
Ucok dan Bambang bangun lebih awal dan meninggalkan Zaki yang masih tertidur pulas di sebelah ranjang Zaenab. Mereka mencoba keluar dari ruangan dengan pelan-pelan tanpa sepengetahuan Zaki.
"Cok...kita mau kemana sekarang?"tanya Bambang.
"Gue juga gak tau,Bang... Mending kita sarapan dulu di tukang ketoprak itu. Gue lapar banget nih Bang!"ucap Ucok.
"Ok Cok!"jawab Bambang singkat.
Akhirnya mereka pun menuju tukang ketoprak yang sedang mangkal di ujung rumah sakit. Mereka makan dengan lahap dan menghabiskan ketoprak itu dalam hitungan detik.
"Astagfirulloh...mas-mas ini makan kok kayak di kejar-kejar setan. Pelan-pelan aja mas!"ucap tukang ketoprak sembari menggelengkan kepalanya.
"Tak masalah bagi aku bang! Mau di kejar setan kek atau di kejar waria yang penting ku harus selamatkan perut ku yang keroncongan ini."jawab Ucok.
"Dasar anak muda zaman sekarang lebih pentingkan perut keroncongan dibandingkan etika makan."ucap tukang ketoprak.
"Alah kau ini bang! Ngomong etik segala! Abang aja sekolah gak tinggi pake ngajarin kita etika!"ucap Ucok ketus.
"Hush! Cok jangan begitu sama orangtua,kualat baru tau rasa elu!"ucap Bambang menasihati.
"Alah...gak bakalan gue kualat sama orang udik dan gak berilmu kayak dia,Bang!"
"Hush! Jaga ucapan mu, Cok! Hati-hati malaikat yang kanan dan kiri mencatat ucapan mu!"Bambang menasihati Ucok.
"Tuh dek... dengerin temannya yang bijak! Nanti saya kenalkan sama anak perempuan saya yang cantik dan pintar ya de...Sebentar lagi dia datang."ucap tukang ketoprak.
"Terima kasih pak. Saya dengan senang hati menerima tawaran bapak."ucap Bambang sembari tersenyum merekah.
"Alah kau ini,Bang! Paling anaknya bapak ini juga kampungan seperti dia. Gak mungkin cantik, bapaknya aja begini. Kau pasti akan menyesal deh..!"ucap Bambang.
"Jangan dengarkan temanmu itu dek... Dia hanya iri saja karena saya mau mengenalkan anak saya pada adek."ucap tukang ketoprak dengan tampang meledek Ucok.
"Nah...itu anak saya!"ucap tukang ketoprak sambil menunjuk seorang gadis cantik yang sedang menyeberang ke arah gerobak ketoprak.
Gadis tersebut mendekati gerobak ketoprak. Dia mencium tangan kanan bapak tukang ketoprak dan mengucapkan salam.
__ADS_1
"Assalammualaikum,pak. Tini bawakan sarapan buat bapak. Kebetulan tadi Tini masak di rumah. Ada gudeg sama tahu dan tempe bacem buat bapak." ucap Tini, anak bapak tukang ketoprak.
"Waalaikumsalam,ndok. Alhamdulillah...kamu selalu tau makanan kesukaan bapak ndok... Makasih banyak ya..."ucap bapak tukang ketoprak tersebut.
"Pasti tau donk pak... Bapak lagi sibuk ya? Tini bantuin ya..."ucap Tini.
"Ndak usah ndok...kamu kan sudah cantik dan rapih. Lagi pula pembelinya hanya dua, bapak masih bisa kerjakan sendiri kok ndok..."
"Oohh..."Tini melirik Bambang dan Ucok yang terkesima dengan wajah cantik Tini.
"Bang...bang...cantik juga anaknya tukang ketoprak. Gak nyangka gue, bapaknya dekil tapi anaknya sebening kristal. Udah gitu kayaknya anaknya wanita karir yang sukses...buktinya pakaiannya bagus dan branded bro... Bisalah gue pacarin dan porotin duitnya. Lagi pula mana ada yang menolak Ucok si raja bati bara ini..."ucap Ucok ke Bambang sembari menyombongkan dirinya.
Bambang yang mendengar ucapan Ucok hanya diam dan masih menatap wajah Tini yang menawan. Tak sengaja bapak tukang ketoprak mendengar ucapan Ucok. Dia langsung melotot ke arah Ucok sembari membawa sebilah pisau.
"Sampean mau ngapain sama anak saya?? Saya ndak sudi anak saya dekat-dekat dengan sampeyan yang masa depannya suram dan ndak punya sopan santun!"ucap bapak tukang ketoprak.
"Eh...pak! Jangan asal bicara! Saya ini sarjana ekonomi, sudah lulus sidang dan sebentar lagi wisuda. Enak aja bilang masa depan saya suram!"ucap Ucok emosi.
