
Zaki dan ketiga temannya sedang bersiap-siap untuk mendaki Gunung Pangrango. Masing-masing mereka menggendong ransel besar yang berisi tenda untuk berkemah, air minum, makanan instan, pakaian, perlengkapan mandi dan tak lupa mereka membawa senter. Sebelum berangkat, mereka berdoa bersama dengan para pendaki yang lain.
Di perjalanan mendaki, Bambang dan Ucok melihat Zaki seperti tidak bersemangat untuk mendaki. Mereka tau kalau suasana hati Zaki berubah karena siaran radio tentang sesi curhat yang satu jam lalu mereka dengar. Zaki yang mereka kenal selalu bersemangat jika akan mendaki dan berkemah di gunung, tapi kali ini dia terlihat murung dan tak bergairah untuk mendaki.
"Ki...kau baik-baik saja kan?"tanya Ucok khawatir.
"Iya"jawab Zaki yang masih menundukkan kepalanya.
"Serius,Ki? Kenapa muka mu murung begitu? Pasti masih memikirkan curhatan yang di radio tadi ya?"tanya Bambang.
"Tak usah kau fikirkan belum tentu itu email dari Tania. Mungkin saja cerita yang dialami oleh orang tersebut sama dengan yang Tania dan kau alami. Tak perlu di fikirkan berlebihan!"ucap Ucok.
"Apa yang di ucapkan Ucok ada benarnya. Kita kesini mau refreshing bukan mau merenungi nasib hubungan kau dengan Tania."ucap Bambang.
"Tegakkan kepala mu bro...! Kita sebagai laki-laki dilahirkan untuk kuat dan berani menghadapi kenyataan pahit dalam hidup dan percintaan!"ucap Ucok.
"Tau apa kau tentang percintaan, Cok? Pacar saja ndak punya!"sindir Bambang.
"Aku ini sedang menasihati Zaki, kenapa kau jadi menyindir aku? Huuuuhh!"ucap Ucok kesal.
"Kalian ini! Dimana saja bertengkar!"sahut Zaki.
"Baiklah. Aku akan mencoba memulai hidup ku dari nol lagi...Tolong bantu aku ya teman-teman..."ucap Zaki sembari menegakkan kepalanya menatap kedua temannya tersebut.
"Tanpa kau pinta, aku akan membantu kau. Aku tak mau pertemanan kita rusak hanya gara-gara perempuan."ucap Ucok.
"Aku akan membantu mu,Ki.... Sampai titik darah penghabisan!"ucap Bambang.
"Kau ini mau bantu Zaki atau mau berperang melawan koruptor?! Pake bicara seperti itu!"sahut Ucok.
"Sudah...sudah! Jangan ribut lagi! Malu tau sama pendaki yang lain! By the way...Thank you Cok...Bang..."Zaki memeluk kedua sahabatnya itu.
"Lepas lepas lepas!"teriak Bambang dan Ucok.
"Terakhir kali kita berpelukan di tertawakan adikmu, Zaenab. Sekarang, aku tak mau di tertawakan pendaki yang lain. Lihat! Mereka menertawakan kita!"Bambang menunjuk para pendaki yang menatap dan tertawa melihat mereka bertiga.
__ADS_1
"Sorry ya brother...sorry...reflek aja pengen meluk kalian berdua...hehehe"ucap Zaki sembari menggaruk tengkung lehernya yang tidak gatal.
"Uuhh...kau ini!"ucap Ucok kesal.
Zaki kembali bersemangat melakukan pendakian. Mereka berjalan dengan penuh semangat menuju jalur pendakian Gunung Pangrango bersama dengan para pendaki yang lain.
Di lain tempat...
Bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa dan guru pulang di waktu yang bersamaan. Hanya beberapa siswa yang berhubungan dengan kasus yang menimpa Zaenab seperti Andi, Surya, Yuni dan Eka, masih berada di sekolah. Mereka di kumpulkan di aula sekolah.
Seharusnya Zaki juga datang ke sekolah sebagai saksi utama tapi karena dia sedang pergi maka pihak kepolisian meminta petugas polisi yang lain menggantikan peran Zaki. Semua pihak yang menjadi saksi kejadian tersebut sudah siap menjalani rekonstruksi. Babe dan emak Zaenab pun sudah datang. Mereka ingin melihat kejadian sebenarnya yang telah menimpa anak perempuan kesayangannya.
Hati dan fikiran Zaenab sedang tak tenang. Dia sangat gelisah dan ketakutan. Terlihat dari raut wajah Zaenab dia sangat ketakutan dan tidak nyaman. Emak dan Babe menenangkan dengan memeluk erat Zaenab.
"Zaenab takut,Mak... Takut ketemu guru itu lagi. Zaenab masih trauma...hiks hiks..."ucap Zaenab yang mulai menangis di pelukan emaknya.
"Tenangkan hati dan fikiran Zaenab dengan istigfar. Jangan takut, ada babe, emak dan pak polisi yang akan menjaga Zaenab."ucap Emak.
"Iye...Nab jangan khawatir. Kalau itu guru berani macem-macem sama Zaenab. Babe bakalan patahin kakinya. Dia belum tau Babe juara pencak silat se-DKI."ucap Babe.
"Selamat sore Pak Rojali!"ucap komandan kepolisian.
"Selamat sore Pak polisi. Ada yang bisa aye bantu?"tanya Babe.
"Kami sudah siap untuk rekonstruksi, tersangka juga sudah siap. Apakah adik Zaenab sudah siap?"tanya Komandan tersebut.
"Lima menit lagi ya pak polisi. Aye harus tenangin anak aye dulu. Dia ketakutan kalau ketemu lagi sama guru itu."ucap Babe.
