
"Oke Toki. Terima kasih infonya. Sekarang tugas kamu cari tau siapa itu wanita hamil dan dimana dia tinggal. Cari info sebanyak -banyaknya!"perintah Bang Jaja.
"Siap bos!"jawab Toki.
Toki dan Bang Jaja mengakhiri pembicaraan mereka di telepon.
"Ternyata wanita itu dalang di balik kasus yang menimpa Zaenab sekarang ini! Benar-benar tak bisa di biarkan!"Bang Jaja marah sambil menggebrak meja yang ada di depannya.
Toki tak hanya melaporkan hasil pantaunya ke Bang Jaja, dia juga melaporkan ke Bang Jali.
Babe di kirimkan bukti rekaman pembicaraan antar dokter Mira dengan Tika oleh Toki. Babe terlihat sangat marah dan murka. Dia sangat menyangkan seorang dokter berani bersekongkol untuk mencelakakan pasiennya sendiri.
Tak berpikit panjang lagi, babe langsung memerintahkan karyawannya untuk menutup toko lebih awal. Para karyawan sontak terkejut dengan perintah babe, karena seharusnya toko tutup jam 5 tapi saat ini jam di dinding toko menunjukkan jam 4 sore. Mau tak mau para karyawan toko harus mengikuti perintah babe.
Setelah toko di tutup dan para karyawan pulang. Babe bergegas pergi menuju rumah sakit. Emosinya sudah tak terbendung lagi. Sesampainya di rumah sakit, babe berjalan menuju ruangan laboratorium. Dia bertanya kepada petugas yang disana dimana keberadaan dokter Mira. Salah satu petugas mengatakan bahwa dokter Mira sudah pulang karena jam tugasnya sudah selesai.
Mendengar dokter Mira sudah pulang, babe merasa kecewa. Akhirnya dia memutuskan menghubungi Toki kembali.
"Halo Bang Toki."
"Halo Bang Jali, ada apa bang?"
"Bang Toki lagi dimana?"
"Aye lagi di jalan sedang membututi dokter Mira. Nanti aye telepon abang lagi kalau sudah di posisi aman."
"Oke. Kabari aye terus."
"Pasti bang!"
Babe mengakhiri pembicaraannya di telepon. Lalu dia pergi ke kamar VVIP dimana Zaenab masih di rawat. Saat berjalan menuju lorong ruangan VVIP, babe bertemu dengan dua anak buah Babe Jaja yaitu Tomi dan Jeri. Mereka memberi hormat kepada Babe Jali.
"Aman?"tanya Babe Jali kepada Tomi dan Jeri.
"Aman Bang..."jawab mereka berdua bersamaan.
"Bagus. Ini buat beli makanan kalian berdua."Babe menyodorkan dua lembar uang seratus ribu kepada Tomi dan Jeri.
"Gak usah Bang...kita udah dapat jatah dari Babe Jaja."Tomi menolak halus uang pemberian Babe Jali.
"Itu kan dari bos besar, ini kan dari gue. Udah ambil aja, rezeki kalian berdua."
"Baik, kami terima. Makasih banyak bang..."jawab Jeri.
"Sama-sama. Jaganya saling gantian aja biar bisa saling istirahat."
"Siap bang!"jawab Tomi dan Jeri.
Babe masuk kedalam kamar VVIP Zaenab. Disana dia melihat Zaki dan Emak Munaroh sedang duduk di samping ranjang Zaenab. Lalu babe melihat wajah manis anak perempuannya sedang tersenyum manis menatap wajahnya. Seketika babe diam tak bergerak dan mengeluarkan air mata. Emak dan Zaki yang melihat ekspresi wajah babe pun tak kuasa menahan air matanya. Zaki menghampiri babe dan mengajaknya untuk duduk disamping ranjang Zaenab.
"Alhamdulillah...Ya Allah...engkau telah membangunkan anak hamba. Terima kasih Ya Allah...hamba gak tau harus berkata apa lagi. Hamba sangat senang akhirnya Zaenab hamba kembali tersenyum manis lagi...huuuhuuuh..."Babe menangis terharu sembari memeluk Zaenab.
"Nab...babe kangen...kangen senyuman elu, kangen suara elu dan kangen pengen meluk elu."ucap babe.
"Sama be...aye juga kangen sama babe, emak dan bang Zaki."ucap Zaenab yang masih di peluk babe.
"Elu dari kapan udah sadar begini,Nab?"tanya babe.
"Udah dari beberapa jam yang lalu."jawab emak.
"Kenape jadi elu yang jawab sih,Roh? Gue kan tanya Zaenab bukan elu!"ucap babe.
__ADS_1
"Zaenab juga anak aye, aye yang brojolin! Lagian abang cuma cemas sama Zaenab aja, aye kagak di tanyain!"Emak mulai memasang muka cemberut.
"Yaelah Roh...sama anak sendiri elu cemburu! Gue yakin elu udah sehat walafiat, buktinya elu tadi aja ngomel-ngomel sama gue di telepon."ucap babe.
Emak tak bisa berbicara apa-apa lagi. Dia hanya cemberut dan menutup mulutnya rapat-rapat. Babe mengelus lembut rambut Zaenab dengan penuh kasih sayang.
"Keadaan Zaenab sekarang bagaimana? Sudah sehat?"tanya Babe.
"Alhamdulillah sudah be...aye sudah sehat seperti biasa."jawab Zaenab.
"Syukur...Alhamdulillah."ucap babe sambil melepaskan pelukannya.
Emak mendekati babe yang sekarang duduk di sofa kamar rawat.
"Bang...kok ada dua orang laki-laki berbadan kekar di depan kamar ini. Mereka itu siape?"tanya emak.
