Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Keputusan Akhir (part 1)


__ADS_3

"Zaenab...Zaenab...ayo neng cepetan! Kita udah tunggu di teras nih...!"ucap Emak Munaroh yang sedang duduk di kursi teras.


"Zaki...sambil tunggu ade elu keluar, tolong panasin mobil dulu aje."perintah babe.


"Siap juragan!"ucap Zaki sambil tersenyum.


"Et deh tuh anak, demen banget ngeledek gue!"


"Bukan ngeledek be...Zaki hanya mencairkan suasana biar gak pada tegang."ucap Zaki sambil berjalan menuju mobil babe.


"Iya...masih pagi ngomel-ngomel aje be..."sahut emak yang sudah duduk manis di kursi teras.


"Roh.. elu samperin sana si Zaenab. Gue takut die kenape-kenape di kamar."ucap babe khawatir.


"Kenape-kenape gimane maksud babe?"tanya emak bingung.


"Gue takut dia melakukan hal-hal yang tak terduga seperti... bunuh diri atau minum obat pembasmi serangga."


"Astagfirulloh be...anak kite gak bakalan kayak begitu. Anak kite udah kite tanamin agama yang baik. Gak mungkin Zaenab bakalan melakukan hal begitu. Babe keseringan nonton berita kriminal sih!"ucap emak kesal.


"Udeh...jangan kebanyakan ngomong elu! Mending elu ke kamar Zaenab sekarang!"pinta babe.


"Iye iye...aye kedalam sekarang!"emak berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamar Zaenab.


Emak mengetuk pintu kamar Zaenab tapi tak ada jawaban sama sekali. Lalu dia membuka pintu kamar Zaenab dengan pelan-pelan, kebetulan pintu kamarnya tidak di kunci. Emak masuk kedalam kamar Zaenab dan dia mendapati Zaenab sedang duduk termenung di depan jendela kamarnya. Emak pun mendekati Zaenab.


"Nab..."panggil emak dengan nada lembut.


"Eehh...emak."ucap Zaenab sambil menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.


"Nab...dari tadi emak panggil-panggil elu. Elu gak jawab-jawab. Kita semua udah tunggu elu dari tadi di depan teras. Elu baik-baik aje kan,Nab?"tanya emak sambil menghampiri Zaenab.

__ADS_1


"Aye kagak kenape-kenape,mak."jawab Zaenab.


"Terus...kenape elu nangis terus melamun disini? Jangan banyak melamun neng...nanti ada setan lewat elu bisa kerasukan."


"Aye...aye...aye takut,mak... aye takut melihat wajah guru aye itu. Kalau melihat wajah dia, aye langsung ketakutan. Takut akan terjadi hal itu untuk kedua kalinya, mak..."ucap Zaenab sambil menggengam tangan emak dengan kencang.


"Nab...elu tenang aje. Ada emak, abang dan babe elu. Teman-teman elu pasti juga datang menemani elu. Elu gak sendiri,Nab. Masih ada Allah swt yang akan selalu menjaga kite semua."nasihat emak.


"Udeh elu tenang aje. Kalau itu orang macam-macam di pengadilan, babe dan abang elu gak bakalan tinggal diam."sambung emak.


Zaenab yang mendengar tiap ucapan emak langsung mengangguk. Dia yakin bahwa banyak orang yang akan menjaga dan melindunginya disana.


"Udeh siang nih...kita jalan sekarang yuk...hapus dulu air mata elu. Emak kagak mau abang dan babe elu khawatir."ucap emak sambil mengambil tisu yang ada di depan Zaenab.


"Makasih ye,mak..."ucap Zaenab sambil menghapus air matanya dengan tisu pemberian emak.


Emak dan Zaenab berjalan menuju teras rumah. Setelah mengunci pintu rumah, Emak dan Zaenab langsung masuk kedalam mobil.


Setelah 20 menit perjalanan, mobil babe terparkir di pengadilan negeri pusat kota. Keluarga Zaenab sudah di tunggu oleh teman-teman Zaenab, Komandan Geri dan beberapa guru dari sekolah Zaenab.


Zaenab yang baru turun dari mobil langsung menatap wajah-wajah yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Zaenab terasa berat untuk melangkahkan kaki menuju ruang pengadilan tapi Bang Zaki menggenggam tangannya dengan erat sambil menatap wajah adiknya.


