
"Rin...coba telepon ponselnya Zaenab!"pinta Andi.
"Ok. Aku coba!"jawab Rini.
"Aduuuhhh...gak di angkat juga! Bagaimana ini?"tanya Rini kepada Pak Budi dan teman-temannya.
"Coba lagi!"ucap Andi.
"Ini udah berkali-kali gue telepon tetep aja gak di angkat!"ucap Rini.
"Kita harus hubungi orang tua Zaenab segera pak!"ucap Eka.
"Kita usaha bersama-sama mencari Zaenab. Kalau tidak ketemu baru kita beritahu orang tuanya. Setuju?"tanya Pak Budi.
"Baik. Kami setuju pak!"jawab semua siswa.
"Ok. Kalau begitu kita buat empat kelompok. Kelompok pertama, Rini yang pimpin. Kalian minta bantuan satpam taman ini untuk mencari Zaenab. Kelompok kedua, Andi, kamu dan tim mu mencari Zaenab di sebelah timur. Kelompok ketiga, Surya, tugas mu dan yang lain mencari Zaenab di sebelah barat. Kelompok keempat, saya yang pimpin, kita cari ke sebelah selatan. Kita berkumpul kembali di titik ini."ucap Pak Budi sambil memberikan tanda X pada aspal jalanan taman dengan kapur biru.
"Waktu kita satu jam untuk mencari Zaenab. Ketemu atau tidak ketemu kalian harus kembali ke tempat ini. Kalian mengerti?"tanya Pak Budi.
"Mengerti pak!"jawab semua siswa.
"Baik. Kita baca basmallah dulu sebelum memulai pencarian."pinta Pak Budi.
"Bismillahhirrohmanirrohim"ucap semua tim pencari Zaenab.
Mereka berpencar ke seluruh bagian taman dan mereka berusaha bertanya kepada pengunjung yang datang di taman tersebut.
Sudah 20 menit tim pencari Zaenab yang beranggotakan teman-teman satu sekolahnya mencari Zaenab tapi belum ada satu pun yang berhasil menemukannya. Andi begitu gelisah dan khawatir, dia mencari Zaenab ke tempat yang biasanya tidak tersentuh pengunjung. Dia menyisir semak-semak di sekitar taman. Di semak-semak tersebut dia melihat ada beberapa pohon yang bergerak dan terdengar suara bisik-bisik orang.
"Teman-teman...sepertinya aku melihat dan mendengar sesuatu yang aneh di sekitar semak-semak itu. Bagaimana kalau kita periksa saja?"tanya Andi kepada dua orang teman sekelasnya.
"Ayo!"jawab mereka berdua.
Andi dan kedua temannya penasaran dan memeriksa di sekitar suara berisik tersebut. Alangkah terkejutnya Andi, dia melihat sepasang anak muda yang masih memakai seragam sekolah yang sama dengannya sedang asik berduaan di balik semak-semak itu.
"Astagfirullohalazim"ucap mereka bertiga.
__ADS_1
"Harun! Kalian lagi ngapain berdua disini?"tanya Andi. Yang di tanya hanya diam ketakutan dan sedang merapihkan pakaiannya yang kusut.
"Ngapain lagi kalau bukan berbuat mesum! Benerkan?"ucap teman Andi yang pertama.
"Eh eh...enggak kok enggak! Kita cuma ngobrol aja di sini!"jawab Harun yang gelagapan ketahuan teman sekelasnya.
"Alah! Dasar tukang kibul elu! Ngeles aja elu kayak bemo!"ucap teman Andi nomor 2.
"Ngobrol disini biar private aja, gak enak kan di lihat orang banyak."ucap Harun.
"Banyak banget alasan elu,Run! Udah keluar elu dari situ!"ucap Andi yang wajahnya sudah kesal mendengar ucapan Harun.
Harun dan perempuan tersebut berdiri dan tak sengaja Andi dan kedua temannya melihat sebungkus sampah kecil berwarna merah bertuliskan 'S****A' yang jatuh dari saku celana Harun.
"Apaan itu?"tanya Andi. Teman Andi segera mengambil sampah kecil tersebut dan memperlihatkannya kepada Andi dan teman yang lain.
"Ini kaaannn..."Andi tidak meneruskan ucapannya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Astaga! Gila elu ya Run! Tampang doank kayak anak rohis tapi kelakuan bejat!"ucap teman Andi nomor 2.
"Eh apa urusannya sama kalian? Gue sama dia sama-sama suka dan menikmati kok! Bilang aja kalian iri sama gue kan?"ucap Harun.
"Kita gak iri sama apa yang elu lakukan. Hanya mengingatkan sesama teman kalau apa yang elu lakukan itu dosa besar. Kalau itu cewek 'tekdung' bagaimana? Kasihan kan masa depan nya?"ucap Andi.
"Alah! Gak usah ceramahin gue deh elu! Jangan jadi makhluk sok suci! Cuuuiiihhh...!"ucap Harun sambil membuang ludah di tanah.
"Minggir elu semua! Gue mau pergi aja, males ketemu orang-orang naif kayak kalian!"ucap Harun pergi sambil menarik lengan pasangannya.
