Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Mengejar Tersangka Utama


__ADS_3

Lapor komandan! Tersangka dan korban ada di dalam rumah itu."ucap anak buah Komandan Geri.


"Baik. Terus pantau pergerakan mereka di dalam. Saya akan susun rencana dengan yang lain. Tetap awasi mereka!"ucap komandan.


"Baik!"ucap anak buah komandan.


Komandan Geri sedang berdiskusi dengan beberapa anak buahnya untuk membebaskan sandera yaitu Ibunya Mira. Dani yang berdiri dekat dengan komandan hanya bisa mendengarkan dan menyimak rencana yang di kemukakan oleh Komandan Geri. Setelah selesai berdiskusi dan menyusun strategi penyelamatan sandera. Komandan Geri membubarkan anak buahnya agar mereka bersiap-siap berada di posisi masing-masing sesuai rencana.


"Pak Dani...bapak disini saja. Jangan jauh-jauh dari anak buah saya dan jangan mengganggu tugas anak buah saya."perintah komandan.


"Siap!"ucap Dani.


Komandan Geri meninggalkan Dani dengan salah satu anak buahnya di barisan belakang. Komandan Geri segera mengambil posisi di depan rumah ibunya Mira. Dia memberikan aba-aba kepada anak buahnya agar bersiap-siap untuk melakukan penggebrekkan.


"Semuanya bersiap-siap! Saya akan hitung mundur... Satuu...duuaa...ti...ga...!"ucap Komandan Geri sambil mendobrak pintu depan rumah ibu Mira.


Dua orang penyekap terkejut dan berusaha kabur dari tempat kejadian tapi sayang...usaha mereka gagal total karena rumah tersebut sudah di kepung puluhan polisi. Ibu Mira yang masih duduk di kursi dengan tangan dan kaki diikat kawat serta mulutnya di bungkam sebuah kain, terkejut melihat puluhan polisi masuk kedalam rumahnya. Empat polisi memegang dua orang penyekap itu. Dua orang polisi memborgol tangan para penyekap itu. Lalu memasukkannya ke dalam mobil polisi dan membawanya ke markas polisi pusat.


Komandan Geri mendekati Ibu Mira dan melepaskan sebuah kain yang tersumpal di mulutnya. Komandan juga mencoba untuk melepaskan ikatan kawat yang mengikat di kedua tangan dan kaki Ibu Mira.


"Sabar ya bu...saya akan melepaskan kawat ini pelan-pelan. Ibu relax saja dan jangan banyak bergerak. Kalau ibu bergerak nanti kawat ini akan semakin melukai kulit tangan dan kaki ibu."ucap Komandan Geri.


"Baik pak polisi."jawab Ibu Mira.


Komandan Geri melepaskan kawat dari tangan dan kaki Ibu Mira. Ibu Mira meringis kesakitan saat kawat-kawat itu di lepaskan.


"Alhamdulillah...sudah bu. Coba ibu gerakkan kaki dan tangan ibu pelan-pelan."ucap komandan.


"Baik pak."jawab Ibu Mira.


"Aaadduuhh...sa..sakit pak..."ucap Ibu Mira.


"Mari saya bantu bu..."ucap Dani yang tiba-tiba datang menghampiri Ibu Mira.


"Eh...kamu bukannya temannya Mira yang datang waktu itu?"tanya Ibu Mira heran.


"Iya bu. Saya bantu ibu berjalan ke kasur ibu."ucap Dani.


"Terima kasih Mas Dani. Saya bawa para tersangka ke kota. Nanti ada empat anggota polisi yang akan berjaga-jaga dan menginterogasi ibu ini."ucap Komandan Geri.


"Baik komandan. Saya akan menjaga dan menemani ibu ini disini."ucap Dani.


"Baik. Saya tinggal dulu Mas Dani."pamit komandan.


Komandan Geri beserta beberapa anak buahnya pergi meninggalkan rumah Ibu Mira menuju kota dengan membawa para tersangka.


