
"Ayo cepetan jalannya! Gue udah gak sabar nih!"teriak babe yang berjalan mendahului emak.
"Sabar beh...sabar...aye udah cepat jalannya ini! Babe kan enak pake celana panjang, aye kan ribet pake rok begini!"ucap emak.
"Salah elu sendiri, kenape pake rok ke rumah sakit! Baju gamis elu kan banyak tuh selemari gede ampe gue harus beli lemari lagi buat taro baju-baju gue!"
"Yaelah beh...di sini jangan bahas lemari, kayak gak ada bahan buat di omongin aja!"
"Habisan elu mau jenguk anak kite aja pake rok! Cepetan deh jalannya! Gue kangen berat nih sama anak perempuan gue!"
"Zaenab anak aye juga be... bukan anak babe aje! Dia brojol dari perut aye bukan perut buncit babe!"ucap emak emosi.
"Pake bawa-bawa perut buncit gue segala! Karena perut buncit ini elu bisa gue bikin melendung dua anak. Lupa elu?"tanya babe.
Ketika mereka berbincang di lorong rumah sakit, tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka dua orang sedang menertawakan pembicaraan mereka.
"Hahahaha...perut buncit bikin melendung. Bagus juga tuh di buat lagu."ucap Ucok.
"Bagaimana lagunya,Cok?"tanya Bambang sembari tertawa.
Babe yang mendengar ucapan Ucok dan Bambang yang ada di belakangnya, berhenti berjalan dan menghampiri mereka berdua.
"Eh...kupret! Seneng banget elu berdua meledek gue! Gue kepret mental ke hutan Amazon elu!"ucap Babe kesal.
"Babe...jaga ucapannya! Ini rumah sakit!"ucap emak.
"Gue kesel sama mereka berdua, kalau ketemu selalu meledek gue terus. Emangnya gue badut ape selalu jadi bahan olok-olokan mereka berdua!"ucap babe geram.
"Sorry be...sorry..."jawab Ucok.
"Sorry sorry aje elu! Makan pake nasi sama garem aje belagu ngomong pake bahasa Inggris!"
"Ya ampun be...kita ini suka sama babe. Babe itu bapak panutan bagi kami berdua. Apalagi saya be...yang sudah jadi yatim dari kecil."jawab Bambang.
"Alah elu bisa aje puji gue!"ucap Babe.
"Beneran be...demi Allah... kalau saya bohong, saya berani deh di samber petir!"ucap Bambang sembari mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'V'.
"Bambang! Jangan bicara seperti itu! Nanti kalau kamu beneran di samber petir bagaimana?"ucap Emak.
"Insya Allah gak,mak... Saya kan gak bohong!"ucap Bambang meyakinkan emak.
__ADS_1
"Elu berdua ngapain di sini?"tanya babe ketus.
"Kami mau menjenguk Zaenab be... Zaki bilang Zaenab sudah sadar."jawab Bambang.
"Elu mau jenguk anak gue bawa buah tangan kagak?"tanya babe.
"Tenang be...kita bawa buah-buahan buat adik Zaenab."ucap Ucok.
"Adik...adik...sejak kapan Zaenab jadi adik elu?"tanya babe ketus.
"Sudah be...sudah...biarin aja sih mereka anggap Zaenab adiknya."ucap emak menenangkan babe.
"Terima kasih ya nak Ucok dan nak Bambang sudah menyempatkan menjenguk Zaenab dan bawa buah-buahan segala."ucap emak.
"Sama-sama,mak..."jawab Ucok dan Bambang.
"Ayo kita masuk sama-sama ke dalam."ajak emak kepada dua orang tersebut.
Di sebuah rumah yang megah, halaman yang luas dan pemandangan alam yang indah. Datanglah seorang wanita berbadan dua tanpa salam dia masuk kedalam rumah dan menaiki anak tangga yang dilapisi oleh emas. Saat hendak menginjak anak tangga yang ke lima, suara seseorang memanggil namanya.
"Tika! Dimana sopan santun mu?"teriak suara berat laki-laki paruh baya.
Mendengar teriakan laki-laki paruh baya yang berada di meja makan itu, Tika melangkahkan kakinya untuk turun kembali dan menghampiri kedua orang tuanya itu.
