
Mira keluar dari rumah Bibi Susan dengan wajah sedih dan berlinang air mata sambil memegang pipi kanannya yang terlihat merah dan lebam. Dia tak sempat memesan ojek online karena sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan sepupunya, Tika. Lima menit berdiri di depan gerbang rumah bibinya, Mira memberhentikan sebuah taksi yang sedang kosong penumpang. Taksi tersebut melaju pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.
Babe dan Dani yang melihat kepergian Mira dengan taksi langsung mengikuti taksi tersebut.
Di dalam taksi, Mira masih bersedih dan berteriak kencang.
"AARRGGHH!!"teriak Mira.
Sopir taksi yang mendengar teriakan Mira terkejut dan berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti,pak?"tanya Mira.
"Gara-gara mba teriak, saya jadi kaget! Takutnya mba kerasukan!"jawab pak sopir taksi dengan nada ketus.
"Enak aja bapak bilang saya kerasukan! Emang saya jarang solat pak, tapi saya gak pernah kerasukan makhluk gaib!"sahut Mira ketus.
"Ya maaf mba...saya kira mba kerasukan. Bisa kita lanjut lagi perjalanannya,mba?"tanya sopir taksi.
"Jalan aja pak! Saya ingin cepat-cepat sampai kos-kosan!"jawab Mira.
"Siap mba!"sahut sopir taksi.
Mobil Dani masih mengikuti dari belakang. Babe dan Dani masih tetap fokus mengikuti taksi yang membawa Mira.
"Jangan sampai lolos,Dan!"ucap Babe sambil fokus ke depan.
"Siap,Cang!"jawab Dani.
"Kali ini kita harus tau dimana dia tinggal!"ucap babe.
"Baik,cang!"jawab Dani yang masih fokus menyetir.
Taksi yang di naiki Mira berhenti di sebuah rumah kos-kosan yang bertingkat dua. Terlihat Mira keluar dari taksi dan langsung masuk kedalam halaman rumah kos-kosan tersebut.
Dani dan babe yang memantau Mira dari dalam mobil. Mereka melihat Mira sedang memasuki sebuah kamar kos yang berada di lantai dua.
"Dan...coba elu tanya-tanya ke satpam itu soal Mira."ucap babe.
"Oke cang."ucap Dani.
Dani keluar dari mobil dan pergi ke arah penjaga kos-kosan.
"Selamat sore pak. Maaf mengganggu."sapa Dani.
"Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu,mas?"tanya satpam tersebut.
"Saya mau tanya, betul ini kos-kosannya Mira?"tanya Dani.
"Iya betul mas. Mba Mira baru saja masuk ke kamarnya. Itu yang lantai dua bagian pojok, itu kamar kos nya."
"Oh itu...boleh saya masuk dan ketemu Mira, pak?"tanya Dani.
"Maaf mas. Tamu laki-laki selain keluarga dilarang masuk. Lagi pula mas siapanya dokter Mira?"
"Saya teman sekolahnya dari desa. Sudah lama tidak bertemu Mira."
"Maaf...mas tidak boleh masuk. Lebih baik mas telepon dokter Mira untuk janjian di luar saja."
"Nah...itu masalahnya pak. Ponsel saya di copet orang saat saya mau naik bis ke kota. Saya kehilangan kontak dokter Mira. Kalau boleh, saya minta nomor telepon dokter Mira sama bapak."ucap Dani.
"Tapi... beneran mas ini teman dari desanya dokter Mira?"tanya pak satpam ragu-ragu.
"Betul pak. Kalau bapak tidak percaya saya kasih bukti foto saya dengan Mira."
Dani mengeluarkan sebuah foto di dompetnya. Disitu ada foto Mira, Dani dan beberapa orang teman sekolah mereka. Dani pun memperlihatkan foto tersebut kepada satpam itu.
"Sekarang bapak percaya?"tanya Dani.
__ADS_1
"Iya mas...saya percaya. Sebentar saya ambil ponsel saya dulu..."ucap satpam.
Satpam itu bergegas ke ruangan kecilnya dan kembali lagi mendekati Dani dengan membawa ponselnya. Lalu dia mencari-cari nama dokter Mira di ponselnya.