"Terima kasih,mas."ucap Ibu Mira.


Dani membawa Ibu Mira ke dalam kamarnya. Dani merebahkan Ibu Mira di kasurnya dan mengobati luka yang ada di kedua tangan dan kaki Ibu Mira.

__ADS_1


"Bolehkah saya mengobati luka ibu terlebih dahulu? Saya takut kalau tidak segera di obati akan tambah parah."ucap Dani.


"Mas Dani ini seorang dokter toh?"tanya Ibu Mira.


"Iya bu."ucap Dani sembari membersihkan luka Ibunya Mira.


"Iiissshhh..."Ibu Mira meringis kesakitan.


"Tolong tahan ya bu...sebentar lagi selesai."ucap Dani yang sedang memberikan obat luka dan memperban luka tersebut.


Mendengar ucapan Dani, Ibu Mira hanya mengangguk dan sesekali menahan rasa sakitnya.


"Sudah bu. Untuk sementara ibu rebahan saja di kasur. Nanti makan dan minum untuk ibu akan saya siapkan di atas meja itu."ucap Dani.


"Terima kasih banyak mas."


"Sama-sama bu."jawab Dani.


"Saya mau tanya, darimana polisi dan Mas Dani bisa tau kalau saya sedang di sekap?"


"Dari Mira bu..."


"Mira baik-baik saja kan,mas?"tanya Ibu Mira khawatir.


"Dia baik-baik saja bu."jawab Dani.


"Bolehkah saya meminjam ponsel mas untuk menelepon Mira? Hati saya belum tenang kalau belum dengar suara dia langsung."


"Janji ya mas..."


"Demi Allah swt...saya berjanji."


"Baik mas. Terima kasih banyak."


"Iya bu."jawab Dani singkat.


Ibu Mira langsung memejamkan matanya.


"Mira...kalau ibumu tau, kamu dalam keadaan aman di penjara, mungkin ibumu akan tambah shock. Huft...aku tak tega memberitahukannya."gumam Dani dalam hati.


Di lain tempat...


"Sialan! Polisi sudah menangkap anak buah ku! Aku harus melarikan diri dari sini! Ya... aku harus kabur keluar negeri sebelum aku di cekal oleh pihak kepolisian!"ucap Tika sambil menatap layar ponselnya yang berisi rekaman cctv yang ada di rumah Ibu Mira.


Tika mengambil kopernya dan memasukkan pakaian serta barang-barang pentingnya kedalam koper tersebut. Tak lupa dia membawa tiga gepok uang tunai ke dalam kopernya itu.


"Untung saja aku sudah mengambil uang-uang ini dari brankas ayah..."ucap Tika sambil tersenyum bahagia.


"Ok semuanya sudah masuk kedalam koper. Waktunya aku pergi ke bandara sekarang juga."ucap Tika.

__ADS_1


Tika keluar kamar dengan diam-diam. Dia pergi tanpa pamit kepada kedua orang tuanya yang sedang tertidur pulas. Dia berlari menuju garasi mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Saat Tika melajukan mobilnya menuju gerbang rumahnya, dia mengerem mendadak. Dia melihat lima mobil polisi berjejer masuk kedalam halaman rumahnya.


"Saudari Tika! Saya perintahkan saudari untuk keluar dari mobil sekarang juga!"ucap Komandan Geri dengan menggunakan pengeras suara.


Tika tak menggubris ucapan komandan, dia tetap duduk di kursi kemudi mobilnya.


"Saudari Tika! Segera keluar dari dalam mobil atau saya akan mengambil tindakan tegas kepada saudari!"ancam Komandan Geri.


Komandan Geri memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan diri mereka apabila Tika melakukan perlawanan atau berusaha kabur dari pihak kepolisian.


Tika masih tak menggubris ucapan dan ancaman yang di lontarkan Komandan Geri.


