
Setelah kejadian di depan perpustakaan tersebut persaingan Andi dan Pak Supari semakin sengit. Saat di kelas Andi, Pak Supari mengajar menggunakan emosi karena dia tidak suka melihat wajah Andi. Dia seakan-akan ingin menghajar Andi habis-habisan tapi dia menahannya karena dia tau bahwa dia berada di sekolah. Jika dia melakukan kekerasan terhadap murid, dia akan di kenakan pasal berlapis dan hukum pidana.
"Andi! Tolong kerjakan tiga soal di papan tulis dalam waktu 5 menit berikut cara nya!"ucap Pak Supari
"Hah? 5 menit? Mana bisa pak?"jawab Andi
"Kamu menolak? Seharusnya kamu sebagai juara lomba pertama bisa menyelesaikan soal tersebut dalam 5 menit atau mungkin kurang dari 5 menit!"ucap Pak Supari dengan tatapan sinis.
"Saya bukan Albert Einstein pak...tapi saya akan kerjakan sebisa saya!"Andi berjalan menuju papan tulis di depan dan langsung mengerjakan soal-soal yang di perintahkan oleh Pak Supari.
"Sudah selesai pak."ucap Andi sembari meletakkan spidol di meja guru.
"Kamu menghabiskan 7 menit untuk tiga soal? Ckckck...lama sekali!"Pak Supari mengejek Andi.
"Andi mengerjakan lima soal yang bapak berikan di papan tulis dalam waktu 7 menit. Itu kan hebat pak! Bener gak teman-teman?"celetuk Surya, teman sebangku Andi. Pak Supari melihat dan memeriksa hasil kerja Andi.
"Bagus...lain kali kerjakan sesuai yang saya perintahkan biar teman-teman mu yang lain kebagian jatah. Gak usah jd sok pintar dan sok super hero!"sindir Pak Supari.
"Saya tidak merasa sok pintar atau pun sok superhero. Tapi sebagai sesama manusia saya harus membantu seseorang yang melakukan kekerasan apalagi kekerasaan terhadap perempuan."sindir Andi dengan menatap tajam wajah Pak Supari.
"Dasar siswa kurang ajar!"gumam Pak Supari dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya tanda menahan emosi.
Semua teman-teman kelas Andi terdiam mendengar sindiran yang di lontarkan oleh Pak Supari dan Andi. Semua mata tertuju kepada guru dan murid tersebut. Tak satu pun dari mereka berdua menjelaskan apa yang sudah terjadi. Tatapan dan ucapan tajam yang terlihat dan terdengar oleh murid-murid di dalam kelas membuat suasana kelas semakin mencekam. Beruntunglah suara bel pulang sekolah terdengar sehingga suasana tersebut berganti menjadi suara gaduh murid-murid yang hendak bersiap-siap pulang.
__ADS_1
Pak Supari keluar kelas lebih dahulu sedangkan murid-murid yang lain berkumpul ke meja Andi dan Surya. Mereka semua penasaran dengan maksud dari ucapan Andi dan Pak Supari tadi. Karena di rundung pertanyaan bertubi-tubi, akhirnya Andi memecah kerumunan tersebut dan keluar kelas di susul oleh Surya, teman dekatnya.
"Eh Di...lu itu kenapa sih? Aneh banget hari ini!"tanya Surya penasaran.
"Gak apa-apa."jawab Andi singkat.
"Yakin lu bro? Kayaknya lu ada masalah ya sama Pak Supari? Kok dia sinis banget tadi sama lu!"
"Aaahhh...itu hanya perasaan lu aja!"
"Beneran. Buktinya bukan gue aja yang merasa ada aroma permusuhan dan persaingan antara kalian berdua tapi teman-teman sekelas merasakan begitu juga!"
"Tenang bro...gue gak ada masalah sama itu guru tapi dia yang selalu membuat masalah."
"Tapi elu gak usah deh buat masalah sama Pak Supari, nanti nilai elu di persulit sama dia!"
