Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Zaenab POV : Mukjizat itu nyata


__ADS_3

Entah mengapa badan ku masih nyaman untuk berbaring di ranjang rumah sakit. Meskipun badan ku enggan di gerakkan tapi aku bisa mendengar doa dan ucapan yang di utarakan oleh emak, babe dan Bang Zaki. Aku bisa merasakan tetes demi tetes, air mata jatuh di tangan ku. Aku bisa mendengar tangisan emak dan Bang Zaki sambil berdoa khusyuk kepada Allah swt demi kesembuhan dan kesehatan ku. Aku pun terharu mendengar doa-doa yang mereka panjatkan untuk ku. Aku rasanya ingin membuka mataku dan memeluk erat keluargaku terutama emak. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan emak begitu terpuruk melihat ku lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit untuk kedua kalinya.


Ya Allah... Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apa salah dan dosa ku sampai ada orang di luar sana yang mencelakakan ku? Selama aku hidup, aku tak pernah menyakiti hati dan perasaan keluargaku apalagi orang di luar sana. Terkadang aku merasa lelah mengalami cobaan terus-menerus seperti ini. Entah kapan cobaan ini akan berakhir. Aku ingin kembali ke kehidupan normal ku.


Aku bisa merasakan kepergian Bang Zaki dari ranjangku. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara langkah kaki masuk ke kamarku. Aku mengira itu adalah langkah kaki Bang Zaki. Tapi aku merasakan dua orang yang berdiri di sisi kanan dan kiri ranjang ku.


"Bang Zaki datang dengan siapa?"gumam ku dalam hati.


Aku mendengar suara dua orang wanita sedang berbincang di dekat ku.


"Mengapa kamu tega mencelakakan anak perempuan secantik dan semanis dia,Tik?"ucap salah satu wanita yang berdiri di sisi kanan ku.


"Kamu bilang dia cantik dan manis? Gak salah kamu, Mir?"ucap salah satu wanita yang berdiri di sisi kiri ku.


"Dia memang cantik dan manis. Saat pertama kali aku melihat dia masuk IGD, aku bisa merasakan dia anak perempuan yang baik."


"Dia bukan anak perempuan yang baik, Mira! Dia sudah merebut dan menghancurkan kehidupan ku dan anak yang ada dalam kandungan ku!"


"Tapi itu semua bukan kesalahan anak perempuan ini tapi kesalahan calon suami mu. Dia yang mengganggu muridnya sendiri. Dia yang menggoda anak perempuan yang tidak berdosa ini."


"Kenapa kamu membela dia, Mira! Kamu ini sepupu ku! Seharusnya kamu membela dan membantu aku agar aku tidak di penjara gara-gara dia!"ucap Tika kesal sembari melipat kedua tangannya.


"Bukan begitu, Tik! Jangan marah donk..."bujuk Mira.


"Sekarang waktu yang tepat untuk kamu membalas kebaikan kedua orang tua ku yang sudah menyekolahkan mu dari Sd sampai kamu bisa menjadi dokter seperti sekarang!"ucap Tika.

__ADS_1


"Aku tidak akan lupa dengan kebaikan kedua orang tua mu. Apa yang bisa aku bantu?"tanya Mira.


"Nah gitu donk...! Dari tadi harusnya kamu tanya itu bukannya malah memuji anak ini!"ucap Tika emosi.


"Aku minta kamu untuk membuat anak ini tak sadarkan diri secara permanen agar dia tidak dapat bersaksi di depan polisi."sambung Tika.


"Apa kamu bilang?? Aku tidak mungkin melakukan itu! Itu melanggar sumpah ku sebagai dokter, Tika. Maaf...aku tidak bisa melakukan itu!"Mira menolak permintaan Tika.


"Oke. Kalau kamu menolak permintaan ku. Aku akan telepon ayah ku dan meminta dia untuk menghentikan pengobatan ibu mu di kampung. Kamu gak mau kan kehilangan nyawa ibu mu satu-satunya."ancam Tika.


"Apa? Kenapa kamu selalu mengancamku dengan cara seperti itu?"


"Karena kelemahan mu hanyalah ibu mu yang tak berdaya. Kalau kamu tak mau kehilangan dia, lakukan saja apa yang aku perintahkan. Susah banget sih...!"ucap Tika dengan nada marah.


"Baiklah. Nanti aku akan lakukan tapi tolong jangan kau hentikan pengobatan ibu ku...aku mohon Tika..."ucap Mira yang berlutut di hadapan Tika.


"Baiklah. Aku setuju!"Mira menyatukan tangan kanannya ke tangan Tika dan mereka pun berjabat tangan.