Suara Komandan Geri terdengar sampai kedalam rumah sehingga membangunkan seluruh penghuni rumah termasuk Ayah dan Ibu Tika. Ayah dan Ibu Tika yaitu Pak Hendro dan Bu Susan keluar dari dalam rumah dan pergi menuju halaman rumahnya. Pak Hendro dengan hati-hati mendorong kursi roda istrinya.


"Ya Tuhan ayah...ada apa ini? Kenapa banyak sekali mobil polisi di halaman rumah kita?"tanya ibu yang terkejut dengan apa yang di lihatnya.


Pak Hendro tidak menjawab pertanyaan istrinya tersebut. Dia hanya diam dan tercengang melihat banyak polisi sedang menodongkan senjata api ke arah mobil Tika.


"Ada apa ini pak polisi?"tanya Bu Susan yang berusaha menjalankan kursi rodanya kearah Komandan Geri.


Komandan Geri memberikan aba-aba kepada anak buahnya untuk menurunkan senjata apinya.


"Selamat malam, pak. Maaf mengganggu waktu bapak. Saya Komandan Geri dari kepolisian pusat, ingin menangkap saudari Tika, anak bapak, atas kasus penyekapan dan percobaan pembunuhan terhadap saudari Zaenab. Selain itu saudari Tika juga sudah melakukan penyekapan dan penganiayaan terhadap ibu dari saudari Mira, sepupunya sendiri. Ini surat penangkapannya."ucap Komandan Geri sambil menyodorkan sepucuk surat resmi penangkapan Tika.


Ibu Susan terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Komandan Geri. Dia tak percaya bahwa anaknya berani melakukan hal tersebut.


Pak Hendro mengambil surat itu dan membacanya. Setelah membaca surat itu, dia menatap Tika dengan tatapan marah. Ibu Susan yang melihat suaminya mulai emosi segera meredam amarahnya dengan memegang lembut tangan suaminya serta menatapnya dengan penuh makna.


"Saya mohon kerjasama bapak dan ibu, agar kami bisa menangkap saudari Tika segera sehingga kami bisa memproses kasus ini lebih cepat."ucap komandan.


Tatapan tajam Pak Hendro dan Bu Susan langsung tertuju ke arah Tika yang masih ada di dalam mobil. Tika tak menghiraukan tatapan tajam yang diarahkan kepadanya. Dia teguh pada pilihannya untuk tetap berada di dalam mobil.


Bu Susan yang berusaha mendekati kaca mobil kemudi Tika untuk berbicara.


"Tok..tok...tok..."suara ketukan kaca mobil.


"Tika...ayo keluar nak... Kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Jika kamu bersikap seperti ini, pak polisi akan melakukan tindakan tegas dan ibu tidak mau itu terjadi padamu. Ingat nak...kamu sedang mengandung, kasihan bayi yang ada di dalam kandunganmu."ucap Ibu Susan.


Tika membuka kaca mobilnya dan menatap wajah Ibu Susan dengan sinis.


"Lagi pula polisi tersebut tak akan bisa menangkapku! Gak perlu ibu menangis seperti itu, aku dan anak ku akan baik-baik saja. Lebih baik urus saja diri ibu sendiri yang lumpuh dan tidak berguna!"ucap Tika kasar.


Mendengar istrinya di bentak oleh Tika. Pak Hendro emosi.


"Jaga ucapanmu! DAAASSSAAARRR ANAK PUU....!"Pak Hendro tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Cukup pak! Cukup!"Ibu Susan menyela kata-kata suaminya.


Tika segera menutup kaca mobilnya dan dia mulai memanaskan mobilnya.

__ADS_1


"Kalau calon suamiku di penjara, aku dan anak ku tidak boleh masuk penjara! Aku harus kabur sekarang! HARUS!!"gumam Tika di dalam mobil.


Tika menginjak gas dengan kencang dan menabrak dua mobil polisi yang menghadangnya serta menyenggol kursi roda milik Ibu Susan. Mobil Tika melaju dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan para polisi dan orangtua Tika.


__ADS_2