
Kedua petugas polisi, Andri dan Andi keluar dari ruangan yang telah di sewa pihak kepolisian dari rumah sakit. Saat mereka berjalan menuju ruang tunggu ruangan dahlia, terdengar teriakan seseorang memanggil nama Andi.
"Andi...Andi...!"teriak seseorang.
Andi pun mengangkat kepalanya dan melihat dua orang berlari menujunya.
"Andi...Alhamdulillah...kamu baik-baik saja. Mama dan papa khawatir saat kamu bilang sedang di rumah sakit dan meminjam ponsel bapak polisi. Mama takut terjadi sesuatu sama kamu karena sampai sore kamu belum pulang juga ke rumah."ucap Mama Andi sembari memeluk dan mencium Andi.
"Iya nak...mama mu dari dapat telepon kamu sampai di dalam mobil ngoceh terus khawatir sama kamu. Sampai pegel telinga papa mendengar ocehan mama mu!"ucap Papa Andi sambil menggelengkan kepalanya.
"Iiihhh...papa ini gak usah di omongin juga kali ke anaknya."ucap Mama Andi sembari memukul bahu suaminya.
"Papa dan Mama gak perlu khwatirkan aku. Aku baik-baik saja."ucap Andi menenangkan kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian, datanglah Komandan Geri menghampiri keluarga Andi. Komandan Geri menyapa dan berbicara dengan mereka.
"Selamat sore bapak dan ibu..."sapa Komandan Geri.
"Selamat sore pak polisi. Ada yang bisa kami bantu?"jawab Papa Andi.
"Perkenalkan nama saya Komandan Geri. Andi tadi menelepon bapak dan ibu melalui ponsel saya. Saya hanya ingin bilang bahwa anak bapak dan ibu, Andi, hari ini menjadi pahlawan. Dia telah menemukan dan menyelamatkan temannya yang bernama Zaenab."ucap Komandan Geri.
"Zaenab? Teman lomba debat kamu waktu itu?"tanya Mama Andi menatap ke Andi. Andi pun hanya mengganguk sebagai tanda 'iya'.
"Memangnya Zaenab kenapa, komandan?"tanya Papa Andi.
"Zaenab menjadi korban penculikan saat dia sedang berolahraga lari di taman hutan bersama teman-temannya. Saat sedang berlari seseorang menculiknya dan menganiaya dia. Andi mencari Zaenab bersama teman-temannya. Andilah yang telah menemukan dan menyelamatkan Zaenab. Andi, kami jadikan saksi utama karena dia telah melihat ketiga wajah tersangka penganiayaan. Oleh karena itu, kami dari kepolisian akan memberikan pengamanan untuk Andi dan keluarga sampai kami bisa menangkap ketiga tersangka. Kami memohon izin kepada bapak dan ibu untuk menempatkan dua orang petugas polisi yang akan menjaga rumah bapak dan ibu selama 24 jam."ucap Komandan Geri.
"Saya izinkan komandan."jawab Papa Andi.
"Terima kasih. Nanti saya akan utus dua petugas polisi langsung ke rumah bapak dan ibu."
"Apakah Andi boleh kami bawa pulang sekarang,komandan?"tanya Mama Andi.
"Tentu saja. Karena kami sudah meminta keterangan lengkap Andi. Jadi tugas Andi sudah selesai hari ini. Nanti jika ada apa-apa,kami akan menghubungi Andi atau bapak dan ibu."
"Baik. Komandan. Terima kasih."jawab kedua orangtua Andi.
"Baik. Saya tinggal dulu ke kantor ya pak...bu..."ucap komandan.
__ADS_1
"Baik pak."jawab Mama Andi.
Komandan Geri dan ketiga petugas kepolisian meninggalkan rumah sakit menuju kantor polisi tempat mereka bertugas.
Kak Andri yang masih berdiri di belakang Andi pun berbincang sebentar kepada Andi.