"Aku pergi dulu. Ingat! Jangan ingkar janji!"Tika pun pergi dari kamar rawat Zaenab dan meninggalkan Mira seorang diri.


"Maafkan aku ya dek...aku terpaksa melakukan ini demi kelangsungan hidup ibu ku. Maafkan aku...hiks hiks hiks..."ucap Mira sembari menangis di hadapan Zaenab.


Mira pun keluar dari kamar rawat Zaenab dan pergi menuju ruangan farmasi. Disana dia meracik obat tidur permanen untuk Zaenab.


Walaupun Zaenab tak bisa membuka matanya tapi dia bisa mendengar semua pembicaraan antara dua perempuan itu. Dalam hatinya dia menangis dan tak menyangka. Dua orang wanita ini berniat jahat terhadap dirinya. Dia pun berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah swt agar dia dapat membuka matanya dan menggerakkan seluruh tubuhnya sebelum dokter wanita itu kembali ke kamar rawatnya.

__ADS_1


"Ya allah...Yang Maha Pengasih...Maha Penyayang dan Maha Agung. Kembalikan jiwa dan raga hamba...sadarkan, sehatkan dan sembuhkanlah hamba segera Ya Allah...jangan biarkan manusia-manusia jahat itu mencelakakan hamba. Hanya kepada mu, hamba memohon pertolongan. Tunjukkanlah mukjizat mu Ya Allah... Allahhu Akbar...!"ucap Zaenab di alam bawah sadarnya.


Tak berapa lama, Zaenab dapat membuka kedua matanya. Yang pertama kali dia lihat adalah langit-langit kamar rawat rumah sakit. Lalu dia menggerakkan perlahan kedua tangannya dan kemudian dia mencoba menggerakkan kedua kakinya pelan-pelan. Zaenab mencoba mengangkat sebagian tubuhnya untuk duduk tegak.


"Alhamdulillah....Alhamdulillah...Alhamdulillah...terima kasih Ya Allah...terima kasih...Alllahhu Akbar...Allahhu Akbar...Allahhu Akbar..."ucap Zaenab sembari menangis dan mengeluarkan air mata yang terus membasahi kedua pipinya.


Seorang suster wanita pergi dengan membawa sekantong infus ke kamar rawat Zaenab, suster tersebut bertugas untuk mengganti cairan infus Zaenab. Saat suster tersebut membuka pintu kamar rawat, dia melihat Zaenab sedang duduk tegak di ranjang dan menangis tersedu-sedu. Suster tersebut terkejut Zaenab sudah sadar kembali. Dia pun mendekati Zaenab dan memeluk Zaenab.


"Alhamdulillah...Alhamdulillah...adik sudah sadar... saya hubungi dokter Arif dulu ya."ucap suster wanita tersebut.


Suster tersebut mengeluarkan ponselnya dan menelepon dokter Arif yang menangani Zaenab. Suster tersebut juga membunyikan bel pemanggil suster.


"Jangan menangis ya dek...tenangkan dirimu."ucap suster tersebut.


"Bang Zaki...dimana bang Zaki,sus? Aku ingin bertemu abang ku..."ucap Zaenab.


"Abang adik sedang keluar. Adik tenangkan diri dulu ya..."ucap suster itu lagi.


Tak berapa lama Dokter Arif datang bersama dua orang suster. Dokter tersebut memeriksa keadaan Zaenab dan kedua suster tersebut mengecek selang infus dan oksigen Zaenab.


Setelah selesai meracik obat tidur permanen untuk Zaenab. Mira memasukkan obat tersebut kedalam sebuah tabung kaca kecil dan dia simpan di saku jas dokternya.


Mira keluar dari ruang farmasi dan menuju kamar rawat Zaenab. Di depan pintu kamar, dia melihat suasana kamar Zaenab sudah ramai dengan kedatangan dokter Arif dan tiga orang suster. Mira pun masuk ke kamar tersebut dan alangkah terkejutnya...dia melihat Zaenab sudah sadar total.


"Bagaimana bisa dia sudah sadar? Ini tidak mungkin...tidak mungkin..."ucap Mira dalam hati sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.

__ADS_1


Dia memasukkan tangan kanannya kedalam saku mantel dokternya dan menggenggam kencang tabung kaca tersebut hingga pecah berkeping-keping di dalam saku jasnya. Obat racikannya pun membasahi jas dokternya. Tangan kanan Mira pun berdarah terkena pecahan tabung kaca tersebut.


Tak lama kemudian Abang Zaki datang dan memeluk Zaenab dengan erat sembari mengeluarkan air mata.


__ADS_2