"Kita harus lapor wali kelas kita tentang perbuatan Harun ini!"ucap teman Andi nomor 2.
"Tidak perlu. Biar waktu saja yang mengungkapkan kelakuan bejat Harun. Lebih baik kita fokus mencari Zaenab. Karena waktu kita tinggal 25 menit lagi."ucap Andi.
"Kamu benar juga. Ayo kita lanjut cari Zaenab lagi!"ucap teman Andi nomor 1.
Mereka bertiga berjalan lagi menelusuri jalanan di sekitar Taman. Saat berjalan tak sengaja Andi melihat sebungkus plester yang motifnya sama seperti yang dia beli di minimarket stasiun dan harga yang tertera pun sama. Lalu Andi mengambil plester tersebut dan berjalan beberapa meter, dia menemukan obat luka yang tadi dia beli juga jatuh di tanah. Andi mengambil plester dan obat luka itu.
"Guys...ini obat luka dan plester punya Zaenab. Gue yakin ini punya dia, karena gue yang membelikannya tadi di stasiun."ucap Andi.
__ADS_1
"Elu yakin,Di?"tanya teman Andi nomor 1.
"Yakin banget! Pasti Zaenab ada di sekitar sini! Ayo berpencar!"perintah Andi kepada kedua temannya.
"Siap!"jawab mereka berdua.
Mereka pun berpencar dan mencari jejak keberadaan Zaenab. Andi menelusuri gorong-gorong saluran air taman yang kering dan tak pernah tersentuh oleh pengunjung. Saat menelusuri gorong-gorong, dia mendengar suara seorang perempuan yang berbicara dengan nada emosi. Andi mendekati sumber suara tersebut. Dia melihat dua orang perempuan muda. Perempuan yang satu sedang berdiri dan perempuan yang satu lagi tangan dan kakinya diikat dengan tali, mulut disumbat dengan sebuah kain dan duduk berlutut menghadap perempuan yang sedang berdiri.
Andi melihat perempuan yang di ikat itu memakai jilbab dan baju olahraga yang sama di pakai Zaenab tadi.
"Itu Zaenab! Siapa perempuan yang menyiksa Zaenab?"gumam Andi.
Andi berinisiatif mengambil beberapa foto Zaenab dan perempuan tadi sebagai bukti di kepolisian. Setelah mengambil foto, dia menghubungi dua orang temannya untuk segera datang ke lokasi yang dia berikan.
Andi kembali menguping ucapan perempuan tersebut kepada Zaenab.
"Gara-gara kamu, Mas Ari ku harus berada di balik jeruji besi! Aku ini sedang mengandung lima bulan anaknya. Tapi kenapa dia malah tertarik sama kamu! Dasar perempuan kegatelan! PLLAAAKKK!!"perempuan tersebut menampar Zaenab keras. Zaenab tak bisa melawan maupun membalas. Wajahnya penuh dengan luka-luka dan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Apa istimewanya kamu,Zaenab? Masih bocah ingusan dan masa depan belum jelas. Lah...aku...sudah cantik, pintar dan tajir melintir. Asal kamu tau, bapak ku di kampung itu punya tanah seribu hektar. Sedangkan kamu cuma anak wakil yayasan aja! Gak level sama aku!"ucap perempuan itu.
Beberapa menit kemudian muncullah seorang pria paruh baya datang menghampiri perempuan tersebut.
"Nduk...sudah hentikan menyiksa gadis ini...Kasihan dia. Ingat nduk...kamu ini lagi hamil, bapak ndak mau kamu dan bayi kamu kenapa-kenapa. Lebih baik ayo kita pulang saja ya nduk..."ucap bapak tersebut.
"Aku belum puas menyiksa orang yang telah menjebloskan calon bapak dari anak ku ke penjara! Biarkan dia mati pak!"
"Jangan nduk...bapak ndak mau kamu di penjara juga seperti calon suami mu. Kasihan nanti anak dalam kandungan mu. Kita pulang saja ya nduk...kasihan ibu, sakit di kampung."
"Ayo kita pulang pak...biarkan gadis ini sendirian membusuk disini."
"Jangan begitu nduk sesama manusia harus saling mengasihi dan membantu. Izinkan bapak membuka ikatan di tangan dan kakinya ya..."
"Terserah bapak saja! Aku ke mobil duluan!" Perempuan itu pergi meninggalkan bapaknya. Bapak gadis itu menolong Zaenab dengan membukakan ikatan di tangan dan kaki serta mengeluarkan kain yang ada di mulut Zaenab.
"Maafkan anak bapak ya nduk... dia sedang stres menghadapi kehamilannya. Mohon di maafkan dan tolong jangan laporkan ke polisi. Ini ada uang dua juta buat adik untuk berobat, mohon di terima ya..."bapak tersebut menyodorkan sebuah amplop cokelat ke tangan Zaenab.
Zaenab tak bisa berkata apa-apa, dia terlihat lemas dan pingsan. Bapak tersebut meninggalkan Zaenab seorang diri di lantai gorong-gorong dan pergi bersama putrinya dengan mobil.
__ADS_1