"Dek...jangan takut ada abang, babe dan emak disini. INGAT! Jika pengadilan di dunia tidak memihak kita, jangan takut pengadilan di akhirat itu milik Allah swt, Yang Maha Adil dan Bijaksana, dia pasti akan membantu hambanya yang teraniaya."ucap Bang Zaki.


Zaenab tidak menjawab sepatah kata pun, dia hanya mengangguk dan terharu sampai dia mengeluarkan air mata.


"Jangan menangis. Elu harus kuat dan tegar di hadapan semua orang. Kalau kita terlihat lemah, maka si Supari b******k itu akan tertawa diatas penderitaan elu."ucap Zaki sambil menghapus air mata Zaenab yang turun ke pipinya.


"Iye bang...abang jangan jauh-jauh dari aye ye..."jawab Zaenab.


"Pasti! Ayo kita jalan!"Zaki mengajak adiknya untuk berjalan menuju ruang pengadilan.

__ADS_1


Semua orang sudah memasuki ruang pengadilan dan mereka duduk di kursinya masing-masing.


Zaenab beserta keluarganya duduk di kursi paling depan sebelah kanan, dekat dengan pagar pembatas, sedangkan teman-temannya duduk di kursi kedua bagian kiri.


Andi sendiri duduk dikursi paling depan sebelah kiri, dia terus menatap Zaenab. Andi tau, Zaenab sedang gelisah, oleh karena itu dia mengirimkan pesan singkat ke ponsel Zaenab.


"Nab...jangan takut dan khawatir, aku akan selalu ada untuk mu. Tegakkan kepalamu, agar kamu bisa tunjukkan kepada dia bahwa kamu kuat. Semangat ya Nab..."isi pesan singkat Andi kepada Zaenab.


Andi langsung mengirimkan pesan singkat tersebut kepada Zaenab. Tak berapa lama suara notifikasi ponsel Zaenab terdengar di dalam ruang pengadilan. Semua orang terkejut dengan bunyi ponsel tersebut, begitu pula dengan Zaenab. Semua pandangan mata tertuju kepada Zaenab. Zaenab segera membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Saat dia membuka pesan tersebut, seorang petugas keamanan pengadilan menghampirinya.


"Mohon maaf dek... dilarang bermain ponsel di ruang persidangan. Mohon di nonaktifkan ponselnya."ucap petugas keamanan tersebut.


"Baik,pak. Maafkan saya..."ucap Zaenab.


Zaenab memasukkan ponselnya kedalam tas, lalu dia menatap dan tersenyum sebentar ke arah Andi. Andi pun membalasnya dengan senyuman.


'Tuk Tuk Tuk' (bunyi suara mic di ketuk).


"Selamat siang, ketua majelis hakim akan memasuki ruang persidangan. Hadirin di mohon berdiri."ucap seseorang petugas pengadilan.


Semua orang yang hadir di dalam ruang persidangan berdiri. Hal ini dilakukan agar pengunjung yang hadir menghormati ketua majelis hakim. Ketua majelis hakim beserta jajarannya duduk di singgasananya masing-masing.


"Hadirin di persilahkan duduk kembali."ucap petugas pengadilan.


Semua orang kembali duduk di tempatnya masing-masing dan tatapan mata fokus kepada ketua majelis hakim.


"Selamat siang, agenda persidangan hari ini adalah membaca pembelaan dari pihak terdakwa. Kami persilahkan pengacara untuk mengajukan pembelaan."ucap Hakim ketua.


"Baik. Terima kasih atas waktunya Yang Mulia. Selamat siang, Yang Mulia, bapak dan ibu yang sudah hadir di sini. Kami selaku pihak pembela, ingin mengajukan pembelaan terhadap klien kami. Berdasarkan informasi dari klien kami, klien kami dan korban atau muridnya yang bernama adik Zaenab itu satu sama lain saling menyukai."ucap Penasihat Hukum Pak Supari.


Kegaduhan pun terjadi di dalam ruang pengadilan. Babe dan Zaki berusaha bersabar dengan ucapan dari pengacara terdakwa tapi raut wajah mereka terlihat sangat marah. Sedangkan wajah emak terlihat sedih dan tak henti-hentinya menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan apa yang di ucapakan oleh pengacara terdakwa. Zaenab memeluk emak dengan erat dan menyembunyikan kepalanya di bawah lengan emak. Emak pun mengelus lembut kepala Zaenab sambil membisikkan kata untuk menenangkannya.

__ADS_1


__ADS_2