"Oohh...itu anak buahny Babe Jaja."jawab babe.
"Babe Jaja guru silat abang?"
"Iye."
"Ngapain mereka ada di depan kamar Zaenab?"
"Abang minta bantuan Babe Jaja buat amankan keluarga kita."
"Emang keluarga kita kenape, be?"tanya Zaki penasaran.
"Babe gak mau hal yang terjadi sama emak dan Zaenab terulang lagi jadi babe minta anak buah Babe Jaja buat jaga di sini."jawa babe.
"Kenapa gak minta tolong anak buah Komandan Geri aja, be?"tanya emak.
"Babe sudah tidak percaya dengan pihak kepolisian?"tanya Zaki.
"Iya. Babe lebih baik minta bantuan orang yang babe kenal betul!"ucap Babe.
"Lebih baik babe bicara empat mata dengan Komandan Geri segera, agar mereka bisa bergerak cepat."Zaki menasihati babe.
"Biarkan kepolisian bekerja sesuai tugasnya. Babe tetap ikhtiar dengan cara babe sendiri."jawab babe.
Zaki, emak dan Zaenab yang mendengar ucapan babe terdiam. Mereka bertiga tak berani bertanya lagi karena babe sudah teguh dengan pendiriannya.
"Kalian tenang saja...Insya Allah kali ini kita akan lebih aman."ucap babe menenangkan anggota keluarganya.
Zaenab dan Zaki hanya menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang disampaikan babe. Sedangkan emak masih saja gelisah dengan kehadiran dua anak biah Babe Jaja.
"Roh...kita makan di luar yuk...biar Zaenab di jaga Zaki aje. Maag aye kambuh nih...tadi telat makan di ruko."ucap Babe sembari berpura-pura meringis kesakitan.
"Hmm...ayo deh bang. Aye juga laper, kagak nafsu makan makanan rumah sakit. Aye pengen makan karedok."ucap emak.
"Elu ade-ade aje! Mana ada karedok jam segini? Ini udah malam sebentar lagi adzan isya."
"Namanya juga kepengen be..."ucap emak memelas.
"Iye tapi elu lihat dulu udah jam berapa ini?"
"Iye be..."
Babe bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri emak.
"Ayo kite jalan sekarang! Elu mau babe beliin ape, Ki?"tanya babe.
__ADS_1
"Sate aje be kalau ada,kalau gak ada terserah babe aje."jawab Zaki.
"Oke. Nah Zaenab mau babe beliin apaan?"tanya babe.
"Hmm...aye pengen banget ayam krispi yang 24 jam be...sudah lama gak makan itu..."jawab Zaenab.
"Oke. Nanti babe beliin."jawab babe.
"Jangan lupa kentang goreng dan burgernya ya be..."ucap Zaenab.
"Siap anak kesayangan babe..."ucap babe sembari tersenyum lebar.
Babe dan emak pergi keluar rumah sakit dan meninggalkan Zaenab bersama Zaki. Babe dan emak berjalan kaki menuju sebuah warung sate dan tongseng. Disana mereka makan dengan lahap.
Setelah beberapa menit istirahat sejenak di warung sate. Tak berapa lama kemudian, babe menerima telepon dari seseorang.
"Halo...ada ape? Aye lagi di warung sate ayam dan kambing deket rumah sakit....Yaudah...elu kesini aje. Gue tunggu sekarang juga.. Kagak pake lama!"ucap babe di telepon.
"Siape be?"tanya emak.
"Entar juga elu tau!"jawab babe ketus.
"Tolong elu pesankan makanan buat Zaki."perintah babe.
"Iye bang..."jawab emak.
Sepuluh menit kemudian datanglah seorang pria, dia datang tergesa-gesa dengan membawa sebuah amplop cokelat kecil.
"Assalammualaikum Cang Jali..."ucap pria tersebut.
"Waalaikumsalam..."jawab babe dan emak.
"Eeh...ada Mpok Munaroh juga. Apa kabar mpok?"tanya pria itu.
"Alhamdulillah baik, Dani."jawab emak.
Pria tersebut bernama Mardani. Dia adalah keponakan Babe Jali yang bekerja di sebuah rumah sakit internasional.
"Jadi bagaimana hasilnya?"tanya babe to the point.
"Hasil apaan,bang?"tanya emak.
"Sudah...elu diem aje!"ucap babe.
"Ini hasilnya,Cang..."ucap Dani sambil menyodorkan amplop cokelat kecil kepada babe.
Babe terdiam sejenak...dia pun menerima amplop cokelat itu dan membukanya. Dia membaca dengan baik-baik hasil DNA dan sidik jari yang terdapat dalam jaket, celana dan masker yang kemarin di bakar oleh Dokter Mira.
Sembari babe membaca hasil tes tersebut, Dani menjelaskan secara rinci dan lengkap hasil tes itu.
"Dalam hasil tes tersebut terdapat tiga sidik jari, dua sidik jari sudah di ketahui. Salah satunya sidik jari yang ada di jaket itu milik Zaenab dan yang satu lagi itu..."Dani berhenti berkata-kata sejenak.
"Milik siapa?"tanya babe tegas.
"Dari data base komputer di rumah sakit aye, ada sidik jari seorang dokter yang sedang KOAS di rumah sakit tempat Zaenab di rawat."ucap Dani.
"Siapa dia? Cepat katakan!"teriak babe.
"Dok...Dok...Dokter Mira,Cang... Ini foto orangnya."ucap Dani terbatah-batah sambil menunjukkan foto wajah Dokter Mira kepada Babe Jali.
"Sialan!!"ucap babe emosi sambil menggebrak meja warung sate.
__ADS_1