Ucok langsung berdiri dari kursi yang dia duduki dan membanting piring ketoprak ke meja kecil yang ada di gerobak ketoprak. Melihat Ucok naik pitam, Bambang ikut berdiri dan menenangkan temannya itu. Dia menahan tangan Ucok yang hendak ingin menghajar bapak ketoprak itu.
"Aku tak peduli! Mau pagi atau malam, langsung aku libas orang yang sudah menginjak-injak harga diri ku!"jawab Ucok.
"Hei bapak tua! Aku akui memang anak mu cantik dan manis. Tapi maaf aku sudah tak tertarik dengan anak mu. Malas juga aku punya mertua tukang ketoprak dan tukang menghina seperti kau ini!"ucap Ucok kepada bapak tukang ketoprak.
"Lagi pula...aku ini anak batak tak mungkinlah aku menikah dengan wanita di luar suku ku!"sambung Ucok.
Bapak tukang ketoprak semakin emosi mendengar semua perkataan Ucok. Tini mencoba menenangkan bapaknya dengan mengelus-elus dada bapaknya sambil membisikkan bacaan istigfar di telinganya.
"Istigfar pak...istigfar. Jangan kita menyiram amarah kita kepada orang lain, yang ada kita yang akan tersulut. Ingat pak...marah, emosi dan benci itu temannya setan. Bapak juga harus ingat, bapak harus jaga kesehatan jantung bapak."ucap Tini kepada bapaknya.
Bapak tukang ketoprak tersebut langsung mengendurkan ototnya yang tegang karena emosi. Dia langsung menjatuhkan pisau ke aspal jalanan dan menyebut istigfar berkali-kali.
"Astagfirulloh...astagfirulloh...astagfirulloh...Ya Allah...ampuni hamba...maafkan hamba yang sempat mendengarkan bisikan setan yang terkutuk. Astagfirulloh...astagfirulloh...astagfirulloh..." ucap bapak tukang ketoprak tersebut.
"Alhamdulillah..."teriak Tini dan Bambang yang merasa lega dengan redanya emosi bapak tersebut.
__ADS_1
Tini dan Bambang saling berpandangan dan tersenyum malu.
"Woi kampret! Dia bukannya bela temanny malah pandangin cewek! Dasar Jobuk kau,Bang!"ucap Ucok kesal.
"Istilah apalagi itu jobuk,Cok?"tanya Bambang penasaran.
"JOmblo BUluK!"ucap Ucok sewot.
"Bapak tua...seharusnya kau ini jaga kesehatan mu. Tak perlu lah kau menghina-hina aku dan membuat aku emosi!"ucap Ucok.
Bambang yang mendengar ucapan Ucok hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengelus dadanya berkali-kali.
"Cok...cok...sampeyan ini benar-benar kepala batu. Cape aku berteman dengan kamu."
"Ada apa ini?"ucap seseorang pria yang berdiri di belakang Ucok dan Bambang.
Bambang, Ucok, Tini dan bapaknya melihat pria tersebut. Ternyata suara pria tersebut adalah petugas keamanan rumah sakit.
"Ini loh pak...mas yang satu ini mau macam-macam sama anak saya yang cantik ini."ucap bapak tukang ketoprak sembari memeluk anaknya.
"Bah...! Mau macam-macam bagaimana? Aku hanya berniat belum juga terlaksana. Fitnah sekali kau bapak tua!"ucap Ucok tambah emosi.
"Sudah...sudah! Kalian berdua ikut saya ke pos keamanan. Ayo cepat!"ucap Pak Satpam sembari menarik lengan Ucok.
Ucok dan Bambang saling tatap. Saat pak satpam berbalik badan, Bambang mengambil start lebih dahulu untuk kabur sedangkan Ucok menggigit tangan pak satpam dan lari kencang menyusul Bambang.
"Aaaakkkhhh...saaakkiiittt!"teriak pak satpam sembari menahan sakit gigitan di tangannya.
"Hei...kalian! Bayar ketopraknya duluuu!"teriak bapak tukang ketoprak.
Bambang dan Ucok menghilang dari pandangan dua orang itu. Pak satpam pergi menuju rumah sakit untuk mengobati luka gigit yang Ucok tinggalkan. Sedangkan bapak tukang ketoprak hanya bisa mengeluh karena pagi-pagi dia sudah ketiban sial.
"Aduuhhh ndok...uang gak dapat gara-gara emosi sama anak muda itu."keluh bapak tukang ketoprak.
"Yasudah pak...belum rezeki. Ambil pelajaran dari kejadian ini,pak. Bahwa emosi itu tidak membawa kebaikan untuk kita malah akan membawa kemudaratan."ucap Tini menasihati bapaknya.
__ADS_1
"Iya donk...bapak khilaf!"ucap bapak tukang ketoprak.