Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Setia menunggu


__ADS_3

"Assalammualaikum suster, aye...aye mau numpang tanya. Anak aye yang namanya Siti Zaenab ada di ruangan berape?"tanya Babe tergesa-gesa.


"Waalaikumsalam, sebentar ya pak saya cek dulu datanya."jawab suster jaga di tempat informasi.


"Iye...jangan lame-lame ya,Sus. Aye khawatir nih...!"ucap babe.


"Sebentar ya pak..."jawab suster.


"Sabar be...suster nya lagi cari data anak kite."ucap emak. Babe yang di nasihati emak, wajahnya terlihat mengkerut dan sebal mendengar ucapan emak.


"Ada pak. Ananda Siti Zaenab, ada di ruangan rawat Dahlia 123."


"Anak aye namanya Siti Zaenab aje sus gak pake ananda. Salah orang tuh sus...!"


"Maksud saya ananda itu panggilan untuk pasien anak-anak pak. Anak bapak dan ibu namanya Siti Zaenab, yang usianya 16 tahun dan memakai seragam olahraga SMK kan?"


"Nah iye! Entu baru anak aye! Jangan di tambah-tambahin nama ananda,sus! Aye nanti kudu bikin bubur merah putih lagi!"ucap babe.


"Hehehe...iya maafkan saya ya pak..."ucap suster tersebut sembari tertawa cekikikan.


"Iiissshhh...babe ini malu-maluin banget deh...! Kita kan kan lagi khawatir sama anak kita Zaenab, kenapa jadi becanda begitu sama suster!"ucap emak.


"Yaelah,Roh...! Siape sih yang becanda ama entu suster? Elu ini kalau cemburu lihat waktu dan tempatnya donk...!"ucap babe sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Udah ayo kita ke kamar Zaenab!"ajak emak sembari menarik lengan tangan babe.


"Maafin bini aye ya sus, dia emang begitu suka cemburuan gak jelas. Makasih infonya ya sus... Assalammualaikum." ucap babe sembari pergi meninggalkan meja informasi.


Babe dan emak menuju ruang perawatan Zaenab di ruangan dahlia nomor 123. Saat berjalan di lorong ruangan dahlia, babe melihat Pak Guru Budi, Komandan Geri dan ajudannya beserta dua anak laki-laki teman sekolah Zaenab sedang duduk di kursi tunggu.


Sebelum masuk ke ruangan 123, babe dan emak menyapa mereka semua.


"Assalammualaikum..."sapa babe dan emak.


"Waalaikumsalam..."jawab semua orang.


"Alhamdulillah, bapak dan ibu sudah datang. Kami dan pihak kepolisian dari tadi sedang menunggu orangtua dari Zaenab."ucap Pak Budi.


"Pak Budi...kenapa bisa terjadi hal seperti ini? Harusnya Pak Budi mengawasi anak-anak didik bapak dengan intens."ucap babe.


"Maafkan saya pak, maafkan kelalaian saya sehingga membuat Zaenab masuk rumah sakit."ucap Pak Budi.

__ADS_1


"Saya tau berolahraga di luar sekolah memang sudah ada di jadwal kegiatan sekolah tapi seharusnya, Pak Budi meminta bantuan pengamanan dari satpam sekolah. Kalau kejadiannya seperti ini, saya harus minta pertanggung jawaban siapa donk?"ucap babe dengan nada kesal.


"Maafkan saya pak...maafkan saya."ucap Pak Budi dengan nada memohon.


"Sudah be...sudah...Ini musibah yang kedua kalinya untuk keluarga kita apalagi untuk Zaenab. Jangan menyalahkan Pak Budi, ini sudah takdir."ucap emak.


"Udeh! Mending elu masuk ke ruangan, temani Zaenab. Elu lihat keadaannya, gue gak tega melihat dia terkapar di rumah sakit untuk kedua kalinya. Gue disini aja mau bicara sama Komandan Geri."pinta babe kepada emak.


"Maaf saya masuk dulu ya bapak-bapak."ucap emak dengan nada lembut.


Emak pun mematuhi perintah babe, dia masuk ke ruang perawatan Zaenab. Disana dia melihat Rini yang sedang membacakan Al-Quran di depan Zaenab. Emak tersentuh mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang di baca Rini. Dia menghentikan langkahnya karena tak mau mengganggu Rini yang sedang khusyuk membaca Al-Quran.


Lima menit kemudian, Rini menyudahi membaca Al-Quran dan melihat Emak Zaenab sedang berdiri di belakang pintu.


"Eh...emak sudah datang. Silahkan duduk disini,mak."ucap Rini ramah.