"Baik pak."ucap komandan polisi.
Komandan polisi melihat wajah Zaenab yang ketakutan dan gelisah. Akhirnya komandan tersebut mendekati dan berbicara dengan Zaenab.
"Adik Zaenab tidak perlu khawatir. Jika tersangka menyakiti adik saat rekonstruksi. Kami, pihak kepolisian akan menambah masa hukumannya. Kalau adik Zaenab sudah siap, silahkan datang ke TKP (Tempat Kejadian Perkara). Kami permisi dulu ya dik...Pak Rojali..."ucap komandan polisi. Komandan polisi dan anak buahnya pergi ke TKP. Emak dan Babe berusaha meyakinkan Zaenab. Akhirnya Zaenab memberanikan diri untuk pergi ke TKP yang ada di ruang guru bersama kedua orang tuanya.
Di depan ruang guru sudah banyak polisi dan teman-teman Zaenab yang telah di jadikan saksi. Zaenab hanya tersenyum kecil ketika melihat Yuni, Eka dan Andi.
__ADS_1
Saat kejadian di ruang guru, Zaenab di pertemukan oleh tersangka yaitu Pak Supari,yang sekarang memakai baju tahanan berwarna biru tua. Zaenab melihat rambut Pak Supari yang gundul, tubuhnya bertambah kurus dan kedua tangannya terborgol.
Zaenab dan Pak Supari beradu tatap, terlihat senyum sinis Pak Supari ketika Zaenab menatap wajahnya. Saat rekonstruksi di mulai, salah seorang petugas polisi melepaskan borgol Pak Supari dan petugas itu berdiri satu meter dari Pak Supari.
Seorang polisi wanita(polwan)mendekati Zaenab, dia menuntun Zaenab berdekatan dengan tersangka (Pak Supari). Bahasa tubuh Zaenab terlihat sekali menolak berdekatan dengan tersangka. Lalu seorang polisi wanita yang tadi menuntunnya berdiri disamping Zaenab.
"Tidak usah khawatir dek...saya dan polisi yang lain akan melindungi adik. Adik tolong ingat kejadian pada saat itu, jika ada kejadian yang tidak sesuai dengan apa yang dulu terjadi, adik bisa protes kepada kami. Saya akan berdiri di samping adik...ok?"ucap polisi wanita tersebut.
"Ok...bu."jawab Zaenab singkat.
Ibu polisi menghadapkan Zaenab dengan Pak Supari. Zaenab mencoba untuk kuat berhadapan dengan orang yang pernah menyakitinya. Sejujurnya Zaenab tak ingin mengingat kenangan buruk itu tapi apa boleh buat, demi tegaknya keadilan dia harus mengikuti perintah kepolisian. Pak Supari dan Zaenab memperagakan kejadian yang terjadi beberapa minggu yang lalu.
Setelah 30 menit,keberanian Zaenab akhirnya tumbang. Dia tak sanggup melakukan reka adegan lagi. Dia terduduk lemas dan menangis sekencang-kencangnya. Polisi wanita yang selalu ada di samping Zaenab memegang erat tangan Zaenab dan membantunya berdiri. Pak Supari yang berdiri di depan Zaenab hanya diam dengan tatapan mata kosong. Saat Zaenab hendak berdiri, tanpa sepengetahuan polwan tersebut Pak Supari memegang tangan Zaenab dengan kencang.
"Kalau saya tidak bisa memiliki kamu, maka orang lain pun juga tidak bisa!"ucap Pak Supari sembari mencengkram tangan kanan Zaenab.
"Lepaskan! Lepaskan!"teriak Zaenab kencang.
Semua mata orang yang ada di ruangan tersebut tertuju pada teriakan Zaenab. Polwan yang ada di sisi Zaenab, melepaskan cengkraman tangan Pak Supari yang ada di tangan Zaenab.
"Petugas borgol kembali dia!"ucap Polwan tersebut.
Saat polisi memborgol tangan Pak Supari. Pak Supari berteriak di dalam ruangan.
"Tidak akan ada laki-laki yang mau menikah sama kamu. Hanya aku yang mau menerima kamu yang sudah ternoda...Hahaha"teriak Pak Supari.
Babe dan emak yang mendengar ucapan Pak Supari geram dan marah. Babe berlari berlari menuju Pak Supari, dia memberikan bogem mentah di kedua pipi guru tersebut. Polisi yang melihat tindakan Babe langsung memisahkan Babe dengan Pak Supari.
"Saya belum selesai pak polisi! Biar saya hajar sampai babak belur itu orang!"teriak Babe.
"Kalau gak ada polisi dan hukum di negara ini. Gue udah habisin elu dari kemarin!"sambung Babe.
"Sudah Be...sudah... Istigfar...ingat Allah . Aye gak mau terjadi ape-ape sama Babe. Anak-anak butuh kite Be... apalagi Zaenab. Jangan gegabah mengambil tindakan Be..."Emak mengelus-elus dada Babe. Dia berusaha menenangkan suaminya itu.
Babe yang fikiran dan hatinya sedang terbakar emosi atas ucapan Pak Supari luluh setelah melihat Zaenab menangis di pelukan polwan yang membantunya berdiri.
__ADS_1
Orang tua mana yang tak akan marah jika anak kesayangannya di lecehkan seperti itu. Apa yang di ucapkan Pak Supari benar-benar tidak mencerminkan guru yang baik. Memang tidak semua guru seperti Pak Supari. Jangan hanya 'karena nila setitik rusak susu sebelanga' yang memiliki makna 'hanya karena kesalahan yang di buat satu orang, semua orang kena imbasnya.'