
Di kos-kosan
'TRIITT TRIITT' bunyi suara pesan masuk di ponsel Mira.
Mira yang sedang terlelap tidur karena kelelahan, harus terbangun mendengar bunyi ponselnya. Dengan mata yang masih sayup, Mira membuka pesan di ponselnya dan membaca pesan masuk dari seseorang. Dia membaca pesan itu dan raut wajahnya berubah drastis. Setelah membaca pesan tersebut, dia melempar kencang ponselnya hingga memecahkan kaca meja riasnya.
"Br*****k kau Tika! Bisanya hanya mengancam dan mengancam!"teriak Mira.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus membunuh orang? Aku gak mau masuk penjara. Bagaimana ini?"tanya Mira gelisah sambil mengacak-acak rambutnya.
Lima menit kemudian, ponsel Mira berbunyi dan ada satu panggilan masuk. Panggilan masuk itu dari Tika. Mira tak ingin mengangkat panggilan tersebut tapi dia takut Tika akan murka. Dia tau sifat asli sepupunya itu yang tak segan-segan untuk menghancurkan hidup orang lain. Mira mengangkat panggilan telepon tersebut dengan rasa takut.
"Ha...hallo...iya Tika."ucap Mira.
"Gue minta sekarang juga elu habisin itu si Zaenab. Biar calon suami gue segera keluar dari penjara."ucap Tika.
"Hah?? Sekarang? Tengah malam begini?"tanya Mira heran.
"Iya sekarang juga! Kalau elu gak melakukannya, ibu elu bakalan gue bunuh!"ancam Tika.
Mira berpikir dan diam sejenak.
"Tak mungkin Tika akan membunuh ibuku. Tak mungkin juga dia datang ke rumah ku di desa. Aakkhh...dia pasti hanya menggertak aku agar mau melakukan apa yang di perintahkannya."gumam Mira dalam hati.
"HEI MIRA! Kenapa diam? Elu gak percaya kalau gue bisa menyakiti ibu elu?"tanya Tika dengan nada kasar.
"Jelaslah! Selama ini elu bisanya hanya mengancam dan menggertak ke gue. Mana mungkin elu datang ke rumah gue di desa. Gue gak percaya sama elu!"ucap Mira.
"Ok. Kita lihat saja nanti!!"ucap Tika sambil menutup ponselnya dengan kasar.
Mira kembali merebahkan badannya di tempat tidurnya. Dia berusaha memejamkan matanya sejenak. Tak berapa lama nada dering pesan masuk berbunyi, Mira mencoba membuka matanya, lalu dia membuka pesan masuk itu. Alangkah kagetnya Mira, dalam pesan masuk itu ada beberapa foto dan video dimana dua orang laki-laki berbadan besar dan kekar sedang menodongkan dua bilah pisau ke leher ibunya.
"HAH?! Ibu...!"teriak Mira.
Tak lama bunyi telepon masuk di ponsel Mira. Mira langsung menjawab panggilan masuk itu.
"Halo Tika! Apa yang kamu lakukan kepada ibuku?"tanya Mira dengan nada marah.
"Gue hanya melakukan apa yang gue bilang tadi ke elu. Jangan elu kira gue hanya menggertak atau mengancam saja. Karena bagi gue untuk menemukan tempat tinggal ibu elu hal kecil bagi gue! Elu tau istilah anak jaman now? Money can buy anything..."ucap Tika dengan nada sombong.
"Tika...gue mohon jangan sakiti ibu gue. Dia keluarga gue satu-satunya. Hanya dia orang yang gue sayang dan gue punya...hiks hiks hiks..."ucap Mira.
__ADS_1
"Orang yang elu sayang? Tapi kok elu gak pernah tanya kabar dan keadaan ibu elu di desa. Terus elu juga pakai uang dari nyokap gue buat beli ponsel baru elu itu kan? Padahal nyokap titip uang buat ibu elu di desa. Elu itu orang munafik! Sama kayak gue! Jadi jangan sok suci deh elu...!"ucap Tika.
"Lalu...apa yang harus gue lakukan sekarang supaya elu gak menyakiti ibu gue?"tanya Mira.
"Elu habisi nyawa Zaenab sekarang juga! Setelah elu habisi dia gue minta bukti foto jasadnya baru gue akan bebaskan ibu elu!"
"Tika...gue gak mau jadi pembunuh! Masa depan gue akan suram jika gue harus membunuh orang...hiks hiks hiks..."ucap Mira.
"Elu boleh hina dan caci makin gue sesuka hati elu. Elu juga boleh nyuruh gue jadi pembantu elu seumur hidup tapi tolong jangan suruh gue untuk membunuh orang. Gue ini mau jadi dokter bukan pembunuh...hiks hiks hiks..."sambung Mira.
"Gue gak butuh ucapan panjang lebar elu. Gue minta sama elu, malam ini juga elu habisi itu si Zaenab dengan cara cantik dan kalau bisa tanpa jejak. Buat seolah-olah dia kehilangan nyawa akibat obat atau perawatan di rumah sakit. Mudah kan?"
"Bagaimana caranya?"tanya Mira.
"Elu cari cara sendiri, gue cuma mau terima beres! Ngerti elu?"ucap Tika.
"Laksanakan sekarang juga atau nyawa ibu elu melayang!"sambung Tika.
Tika langsung mematikan sambungan teleponnya. Mira masih melihat foto dan video yang di kirimkan Tika kepadanya.
"Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan?"gumam Mira dengan nada sedih.