"Assalammualaikum Rini..."ucap emak.


"Waalaikumsalam...emak sudah lama berdiri disana?"tanya Rini.


"Lumayan...emak gak mau ganggu Rini lagi ngaji jadi emak diam di belakang pintu sambil nunggu Rini selesai."


"Ya allah emak...Rini gak apa-apa kalau di ganggu pas ngaji. Rini bingung harus ngapain mak, biar Zaenab cepat bangun dari tidurnya. Dari pada Rini melamun atau main ponsel lebih baik Rini baca Al-Quran, kali aja Zaenab dengar dan segera membuka kedua matanya."


"Sama-sama mak...Emak harus kuat supaya bisa memotivasi Zaenab agar cepat sadar dan sehat kembali."


"Iye iye...insya allah emak, babe dan bang Zaki bakalan kuat dan tegar menghadapi cobaan yang berat ini...hiks hiks hiks..."


"Babe dan bang Zaki gak ikut kesini,mak?"


"Babe ada di depan, lagi ngobrol sama Komandan Geri masalah kasus Zaenab. Kalau Bang Zaki sedang di perjalanan pulang habis mendaki Gunung Pangrango. Tadi emak telepon Bang Zaki, katanya satu jam lagi nyampe ke rumah sakit.


"Oh gitu mak... Yaudah emak duduk aja temani Zaenab. Saya izin pulang dulu ya mak...takut ibu dan bapak saya cariin saya. Emak gak apa-apa kan kalau saya tinggal sendiri disini?"


"Iye...gak apa-apa. Rini pulang aja, nanti ibu dan bapak khawatir anak gadisnya pergi dari pagi sampe sekarang belum pulang. Pulang ame siape,Rin?"


"Sama teman sekolah mak..."


"Oohh...yang dua cowok ada di depan itu?"


"Iya mak... cowok yang hitam manis itu Surya, teman dekat Rini. Sedangkan cowok yang rambutnya putih bersih namanya Andi, teman dekat Zaenab."

__ADS_1


"Hah? Zaenab punya pacar? Kok dia gak pernah cerita sama emak?"


"Bukan pacar mak...salah ngomong deh saya! Andi sama Zaenab itu partner saat lomba kemarin. Lalu Andi juga yang menyelamatkan Zaenab saat kejadian di sekolah dan di taman tadi."


"Oohh...begitu! Yaudah Rini pulang aja ya... Hati-hati di jalan. Salam sama ibu dan bapak di rumah."


"Iya mak...nanti di salamin. Assalammualaikum mak..."ucap Rini sembari mencium tangan kanan emak.


"Waalaikumsalam"ucap emak.


Rini keluar dari ruangan perawatan Zaenab. Rini dan Surya pun pamit pulang ke Babe dan Pak Budi. Tinggallah Andi yang masih setia di ruang tunggu depan ruang perawatan Zaenab.


"Kamu belum pulang,Di?"tanya Pak Budi.


"Belum pak. Saya masih ada urusan dengan Komandan Geri."jawab Andi.


"Urusan apa?"


"Dia akan memanggil petugas yang akan menggambar sketsa wajah ketiga tersangka penganiayaan Zaenab. Jadi saya harus tetap disini."


"Oohh...kamu jadi saksi juga sama seperti saya. Memangnya kamu melihat jelas ketiga tersangka tersebut?"


" Saya melihat dengan jelas,pak! Saya juga memfoto salah satu tersangka di ponsel saya."


"Apa?? Kenapa kamu tidak cerita kepada saya? Mana ponsel mu? Saya mau lihat salah satu tersangka."


"Maaf pak saya lupa. Ponsel saya sudah di ambil Komandan Geri sebagai barang bukti."


"Oohh...yasudah. Saya akan menemani mu disini. Jangan lupa kamu hubungi orangtua mu di rumah, supaya mereka tidak khawatir."


"Waduh...saya lupa pak! Boleh saya pinjam ponsel bapak? Sebentar saja, mau telepon mama di rumah."


"Uugghh...sebentar saja ya. Nanti pulsa saya habis, maklum belum gajian."


"Tenang pak...nanti saya ganti pulsa bapak."


"Ini ponsel saya."Pak Budi menyodorkan ponselnya ke Andi.


"Eit...tapi ingat ya. Jangan lama-lama, 15 menit saja!"


"Iya Pak Budi yang ganteng kayak Christian Sugiono."

__ADS_1


"Nah...gitu donk puji saya sekali-kali!"


"Iisshh...Udah pelit, gila pujian lagi nih guru!"gumam Andi dalam hati.


__ADS_2