Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Memantau dari jauh


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang dari rumah Ibu Mira, Babe Rojali terus melamun di dalam mobil Dani. Pandangannya lurus kedepan dan tak melirik ke kanan dan ke kiri. Dani ingin mengajak ngobrol babe tapi dia tak berani untuk memulai pembicaraan.


Sepuluh menit kemudian mereka berdua sudah berada di jalan tol menuju kota. Dani yang sedang asik mengendarai mobil sambil bernyanyi mengikuti alunan lagu dari radio mobil. Tiba-tiba babe memegang punggung kiri Dani, sontak Dani terkejut dan mendadak menghentikan mobilnya.


"Eh Cang...ade ape?"tanya Dani kaget.


"Mumpung masih sore kita mampir ke rumah kakaknya Ibu Mira di pusat kota. Siapa tau aja kita ketemu sama Mira disana."ucap babe.


"Eh...serius cang? Emang encang kagak cape?"tanya Dani.


"Kagak... gue cuma butuh tidur aje. Lagi pula yang nyetir kan elu ini."jawab babe sembari membaringkan badannya di jok mobil.


"Gue mau tidur dulu ye...kalau bisa elu nyetir jangan sambil nyanyi kenceng."sambung babe.


"Lah...emang kenape,cang?"tanya Dani.


"Elu kan lagi nyetir... perlu konsentrasi ke jalanan. Elu kan bawa dua nyawa, satu...nyawa elu sendiri dan satu lagi nyawa gue. Kalau elu mau mati muda duluan silahkan tapi jangan ngajak-ngajak gue."ucap babe.


"Sialan nih orang! Kalau bukan encang gue udah gue semprot pake handsanitizer nih!"gumam Dani dalam hati.


"Kenape elu bengong aje? Ayo jalan! Kite udah di klaksonin berkali-kali tuh sama mobil yang ada di belakang."sahut babe.


"Eh...iye cang."jawab Dani sembari menghidupkan mesin mobil.


Dani menyetir mobilnya selama satu jam tanpa henti sedangkan babe tertidur pulas di jok penumpang.


"Cang...kite udah nyampe nih..."ucap Dani.


"Eh beneran udah nyampe di rumah pamannya Mira?"tanya babe yang masih mengucek matanya.


"Iya cang...itu rumahnya."ucap Dani sembari menunjuk rumah besar, mewah dan bergaya klasik yang ada di depan tempat dia memarkirkan mobilnya.


"Hah?? Serius elu itu rumah pamannya Mira?"tanya babe terkejut dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


"Rumah itu sesuai dengan yang alamat ibu Mira kasih. Encang cek aja deh..."ucap Dani meyakinkan Babe Rojali.


"Eh...iye juga. Yaudah kita turun aje nyok...gue mau ketemu pamannya Mira. Mau tanya tempat tinggal si Mira."ajak babe sambil membuka pintu mobil.


"Eh...tunggu cang! Itu kayaknya si Mira baru datang dengan ojek online."ucap Dani sembari menunjuk ke gerbang depan rumah mewah itu.


Babe yang melihat Mira sedang turun dari ojek online mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. Dia pun menutup lagi pintu mobil dan memutuskan untuk memantau Mira dari jarak jauh.


Mira yang baru datang dengan ojek online segera turun dan bergegas masuk ke dalam rumah mewah itu. Dani mencoba mendekatkan mobilnya ke depan gerbang rumah mewah itu. Babe dan Dani melihat Mira menghampiri sepasang pria dan wanita paruh baya yang sedang duduk santai di taman. Mira mencium tangan mereka dan ikut duduk bersama mereka. Terlihat jelas bahwa Mira sangat akrab dengan pria dan wanita paruh baya itu.


"Dan...pria dan wanita paruh baya itu jangan-jangan paman dan bibinya Mira?"tanya babe sambil menerka-nerka.


"Mungkin cang...soalnya Mira sangat akrab dengan mereka."jawab Dani.


"Tapi gue kok merasa kenal banget dengan pria paruh baya itu. Tapi gue lupa kenal dimana...uugghh!"ucap babe kesal.