Mira bangkit dari tempat tidurnya, dia mengganti pakaiannya dengan jaket, celana panjang, topi dan masker hitam. Dia bergegas keluar dari kos-kosannya dengan cara mengendap-endap karena dia tak ingin seorang pun tau kalau dia keluar dari kos-an pada tengah malam. Dia memanggil sebuah ojek pangkalan yang sudah sering menjadi langganannya.
Mira masuk kedalam rumah sakit secara sembunyi-sembunyi. Dia berjalan menuju lorong kamar VVIP, kamar dimana Zaenab masih di rawat. Beruntungnya dia malam ini, tidak ada penjagaan ketat dari pihak kepolisian di depan kamar Zaenab. Dia pun dengan leluasa bisa masuk kedalam kamar VVIP itu. Kamar Zaenab dalam kondisi remang-remang, hanya lampu yang ada di atas ranjang Zaenab yang menyala. Mira melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada yang menjaga Zaenab seperti waktu itu. Zaenab sedang tertidur pulas di ranjangnya tanpa seorang pun yang menjaganya.
"Syukurlah...dia sendiri di kamar. Aku bisa menjalankan perintah Tika secepatnya tanpa gangguan sama sekali."gumam Mira dalam hati.
Mira berjalan pelan menuju ranjang Zaenab. Dia menatap wajah Zaenab dengan perasaan benci.
"Kali ini aku tidak boleh gagal menghabisi mu!"ucap Mira sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah leher Zaenab.
Belum sempat kedua tangan Mira menyentuh leher Zaenab, Zaenab membuka kedua matanya dan tiba-tiba lampu dalam kamar semua menyala.
Mira sangat terkejut. Dia tak menyangka ternyata bukan hanya Zaenab dan dia yang ada di dalam kamar itu tapi ada Komandan Geri beserta empat anak buahnya, Babe Rojali, Zaki, Dani dan Dokter Rian.
"Angkat tanganmu!"perintah Komandan Geri yang sedang menodongkan pistol ke kepala Mira.
Mira sudah tertangkap basah! Dia langsung menuruti perintah Komandan Geri. Salah satu anak buah komandan mengikat kedua tangan Mira dengan borgol.
"Saudari Mira...anda kami tahan atas tuduhan kasus penganiayaan dan pembunuhan berencana kepada saudari Zaenab."ucap Komandan Geri.
__ADS_1
"Aaa..amm...pun pak...aammpuun... Saya terpaksa melakukan ini. Saya di ancam, kalau saya tidak melakukannya, nyawa ibu saya taruhannya...hiks hiks hiks..."ucap Mira.
"Lebih baik saudari memberikan keterangan lengkap di kantor kami."ucap Komandan Geri.
"Saya mohon pak...saya mohon...jangan bawa saya...tolong selamatkan ibu saya dulu. Kalau ibu saya sudah selamat, bapak bisa menghukum saya seberat-beratnya...hiks hiks hiks..."ucap Mira dengan nada sedih.
"Alah...tangisan buaya! Udah komandan, bawa aja nih dokter gadungan. Aye gak mau mendengar ucapan manis dari orang yang udah mencelakakan anak aye!"ucap babe dengan nada emosi.
"Tolong bawa saudari Mira ke kantor polisi!"perintah komandan kepada anak buahnya.
Tiba-tiba Dokter Rian memotong ucapan Komandan Geri.
"Tunggu dulu komandan!"ucap Dokter Rian.
"Bagaimana pun dia sepupu saya, saya ingin mendengarkan alasan dia melakukan ini semua."sambung Dokter Rian.
"Alah...buat apa pak dokter ingin tau. Jelas-jelas kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, ini dokter gadungan mau membunuh anak aye dengan cara mencekik. Mau minta penjelasan apa lagi? Gak perlu! Bawa aja dia sekarang juga komandan!"ucap babe ketus.
"Saya mohon pak...tolong izinkan Mira menjelaskan dengan sejujur-jujurnya. Saya ingin mendengar langsung dari mulutnya."ucap Dokter Rian.
Mendengar ucapan Dokter Rian, akhirnya Komandan Geri memberikan izin Mira menjelaskan dengan sejujur-jujurnya alasan dia ingin mencelakakan Zaenab untuk kedua kalinya. Babe yang tidak terima keputusan komandan, ingin meluapkan kekesalannya tapi di redam oleh Zaki.
"Kita dengarkan saja dulu be...babe banyak-banyak istigfar."ucap Zaki menenangkan babenya.
"Silahkan bicara saudari Mira!"ucap komandan.
"Baik. Sebenarnya... saya...saya di suruh seseorang untuk mencelakakan Zaenab selama di rawat di rumah sakit ini."ucap Mira.
"Siapa yang menyuruh anda?"tanya komandan.
"Kalau saya tidak menghabisi Zaenab malam ini, ibu saya...hiks hiks hiks...ibu saya akan di habisi oleh anak buahnya."sambung Mira.
"Anak buah siapa? JAWAB!"teriak komandan.
"Anak buah..."Mira tak berani melanjutkan kata-katanya. Dia ketakukan untuk berbicara yang sebenarnya.
"Mira...jika kamu jujur sekarang juga aku akan meminta komandan untuk menyelamatkan ibumu. Aku juga bersedia untuk menjadi penjamin mu. Katakanlah yang sejujurnya."ucap Dokter Rian sambil memegang kedua pundak Mira.
"Rian...tolong selamatkan ibuku...hiks hiks hiks..."ucap Mira sambil memohon kepada Dokter Rian.
"Siapa yang menyuruh dan mengancam mu dan ibumu?"tanya Dokter Rian.
__ADS_1
"DI...DIA..."