Saat Andi berbicara di parkiran motor dengan Surya, dia melihat Zaenab akan pulang jalan kaki bersama teman-temannya. Andi hendak mendekati Zaenab, tiba-tiba Pak Supari memanggil Zaenab untuk ke ruang guru. Terlihat sekali ekspresi wajah Zaenab sangat ketakutan saat di panggil guru tersebut. Eka dan Yuni menemani Zaenab ke ruang guru. Andi dan Surya pun mengikuti mereka bertiga.
Saat Eka, Yuni dan Zaenab masuk ke ruang guru, Pak Supari meminta kedua teman Zaenab pulang terlebih dahulu tapi mereka menolaknya. Kesal mendengar jawaban dari teman-temannya Zaenab, Pak Supari tidak kehilangan akal. Dia meminta kedua temannya menunggu Zaenab di luar ruang guru karena dia ingin berbicara empat mata dengan Zaenab.
Setelah mengusir paksa Eka dan Yuni, Pak Supari mengunci pintu ruang guru dari dalam. Eka dan Yuni berusaha menggedor-gedor pintu ruang guru berkali-kali sambil memanggil nama Zaenab. Zaenab merasa ada gelagat jahat yang akan di lakukan Pak Supari kepadanya.
"Kenapa di kunci pak? Kenapa teman-teman saya tidak boleh masuk?"tanya Zaenab dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Saya mau bicara empat mata sama kamu jadi saya gak mau di ganggu oleh siapa pun!"ucap Pak Supari sambil berjalan ke hadapan Zaenab.
"Bapak mau bicara apa sama saya? Bicara saja sekarang! Tidak usah maju-maju mendekati saya!"Zaenab mundur beberapa langkah menjauhi Pak Supari.
"Kamu gak usah takut gitu donk mukanya...saya gak akan lukai atau nyakitin kamu kok...saya hanya mau miliki kamu seumur hidup. Tidak ada seorang pun yang boleh memiliki kamu kecuali saya!"Pak Supari mendorongkan badan Zaenab ke pojok tembok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zaenab.
"Bapak mau ngapain? Menjauh dari saya!"Zaenab berusaha menghindar dari gurunya tersebut tapi posisi badannya sudah terjepit oleh badan guru itu.
"Lepaskan saya pak! Lepaskan!"Zaenab berusaha melepaskan cengkraman tangan gurunya itu.
"Saya gak mau lepaskan kamu! Kamu harus jadi milik saya!"Pak Supari mencium kedua pipi dan dagu Zaenab dengan nafsu yang sudah tidak bisa di tahan.
"Tolong...tolong...tolong...!!"teriak Zaenab dari dalam ruang guru. Tiba-tiba mulut Zaenab di bekap dengan sapu tangan guru tersebut. Zaenab berusaha menendang kedua paha gurunya itu tapi tendangannya tidak membuahkan hasil.
Pak Supari sudah kehilangan akal, dia menarik jilbab Zaenab secara paksa dan membuka kancing baju Zaenab satu persatu. Zaenab tetap mencoba berontak tapi tenaganya kalah kuat dari gurunya itu. Tenaga Zaenab sudah habis, dia hanya bisa menangis dan berdoa agar Allah segera mengirimkan seseorang untuk menolongnya.
"Ya Allah...tolong hamba mu ini... ya Allah..."gumam Zaenab dalam hati sambil menangis.
"Jangan pernah menolak saya! Berani kamu menolak saja, kamu akan tanggung akibatnya."ucap Pak Supari.
"Ya Allah...hamba mohon bantuan mu segera. Hamba tidak ingin masa depan hamba hancur hanya karena manusia bejat ini..."gumam Zaenab dalam hati.
Air mata Zaenab keluar dengan deras. Pak Supari tetap tak menggubris air mata Zaenab. Dia tetap saja menjamah tubuh Zaenab dari ujung kepala sampai dada dengan bibir dan tangannya.
__ADS_1
"Kalau kamu mau menuruti kemauan saya, hal ini tidak akan terjadi. Saya suka sama kamu dan saya mau kamu jadi milik saya!"
"Zaenab Zaenab!! Pak Supari buka pintunya! Buka pak!"teriak Eka dan Yuni yang sedang mencoba mendobrak pintu dengan sisa tenaga mereka.