"Andi...aku juga mau pamit kembali ke kampus. Terima kasih atas kerja samanya ya...semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi."ucap Andri sembari menjulurkan tangan kanannya ke arah Andi.
"Sama-sama kak."jawab Andi.
"Kalau teman mu sudah sadar, kabari aku ya..."
"Hmm...kenapa ya kak?"
"Aku mau kenalan dengan temanmu. Dia masih jomblo kan? Siapa tau saja aku tertarik menjadikannya pacar pertama ku...hehehe"ucap Andri sembari tersenyum lebar.
"Kupret!! Dia mau nikung gue!"gumam Andi dalam hati.
"Eh...kenapa tampangmu kesal begitu? Dia hanya temanmu kan? Bukan pacarmu kan?"tanya Andri.
"Iya.. Zaenab hanya teman sekolahnya bukan pacarnya. Saya juga gak sudi anak saya pacaran sama orang yang selalu diikuti marabahaya seperti Zaenab!"sahut Mama Andi ketus.
"Mama kok ngomongnya begitu?"tanya Andi.
"Stop ma! Jangan bilang seperti itu tentang Zaenab. Ini sudah takdir dari Allah, ini cobaan juga buat Zaenab dan keluarganya."ucap Andi membalas perkataan mamanya.
"Kamu kok berani bentak mama? Hanya gara-gara anak perempuan kampungan itu! Biarkan saja dia terbaring di kasur selamanya!"
"Stop ma! Stop!"teriak Andi.
"Eh eh...Andi. Aku pamit pulang dulu ya..bye..."ucap Andri yang langsung kabur setelah mendengar perdebatan antara anak dan orangtua tersebut.
"Kamu ini...! Gggrrr...!"ucap Mama Andi sembari menahan emosi.
"Apa yang Andi bilang itu benar,ma. Ini sudah takdir dari Allah swt. Coba mama pikirkan deh kalau hal ini terjadi sama adiknya Andi, Sarah, kita sekeluarga pasti akan terpuruk."ucap Papa Andi.
Babe yang baru keluar dari toilet mendengar perdebatan sengit antara Andi dan mamanya. Babe akhirnya berjalan mendekati dan menyapa mereka bertiga.
"Assalammualaikum bu...pak..."sapa Babe Rojali.
__ADS_1
"Waalaikumsalam..."jawab kedua orangtua Andi. Andi hanya tersenyum melihat Babe Zaenab.
"Mohon maaf mengganggu. Perkenalkan saya Babenya Zaenab. Saya ingin berterima kasih langsung kepada anak bapak dan ibu yaitu Andi. Karena dia telah menyelamatkan Zaenab hari ini. Andi juga sudah bersedia meluangkan waktunya untuk di mintai kesaksian tentang wajah para tersangka. Saya sangat bersyukur Allah swt telah mengirimkan Andi sebagai penyelamat anak saya. Terima kasih nak Andi. Terima kasih bapak dan ibu."ucap babe dengan nada bicara lembut.
"Sama-sama pak. Kita sesama manusia ciptaan Allah harus saling membantu dan menolong jika ada saudara yang kesusahan. Saya bersyukur anak saya,Andi, bisa menolong anak bapak. Semoga anak bapak lekas sadar dan sehat kembali."ucap Papa Andi.
"Bapak seharusnya sebagai orangtua menjaga dan melindungi anak bapak dengan sebaik-baiknya. Jangan dibiarkan pergi tanpa pengawasan. Kalau perlu bapak sewa pengawal pribadi untuk menjaga anak perempuan bapak selama 24 jam. Tapi kalau saya lihat dari cara berpakaian bapak yang kampungan ini, sepertinya bapak tidak mampu membayar seorang pengawal pribadi."ucap Mama Andi ketus.