"Ada apa ayah? Aku cape sekali, ingin tidur siang."ucap Tika.
"Dimana sopan santun mu? Kita ini keluarga ningrat. Ucapkan salam dan cium tangan kedua orang tua mu!"perintah Ayah Tika.
"Huft...haruskah aku melakukannya? Itu tradisi kuno ayah!"jawab Tika dengan nada kesal.
"Lakukan saja perintah ku!"teriak Ayah Tika.
"Baiklah..."Tika mengucapkan salam dan mencium kedua tangan orang tuanya dengan terpaksa.
"Kamu dari mana,ndok?"tanya Ibu Tika dengan nada lembut.
"Hmm...aku habis ketemu Mira bu..."jawab Tika.
"Bertemu Mira? Apa kamu mengancamnya lagi?"tanya ibu penasaran.
"Ti-tidak bu..."jawab Tika terbatah-batah.
__ADS_1
"Jangan bohong kamu!"ucap ayah.
"Betul yah... aku tidak melakukan itu lagi! Demi Tuhan..."ucap Tika.
"Ayah...jangan teriak-teriak begitu."ucap ibu.
"Bagaimana aku tidak marah dengan anak ini bu...dia selalu saja membuat masalah yang membuat kita berdua sakit-sakitan. Gara-gara dia kamu jafi lumpuh total seperti sekarang. Kalau saja kita tidak memanjakan dia dari kecil mungkin kelakuannya tidak akan parah seperti sekarang."
"Sudah ayah...sudah...ini kesalahan kita berdua. Terlalu menuruti kemauan Tika."
"Baguslah kalau kalian menyadari kesalahan kalian. Aku seperti ini karena kalian juga jadi kalian harus bertanggung jawab!"
"Jaga ucapanmu, ndok!"ucap ibu dengan nada tinggi.
"Kalau kalian memanggil ku hanya untuk memarahiku lebih baik aku ke atas. Aku cape dan bayi yang ada di kandungan ku juga perlu istirahat. Kalian juga seharusnya istirahat supaya tidak sakit-sakitan dan menyusahkan aku!"
"Dasar anak kurang ajar!! PLAAAKKK!!"
ucap ayah sembari berdiri dan menampar wajah Tika.
Tika yang terkena tamparan di pipi kanannya langsung mengusap pipinya dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya ke lantai dua.
"Ayah...ayah jangan seperti itu kepada Tika. Dia sedang memgandung cucu kita. Sabar ayah...sabar..."ucap ibu.
"Bu...kurang sabar apa lagi? Kita sudah merawat, membesarkan dan menyekolahkan dia sampai dia dewasa walaupun dia bukan anak kandung kita." ucap ayah.
"Ayah! Jangan lagi ayah ucapkan kata-kata itu. Aku tidak mau Tika mendengarnya dan pergi meninggalkan kita...hiks...hiks...hiks..."
"Biarlah bu dia pergi dari kehidupan kita. Aku sudah tidak ingin melihat dia. Saat dia mencelakaimu, aku sudah tidak menganggap dia sebagai anakku."
"Ayah...ibu mohon...ayah tetap menjaga Tika. Ibu tidak mau Tika di penjara atas perbuatan yang telah dia lakukan. Biarlah ibu menanggung dosa Tika seumur hidup ibu...karena ibu gagal menjadi ibu angkat yang baik untuk Tika."
"Ini bukan kesalahanmu. Aku mengenalmu sejak kecil. Ibu itu orang baik, soleha, pintar dan yang terpenting, ayah mencintai ibu segenap jiwa dan raga ayah. Ini murni kesalahan kakak ibu, perilaku Tika hampir sama dengan kelakuan ibu kandungnya."ucap ayah.
"Ayah...sudah. Jangan di bahas lagi."ucap ibu.
"Baiklah. Ayo kita duduk di taman belakang. Ayah sudah siapkan buku novel yang bagus untuk ibu."
"Terima kasih ayah...terima kasih bantuannya selama ini."
"Sama-sama sayang ku. Aku bantu dorong kursi rodamu ya..."ucap ayah sembari mendorong kursi roda berjalan ke taman.
__ADS_1