"Kalau encang emang kenal dengan pria itu coba encang ingat-ingat pelan-pelan pernah kenal dimana atau mungkin encang pernah kenal di facebook atau instagram?"


"Main begituan bagaimana maksud, encang?"


"Ya itu...yang tadi elu sebut...apaan namanye?"


"Facebook dan instagram,cang..."


"Nah...itu dia!"


"Itu namanya media sosial,cang... Media sosial sekarang banyak. Ada facebook, instagram, twitter, telegram, whatsapp, dan lain-lain. Biasanya teman-teman sekolah encang yang dari SD sampai SMA itu rata-rata punya facebook."


"Mana mungkin teman-teman gue punya facebook! Teman-teman gue rata-rata bangkotan semua, bisanya cuma jualan nasi uduk atau kambing buat kurban."


"Nah...mungkin dari berjualan itu mereka memanfaatkan media sosial untuk menawarkan dagangannya ke teman-teman yang lain. Encang juga bisa kok manfaatkan media sosial buat melancarkan usaha toko bahan-bahan kue encang."


"Serius elu?"

__ADS_1


"Serius, cang! Nanti kalau sudah sampai rumah sakit aye bikinin facebook deh di ponsel encang. Masa encang punya ponsel canggih dan keluaran terbaru tapi cuma buat kirim pesan sama telepon doang...rugilah cang...! Mending itu ponsel tukeran aje sama ponsel aye yang butut ini...hehehe"


"Enak aje! Gue beli ini ponsel karena bujukan anak gue Zaenab. Kalau bukan karena dia gue enggak mau keluar duit lebih dari dua juta."


"Yaelah Cang...perhitungan banget sih...! Berarti Zaenab pengen encang melek teknologi biar gak buta."


"Sialan elu ngatain gue buta! Gue bisa jelas melihat muka elu yang ngeselin!"ucap babe emosi.


"Bukan buta penglihatan,cang! Tapi buta teknologi alias encang tidak ketinggalan kemajuan teknologi zaman NOW!"jelas Dani.


"Oohh...begitu!"


"Begitu maksud aye. Encang emosian melulu! Nanti di rumah sakit coba encang cek tensi darah, kali aja darah tinggi encang kumat."


"Kalau elu bukan keponakan gue, udeh gue bejek-bejek elu kayak ayam penyet!"ucap babe sembari memijat kasar kepala Dani.


"Aaampuuunn Cang...aampuunn..."teriak Dani yang kesakitan kepalanya di pijat kasar oleh babe.


"Mending kita fokus sama Mira sekarang. Jangan kebanyakan ngelawak!"ucap babe sembari melepaskan tangannya dari kepala Dani.


"I...i...iye cang..."jawab Dani.


"Ya Allah...begini banget nasib gue punya encang mantan juara silat, sukanya menghakimi orang."gumam Dani dalam hati.


Babe fokus melihat ke arah Mira yang sedang bercengkraman dengan paman dan bibinya. Lalu datanglah seorang wanita hamil menghampiri mereka bertiga. Terlihat dari jauh wajah ketiga orang tersebut berubah menjadi tegang. Entah apa yang di ucapakan oleh wanita hamil itu sehingga membuat pria dan wanita paruh baya itu meninggalkan kursi taman dan menjauh pergi dari Mira dan wanita hamil itu. Terlihat jelas wajah Mira tegang dan takut. Mira hanya menunduk dan tak berani duduk di kursi taman. Sedangkan wanita hamil itu duduk santai di kursi taman dan membiarkan Mira berdiri di hadapannya.


Babe dan Dani ikut memperhatikan gerak-gerik mereka berdua dari kejauhan. Rasanya mereka ingin menyadap Mira agar mereka tau apa yang sedang Mira bicarakan dengan wanita hamil itu. Tak berapa lama, wanita hamil itu memasang muka marah dan berdiri dari tempat duduknya.


'PLAK!!'


Terdengar sangat kencang suara tamparan yang mendarat di pipi kanan Mira.


Babe dan Dani yang melihat kejadian itu kaget bukan kepalang. Mereka saling bertatapan dan diam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2