"Ini nomor ponselnya dokter Mira. Tolong di catat mas..."ucap satpam itu.
"Baik pak."ucap Dani sembari mengeluarkan secarik kertas dari dalam dompetnya dan mengambil pulpen dari kantong bajunya.
Dani mencatat nomor ponsel Mira. Setelah mendapatkan nomor ponsel Mira, Dani segera masuk kedalam mobil. Dia menatap Babe Rojali dengan wajah bahagia.
"Kenape wajah elu seneng begitu?"tanya babe.
"Jelas senang donk cang... aye dapat nomor ponsel Mira."ucap Dani sambil tersenyum lebar.
"Aahh elu! Baru dapet nomor ponsel Mira aje udah seneng. Apalagi kalau kawin ame diye. Bisa-bisa elu jungkir balik kegirangan."ucap babe.
"Kawin? Kalau kawin itu khusus untuk hewan,cang. Tapi kalau buat manusia itu nikah."
"Aahh...elu udah bisa ceramahin gue!"
"Bukan ceramahin cang...tapi memperbaiki kosakata encang."
"Elu itu dokter atau guru Bahasa Indonesia? Pake memperbaiki kosakata gue! Cape gue berdebat ama elu. Udah...kita pulang aje sekarang!"
"Yee...di kasih tau yang bener malah sewot!"ucap Dani.
"Eh.. apa elu kata? Elu bilang gue sewot?! Baru jadi dokter magang aje udah berani elu ngatain gue! Gue bilangin babe elu baru tau rasa!!"ucap Babe Rojali.
"Eh...jangan cang...jangan...maafin aye cang...aye cuma bercanda. Jangan di bawa ke hati begitu donk..."ucap Dani.
"Sekarang kita balik aja ke rumah sakit. Gue pengen mandi dan rebahan!"ajak babe.
"Baik cang."jawab Dani.
Dani dan babe meninggalkan kos-kosan Mira. Mereka pergi menuju rumah sakit tempat Zaenab di rawat.
Di dalam kos, Mira sedang menatap wajahnya di cermin tempat dia biasa berdandan. Mira melihat wajahnya yang luka lebam dan biru akibat tamparan Tika. Dia mengompres luka tersebut dengan sebongkah es batu yang di lapisi dengan sebuah handuk kecil. Dia meringis kesakitan dan mencoba untuk menahan rasa sakit yang di rasakannya.
"Sialan! Mentang-mentang gue miskin, seenaknya di injak-injak sama si Tika!"ucap Mira ketus.
"Tika pake mengancam segala lagi! Gue tau Tika hanya menggertak tapi kalau marahnya seperti ini bisa-bisa apa yang dia ucapkan bisa jadi kenyataan. Aduh...gue harus bagaimana nih?"
"Kalau gue ikuti perintah Tika, gue bisa-bisa di tangkap polisi dan impian gue buat jadi dokter hanya jadi angan-angan belaka. Tapi kalau gue gak ikuti perintah dia, nasib ibu gue bagaimana?? Hiks...hiks...hiks..."ucap Mira sambil menangis tersedu-sedu.
Di parkiran rumah sakit, Dani mematikan mesin mobilnya. Dani ingin turun dan menemani Cang Rojali ke kamar Zaenab.
"Elu langsung pulang aje."perintah babe.
"Tapi cang, aye..."belum sempat Dani melanjutkan ucapannya langsung di potong babe.
"Udeh...elu pulang aje. Gue mau bawa Zaenab pulang malam ini juga, gue takut Mira dan sepupunya akan melakukan hal-hal yang tidak baik sama anak gue."
"Biar aye disini aja, kali aje aye bisa bantu." ucap Dani.
"Udeh kagak usah. Elu pulang aje, mandi dan istirahat. Makasih banyak bantuannya hari ini,Dan..."ucap babe.
"Sama-sama cang. Aye pamit dulu. Assalammualaikum."ucap Dani.
"Waalaikumsalam."jawab babe sambil pergi meninggalkan Dani yang masih berada di dalam mobil.