Andi dan papanya terkejut mendengar ucapan mamanya. Mereka saling berpandangan dan menggelengkan kepala. Babe merasa kata-kata yang di lontarkan Mama Andi sangat menusuk hatinya. Dia ingin marah tapi dia pendam emosinya karena dia tidak ingin ribut dengan seorang ibu yang anaknya telah menyelamatkan Zaenab. Babe hanya bisa menahan emosi dengan mengepal kedua tangannya.
"Ma-maafkan istri saya ya pak. Dia bicara gak di rem mulutnya kalau sedang datang bulan. Maaf ya Pak Rojali."ucap Papa Andi dengan sopan.
"Papa ngapain minta maaf sama orang kampungan begini! Mulai hari ini saya melarang anak bapak dekat-dekat dengan anak saya,Andi. Saya gak sudi anak saya dekat dengan korban pemerkosaan dan penganiayaan. Bisa-bisa anak saya bernasib sial seperti anak bapak!"ucap Mama Andi dengan nada emosi.
Babe terkejut untuk kedua kalinya. Kali ini babe hanya diam mematung dan menundukkan wajahnya sambil mengepal kedua tangannya.
"Mama stop!!"teriak Andi.
"Pak...maafkan ucapan tidak sopan mama saya ya pak..."ucap Andi dengan nada sopan.
Babe masih terdiam membeku di posisinya.
Zaki dan kedua temannya yang datang ke ruang tunggu dahlia, sempat mendengar ucapan Mama Andi yang menghina Zaenab. Zaki melihat keadaan babe yang seperti patung. Dia pun langsung mendekati keluarga Andi dan babe.
"Assalammualaikum..."sapa Zaki.
"Waalaikumsalam..."jawab Papa Andi.
"Mohon maaf jika saya menyela percakapan bapak dan ibu tapi saya sebagai anak dari Babe Rojali hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Andi yang telah menyelamatkan Zaenab."ucap Zaki.
"Sama-sama Bang Zaki."jawab Andi.
"Kejadian yang menimpa Zaenab baik itu dua bulan yang lalu maupun hari ini itu sudah takdir Allah swt. Manusia berencana tapi Allah yang menentukan. Ini murni bukan kesalahan kedua orangtua saya. Seharusnya sayalah yang disalahkan karena Zaenab itu juga tanggung jawab saya di dunia dan di akhirat. Saya berterima kasih kepada ibu sudah memberikan solusi untuk menjaga Zaenab selama 24 jam. Insya Allah kami mampu mempekerjakan seorang atau lebih pengawal pribadi untuk menjaga dan melindungi Zaenab. Sebagai salah satu pemilik sekolah dimana Andi dan Zaenab menuntut ilmu, insya allah uang babe saya cukup untuk menggaji pengawal pribadi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Andi, bapak dan ibu. Kami permisi masuk dulu. Assalammualaikum..."ucap Zaki.
Zaki, Ucok dan Bambang pergi membawa Babe Rojali yang lemas karena kadar gulanya menurun. Mereka membawa babe masuk ke ruangan dimana Zaenab di rawat. Mereka berempat meninggalkan Andi dan kedua orangtuanya yang masih berdiri di ruang tunggu.
"Apa dia bilang tadi? Zaenab itu anak dari salah satu pemilik sekolah tempat tante mu bekerja dan tempat kamu belajar?Gak mungkin...! Masa orang kaya pake baju kampungan begitu?"tanya Mama Andi.
"Mama kalau gak percaya tanya tante aja! Nanti mama pasti di omelin tante karena sudah berani menghina bos nya!"
__ADS_1
"Ini pelajaran buat mama sendiri. Jangan pernah menghina orang dari penampilannya. Bisa saja orang tersebut penampilannya keren dan berkelas tapi dia seorang kriminal seperti korupsi dan penipu. Ada juga orang yang berpakaian kampungan seperti Babenya Zaenab tapi dia seorang yang sukses dan tajir."ucap Papa Andi.
"Betul ucapan papa! Don't judge a book by its cover, mom! Remember that!"