGD bang...hiks hiks hiks... seorang perempuan menganiaya dia saat berolahraga di taman hutan tadi...hiks hiks hiks..."ucap Andi sembari menangis.


Mendengar teriakan Zaki, sahabat dekatnya Bambang dan Ucok terkejut dan menatap Zaki dengan tatapan bingung dan penasaran.


"Ba-bagaimana bisa? Tidak ada guru yang mengawasi? Bukannya kamu mau mengawasi Zaenab seperti janji mu kepada abang! Kenapa bisa jadi seperti ini?"sambung Zaki.


"Aku kecolongan bang...!Aku akui lalai menjaga amanah mu. Maafkan aku...hiks hiks hiks..."jawab Andi.


"Kamu berhutang penjelasan kepada ku, Di! Aaakkkhh...! Seharusnya tak ku titipkan adik kesayangan ku kepada mu!"ucap Zaki kecewa.


"Aku akan segera pulang ke Jakarta. Di rumah sakit mana Zaenab di rawat?"tanya Zaki.


"Di rumah sakit Kasih Sayang Bunda, bang."


"Baik. Aku akan segera kesana. Kalau ada apa-apa dengan Zaenab tolong kabari aku. Tuuttt Tuuttt Tuuttt..."Zaki menutup ponselnya.


Dia segera mengemasi barangnya dan berbicara serius kepada Bambang dan Ucok.

__ADS_1


"Aku harus segera pulang ke Jakarta. Seseorang telah mencelakai Zaenab dan sekarang dia di rawat di rumah sakit."ucap Zaki.


"Ya Allah..."ucap Bambang.


"Ya Tuhan...malang kali nasib mu,Nab...!"ucap Ucok.


"Aku harus turun sekarang. Kalian masih mau di sini atau ikut dengan ku?"tanya Zaki.


"Kita ikut dengan mu, Ki! Zaenab sudah ku anggap seperti adik ku sendiri. Jadi aku dan Ucok ingin melihat keadaannya sekarang."ucap Bambang.


"Betul Ki... kita bukan hanya sekedar teman tapi kita sudah jadi keluarga."ucap Ucok.


"Ayo...kita turun! Semakin cepat kita turun semakin cepat bisa melihat Zaenab!"ucap Bambang.


"Ayo!"ajak Zaki.


Mereka bertiga turun terlebih dahulu dibandingkan dengan pendaki yang lain.


Di rumah sakit...


Andi masih berpikir keras dan bertanya-tanya tentang siapa perempuan yang telah menyiksa Zaenab seperti ini? Apa motif perempuan itu kepada Zaenab?


"Siapa perempuan itu? Kenapa dia menculik dan menganiaya Zaenab? Apa salah Zaenab kepada perempuan itu?"Andi bertanya-tanya dalam hati.


"Lalu...amplop apa ini? Tadi aku lihat bapak itu memberikan amplop ini kepada Zaenab. Coba ku buka..."


Andi membuka amplop tersebut dan alangkah terkejutnya dia, melihat uang dua gepok pecahan seratus ribu rupiah yang masih mulus ada di dalam amplop tersebut.


"Uang apa ini?"Andi semakin bingung.


Tak berapa lama dua orang dari pihak kepolisian datang menghampiri Andi. Mereka mendapat laporan dari pihak rumah sakit bahwa ada korban penculikan dan penganiayaan yang sedang kritis di ruang IGD.


"Selamat siang, Dik! Saya Komandan Geri dari kepolisian ingin meminta kesaksiannya tentang teman adik yang menjadi korban penculikan dan penganiayaan.


"Selamat siang,komandan!"jawab Andi.

__ADS_1


"Loh...kamu Andi kan? Temannya Zaenab. Lalu yang di dalam IGD jangan-jangan..."Komandan Geri tidak sempat melanjutkan kata-katanya. Andi hanya menganggukkan kepalanya tanda 'iya'.


__ADS_2