Dani menghidupkan kembali mesin mobilnya, saat akan mundur kaca mobilnya di gedor oleh seseorang yang berbaju seragam putih. Dani membuka kaca jendela mobilnya.
"Eh pak dokter Rian. Apa kabar? Sudah lama tak jumpa?"tanya Dani.
"Alhamdulillah baik, Dan. Ngapain disini?"tanya Dokter Rian.
"Aku habis nganter om saya dok...Anaknya sedang di rawat di rumah sakit ini."jawab Dani.
__ADS_1
"Kita ngobrol di cafe itu saja. Gak enak ngobrol dibatasi kaca jendela mobil."
"Boleh dok...saya parkir mobil dulu ya..."
"Oke."jawab Dokter Rian singkat.
Sesudah memarkirkan mobilnya, Dani dan Rian berjalan ke cafe sebrang rumah sakit.
"Lagi sibuk apa sekarang, Dan?"tanya Dokter Rian.
"Biasa pak...sibuk jadi dokter magang di puskesmas."jawab Dani.
"Waktu saya tawari magang di rumah sakit saya, kamu gak mau malah pilih puskesmas."
"Saya ingin mendedikasikan keahlian saya untuk menolong masyarakat yang kurang mampu pak..."
"Kamu tidak mendapat bayaran kan disana?"
"Dapat pak..."
"Masa? Berapa? Pasti kecil kan?"
"Saya rasa di bayar dengan ucapan terima kasih dan kesembuhan pasien itu lebih berharga dibandingkan dengan uang."
"Bagus! Ternyata kamu sudah belajar banyak dari apa yang sudah saya ajarkan kepada mu. Saya bangga pernah menjadi dosen mu."ucap Dokter Rian sambil memukul punggung Dani.
"Terima kasih pak. Saya lebih bangga pernah di berikan tugas sebagai asisten dosen selama kuliah oleh bapak."jawab Dani.
"Lalu sedang apa kamu di rumah sakit ku?"
"Saya hanya mengantar om saya menjenguk anaknya yang sedang di rawat."
"Oh ya? Siapa nama pasiennya? Mungkin saya kenal."
"Namanya Zaenab pak."
"APA?? Zaenab?"
"Iya. Bapak kenal?"
"Saya mengambil alih pasien tersebut dari Mira."
"Mira?"
"Iya. Mira dulu yang bertanggung jawab atas Zaenab tapi karena Mira melakukan hal yang tidak sesuai kode etik kedokteran jadi saya yang bertanggung jawab sekarang. Kamu kenal Mira? Dia sepupu ku."
"APA? Sepupu dokter?"
"Iya. Dia keponakannya Tante Susan, istri dari Om Hendro, salah satu pemilik rumah sakit ini."
"Mira itu teman kuliah aku,pak. Kalau boleh tau apa yang sudah Mira lakukan kepada Zaenab?"
"Pihak keluarga berasumsi bahwa Mira merupakan salah satu tersangka penyerangan Zaenab di dalam kamar rumah sakit. Memang belum ada bukti tapi ayahnya Zaenab meminta pihak rumah sakit untuk menjauhkan Zaenab dari Mira dan kondisi Zaenab harus di rahasiakan demi keselamatan dia. Karena Zaenab merupakan korban serta saksi utama dalam kasus yang menimpanya."
"Apakah dokter juga mencurigai Mira juga?"tanya Dani penasaran.
"Iya tapi kalau saya pikir Mira hanya diperalat oleh seseorang untuk mencelakakan Zaenab."
"Apa dokter mencurigai orang lain selain Mira?"
"Iya... aku curiga dengan anaknya Om Hendro, Tika."
"Hah? Bapak curiga dengan sepupu bapak sendiri?"
"Itu kan hanya kecurigaan ku saja. Aku belum dapat bukti mengarah kepada dua orang tersebut."
"Apa yang akan bapak lakukan untuk mendapatkan bukti tersebut?"
__ADS_1
"Aku ini kan dokter bukan polisi penyidik. Biarkanlah polisi menuntaskan pekerjaannya. Itu sudah menjadi tanggung jawab mereka."
"Betul juga sih pak...hehehe..."jawab Dani.